Sabtu, Agustus 22, 2009

Marhaban Ya Ramadan

(Menghayati Puasa Ramadan Sebagai Momen Memperkuat Cinta Bangsa)

Al-Hamdulillah, kata seorang kiai dengan bahagia dan bangga dalam ceramahnya pada sebuah pengajian di Masjid dalam rangka menyambut puasa bulan Ramadan seraya terpancar dari wajahnya aura paling ceria. Perasaan bahagia demikian pasti juga dirasakan oleh seluruh masyarakat Muslim di saat tibanya bulan suci Ramadan, meski ada sebagian yang hanya sekedar ikut-ikutan.
Menumbuhkan Puasa Sejati

Orang yang merasa bahagia dan bangga akan kedatangan bulan suci Ramadan tentunya karena ada motif kuat, saya sebut itu cinta. Sebuah studi ilmiah menemukan bahwa cinta menjadi semacam sugesti terkuat bagi sebuah ambisi dan obat termujarab bagi sebuah penyakit.

Coba kita cermati orang yang sedang kebelet cinta kepada kekasihnya, timbul darinya kekuatan atau keadaan yang di luar rasio: satu hari tak bertemu terasa seratus hari, kalau terjadi apa-apa pada sang kekasih bisa membuatnya gelisah, bahkan ada yang sampai ke tingkat stress, bunuh diri, dan sejenisnya.

Begitu juga orang yang sudah kadung cinta kepada puasa Ramadan, satu tahun sekali ditunggunya ibarat sepuluh tahun, sekali ketemu langsung dipatengi dan dihayati. Segalanya berwarna puasa, jiwa raganya.

Ia amalkan puasa Ramadan semaksimal mungkin, penuh kehati-hatian dan keikhlasan. Segala amalan-amalan puasa Ramadan tak ada satu pun yang ia lewati tanpa dihayati, baik itu berupa salat-salat sunnah, membaca Al-Quran, i’tikaf, berdzikir, shodaqah, zakat, menjauhi segala hal yang membuatnya batal, dan aktifitas saleh lainnya.

Cinta tersebut tidak tumbuh begitu saja, ada motif dan proses yang melatar belakanginya, yaitu keyakinan. Artinya, keyakinan yang tinggi akan adanya faedah dan keistimewaan puasa Ramadan. Diantaranya, dibukanya pintu pengampunan dosa dan rahmat Tuhan serta pembebasan dari siksa neraka. Sebagaimana sabda Nabi "Barangsiapa yang berpuasa di bulan Ramadan karena beriman dan mengharapkan pahala, niscaya akan diampuni dosa-dosanya yang lalu" (HR. Bukhory dan Muslim).

Iman di sini bukan berarti hanya percaya saja, tapi percaya dan cinta. Karena itulah, kemudian ulama Islam menetapkan cinta paling tinggi adalah cinta kepada Tuhan. Inilah mungkin yang dikategorikan golongan orang-orang khowas, yaitu orang-orang yang berpuasa sejati. Termasuk segala ibadahnya dibangun secara holistik atas dasar iman dan cinta kepada-Nya.

Momentum Cinta Bangsa
Puasa karena iman dan cinta adalah puasa jasmani tembus ke ruhani. Bukan hanya puasa perut dari makan dan minum. Lebih dari itu, adalah puasa dari segala hawa nafsu, baik nafsu yang berupa material maupun moral; nafsu duniawi, rakus, fitnah, kejam, dan maksiat.

Terkait dengan keadaan bangsa kita Indonesia, secara fisik dan formal telah merdeka sejak digaungkannya proklamasi 17 Agustus 1945, tapi secara jiwa dan sikap bangsa kita masih jauh dari merdeka.
Jiwa bangsa kita masih bermental budak, budak materialisme dan hedonisme. Segalanya diukur dengan materi dan kesenangan an sich. Di samping itu, banyak masyarakat kita yang masih dikepung oleh cengkraman kesengsaraan, penyakit-penyakit, musibah-musibah alam, dan sebagainya.

Belum lagi, penjajahan lahir batin yang belakangan semakin gencar terjadi seperti zaman penjajahan pra kemerdekaan, setiap saat bangsa kita dihantui dengan kecemasan dan ketakutan aksi teror dan bom di mana-mana. Terorisme telah menjelma penjajah baru yang lebih sadis di negri ini.

Dalam pemahaman Islam, secara etimologis, Ramadan sendiri berarti terik, panas, terbakar. Ini mengandung beberapa pengertian filosofis. Diantaranya, pertama, puasa Ramadan membakar perut orang yang sedang berpuasa. Artinya, selama berpuasa umat Islam dilarang makan dan minum serta hal-hal lain yang membatalkan puasa semenjak terbit fajar hingga terbenam matahari.

Dengan demikian, orang kaya yang tak pernah lapar ikut merasakan secara merata kelaparan yang senantiasa mendera kaum lemah (dhu’afa) di luar Ramadan. Karena itu, di bulan Ramadan umat Islam diperintahkan saling mengasihani, mengeluarkan shodaqah dan zakat fitrah terutama untuk kaum fakir dan miskin sekitarnya, baik Islam maupun non Islam. Dari sini penderitaan akan dapat-paling tidak-diminimalkan. Maka dari itu, bulan Ramadan juga disebut bulan penuh berkah dan rahmah.

Kedua, puasa Ramadan akan membakar dosa seseorang kepada Tuhan. Itu sebabnya, bulan Ramadan disebut sebagai bulan ampunan. Nabi bersabda, “Sesungguhnya Allah telah mewajibkan umat Islam berpuasa di bulan Ramadan, dan saya menetapkannya sebagai salah satu sunnahku. Maka, barangsiapa yang menjalankan ibadah puasa dengan keimanan penuh, maka Allah akan menghapus dosa-dosanya seperti seorang anak yang baru keluar dari rahim ibundanya”.

Namun, perlu digarisbawahi, dosa yang diampuni adalah dosa antara manusia dan Tuhan, itu pun harus atas dasar iman dan cinta. Sedangkan dosa kepada sesama manusianya akan tetap tak terampuni kecuali diampuni oleh sesama. Oleh karena itu, memasuki bulan Ramadan umat Muslim dianjurkan untuk makin memperbanyak istigfar dan saling meminta maaf.

Ketiga, puasa Ramadan dapat membakar hawa nafsu duniawi orang yang berpuasa. Dengan demikian, orang yang berpuasa Ramadan akan terbiasa menahan diri dari tradisi nafsu hedonistik dan materialistik.

Sebab, kita semua paham bahwa makin tingginya angka korupsi dan penyelewengan di negeri ini, yang implikasinya kesengsaraan bangsa ini, bukan karena para pelakunya lapar dan miskin, melainkan karena rakus dan tamak. Para pejabat tinggi masih banyak yang korupsi meski gajinya berpuluh juta rupiah. Puasa Ramadan yang sejati mendidik kita untuk tidak terus memperturutkan kerakusan dan ketamakan tersebut.

Namun, meski sudah jelas demikian, puasa di bulan yang penuh berkah ini tidak akan efektif kalau masyarakat Muslim puasanya hanya sekedar puasa menahan lapar, tanpa didasari karena iman dan cinta. Akhirnya, sejatinya berbagai macam persoalan di negri kita ini diakibatkan karena makin burammnya semangat saling mencintai dan menyayangi diantara kita sebagai unsur bangsa ini. Untuk itu, mari kita kuatkan kembali ghirah cinta dan kasih sayang itu dari mengamalkan dan menghayati puasa Ramadan ini dengan penuh iman dan cinta.

Jumat, Agustus 21, 2009

Dialog Subuh

Bersama tetesan embun
yang membasahi subuh
hati menjadi teduh
mengurai bisikan-bisikan
yang selalu mendesah
aku tidak paham
gejala kehidupan
dengan kedua tangan
yang menutup mata telinga
kaki yang mengikat diri
dan hati yang keruh
tuhan, aku ingin beranjak
dengan langkah
kakiku sendiri
meski tak secepat kilat
asal engkau menemaniku
di tiap desah nafasku
Awal Ramadan, 220809

Hati yang Keruh


Wahai Tuhan, sungguh indah
silau mataku
menatapmu, gelap gulita
malam ini ayat-ayatmu benderang
cahaya semesta tak kuasa
hati yang telah keruh ini
rindu jernih
biarlah kini mengeja
huruf demi huruf
sajak demi sajak
gerak demi gerak
merangkak pun tak telak
sampai terlepas segala angan
ya segala angan
ketika yang keruh ini
makin mendesah
mencarimu
entah sampai kapan
aku ketemu Kamu

Awal Ramadan, 210809

Mencermati Pendidikan Model Ngaji dan Negri

Beberapa hari yang lalu, pesantren Al-Amien berbahagia karena dikunjungi oleh salah seorang Syeh terkenal dari Tanah Suci Mekkah, Syeh Muhammad bin Ismail Al-Yamany Al-Makky. Kedatangan beliau kali ini sudah kesekian kalinya. Dengan niatan silaturrahim seraya mengunjungi para muridnya yang sudah menjadi alumni di seluruh pelosok nusantara ini, terutama di Madura, dan kebetulan beberapa alumninya adalah ada yang dari putra-putri famili pengasuh sendiri.

Keunikan Sistem Ngaji
Pendidikan ala Syeh Muhammad bin Ismail Al-Yamany Al-Makky adalah cermin pendidikan yang sangat sederhana tanpa macam-macam sistem yang ruwet, namun keberhasilannya jelas. Beliau menampung para pelajar yang ingin belajar mendalami ilmu agama, yang biasa disebut dengan istilah “ngaji”, dan bertempat di kediaman beliau sendiri di Mekkah. Karena, bila ada seseorang yang ingin belajar ke beliau dibilang mau “ngaji” bukan mau sekolah, dan beliau biasanya bilang, atta’allum fi manzili, artinya belajar di rumahku, bukan belajar di sekolahku atau di lembagaku.

Bila seseorang hendak ngaji ke beliau, niat batinnya harus serius dan ikhlas. Hal ini menjadi syarat paten untuk diterima “ngaji” di sana. Konon, situasi batin itu hanya diketahui batin beliau sendiri, sehingga tidak semua orang yang ingin belajar di sana diterima. Jadi, tanpa butuh syarat material segala macam, seperti biaya kecuali hanya biaya transportasi ke sana, selainnya ditanggung sendiri oleh beliau termasuk biaya hidup sehari-hari.

Soal hasil (output) setelah selesai ngaji di sana yang lamanya minimal 2 tahun, setelah pulang mayoritas alumninya menjadi sukses-sukses dan ahli agama, setidaknya mengajar di lembaga-lembaga pendidikan atau pesantren-pesantren, atau mewarisi kedudukan ayahnya sebagai pengasuh pesantren (baca: kiai) bagi mereka yang kebetulan kader pesantren atau anaknya seorang kiai. Bahkan, tidak jarang yang menjadi pejabat pemerintahan, meski setingkat daerah.

Inilah yang menjadi keunikan tersendiri bagi pendidikan gaya “ngaji” ini. Meskipun bukan dalam bentuk sekolah formal dengan sistem yang kompleks dan kecanggihan teknologi, atau yang kelulusannya menyandang gelar resmi, para alumninya tidak ada yang menganggur seperti yang sering dialami oleh sistem pendidikan umum atau negri yang tiap tahunnya sampai ribuan anak yang terjerumus ke dalam pengangguran. Pasalnnya, para alumninya kebanyakan bermanfaat baik bagi masyarakat setelah pulang ke tanah kelahirannya masing-masing.

Dari keunikan itu, tentunya kita harus bertanya-tanya, kenapa sistem pendidikan model demikian dengan keterbatasan dan kesederhanaannya bisa menghasilkan para generasi yang bermanfaat baik bagi masyarakatnya?

