Jumat, Agustus 21, 2009

Akal, Nafsu, Nurani, dan Konflik

Dalam hadist yang diriwayatkan oleh imam Ibnu Abbas yang menjadi dasar dari pada wacana teologis Islam dalam konteks akal manusia, dijelaskan bahwa kerja akal terbatas pada al-kholqi (penciptaan) saja, sedangkan untuk al-Khooliqi (Tuhan) akal tidak dapat berfungsi. Ajaran ini amat menarik dikaji, sebab ada sebagian pihak terlalu sempit atau parsial memaknai ciptaan; apa dan sebatas apa ciptaan itu; mana saja yang masuk ke ranah ciptaan dan ranah Tuhan. Wacana ini tidak sepele, sebab timbul darinya konflik kemanusian yang berkepanjangan sampai saat ini, semisal terorisme.


Akar Konflik Kemanusiaan
Topik wacana teologis ini harus lebih dilenturkan, sebab acapkali sejak zaman munculnya Islam bahkan sejak dicipta manusia pertama kali sudah menjadi persoalan yang menimbulkan perseteruan. Kita tengok persoalan Adam, iblis, dan malaikat. Sewaktu iblis dan malaikat diperintah oleh Tuhan bersujud kepada Adam, semuanya bersujud kecuali iblis (jin/syetan) (Qs. 2: 34/20: 116/7: 11/18: 50). Konon, iblis tidak mau bersujud karena pertimbangan bahwa buat apa menyembah kepada sesuatu yang unsur penciptaannya lebih rendah dari pada dirinya yang dicipta dari api. Bukankah api lebih mulya dari pada sekedar tanah kering, katanya akal logika iblis (Qs. 7: 12/17: 61).
Dan selanjutnya, dialami oleh Adam sendiri di dalam surga. Dia merasa aneh ketika dibuat sebuah peraturan oleh Tuhan yang menurut dia aneh, yaitu dilarang memakan buah pohon yang namanya khuldi, padahal untuk nikmat yang lainnya terserah dia mau makan yang mana saja (Qs. 2: 35/7: 19).
Dia pun semakin penasaran kenapa kok dilarang atau dibatasi, lawong itu di surga. Maka, iblis datang tepat waktu, seakan dapat membaca penasaran Adam yang sedang berkecamuk dalam akal pikirannya, sehingga iblis berhasil merayu Adam memakan buah khuldi yang dilarang itu (Qs. 20: 120-121/7: 20-22). Akhirnya, Adam mendapat hukuman yang setimpal, dikeluarkan dari surga ke bumi agar bertaubat (Qs. 2: 36-38/