Barokah Menjadi Orientasi Inti
Jawaban pertanyaan di atas, pertama, karena orientasi inti yang paling diutamakan adalah bukan sekedar mendapatkan pengetahuan kognitif atau wawasan keilmuan (intelektual) yang luas semata, akan tetapi mengacu kepada orientasi akidah dan akhlaq (spiritual dan moral). Artinya, niat utama mereka belajar bukan mencari kepintaran atau kecerdasan intelektual saja, akan tetapi mencari kecerdasan beribadah kepada Tuhan (iman dan taqwa) dan beramal saleh kepada sesama manusia. Persoalan materi duniawi atau orientasi materi hanya sekedar menjadi efek moral dari orientasi utama tersebut, bukan menjadi tujuan utama.

Sebab, ahli ibadah kepada Tuhan serta akhlak mulia kepada sesama manusia adalah diyakini menjadi pusat segala hal yang bersumber darinya orientasi urusan lain. Pasalnya, kalau menjadi orang yang ahli beribadah serta berakhlaq baik, maka hidupnya akan sejahtera, kehadirannya dibutuhkan manusia, sehingga segala kebutuhanya akan datang sendiri. Paling tidak, dia tidak sibuk pontang panting hanya untuk mencari materi dunia, sehingga pada muaranya kehidupannya akan tenang dan sejahtera.

Hal inilah yang dikenal dengan konsep barokah. Mereka mengharap barokah hidup dari Tuhan dengan jalan niat yang luhur, belajar serius dan ikhlas mencari ridho-Nya sebagai pemilik segala di semesta ini, sehingga logikanya, barang siapa yang menginginkan dunia, maka dekati dulu yang memiliki dunia ini; raih ridho-Nya dulu, baru segalanya akan dikasih oleh-Nya. Inilah letak filosofis adagium yang berbunyi, “nanam padi pasti rumput ikut tumbuh, tapi nanam rumput tidak mungkin padi ikut tumbuh”.

Kedua, karena ghirah ukhuwah dan ikatan persatuan para alumni serta gurunya kuat. Bayangkan saja, seorang guru meluangkan waktunya secara konsisten pada saat-saat tertentu hanya demi mengunjungi atau melihat kondisi para alumninya yang ada di seluruh pelosok dunia. Ikatan batin dan tingkat kekawatiran guru takut santrinya menjadi orang yang tidak bermanfaat atau sengsara sangat tinggi sekali, sehingga seandainya ada satu saja alumninya yang dijumpai tidak sejahtera akan dibantu berupa solusi-solusi praktis yang dihadapi bersama.

Sistem pendidikan model ngaji ini tidak hanya terjadi di kediaman Syeh tersebut saja, akan tetapi juga diwarisi oleh mayoritas sistem pendidikan pesantren di negri ini. Walaupun sebagian pesantren ada yang sudah merevolusi sistemnya mengikuti label modern, namun mereka tidak sampai tercerabut dari visi dan misi sejati keislamannya. Yaitu, mencipta para generasi mutafakkuh fiddin, berakhlaq mulya, dan berwawasan luas. Di pesantren Al-Amien dikenal dengan jargonnya: beriman sempurna, berilmu luas, dan beramal sejati.

Sistem Pendidikan Negri
Lain dengan sekolah atau pendidikan pada umumnya (baca: negri), yang kebanyakan mekanismenya kecerdasan kognitif dan orientasinya materi dunia an sich. Padahal, segala yang ada di dunia ini bukan dunia atau menusia sendiri yang menciptakannya, sehingga bagaimanapun usaha mereka kalau sang pemilik dunia (baca: Tuhan) tidak berkenan memberinya, tetap tidak akan pernah didapatinya, kecuali hanya kesia-sian. Sekaligus, kehidupan tidak sesederhana hanya dihadapi dengan potensi kognitif saja.

Jika bisa mendapatkan ilmu atau segala hal yang diambisikan dengan segala macam kecerdasan dan kecanggihan usaha dan sistemnya, namun tanpa dibarengi dengan bekal spiritual dan moral, keberhasilannya itu malah akan membawa malapetaka. Seperti, bukankah para koruptor di negri ini terdiri dari orang-orang pintar yang gelarnya tinggi? Di sinilah letak bahwa mereka tidak mendapatkan ilmu yang barokah.

Di samping itu, sistem pendidikan yang parsial alias tidak utuh, atau bahkan tidak berkeprimanusiaan; hanya menilai potensi manusia dari beberapa materi yang di-UAN-kan saja; seseorang dianggap gagal dalam hidup hanya lantaran tidak lulus UAN (Ujian Ahir Nasional), dan yang lain di anggap sukses hanya karena lulus di UAN. Oleh karena itu, meski idelisme tujuan pendidikan nasional/pemerintah jelas-jelas utuh mencakup segala potensi: intelektual, spiritual, moral serta keterampilan, namun sistem evaluasinya parsial demikian, keberhasilan yang utuh hanya akan menjadi mimpi di siang bolong saja.

Anehnya, fenomena ini berlanjut sampai sekarang, meski sudah banyak bukti, hanya gara-gara tidak lulus UAN tiap tahun banyak para pelajar dan orang tuanya yang mengalami kekacauan emosi dan psikologi; stress, trauma, putus asa, bahkan mau bunuh diri.

Demikian juga, sistem sekolah yang berbentuk kejuruan semacam SMK dengan misi agar setelah lulus peserta didik langsung memiliki pekerjaan yang professional (siap pakai). Asumsinya, meski tidak melanjutkan ke jenjang lebih tinggi dapat langsung memiliki pekerjaan, sehingga tidak ada lagi pengangguran yang pada muaranya dapat mengurangi kemiskinan di negri ini.

Sejatinya, kalau dipikir-pikir, sistem kejuruan demikian adalah mau membentuk generasi pekerja-pekerja yang sibuk hanya mencari uang di perusahaan-perusahaan atau pabrik-pabrik. Lalu, apa bedanya dengan buruh kasar meski mungkin lebih keren karena disandangkan label profesionalitas. Pada hakekatnya tetap saja seorang pekerja yang posisinya di bawah tuan-tuan. Bukankah ini tidak akan makin menyuburkan doktrin bahwa Indonesia adalah negri buruh atau para pekerja (TKI) yang banyak diekspor ke luar negri. Ini menjadi persoalan kritis keburaman pendidikan di negri ini yang harus menjadi perhatian bersama secara konkret.

Fenomena Wisuda Pesantren

(Membangun prinsip alumni pendidikan yang lebih holistik dan progresif)

Kemaren (12/08), adalah hari wisuda bagi santriwan-santriwati kelas akhir PP. TMI Al-Amien Prenduan. Tidak ada yang paling membahagiakan bagi mereka sebesar bahagia saat itu. Bayangkan saja, minimal sudah lima tahun-bahkan ada yang enam sampai tujuh tahunan- selama 24 jam sepanjang hari berada di pesantren dengan berbagai peraturan dan disiplin formal yang harus dijalankan sebagai seorang santri. Yang jelas, mereka berbeda dengan anak muda yang sekolah di luar pesantren yang berada di sekolah cuma kurang lebih tujuh sampai delapan jam.

Sekarang, mereka sudah terlepas dari peraturan formal tersebut, bisa berekspresi hidup bebas, kecuali ikatan peraturan atau hukum yang sangat prinsipil terkait dengan pengamalan-pengamalan hukum syar’i dan nama baik almamater. Peraturan itu terkodifikasi utuh dalam 3 istilah: Islami, Ma’hadi, dan Tarbawi.
Islami, berarti seorang alumni pesantren harus selalu berpegang teguh, mengamalkan, dan menegakkan ajaran dan prinsip-prinsip agama Islam, baik yang berkenaan dengan ibadah mahdhoh (formal/ma’a Allah) seperti sholat dan puasa, maupun ibadah ghoiruh mahdhoh (ma’a an-nas) seperti berakhlaq dan beramal saleh.
Ma’hadi, menunjukkan bahwa para alumni harus selalu menjujung tinggi dan membiasakan nilai-nilai tradisi baik di pesantren, seperti kesederhanaan, kemandirian, merdeka, persaudaraan, keakraban, dan jiwa berkorban.

Sedangkan Tarbawi, adalah para alumni harus senantiasa bersifat dan bersikap sebagai orang yang terdidik (akademis). Masing-masing pribadi alumni harus selalu mencerminkan seorang terdidik yang memiliki ilmu pengetahuan dan wawasan yang diamalkan sekaligus disebarkan kepada masyarakatnya (dakwah). Proaktif dalam kebersamaan menghadapi kenyataan-kenyataan hidup berupa kiprah yang positif, solutif, dan produktif.

Di sini seorang alumni akan tampak bahwa mereka memiliki modal-modal ilmu, wawasan, dan pengalaman yang harus dimanfaakan atau dibarokahkan di tengah-tengah masyarakatnya, tidak liar, dan berbeda dengan mereka yang tidak pernah mengenyam pendidikan sama sekali.

Segala sifat, sikap, dan perilaku yang keluar dari peraturan, disiplin atau prinsip alumni di atas dianggap melanggar komitmen bersama sebagai seorang alumni pesantren. Maka dari itu, semuanya harus diamalkan dan ditegakkan secara utuh sepanjang masa, tidak salah satunya saja dan tidak terbatas pada ruang dan waktu. Tiga jargon prinsipil alumni tersebut menjadi sebuah keutuhan yang saling melengkapi dan harus mengakar kuat pada jiwa dan pola kehidupan masing-masing alumni.

Namun, sudah barang tentu pada kenyataannya, tidak semua alumni tetap segaris atau konsisten membawa keluar nilai-nilai prinsipil disiplin pesantren tersebut. Di sinilah kemudian ada beraneka ragam tipe alumni pesantren; ada yang tetap teguh dan konsisten membawa prinsip-prinsip tersebut secara utuh, ada juga yang sebelah-sebelah atau setengah-setengah, ada juga yang sama sekali lupa.

Pertama yang tetap konsinten, sudah barang pasti mereka pateng beribadah sekaligus aktif dalam pengabdiannya kepada masyakatnya. Artinya, ilmunya membawa manfaat dan berkah, misalnya mereka yang menjadi tokoh atau panutan masyarakat, merintis pesantren, maupun hanya sekedar menjadi guru bimbingan ngaji di musala-musala kecil.

Kedua, mereka yang sebelah-sebelah. Seperti, aspek ibadah formal atau pengabdian ketuhanannya yang terlalu diutamakan, sehingga lupa aspek kemanusiaannya, dikit-dikit berperasan takut maksiat atau dosa yang berlebihan. Tipe ini kerap terjatuh kepada fanatisme sempit keagamaan, yang diklaim oleh orang-orang liberalis sebagai kelompok yang salah dalam menafsirkan ajaran Islam (fondamentalisme). Atau sebaliknya, yang justru ghirah kemanusiaannya lebih diutamakan. Tipe ini acapkali terjebak ke dalam prinsip humanisme yang mengukur segalanya dari aspek kesejahteraan sosial atau kemanusiaannya (antroposentrisme).

Ketiga, mereka yang justru lupa sama sekali terhadap prinsip-prinsip kepesantrenannya, beribadah enggan, pengabdian kemasyarakatan juga ogah-ogahan. Tipe alumni kedua dan ketiga inilah yang kemudian hanya menjadi beban bagi masyarakatnya, maka jangan heran ketika ada seorang alumni pesantren pulangnya malah semakin tidak karuan.

Persoalan sukses atau tidak suksesnya seorang alumni pesantren, bukan menjadi indikasi dari pada kegagalan lembaga pendidikan, sistem, dan para pengurusnya (kiai dan guru) semata, tapi juga indikasi dari pada kondisi niat dan usaha peserta didik sendiri, sekaligus dukungan kedua orang tuanya (potensi pribadi). Semua pihak saling memengaruhi sehingga harus saling mengisi secara utuh.

Hal ini, tidak hanya terjadi di dunia pendidikan pesantren saja, tapi di semua lambaga pendidikan. Sebab, faktanya, orang-orang sukses di berbagai levelnya bukan hanya dari lulusan pesantren, atau lulusan sekolah ungulan atau favorit saja, akan tetapi juga dari produk sekolah-sekolah di pedalaman desa yang tidak disangka-sangka seperti sekolah-sekolah yang sangat sederhana dan terkesan ketinggalan, musala-musala kecil, dan sebagainya.

Sejatinya, semua lembaga pendidikan dengan bagaimana pun bentuk, sistem, dan situasinya tidak bisa dijadikan tolak ukur kepastian kesuksesan para alumninya. Perbedaannya cuma tingkat kendala dan usahanya. Artinya, sekolah yang memang betul-betul diseriusi dengan sarana, prasarana, sistem, atau pola pendidikan yang terjamin, tentunya lebih mendukung kesuksesan para alumninya dari pada sekolah yang segalanya serba kekurangan.

Di samping itu juga, pengaruh dari pribadi anak didik sendiri. Artinya, meski sekolahnya hebat tapi anaknya males, atau anaknya semangat tapi sekolahnya tak terurus, tetap saja jauh dari kesuksesan, tinggal semangatnya.

Maka dari itu, harus dibangun sebuah kesadaran bahwa sistem, pola, pandangan atau prinsip pendidikan harus lebih holistik dan progresif (prinsip utuh dan memiliki semangat masa depan), bagi para alumni pendidikan untuk mengembangkan studinya lebih lanjut atau mengamalkan ilmunya secara langsung, sekaligus bagi masyarakat yang masih mau menitipkan anak-anaknya di sebuah lembaga pendidikan.

Akal, Nafsu, Nurani, dan Konflik

Dalam hadist yang diriwayatkan oleh imam Ibnu Abbas yang menjadi dasar dari pada wacana teologis Islam dalam konteks akal manusia, dijelaskan bahwa kerja akal terbatas pada al-kholqi (penciptaan) saja, sedangkan untuk al-Khooliqi (Tuhan) akal tidak dapat berfungsi. Ajaran ini amat menarik dikaji, sebab ada sebagian pihak terlalu sempit atau parsial memaknai ciptaan; apa dan sebatas apa ciptaan itu; mana saja yang masuk ke ranah ciptaan dan ranah Tuhan. Wacana ini tidak sepele, sebab timbul darinya konflik kemanusian yang berkepanjangan sampai saat ini, semisal terorisme.


Akar Konflik Kemanusiaan
Topik wacana teologis ini harus lebih dilenturkan, sebab acapkali sejak zaman munculnya Islam bahkan sejak dicipta manusia pertama kali sudah menjadi persoalan yang menimbulkan perseteruan. Kita tengok persoalan Adam, iblis, dan malaikat. Sewaktu iblis dan malaikat diperintah oleh Tuhan bersujud kepada Adam, semuanya bersujud kecuali iblis (jin/syetan) (Qs. 2: 34/20: 116/7: 11/18: 50). Konon, iblis tidak mau bersujud karena pertimbangan bahwa buat apa menyembah kepada sesuatu yang unsur penciptaannya lebih rendah dari pada dirinya yang dicipta dari api. Bukankah api lebih mulya dari pada sekedar tanah kering, katanya akal logika iblis (Qs. 7: 12/17: 61).
Dan selanjutnya, dialami oleh Adam sendiri di dalam surga. Dia merasa aneh ketika dibuat sebuah peraturan oleh Tuhan yang menurut dia aneh, yaitu dilarang memakan buah pohon yang namanya khuldi, padahal untuk nikmat yang lainnya terserah dia mau makan yang mana saja (Qs. 2: 35/7: 19).
Dia pun semakin penasaran kenapa kok dilarang atau dibatasi, lawong itu di surga. Maka, iblis datang tepat waktu, seakan dapat membaca penasaran Adam yang sedang berkecamuk dalam akal pikirannya, sehingga iblis berhasil merayu Adam memakan buah khuldi yang dilarang itu (Qs. 20: 120-121/7: 20-22). Akhirnya, Adam mendapat hukuman yang setimpal, dikeluarkan dari surga ke bumi agar bertaubat (Qs. 2: 36-38/20: 123/7: 23-25)
Lain dari pada para malaikat, sewaktu disuruh bersujud kepada Adam mereka tidak menggunakan akalnya untuk berpikir yang macam-macam, tapi mereka menggunakan keimanan dalam hatinya sehingga ia-ia saja. Konon, memang Malaikat dicipta oleh Tuhan hanya dengan potensi hati nurani (iman) yang sifatnya “sam’an wa tho’atan”, selalu patuh dan konsisten apa kata Tuhan, tanpa potensi akal dan nafsu.
Dengan potensi itu kadar pengabdian atau keimanan malaikat tidak rendah tidak tinggi, tidak ingin ini dan itu. Makanya, para malaikat tetap dengan tugasnya sepanjang masa. Tidak ada yang berpikiran bosan, ingin ganti tugas, dan segala macam pikiran dan pertimbangan lainnya, malaikat adalah makhluq pasif.
Sedangkan manusia, dia tidak sekedar memiliki hati nurani yang selalu lurus, dan beriman, akan tetapi juga dicipta dengan akal dan nafsu. Oleh karena itu, hati nuraninya bisa berubah-rubah sesuai dengan situasi pikiran akal dan nafsunya. Akal membuat manusia berpikir, bertanya, menganalisa, meneliti, dan mencari-cari. Adapun nafsu membuat manusia berkeinginan, berkehendak, berambisi, dan bercita-cita. Sedangkan hatinya yang menimbang-nimbang dan mengontrol. Dengan keutuhan semua potensi itu manusia akan utuh; bisa berubah, berkembang, sekaligus seimbang dan lurus (beriman).
Kalau ketiganya tidak utuh, maka diri manusia tidak akan beres. Imannya tinggi tapi akalnya tidak digunakan, maka akan menjadi manusia pasif, kebudayaan dan peradaban tidak akan berkembang, hidup menjadi mandeg, paling tidak lambat. Begitu juga jika akalnya saja yang berfungsi, maka peradaban dunia akan berkembang pesat tapi sejatinya menuju kehancuran, seperti para teroris semisal Amerika Serikat yang mendholimi Irak atau Israel yang membasmi Palestina.
Atau, potensi keimanannya yang terlalu fanatik kepada ketuhanannya, sehingga akalnya buntu berpikir menghasilkan kesimpulan manusia lain dianggap kafir dan menghardik keimanannya, akhirnya segala cara dilalui demi membasmi manusia lain yang dianggap menghardik itu, semisal terorisme bom bunuh diri, dalih perang suci, dan sejenisnya. Sedangkan jika nafsunya saja yang lebih menonjol, maka manusia akan membabi buta, bahkan layaknya hewan yang kerjanya cuma ingin makan, tidur, dan bernafsu sek.
Ketidakutuhan dan ketidakseimbangan potensi kemanusiaan inilah yang menjadi dasar penyebab peperangan dan konflik di dunia ini amat sukar dimusnahkan, kecuali manusia telah dapat mengimbangkan segala potensi tersebut.


Keutuhan Potensi Kemanusiaan
Pasalnya, kekuatan akal, nafsu, dan nurani yang ada pada diri manusia adalah potensi dasar utuh yang tidak dimiliki oleh makhluq Tuhan lain yang bisa menjadi kelebihan sekaligus sebuah kebahayaan, tergantung personal manusianya yang memakainya. Bila dia memakainya dengan benar, utuh, dan seimbang, maka dia bukan hanya menjadi manusia hebat bahkan dapat mengalahkan malaikat. Dia beriman sekaligus juga berpikiran bagaimana meningkatkan keimanan itu setinggi-tingginya dengan peradaban dan kesejahteraan dunia. Namun, dia juga bisa menjadi makhluq yang jahat bahkan lebih bejat dari pada syetan, karena kalau sudah jahat dia akan berpikiran bagaimana kejahatan lebih handal dengan pikirannya, dan akibatnya makhluq lain juga akan musnah.
Juga tidak benar, jika ada pihak selalu mengkambinghitamkan akal dan nafsu ketika terjadi kerusakan. Seperti, kerap orang bilang kalau ada orang berbuat jahat penyebabnya karena mengikuti hawa nafsunya. Hanya saja, memang nafsu lebih mudah menjadi jalan godaan syetan. Tapi, bukan berarti esensi nafsunya yang jahat. Nafsu adalah potensi utuh bersanding dengan nurani dan akal dalam diri manusia.
Kemudian, persoalan akal tidak sampai kepada wilayah ketuhanan, itu adalah benar. Hanya saja, sampai mananya batas akal dan Tuhan itu tidak pasti. Oleh karena itu, manusia diperintah menggunakan akal, nafsu, nurani, dan segala potensi dirinya setinggi mungkin untuk mencari dan mengimani Tuhannya. Simaklah sabdah Tuhan yang sampai menantang manusia untuk menggapai (menembus) penjuru langit dan bumi dengan kekuatannya (segala potensi akal, nafsu dan nurani) demi kesejahteraan dirinya di dunia (Qs. 55: 33). Akhirnya, tanpa keutuhan akal, nafsu, dan nurani tidak akan pernah ada budaya atau peradaban, dan Tuhan tidak akan pernah diimani secara sejati. Dan, untuk mengutuhkan dan menyeimbangkan potensi-potensi tersebut tidak butuh dengan menggunakan bom atau aksi terorisme yang justru membuat umat manusia sengsara, tapi dengan pendidikan yang serius, kedamaian, keadilan, dan berbuat baik.

Iri Prestasi

Ketika ada orang yang berprestasi, saya menjadi amat iri. Saya langsung berpikiran rugi kalau tidak seperti dia juga. kalau dia bisa kenapa saya tidak bisa, lawong dia makan nasi saya juga makan nasi, dia punya tangan dua saya juga punya tangan dua, pokonya secara fisik kan ga’ ada yang berbeda! Tapi kenapa kok saya tidak seperti dia yang berprestasi?!

Di samping itu, saya juga berpikir, apakah dengan perasaan iri ini saya menjadi berdosa atau tidak? Atau bahkan mungkin dapat pahala, paling tidak mubah, atau baik? Sebab, apakah iri terhadap prestasi atau ilmu pengetahuan dinilai seperti iri terhadap harta dunia? Soalnya, kalau saya lihat dari konsekwensinya, kalau iri terhadap dunia itu malah membuat orang lupa terhadap akheratnya, menjadi sibuk hanya ngurusi dunia sekiranya sama atau melebihi orang yang diirikan.

Padahal, dalam persoalan harta dunia manusia tidak akan pernah merasa cukup dan puas. Harta dunia bukan standart kehidupan, sehingga pada akhirnya acapkali kalau tidak tercapai ambisi irinya itu akan menghalalkan segala cara yang hal ini mudah dilakukan, seperti merusak orang yang diirikan, merampok, memfitnah, dan sejenisnya.

Sedangkan iri terhadap ilmu pengetahuan atau prestasi konsekwensinya akan membuat orang yang iri berusaha semaksimal mungkin untuk berprestasi dan lebih dari pada orang yang diirikan. Praktisnya, dia akan belajar, belajar, dan belajar dengan konsisten, membuang sifat-sifat malas atau perilaku-perilaku tidak baik yang menjadikan dia jauh dari pada prestasi itu.

Misalnya, ada orang yang berpresasi dalam bidang dakwah, dia dakwanya berhasil dan disukai masyarakatnya karena di saat berdakwah memakai kata-kata lembut, sopan, penuh kasih sayang, kedamaian, santun, dan suka menolong sesama, di samping ibadahnya yang pateng kepada Tuhannya, sehingga yang iri tersebut akan berusaha untuk lebih dari yang diirikan itu, dia harus lebih disukai oleh masyarakat dalam dakwahnya; harus lebih halus, lebih santun, lebih kasih sayang, dan harus lebih konsisten ibadahnya.

Kalau dipikir-pikir bukankah iri demikian adalah baik? Bahkan, menurut logika saya, iri dalam berprestasi seperti itu malah menjadi “harus”-meski tidak disebut wajib dalam agama-masuk dalam karakter dan perilaku umat muslim. Sebab, dengan demikian umat muslim akan makin berkembang karena berlomba-lomba dalam kebaikan yang ditumbuhkan dari sikap iri tersebut, fastabiqul khairat.

Bukankah berlomba-lomba dalam kebaikan itu memang menjadi ajaran Islam? Bayangkan saja seandainya ada yang iri kepada orang yang menghapal Al-Quran lantas dia harus hapal juga, atau prestasi baik lainnya.

Kemarin, ada teman saya yang berprestasi dalam hal kebaikan itu, yaitu tulisannya dimuat di rubrik opini Jawa Pos. Bayangkan saja, tulisannya bisa dibaca berbagai level orang se Indonesia. Bukankah ini prestasi yang luar biasa. Sedangkan karya saya meski berkali-kali dimuat media masa, itu sangat lokal, cuma di Radar Madura. Jadi, yang baca cuma orang sebatas warga Madura saja. Meski hal ini sangat saya syukuri dan bagi saya sudah luar biasa.

Sebab, saya belajar nulis baru mulai pada 24 November 2008 kemarin yang pas waktu itu tulisan saya langsung dimuat pertama kali di Radar Madura yang kemudian diabadikan menjadi kutipan budayawan madura Ibnu Hajar dalam bukunya “Politik Kiai” yang pernah kontraversial, saya masih kurang puas karena ada teman saya yang lebih daripada saya.

Tapi, saya juga menyadari dan memaklumi bahwa karya dia bisa dimuat di Jawa Pos, sebab mulai mondok kira-kira tujuh sampai delapan tahunan sudah digembleng dengan karya tulis di kelompok elitnya. Sedangkan saya baru delapan bulanan kemaren. Tapi, saya tetap harus lebih, paling tidak dapat menyaingi dia yang sudah masuk ke kelas kakap dari pada saya yang masih kelas teri ini. Saya salut konsistennya dalam berlatih.

Dan, Saya yakin pasti bisa pada saatnya nanti. Lebih dari itu, saya selalu berdoa semoga teman-teman saya yang sudah mahir menulis akan tetap konsisten dan makin berkembang adapun saya dapat seperti mereka juga.

Rabu, Agustus 19, 2009

Sastra Santri: Antara Jalan Sunyi dan Ambisi Materi

Catatan ini berangkat dari pengamatan saya mengenai geliat sastra yang semakin bergejolak, khususnya cerpen dan puisi di pesantren Al-Amien yang belakangan sedang membanjiri pusat-pusat pergelaran karya tulis, seperti di depan Masjid dan depan kelas.
Hal ini tidak hanya terjadi di kalangan santri Al-Amien saja, tapi juga pesantren-pesantren lainnya. Saya pernah ngobrol dengan seorang santri An-Nuqayyah, bahwa di sana beberapa santri sudah biasa menerbitkan buku antologi cerpen dan puisi, tanpa butuh duduk di kelas tinggi. Semua itu membuktikan bahwa karya sastra terutama puisi dan cerpen tidak hanya tumbuh di kalangan non pesantren saja, tapi juga tumbuh subur di pesantren yang kerap sebelumnya diklaim hanya terkungkung pada persoalan kitab kuning saja.
Selain itu, juga bisa dilihat pada karya-karya sastra yang belakangan lahir secara massif bergenre religius yang selama ini menjadi ladang pesantren. Taruhlah misalnya, novel Ayat-Ayat Cinta atau Ketika Cinta bertasbih. Novel-novel tersebut adalah karya sastra tulis yang berhasil diwujudkan dalam bentuk film yang konon menjadi mega film yang mengguncang tidak hanya negara Indonesia tapi manca negara dengan jutaan penonton.
Sebetulnya, wacana mengenai geliat sastra santri di pesantren sudah bergulir begitu lama dalam ruang-ruang kajian. Hanya saja, siapa tahu ada sisi lain yang mungkin luput dari pengkajian tersebut, atau dikaji tapi tidak masuk secara serius dalam ruang-ruang intensionalitas (kesadaran).
Bahwa dewasa ini, zaman yang disebut modernisasi atau globalisasi, segala nilai dalam tiap sisi dan lini kehidupan telah bergeser menuju nilai yang menyesuaikan diri dengan perkembangan era global. Jika dicermati perkembangannya lebih mengarahkan manusia kepada hal-hal yang hedonis-materialistis. Segalanya dipikir di atas pertimbangan materi dan enaknya saja.
Lebih-lebih nilai-nilai yang terkait langsung dengan hati nurani (spiritual) atau agama (religiusitas), termasuk bidang sastra yang konon ada yang menyebutnya sebagai “jalan sunyi” yang menuntut aktivasi hati nurani. Yaitu, menjadi wahana mencari realitas yang Maha Mutlaq. Dalam bahasa tasawwuf disebut Tarekat.
Hal inilah yang disebut fenomena religiusitas dan spritualitas dalam sastra. Sastrawan Ahmad Tohari pernah mencatat bahwa karya sastra dapat menggambarkan secara gamblang tentang kegelisahan manusia dalam mencari dan menemukan sangkan lan paraning dumadi (baca: Tuhan). Sekaligus hal ini menjadi keistimewaan dan ciri khas sastra pesantren yang tidak hanya menjadi pembahasan aspek seni atau estetika saja, akan tetapi juga membumbung tinggi menembus ranah metafisika, yaitu sebagai jalan sunyi menuju Tuhan.
Namun, betapa pun demikian khasnya, tidak boleh tidak harus disadari bahwa sastra pesantren juga telah terserang virus akut globalisasi sebagai zaman yang mengusung industri sebagai patokan segala-galanya. Akibatnya, saking hebatnya virus tersebut banyak para sastrawan yang tertular menyebabkan mereka tercerabut dari akar kreatifitas kesunyiannya.
Bersastra bukan lagi karena panggilan hati yang dimasuki lewat pergulatan jalan sunyi yang penuh perenungan dan kesabaran, akan tetapi karena kepentingan-kepentingan yang mengandung popularitas dan materi. Buat puisi ingin dipuji; buat cerpen dan novel ingin mendapatkan keuntungan materi.
Segala cara dilakukan untuk menghasilkan karya, sehingga kreatifitas kesunyian yang muncul dari hati tidak lagi menjadi pondasi dan pada muaranya karya sastra hadir ke depan publik tanpa membawa makna sama sekali. Maka jangan heran, ketika makin banyak dakwah melalui kreasi adaptasi novel-novel religius yang disosialisasikan depan publik dengan media yang lebih mudah berupa film, keadaan masyarakat tetap-tetap saja dalam keadaan makin terpuruk, atau bahkan justru mereka meniru adegan-adegan yang sebetulnya negatif, seperti sayang-sayangan dengan lain muhrim (pacaran) meski berbusana muslim.
Di samping itu, makin banyak buku sastra membanjiri toko-toko buku semacam antologi-antologi, akan tetapi hanya menjadi tumpukan pemenuh rak-rak buku yang sulit laku. Akhirnya saya berpikir, apakah ini akibat dari pada semakin membludaknya kemunculan para sastrawan instan yang ingin populer, sehingga dengan mudahnya membuat antologi puisi lalu diterbitkan dan disebarkan di toko-toko buku?
Fenomena tersebut menjadi ancaman dunia sastra yang harus menjadi perhatian penuh para pemerhati sastra, sastrawan, seniman maupun budayawan. Sebab, jangan-jangan hukum ekonomi yang berbunyi, “semakin banyak sesuatu maka nilainya akan semakin murah bahkan tak berharga”, akan menimpa dunia sastra ke belakang nanti.
Lalu, siapakah yang mampu menyediakan ladang persemaian kembali karya sastra sebagai jalan sunyi menuju suara kemanusiaan? Jawabannya, mereka (para sastrawan) yang masih sejati berakar kokoh pada landasan keimanan; mereka yang masih sadar dengan kefitrahannya sebagai makhkluq Tuhan yang berderajat paling tinggi.
Maka, mereka bekerja, termasuk menulis bukan karena materi dunia, akan tetapi demi membangun kepribadian dengan sifat, sikap, dan perilaku yang sejati sebagai manusia yang derajatnya lebih tinggi dari makhluq lainnya. Materi dunia hanya sekedar menjadi efek moral dari perilaku atau tindakan manusia. Artinya, keberadaan mereka dengan karyanya mengalirkan kedamaian dunia. Akhirnya, justru materi atau popularitaslah yang sibuk mencari dirinya (pernah dimuat di Radar Madura, Sabtu 15 Agustus 2009).

Refleksi Tradisi Perayaan Tahun Baru

Kalau membahas perayaan tahun baru melalui sudut agama (baca: Islam), maka saya akan berhubungan erat dengan kepastian hukum: halal-haram atau boleh tidaknya mengadakan perayaan tahun baru. Dalam diskursus keislaman, beraneka pandangan tentang hukum merayakan tahun baru apapun (apalagi masehi), seperti yang banyak beredar di media-media massa.

Bila berbicara mengenai keragaman pandangan tentang suatu hukum, kita tidak akan menemukan garis finish yang pasti. Sebab, setiap agama dalam keberagamaan, bahkan setiap pemeluk dalam satu agama pun acapkali punya pandangan sendiri mengenai hukum. Masing-masing akan tetap melegitimasi pandangannya sendiri.

Oleh karena itu, saya lebih suka melihat tradisi perayaan tahun baru dari sudut sosial budaya, yang menurut saya, lebih kongkrit dan praktis di tengah-tengah masyarakat. Yaitu, bagaimana kondisi tradisi masyarakat, terutama kalangan remaja yang menjadi pihak paling semangat merayakan tahun baru. Anehnya, Bukan hanya para remaja yang berasal dari agama yang memang yakin melakukan perayaan tersebut, namun juga remaja Islam yang secara hukum banyak mempersoalkannya.

Selama ini, tradisi perayaan tahun baru cenderung dilakukan dalam bentuk kegiatan yang tidak bermanfaat, seperti senang-senang, hura-hura, pesta minuman keras, kumpul-kumpul di pantai, dan sejenisnya. Bahkan, tidak jarang dalam merayakan tahun baru, mereka melakukan kegiatan mesum (maksiat). Mayoritas para remaja merayakan tahun baru bukan dengan kegiatan yang positif, seperti introspeksi dan evaluasi diri, khotmu Al-Quran, istighosah, pengajian-pengajian, dan do’a sebagaimana yang terjadi di pesantren, namun dengan kegiatan-kegiatan yang negatif.

Tradisi perayaan yang tidak benar tersebut harus mendapat perhatian lebih dari siapapun, dari agama, atau kelompok apapun. Sebab, tradisi tersebut akibatnya lebih luas dan penanganannya lebih berat dari pada hanya rebutan otoritas dan legitimasi hukum agama. Semisal truth claim, fanatisme, dan sejenisnya.

Kemudian, sebagai remaja di zaman yang katanya modern ini, kita tidak sepatutnya lagi hanya berpikiran bagaimana hidup glamor dan senang-senang semata. Namun, bagaimana kita menjadi manusia yang punya nilai tinggi penuh prestasi. Sebab, semakin kompleks dan canggihnya suatu zaman, maka kian membutuhkan kecerdasan (baca: kualitas diri) untuk menghadapinya. Apalagi, hidup di dunia ini hanya sekali.

Seorang Kiai di sebuah pesantren, dalam pengajian peringatan tahun baru hijriah mengatakan, “Dengan bergantinya tahun lama ke tahun baru ini, berarti semakin bertambah usia kita. Semakin bertambah usia kita, berarti semakin berkurang jatah umur kita”. Dalam pertemuan lain seorang kiai mengatakan, “Pada hakekatnya hidup di dunia ini hanya berjalan menuju ke satu arah, yaitu kematian. Ibarat, setiap hari kita menggali liang lahat kita sendiri, semakin hari semakin dalam, akhirnya akan sampai kepada kedalaman yang pas kita dipendam”.

Waktu kematian itu tidak ada yang mengetahuinya. Bisa jadi detik ini, setelah ini, jam ini, hari ini, minggu ini, atau mungkin bulan depan, sehingga kita tidak bisa lagi menikmati tahun baru depan. Atau, bisa jadi tahun depan, dua tahun lagi, dan seterusnya. Dan bisa jadi, kita akan mati di saat kita sedang melakukan perbuatan yang tidak bermanfaat atau maksiat. Na’udzubillah. Tidak pernahkah kita membayangkan semua itu.

Maka dari itu, mulai dari sekarang di tahun baru ini (hijriah maupun masehi), mari kita lakukan introspeksi, ekstrospeksi, dan evaluasi diri dengan menengok kembali masa lalu sebagai cermin. Sekaligus menatap ke masa depan sebagai harapan. Selanjutnya, mengadakan perubahan, pembaharuan, pengembangan, dan konsistensi. Kita harus merubah segala tradisi yang dulunya buruk dengan tradisi yang lebih luhur di tahun ini. Dan mengembangkan perbuatan yang kemarennya sudah baik menjadi lebih baik, sekaligus konsisten dalam tahun-tahun berikutnya dengan semangat baru yang lebih jitu (pernah dimuat di Radar Madura, Rabu 31 Desember 2008).

Senin, Agustus 10, 2009

Izinkan Aku Memajangmu

Aku memajangmu
bukan karena aku cinta kamu
seperti lelaki-lelaki pemuja cinta
paras wanita
Aku memajangmu
bukan karena menjadi fansmu
seperti para artis yang dipuja
Dan aku memajangmu
bukan karena aku
suka wajah rembulanmu
atau kulit sutramu
atau bodi langsingmu
atau aroma manjamu
seperti para abdi nafsu
Tapi, aku memajangmu
karena aku saudaramu
meski kamu tak tahu aku
dan aku tak kenal kamu
Aku memajangmu
karena aku ingin mengatakan
dunia terlalu dini
tuk kau umbar wajah indahmu
di layar-layar belantara
yang gelap ini
kecuali kau kasih pelita
dari tubuhmu yang paling sunyi
Izinkan aku memajang wajah rembulamu


Prenduan, 110809

Mencari Diri pada Subuh



Malam ini aku tidak bisa tidur
bukan karena aku tidak mengantuk
juga bukan karena aku sakit
Aku hanya ingin mencari
siapa diriku
Kadang aku lihat wajahku pada kaca
tempat aku menyisir rambutku
dan membuang segala kotoran kulitku
namun, sedikit saja aku berpaling
wajahku malah bukan wajahku lagi
Sering juga aku membaca anganku
yang menghibur dinding-dinding kamarku
ah, itu hanya sekedar pajangan usil belaka
Ternyata aku tak bisa mencari diriku sendiri
tetap saja aku tidak menemukan diriku
Akhirnya, aku cuma bisa merebah
dengan mata setengah lelah
menatap atap yang tak ada ujungnya
aku kaget
mataku makin melotot
makin lama makin tinggi
Subuh, engkau telah merebut malamku
Prenduan, 110809

Minggu, Agustus 09, 2009

Syair Gadis Lusuh

Inginnya engkau membahagia cinta

Dengan jejaka yang engkau miliki

Menjadi tambatan hati

Telah kabur bersama bidadari di sampingmu

Mungkin tidak akan kembali hingga

Membuat wajahmu lusuh

Tatapanmu kosong keangkasa

Namun, engkau masih percaya diri

Dalam keandaan lunglai

Di hadapan dunia yang menatap wajahmu

Sekarang, engkau mencoba membangun dunia

Dan engkau kembali putih mungil

Bak bayi di pangkuan ibu

Yang perkasa dengan senyuman

Menebar ke segala penjuru dunia

Bangkitlah, kau gadis berwajah lusuh

Ada pejuang gagah sedang menunggumu

Sedang kau tetap menunggu malu

Prenduan, 09/08/09

Santri Kontemporer dan Barokah Pesantren

Dalam sebuah pertemuan, KH. Moh. Idris Jauhari pengasuh PP. Al-Amien Prenduan menyatakan bahwa di zaman modern ini Allah SWT telah melimpahkan segala nikmat-Nya kepada manusia berupa derasnya kemajuan ilmu pengetahuan dan canggihnya teknologi. Namun, bersamaan dengan itu pula Allah SWT mencabut borakah-Nya dari bumi ini. Ini maksudnya, disamping kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, kian maju pula fenomena-fenomena yang membuat masyarakat justru bertambah akrab dengan penderitaan; bencana alam, pergaulan bebas, tawuran, korupsi, ijazah instan, dan sejenisnya. Dalam bahasa lain, kemajuan dan kecanggihan tersebut tidak membawa berkah.

Di pesantren, barokah biasa dikaitkan dengan ilmu (baca: ilmu barokah) yang dipahami sebagai ilmu yang bermanfaat dan punya nilai lebih. Artinya, meski kuantitasnya sedikit tapi manfaatnya luas bagi umat. Oleh Karena itu, di pesantren barokah menjadi orientasi inti keberhasilan santri dalam segala bidang, kompetensi, dan profesi; bila menjadi pejabat misalnya, maka dia akan menjadi pejabat yang adil dan ikhlas, tidak korupsi. Tidak hanya itu, dalam gagal pun menjadi pejabat tapi menjadi petani, maka dia akan selalu menyadari dan ikhlas, tidak pernah ngotot dengan segala cara. Maka dari itu, tidak ada istilah gagal dalam prinsip barokah. Sebab, barokah ada pada suasana hati dan diyakini mudah tumbuh darinya keberhasilan potensi-potensi lain.

Barokah diyakini hanya bisa timbul melalui keridhoan kiai (baca: guru). Sedangkan keridhoan kiai bisa didapat melalui sikap spiritual dan moral. Oleh karena itu, pendidikan pesantren tidak terlalu memprioritaskan potensi intelektual (tapi tidak terlalu bodoh/idiot) sebagai persyaratan masuk calon santri baru. Tapi, yang lebih penting dari segalanya adalah potensi spiritual dan moral. Artinya, calon santri harus mematuhi dengan penuh ikhlas segala peraturan kiai, berakhlak mulya, sekaligus punya dasar dalam ibadah; membaca Al-Quran, sholat, dan sejenisnya. Meski di beberapa pesantren tertentu (baca: modern) juga memperhatikan aspek intelektual, seperti kualitas ijazah, itu pun biasanya sebagai pelengkap formalitas saja.

Dari konsep barokah tersebut, timbullah tradisi-tradisi unik di pesantren, seperti santri berebutan mencium tangan kiainya, membalikkan sandal kiainya, dan sejenisnya. Mungkin aneh, dan tidak masuk akal, sebab perilaku tersebut memang tidak bisa dianalisa dengan logika kausalitas sejenis "kalau makan pasti kenyang". Namun, Prilaku tersebut menjadi simbol yang mengandung nilai ketaatan yang dapat melahirkan kesuksesan min haitsu la yahtasib yang langsung datang dari Tuhan (barokah), dan hanya dialami oleh orang yang yakin saja. Bukankah kita sering melihat seorang santri saat mondok bodohnya bukan main namun setelah lulus dia menjadi orang yang paling bermanfaat di tengah-tengah masyarakatnya. Dan sebaliknya, ada santri yang pintarnya luar biasa tapi setelah keluar dari pondok justru menjadi orang yang biasa-biasa saja, tidak ada bedanya dengan orang awam, bahkan ada yang jadi pengrusak. Santri pertama mendapatkan barokah dan yang kedua dapat ilmu tapi tidak dapat barokahnya.

Tapi, seiring dengan kepesatan perkembangan zaman (baca: modern) yang melahirkan logika kebebasan dan rasionalisme, konsep barokah tersebut mulai buram tergilas oleh konsep modernitas yang juga merasuki dunia pesantren. Sebab, dengan konsep modernitas tersebut banyak manusia menjadi robot-robot yang segala tindakannya diinstal oleh sistem-sistem modernitas yang sifatnya serba bebas dan rasional. Sehingga, manusia kerap menjadi lupa nurani, termasuk insan pesantren.

Semua itu tampak, banyak santri sekarang (saya sebut santri kontemporer) sudah mulai meragukan dan mempertanyakan tradisi-tradisi unik pesantren. Seperti, apa hubungannya mencium tangan kiai atau membalikkan sandal kiai dengan kesuksesan, atau mereka mulai mengkritik habis-habisan eksistensi kitab-kitab klasik sebagai rujukan moral utama pesantren dengan anggapan sudah ketinggalan zaman. Dari sini, ada beberapa pesantren yang mengesampingkan pembelajaran kitab kuning dengan mengurangi waktunya, atau hanya mempelajari sedikit tema saja. Pesantren demikian lebih disesaki oleh sistem dan kurikulum umum yang dianggap lebih modern, seperti kursus-kursus komputer, internet, musik, seni, olah raga, dan sejenisnya.

Pada gilirannya, tidak menutup kemungkinan wajah pesantren akan berganti diwarnai dengan tradisi-tradisi baru yang gersang, seperti individualisme, fanatisme, glamor, bahkan kriminalisme. Akhirnya, meminjam istilah Ibnu Hajar, budayawan Sumenep: santri malah menjadi rayap-rayap yang menggerogoti tiang-tiang pesantren itu sendiri.

Maka dari itu, Seluruh civitas pesantren (kiai, guru, sekaligus santri) harus mengadakan pemahaman ulang yang lebih benar tentang konsep modernitas sekaligus mengadakan pengawasan yang intensif dalam penerapannya. Kemudian, menata ulang sistem dan kurikulum yang seimbang dan utuh antara modernitas, spritualitas dan moralitas. Dengan demikian, misi luhur pesantren modern mencetak generasi intelek (IPTEK) sekaligus membawa berkah (IMTAK) akan betul-betul menjadi kenyataan. (Pernah dimuat di Radar Madura, Jawa Pos Group).

Virus Sekolah Favorit Di Musim PPDB

Mencermati musim Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) saat ini, penulis teringat sembilan tahun silam (2000 M), saat penulis mendaftarkan diri melanjutkan studi di sebuah pesantren yang menurut penulis terkenal di mana-mana, setelah menyelesaikan studi di sekolah kampung yang lumayan ketinggalan.

Namun, betapun berasal dari beground sekolah yang ketinggalan, penulis tidak ciut nyali dengan mem-PD-kan diri hanya karena sebuah prinsip yang diajarkan guru-guru di kampung. Kata mereka, keterkenalan, kehebatan, atau kecanggihan sebuah lembaga pendidikan itu bukan segala-galanya dalam menentukan keberhasilan pelajar. Tapi, yang paling menentukan adalah pribadi masing-masing pelajar, mau belajar serius atau tidak. Sekaligus dengan sebuah motif sederhana, yaitu bahasa komunikasinya bahasa Arab dan Inggris. Artinya, penulis berpikiran, kalau keluar dari pesantren terkenal itu akan pandai berbahasa arab dan inggris.

Penulis kira, semua calon siswa atau santri baru yang berniat melanjutkan studinya saat ini tidak jauh beda perasaannya tentang alasan, motif, dan motivasi ke mana mereka mau malanjutkan studinya. Dan tentunya, alasan pilihan tiap calon siswa berbeda-beda. Tapi yang jelas, semuanya pasti ingin yang terbaik, baik yang berupa pesantren maupun non pesantren.

Dari sinilah kemudian lahir istilah sekolah atau pesantren unggulan atau favorit. Sehingga, tiap calon siswa atau santri saling berebutan untuk diterima di lembaga yang berkategori favorit itu. Akhirnya, sekolah yang dianggap favorit kebanjiran dengan luberan pendaftar, sedangkan yang diklaim ketinggalan tenang-tenang saja kesepian.

Sayangnya, seringkali pilihan-pilihan itu didasarkan atas alasan-alasan yang tidak rasional atau rasional tapi dibumbui dengan pandangan fanatis. Yang tidak rasional, kerapkali calon siswa dan orang tuannya memburu sekolah-sekolah yang elit atau bergengsi. Padahal, bukan setiap yang elit itu favorit karena kualitasnya yang betul-betul bermutu, akan tetapi bisa jadi karena sengaja secara fisik sekolah itu dibangun oleh orang atau pihak bermodal tebal sehingga gedungnya megah terkesan elit.

Kemudian bagi mereka yang alasannya rasional tapi fanatis, adalah mereka yang berambisi memasuki sekolah tertentu lantaran memang betul-betul kualitasnya baik dan terkenal, namun mereka menganggap sekolah itu jalan satu-satunya menuju sukses sehingga kalau seandainya tidak lolos daftar mereka anggap kegagalan segala-galanya.

Akhirnya, ketika betul-betul tidak lolos mereka mengalami frustasi atau stres. Penulis pernah membaca di sebuah media massa bahwa ada seorang anak yang mengancam orang tuanya dengan tidak mau sekolah kalau tidak lolos mendaftar di sekolah favorit yang ia banggakan. Kemudian, ada orang tua siswa pusing tujuh keliling, stres, dan tidak bisa tidur hanya lantaran anaknya tidak lolos daftar ke sekolah favorit yang ia ingini.

Lain lagi dengan yang lolos, mereka terlalu bangga dengan kesuksesannya sebagai siswa sekolah unggulan yang dibanggakan, dengan keyakinan yang pasti bahwa mereka akan menjadi orang sukses setelah selesai nanti.

Sejatinya, semua motif atau perasaan di atas adalah perasaan dan sikap yang tidak baik, bahkan menjadi semacam virus yang membahayakan dan mengancam masa depan peserta didik.

Betapa tidak, yang lolos dan terlalu bangga di sekolah favoritnya, seringkali menjadi bumerang bagi dirinya sendiri, dia cuma bisa berperasaan bahwa sekolahnya sudah favorit pasti nanti sukses. Padahal, kesuksesannya adalah berada pada dirinya sendiri bukan sekolahnya. Akibatnya, dia mengentengkan keseriusan belajarnya tanpa disadarinya. Akhirnya, jangan heran ketika ada alumni sekolah atau pesantren yang terkenal di mana-mana dengan keunggulannya tapi dia biasa-biasa saja tak ada bedanya dengan manusia lainnya. Bahkan, bisa jadi lebih apes eksistensinya dari pada yang tidak sekolah sama sekali.

Lebih-lebih yang tidak lolos, lantas dia menjadi frustasi. Muaranya, dua kemungkinan yang akan terjadi, tidak jadi melanjutkan sekolah tapi langsung kerja, atau sekolah tapi dalam keadaan terpaksa. Kalau demikian, bayangkan saja, bagaimana mungkin dapat ilmu bermanfaat kalau belajarnya sudah terpaksa lantaran sekolah di sekolahan yang dirasa tidak favorit.

Memang, keberadaan sekolah memengaruhi kesuksesan peserta didik, akan tetapi tidak segala-galanya. Ada yang lebih memengaruhi dan menentukan kesuksesan mereka, yaitu kepribadian mereka sendiri. Bisa dikaitkan dengan hal ini, seorang ilmuwan membagi hal-hal yang memengaruhi intelejensi manusia (baca: kecerdasan) secara hierarkis: faktor hereditas, yaitu faktor yang berasal dari dalam diri anak didik (baca: kepribadian); faktor lingkungan, yaitu faktor yang berasal dari luar diri anak didik (baca: sekolah); dan faktor hidayah, yaitu petunjuk yang diberikan langsung oleh Tuhan.

Jadi, faktor kepribadian peserta didiklah yang utama menentukan kesuksesan belajarnya. Namun, betapapun lingkungan sekolah memengaruhi, mungkin yang membedakan favorit tidaknya adalah sistem atau infrastrukturnya an sich. Tapi, untuk visi, misi, dan tujuannya, mulai sekolah yang terfavorit sejagat raya sampai dengan sekolah yang reot pasti sama, yakni ingin peserta didikannya sukses.

Kemudian, yang perlu diperhatikan lagi adalah sekolah yang lebih dekat dengan hidayah Tuhan. Yaitu, sekolah yang memiliki sistem, prinsip, dan peraturan yang ketat dan kokoh serta steril dari sistem atau infrastruktur yang dekat dengan maksiat atau dosa.

Sebab, inilah puncak yang paling menentukan kesuksesan anak didik. Akan sia-sia kehebatan dan kecanggihan sekolah serta kecerdasan anak didik jika yang satu ini (hidayah Tuhan) tidak diraih, bahkan menjadi bumerang bukan hanya bagi diri sendiri atau keluarga, tapi nusa dan bangsa. Hal inilah yang harus diperhatikan oleh semua pihak, terutama calon siswa, wali siswa, pemerhati, sekaligus praktisi pendidikan di negri ini.

Sebelum menutup catatan ini, mari kita tengok ulang orang-orang yang sukses tanpa ruwet mencari sekolah-sekolah yang disebut favorit, bahkan tanpa sekolah-sekolah tinggi. Taruhlah misalnya, HAMKA menjadi profesor tanpa sekolah-sekolah favorit. Sastrawan mashur Zawawi Imron, beliau hanya sekolah SR dan santri kampungan. Dan, Adrea Hirata, sang novelis dan motivator sejati alumni sekolah SD kampungan yang reot, dan tokoh-tokoh sukses lainnya, bagaimana mereka belajar yang sesungguhnya. (Pernah dimuat di Radar Madura, Jawa Pos Group).

Valentine's Day: Cobaan Indah Insan Pesantren

Tradisi perayaan Valentine's Day (hari raya kasih sayang) adalah tradisi yang paling indah dan menyenangkan bagi kalangan remaja selain Tahun Baru Masehi dan hari Natal. Sehingga, menjadi tradisi yang paling berkesan dan disukai.

Bila kita memandang Valentine's Day dari sudut Islam, sudah barang tentu hukumnya haram dengan beberapa alasan. Diantaranya, pertama, Valentine's Day jelas tidak ada dasarnya dalam Al-Quran dan Hadist. Kedua, Valentine's Day berasal dari tradisi luar Islam (baca: Kristen) yang merujuk kepada St. Valentine, seorang pendeta Kristen pada abad ke 3 M. Sehingga, bila orang Islam ikut merayakannya berarti dia telah menyerupai orang Kristen. Hadist Rasul SAW menjelaskan, "Barangsiapa yang menyerupai (bertasyabuh) suatu kaum, maka ia termasuk salah seorang dari mereka." (HR. Abu Dawud, Ahmad, dan ath-Thabrani).

Ketiga, Valentine's Day lebih kental dengan kemaksiatan. Konon, Valentine's Day berangkat dari motivasi kasih sayang antara pria dan wanita. Sebagaimana St. Valentine ketika menikahkan para pemuda atas motif adanya rasa kasih sayang. Kemudian St. Valentine menjalin cinta secara diam-diam di bilik penjara dengan seorang anak sipir penjara sebagai implementasi rasa kasih sayang kepadanya. Titik historis inilah yang lebih diabadikan oleh para remaja sekarang, sebagai hari raya kasih sayang kepada seorang kekasih dan biasanya diekspresikan dengan memberi sebuah kartu atau kado valentine, hadiah coklat, bunga-bunga kasih sayang, dan pernak-pernik Valentine's Day lainnya. Menjadi asing bila kasih sayang tersebut dimaksudkan untuk kedua orang tua atau sanak keluarga.

Dari sudut sosial-budaya, adalah fakta, tradisi Valentine's Day bukan hanya milik kalangan; bangsa, kultur, atau agama tertentu. Namun, telah menjadi tradisi semua kalangan, termasuk kalangan pesantren yang selalu bergelut dengan keislaman. Meskipun dengan cara-cara yang lebih sederhana, misalnya salam cinta kasih sayang via surat, koran, majalah, internet, dan media masa lainnya yang terjangkau di pesantren. Namun, tidak menutup kemungkinan ada juga santri yang berkecimpung langsung di luar dengan menyalahgunakan perizinan yang sudah direncanakan matang-matang sebelumnya. Apalagi, beberapa pihak penerbitan media massa menyediakan rubrik khusus yang melayani jasa pernak pernik tradisi Valentine's Day. Selain itu, para pedagang bunga-bunga, coklat, dan sejenisnya, mereka sangat merasa diuntungkan dengan adanya Valentine's Day. Hal tersebut wajar, sebab mereka mempertimbangkannya dengan ukuran sosial-ekonomi. Lain lagi bila kita melihat Valentine's Day dari sudut sosial-politik. Bisa jadi, perayaan Valentine's Day menjadi momen paling jitu untuk menarik masa sebanyak-banyaknya, apalagi pas bersamaan dengan sedang hingar-bingarnya persoalan politik mendekati pemilihan umum, baik legislatif maupun eksekutif.

Tapi, bagaimanapun kita melihat Valentine's Day dari berbagai sudut pandangnya, kita jangan sampai lupa terhadap sudut nurani kita masing-masing, siapapun itu. Di sini, timbul beberapa pertanyaan: Betulkah Valentine's Day menjadi motivasi sentral untuk mengekpresikan rasa cinta kasih sayang? Atau, apakah cuma pada tiap hari itu (14 Februari) kita harus berkasih sayang dengan sesama? Dan, apakah rasa kasih sayang tersebut hanya untuk pacar, kalangan remaja, pria dan wanita dengan cara berduaan di tempat sepi atau umum, pesta miras, ciuman, atau bahkan menyerahkan keperawanan? Ini adalah fakta, sebagaimana yang dibuktikan oleh majalah Cosmo Girl, 95 % gadis yang merayakan Valentine's Day rela memberikan keperawanannya kepada teman cowoknya di saat perayaan tersebut. Siapapun akan memandang itu salah. Sebab, kasih sayang adalah ajaran kemanusiaan universal. Artinya, kasih sayang adalah milik manusia semua bahkan lingkungan dan makhluq lainnya berdasarkan aturan-aturan yang benar. Maka dari itu, kalau boleh saya istilahkan, pada hakekatnya valentine's day ini adalah "hari raya murka/duka".

Untuk menghindar dari duka itu, bagi umat kristen sebagai tuan rumah perayaan Valentine's Day, perlu menengok ulang tradisi tersebut, apakah betul-betul menjadi motivasi menebarkan kasih sayang yang menimbulkan kebahagian masa depan atau hanya kebahagiaan sesaat yang merusak masa depan, sehingga perlu dipertimbangkan ulang eksistensinya. Sedangkan bagi umat Islam, lebih-lebih insan pesantren sebagai basis generasi Islam, kita yang sebetulnya sudah memiliki peradaban yang utuh dan lengkap jangan mudah tergiur oleh budaya-budaya lain yang destruktif. Ironisnya, selama ini justru orang lain yang mengamalkan keutuhan peradaban kita kemudian kita hanya menjadi pengekornya. Lebih parah lagi, acapkali kita menjadi penikmat setia budaya yang jelas-jelas kontras dengan budaya kita, semisal valentine's day ini.

Oleh karena itu, kita harus kembali kepada identitas sejati kita sebagai umat Islam yang utuh dan jaya. Dalam bertindak jangan hanya dipertimbangkan dengan rasionalitas tapi juga dengan nurani. Sehingga, kita bisa menyaring mana budaya luhur dan kebahagiaan sejati. Dari semua itu, Valentine's Day sebetulnya menjadi ujian atau cobaan umat muslim pada khususnya dan seluruh manusia pada umumnya dalam bentuk keindahan dan kesenangan, "Adakah orang yang pekerjaannya buruk dianggap baik lalu menjadi baik?" (Q.S. 35: 8). Seringkali keindahan membawa duka, kita harus selalu waspada. (Pernah dimuat di Radar Madura, Jawa Pos Group).

Kado Tahun Baru Dari Pesantren Buat Palestina

Di pagi hari, 1 Januari 2009 M, saya menjadi bertanya-tanya keheranan atas sebuah acara yang tidak biasa dilakukan di pesantren. Yaitu, acara istighotsah yang diikuti oleh seluruh civitas pesantren beserta anggota masyarakat sekitar pesantren. Sebab, mana mungkin pesantren juga ikut-ikutan merayakan tahun baru masehi, toh dengan kegiatan yang Islami. Bukankah perayaan tahun baru masehi menjadi suatu hal yang sangat kontraversial dalam Islam. Tapi, setelah diperjelas duduk persoalannya, ternyata motif dan tujuan isthighosah tersebut adalah dalam rangka mendoakan masyarakat Palestina yang sedang didholimi oleh tentara-tentara zionis Israel dengan rudal-rudal mereka. Sekaligus doa dalam mengawali tahun baru masehi, sebagai sebuah keyakinan dari hadist Nabi yang artinya, “Setiap perbuatan yang tidak dimulai dengan dzikrullah (mengingat Allah), maka akan terputus barokahnya.”.

Bila kita mencermati fenomena yang melingkari perayaan tahun baru saat ini, ada suatu hal yang menarik sekaligus mengiris-ngiris hati. Menariknya, ternyata masih banyak umat manusia yang menyambut tahun baru dengan kegiatan-kegiatan yang positif, semisal muhasabah, tablig akbar, istighotsah, khotmu Al-Quran di pesantren, di masjid, dan di musholla-musholla. Sementara ironisnya, di sudut lain justru lebih banyak umat manusia yang melakukan perayaan tahun baru dengan perbuatan-perbuatan negatif; berjingkrak-jingkrak, kumpul-kumpul maksiat, pesta miras, konvoi-konvoi, tawuran antar geng, hura-hura, dan sejenisnya. Lebih menyedihkan lagi, di tempat lain ada yang seenaknya membantai sesamanya, sebagaimana yang terjadi pada bangsa Palestina di jalur Gaza yang tanpa henti-hentinya ditaburi rudal-rudal pesawat F-16 oleh pasukan Zionis Israel. Belum lagi mereka yang menyambut tahun baru dengan kelaparan, kemiskinan, trauma bencana, dan sejenisnya.

Dari semua itu, kalau boleh saya tarik lebih dalam, pada dasarnya manusia merayakan tahun baru saat ini dapat dikategorikan menjadi dua sisi yang bersebrangan, yaitu di satu sisi ada yang merayakannya dengan tangisan air mata, sementara pada sisi lain ada yang merayakannya dengan tertawa bangga.

Sudah barang tentu, setiap manusia punya motif dan alasan sendiri dalam merayakan sekaligus mengisi tahun baru. Yang merayakan tahun baru dengan bangga dalam hiburan dan kemaksiatan, pada sejatinya tanpa sadar mereka telah memulai tahun baru dengan kesedihan dan bencana untuk dirinya sendiri. Bukankah tidak ada akibat bagi kemaksiatan kecuali hanya kerusakan dan penderitaan? Jadi, pada hakekatnya mereka telah mendholimi dirinya sendiri. Lebih dari itu, dapat mendatangkan bencana bagi yang lain. Tapi, sungguh sangat beruntung sekali mereka yang masih sempat dan semangat menyambut awal tahun baru dengan mengingat Tuhannya, introspeksi, berdoa, dan beramal baik di momen yang lebih merangsang manusia untuk bernikmat-nikmat di tempat-tempat hiburan,. Sebagaimana sabda Nabi di atas, bagi mereka akan mendapat barokah.

Sedangkan yang merayakan dengan pembantaian terhadap sesama, maka mereka jangan bangga, karena pada hakekatnya mereka telah membantai dirinya sendiri. Sebagaimana Tuhan telah menjelaskan, bahwa setiap apa yang diperbuat oleh manusia akan kembali kepada dirinya sendiri. Konkritnya, barang siapa yang menyakiti orang lain berarti dia telah menyakiti diriya sendiri. Dan sebaliknya, barang siapa yang membahagiakan orang lain sebetulnya dia telah membahagiakan dirinya sendiri. Maka, bangsa Israel dan sekutunya sekaligus siapapun yang hobinya suka membantai dan mendholimi orang dan bangsa lain, jangan bangga dengan hal tersebut, betapapun kuasa dan hebatnya, suatu saat akan merasakan hal yang sama. Tidak di dunia ini, maka di akherat nanti.

Selain itu, fenomena-fenomena tahun baru tersebut menjadi bukti kongkrit, bahwa manusia hidup di dunia ini acapkali lebih suka dan mudah terhipnotis oleh hal-hal yang tampak serba mudah, glamor, dan membahagiakan. Sedangkan untuk hal-hal yang membutuhkan perjuangan dan susah payah mereka pantang dan alergi. Padahal, seringkali yang tampak membahagiakan pada akhirnya membawa kesedihan. Dan sebaliknya, hal yang tampaknya susah payah dan menuntut penuh perjuangan pada akhirnya membawa kapada kebahagiaan. Hal ini sesuai dengan kata bijak yang berbunyi, “Bila kamu menemukan sesuatu yang pahit, maka jangan mudah kau buang begitu saja siapa tahu itu menjadi jamu bagi penyakitmu. Begitu juga, jika kamu menemukan sesuatu yang manis jangan tiba-tiba kau mudah menelannya siapa tahu menjadi penyakit bagi dirimu”. Pendek kata, manusia ingin bahagia tanpa susah payah. Padahal, hidup tidak seideal kata fantasi, “Hidup bahagia mati masuk surga.”

Akhirnya, sesungguhnya tahun baru ini menjadi kaca mata bening bagi kita untuk mengamati kondisi manusia dan kemanusiaan di zaman ini. Mata kita menjadi terbuka lebar-lebar, bahwa seperti itulah kondisi bangsa kita di negri ini sekaligus bangsa-bangsa di dunia. Lalu, apakah kita hanya bisa menundukkan kepala meratapi atau bahkan berpangku tangan saja? Paling tidak, inilah kado doa dari pesantren, untuk semua yang mangawali tahun baru ini dengan linangan air mata, yang selalu didholimi. Janganlah bersedih dan berkecil hati. Maka berjuang, tabah, konsisten, dan yakinlah hanya kepada Tuhan. Sebab, hanya dengan perjuangan, ketabahan, konsisstensi, dan keyakinan kepada Tuhan akan datang sebuah kemenangan yang abadi. (Pernah dimuat di Radar Madura, Jawa Pos Group).

Merenungi Eksitensi Diri Melalui Maulid Nabi

Berbicara mengenai kelahiran akan tergambar di benak kita tentang kehidupan, harapan, dan kebahagiaan. Sebab, dengan kelahiran kehidupan akan terus berlanjut dan estafet kehidupan sebuah komunitas keluarga akan bersambung. Maka dari itu, kelahiran adalah sebuah momentum yang ditunggu-tunggu, toh sebaliknya ada juga kelahiran yang tidak diinginkan dengan adanya kasus-kasus aborsi, pembuangan bayi, dan sejenisnya.

Lain lagi dengan kematian, berbicara tentang kematian sudah pasti akan tergambar kengerian, ketakutan, dan kesedihan. Sebab, dengan kematian berarti terputusnya estafet kehidupan. Banyak deretan peristiwa kematian yang sering kita saksikan dengan berbagai motifnya: kedholiman, peperangan, tawuran, bencana alam, dan sebagainya. Namun ada juga kematian yang diharapkan, seperti matinya para penjahat, koruptor, dan pemimpin yang sewenang-wenang.

Kebanyakan manusia menganggap kematian adalah berpisahnya roh dari raga badan manusia saja. Padahal, ada yang lebih dari itu, yaitu kematian batin. Sebab, kematian ini bukan hanya terjadi ketika roh tercerabut dari raga akan tetapi bisa dialami oleh manusia yang sedang hidup sehat raga. Maksudnya, raganya sehat tapi akal dan hatinya mati dari kebenaran.

Kematian ini implikasinya lebih luas dan abadi. Misalnya, para pejabat-pejabat yang korupsi, pemimpin yang sewenang-wenang, dan orang kaya yang rakus yang mengakibatkan kematian lain yang lebih menyedihkan, yaitu pupusnya harapan, terampasnya hak, kasih sayang, keamanan, dan kebebasan. Ada yang menyebut pula kematian ini dengan, "I'm possibilite de Toute Possibilite": berpikir ketidakmungkinan dari segala kemungkinan.

Begitu juga kelahiran, ada kelahiran batin yang lebih bernilai dari pada kelahiran fisik. Yaitu, bisa berupa semangat baru, keselamatan, kesucian, kesuksesan, dan kebebasan. Seperti, orang yang baru nikah, orang akan mengucapkan kepadanya "selamat menempuh hidup baru", sama artinya kelahiran semangat baru.

Ada empat macam kondisi manusia berkaitan dengan kelahiran dan kematiannya. Pertama, manusia yang kelahirannya disenangi dan kematiannya ditangisi. Kedua, manusia yang kelahirannya disenangi dan kematiannya disenangi. Ketiga, manusia yang kelahirannya ditangisi dan kematiannya disenangi. Dan keempat, manusia yang kelahirannya ditangisi dan kematiannya ditangisi.

Bagi kelahirannya yang disenangi berarti kehadirannya memang diharapkan. Dan kelahirannya yang ditangisi bisa jadi karena kehadirannya dianggap akan menimbulkan malapetaka, seperti anaknya penjahat ditakuti mewarisi kejahatannya. Sedangkan yang kematiannya ditangisi berarti manusia berat ditinggalkannya karena selama hidupnya membawa kedamaian bagi yang lain.

Dan yang kematiannya disenangi berarti kematiannya memang diharapkan karena sepanjang hidupnya selalu membuat keonaran. Manusia yang bahagia adalah manusia yang pertama dan yang terakhir.

Berkaitan dengan kelahiran ini, di bulan ini, terdapat hari kelahiran panutan agung kita, Nabi Muhammad SAW, 12 Rabiul Awal yang menjadi hari besar umat Islam sedunia.

Konon, Tradisi maulid Nabi diresmikan secara global pada masa Dinasti Bani Ayyub oleh Sultan Salahuddin Yusuf al-Ayyubi (570-590 H) atas restu kholifah An-Nashir di Bagdad melalui momen ibadah haji (579 H/1183 M) dengan motif: Pertama, untuk mengimbangi maraknya peringatan Natal oleh umat Nasrani saat itu sehingga umat Muslim tidak mudah terpengaruh.

Kedua, mempertebal kecintaan umat kepada Rasulullah SAW serta memerkuat keyakinan akan kebenaran risalah Beliau. Dan ketiga, menumbuhkan kembali ghirah perjuangan dan persaudaraan umat muslim yang mulai lesu karena terombang-ambing oleh serangan-serangan berbagai bangsa eropa yang bertubi-tubi pada perang salib waktu itu.

Berangkat dari semua itu, diharapkan kita dapat mengenang sekaligus meneladani sang pahlawan sejati yang selalu berada digaris depan saat perang, pemimpin yang adil yang tidak pilih kasih, dan seorang hamba Tuhan yang ibadahnya tak dapat dibayangkan.

Pada intinya, Beliau adalah manusia sejati yang segala amalnya tanpa pertimbangan "karena"; karena ingin dipuji, karena ingin pangkat tinggi, apalagi karena ingin dapat bayaran tinggi, dan "karena-isme" lainnya, kecuali karena cinta Allah dan li'izzil Islam walmuslimin semata. Jadi motif etis, psikologis, dan spiritual itulah yang melatarbelakangi lahirnya tradisi maulid Nabi.

Sehingga, tidaklah pantas kiranya kalau ada pihak yang membid'ahkan tradisi maulid Nabi ini hanya karena tidak pernah dilakukan oleh Rasulullah SAW secara langsung.

Oleh karena itu, meskipun Rasulullah SAW sebagai manusia biasa (inni Basyarun mitslukum), sangat wajar sekali bila kelahiran Beliau menjadi momentum yang ditunggu-tunggu oleh semua makhluk Tuhan. Lahirnya Beliau ibarat munculnya sang mentari yang menyinari kegelapan semesta alam sepanjang masa. Firman Allah, "Dan tiadalah Kami mengutus kamu,melainkan untuk rahmat bagi semesta alam" (QS. 21:107).

Dan ahirnya, kematian Beliau menjadi sesuatu yang ditangisi (berduka) semesta alam. Pada konteks inilah, kita harus dapat mengambil hikmah (baca: merenungi diri): siapakah kita, sebagai pengikut sejati Rasulullah SAW yang meneruskan jejak-jejak Beliau sehingga kehadiran kita disenangi dan kepergian kita ditangisi, atau malah sebaliknya keberadaan kita dibenci oleh masyarakat. Na'udzubillah. (Pernah dimuat di Radar Madura, Jawa Pos Group).

Mencermati Standart Memilih Pemimpin

Menjelang pemilu 2009 legislatif maupun eksekutif, banyak wacana yang mengiringinya, baik yang bersumber dari para santri, mahasiswa, ilmuwan, budayawan, politisi sendiri, maupun masyarakat awam pedalaman, dan sebagainya, dalam bentuk tulis maupun orasi, dan dengan beraneka ragam substansi pemikiran dan asumsi yang diusung. Sekarang, Cawe-cawe dalam politik atau pemilu bukan lagi dimanipulasi oleh orang-orang elite atau atasan (baca: Pejabat atau politisi) an sich, tetapi semua kalangan.

Namun, betapapun semua kalangan masyarakat sudah mulai melek urusan politik atau pemilu, mereka jangan sampai terbuai akan janji-janji manis para calon pemimpin. Oleh karena itu, masyarakat harus ekstra hati-hati dalam menentukan pilihan. Sebab, para calon pemimpin dalam mempromosikan dirinya pasti akan selalu muncul sebagai orang yang benar dan suci dengan wajah yang terkesan ramah, ceria, penuh senyum, dan keikhlasan. Padahal, masyarakat belum tentu tahu apa sesungguhnya yang ada di hati para calon pemimpin itu.

Ada beberapa gagasan pertimbangan sebagai standart pegangan kita dalam menentukan siapa yang akan kita pilih sebagai pemimpin masa depan kita. Hal ini penting kita cermati dalam-dalam untuk mengkategorikan calon pemimpin yang pantas kita pilih atau tidak. Sebab, pemilihan umum sejatinya tidak sekedar memilih seorang pemimpin, tetapi juga memilih masa depan. Seorang pemimpin yang kita pilih nanti, akan menentukan masa depan kita; setidaknya untuk masa lima tahun mendatang (Pelita, 23/3/09).

Jika pemimpin yang kita pilih benar-benar manjadi pemimpin yang sejati, luhur, adil, jujur, tegas, dan amanah, maka kehidupan kita lima tahun mendatang akan menjadi masa yang penuh bahagia sejahtera, sehingga masa itu akan terasa amat cepat dan pendek.

Tetapi sebaliknya, jika pemimpin kita itu buas, rakus (menikmati uang apa dan uang siapa saja/jago korupsi), sewenang-wenang, dan saenae udele dewe, masa lima tahun ke depan kita akan menjadi layaknya hidup di neraka yang menyiksa, sehingga masa itu akan terasa amat lambat dan panjang.

Standart pertimbangan itu adalah, pertama, pertimbangan kendaraan politik yang ditumpangi oleh para calon pemimpin (baca: partai). Kita bisa melihat kualitas para calon pemimpin dari partai politik yang ditumpanginya, yaitu visi dan misi masing-masing partai. Di samping itu, kita juga melihat visi dan misi pribadi masing-masing para calon pemimpin yang bisa kita lihat secara tertulis pada bendera, baleho, spanduk, poster, kartu, atau kaos partai, dan pernak-pernik kampanye lainnya.

Kedua, pertimbangan kapasitas kepribadian para calon pemimpin. Dalam hal ini, kita harus mencermati sejauh mana kecerdasan dan kecakapan mereka dalam memimpin (leadership); cerdas dalam spritualitas, moralitas, intelektualitas, emosional dan posisional.

Termasuk juga, calon pemimpin harus sehat jasmani dan rohani. Kita bisa mengetahui dengan lebih jelas semua kapasitas-kapasitas tersebut ketika mereka tampil berorasi di depan publik atau dalam acara-acara debat calon pemimpin. Dan, Semua kapasitas tersebut harus termanifestasi utuh dalam diri mereka.

Ketiga, pertimbangan niat dan cara atau proses menjadi pemimpin (how-nya). Artinya, niat dan proses menjadi pemimpin sangat mempengaruhi para calon pemimpin ketika berhasil menjadi pemimpin. Kita bisa mengetahui kualitas mereka dari niat dan cara mereka dalam berupaya menuju keberhasilan menjadi pemimpin.

konteks ini harus kita cermati secara utuh, tidak boleh salah satunya saja. Niatnya baik tapi prosesnya buruk, maka akan membawa kepada kehancuran, tidak ubahnya seorang penghianat. Begitu juga jika prosesnya baik tapi niatnya buruk, akhirnya akan membawa kepada kehancuran juga, tidak ubahnya seorang penipu.

Seorang kiai salaf menganalogikakan hal ini dengan seseorang yang memberikan makanan enak yang dicampuri dengan kotoran secara samar kepada orang kelaparan. Atau, bahkan dicampuri dengan racun sehingga akhirnya mematikan (sok penolong tapi sebenarnya penjahat). Maka dari itu, antara niat dan proses harus seirama dalam kebaikan.

Meskipun niat para calon pemimpin bukan berupa hal yang kasat mata (tidak dapat dilihat). Kita bisa mengetahuinya lewat bagaimana mereka berproses, berusaha, atau berkiat untuk mewujudkan niatnya menjadi pemimpin; bagaimana usaha mereka dalam berkampanye untuk mempromosikan diri sebagai calon pemimpin. Misalnya, bila ada seorang calon pemimpin menghalalkan segala cara, seperti curang dan menyogok (money politic), maka sudah pasti niatnya juga tidak bersih.

Maka dari itu, bagi seluruh kalangan masyarakat harus betul-betul mencermati pertimbangan-pertimbangan memilih di atas. Sebab, bila salah pilih akibatnya akan kembali kepada diri sendiri; kehancuran masa depan. Jangan mudah terbius oleh kenikmatan sementara: uang puluhan ribu, bungkusan rokok, sarimi, apalagi hanya janji-janji manis yang abstrak.

Akhirnya, kita (para pemilih sekaligus calon pemimpin) harus selalu ingat peringatan nabi saw, "Apabila amanat itu dilenyapkan, maka tunggulah datangnya kiamat. Sahabat bertanya, 'Wahai Rasulullah, bagaimana melenyapkan amanat itu?' Rasulullah menjawab, 'Apabila perkara itu diserahkan kepada yang bukan ahlinya, maka tunggulah datangnya kiamat." (Pernah dimuat di Radar Madura, Jawa Pos Group).

Pesantren Dan Kehidupan Santri Modern

Kita semua sudah tahu bahwa ada tiga bentuk pesantren yang memiliki corak tersendiri. Pertama, pesantren salaf, yaitu pesantren yang masih melestarikan tradisi-tradisi ke-salaf-an sebagai sebuah warisan khazanah keilmuan ulama-ulama al-salaf al-sholih (baca: ulama-ulama klasik) seperti hanya menekankan pembelajaran kitab-kitab klasik, dan sistemnya sangat sederhana.

Kedua, pesantren khalaf, atau disebut dengan pesantren modern, adalah pesantren yang sudah mengadopsi khasanah keilmuan dan sistem pendidikan yang berkembang melalui kecanggihan teknologi, fasilitasnya yang serba lengkap sekaligus kompleks, dan kurikulum pendidikannya sudah menyamakan dengan kurikulum yang disajikan pendidikan formal.

Ketiga, pesantren semi modern, pesantren ini corak keilmuan dan sistem pendidikannya tidak jauh berbeda dengan pesantren modern, hanya saja segi fasilitas yang disediakan tidak selengkap dan sekompleks pesantren modern.

Namun, bagaimanapun perbedaan corak khas masing-masing bentuk pesantren di atas, lembaga pendidikan pesantren tetaplah lembaga pendidikan pesantren, sebuah lembaga pendidikan yang membawa visi dan misi luhur tersendiri yaitu keislaman, li al-tafaqquh fi al-din dan li’izzil islam wa al-muslimin. Sekaligus memiliki ciri-ciri yang berbeda dengan lembaga-lembaga pendidikan di luar pesantren yang memiliki ciri, visi, dan misi yang beraneka ragam sekaligus cenderung kepada kedunawian semata.

Tapi, keungulan lembaga pendidikan pesantren terletak pada Panca Jiwa kepesantrenannya, diantranya: keikhlasan, kesederhanaan, kemandirian, ukhuwah islamiyah, dan kemerdekaan.

Keikhlasan, berarti dalam melaksanakan segala aktivitas pendidikan dan aktivitas apapun di pesantren hanya semata-mata lillahi ta’ala. Kalau ada seorang kiai, guru, atau ustadznya digaji atau hanya berorientasi mencari honor maka berarti dia tidak jauh beda dengan guru-guru honoran di luar pesantren.

Kesederhanaan, berarti berpola hidup dan berpenampilan hidup yang sederhana, tidak serba mewah. Sehingga ketika ada seorang santri yang pola hidupnya serba mewah, maka pada hakekatnya dia tidak jauh berbeda dengan siswa-siswi pendidikan non pesantren. Begitu juga ketika ada seorang kiai yang hidupnya serba mewah dan kediamannya lebih megah dari pada bangunan pesantrenya, maka dia bukan seorang kiai kecuali tidak jauh beda dengan seorang top manajer sebuah perusahaan.

Kemandirian, artinya berdikari, berdiri di atas kaki sendiri, baik dalam konsep, sistem, maupun dana. Maka, bila ada sebuah pesantren yang sistem pendidikan dan konsep kurikulumnya memakai susunan konsep dan sistem orang atau institusi di luar pesantren berarti bukan sebuah pesantren. Begitu juga dalam hal dana, ketika ada sebuah pesantren bergantung kepada orang atau pihak di luar pesantren seperti halnya disokong subsidi dari pemerintah atau institusi-institusi lain maka tidak ada bedanya dengan sekolah negri dan institusi-institusi lainnya.

Ukhuwah islamiyah, adalah semua komunitas pesantren selalu berada dalam ikatan prinsip persaudaraan. Sebagaimana mottonya, “Berdiri di atas semua golongan” dalam satu kesatuan persaudaraan. Tidak membawa kepentingan segelintir orang maupun kelompok tertentu. Kemerdekaan, yaitu mempunyai jiwa yang bebas. Dalam artian, bebas dari perbudakan hawa nafsu dan syetan yang terkutuk. Sekaligus bebas dari tekanan-tekanan secara personal maupun komunal, dari siapa dan pihak manapun.

Namun, ada suatu hal yang membuat perasaan penulis sedikit skeptis, bahwa potret idealis pesantren di atas hanya berlaku di sebagian kecil pesantren saja. Seperti masih ada pesantren yang masih berkutat secara fanatis-konservatif dalam tradisi-tradisi pesantren klasik dengan dalih “ menjaga purifikasi (kemurnian) dan otentisitas (keaslian) nilai-nilai tradisi ulama-ulama pendahulu, serta selalu menganggap tradisi keilmuan baru dengan segala metodologinya sebagai sebuah warisan kolonialisme (budaya barat yang mereka anggap sebagai musuh) yang dapat menciderai bangunan keilmuan ulama-ulama al-salaf al-sholih tersebut sehingga harus dijauhi dan diharamkan penerapannya.

Bagi pesantren modern, terutama bagi pihak santrinya sering kali salah menafsirkan kemodernan sistem pendidikan pesantren. Oleh karena itu, mereka harus menengok kembali pemahaman mereka tentang modernitas dengan kejernihan pikiran. Sedangkan, yang terlalu ke-salaf-salaf-an mereka sering salah paham dan berlebihan dalam memandang antara tradisi al-salaf al-sholih dan tradisi modern.

Akhirnya, penulis-paling tidak-dapat mengajukan sebuah harapan solutif: Kita jangan sampai berlebihan dalam memandang sekaligus menyikapi suatu persoalan tertentu, apalagi menyangkut serangkaian sistem pendidikan. Sebab, semua itu hanya hasil pemikiran manusia yang dipengaruhi ruang dan waktu. Sedangkan ruang dan waktu akan terus bergulir dan berubah dengan segala pernak-perniknya. Pandangan salaf tidak sepenuhnya tetap utuh di zaman sekarang, pasti ada perubahan. Begitu juga hasil kesimpulan pemikiran modern tidak akan sepenuhnya benar dan utuh, keduanya seharusnya saling melengkapi dan menutupi kekurangan. Wallahu a’lamu bis showab. (Karyaku yang pertama kali dimuat di Radar Madura, Jawa Pos Group).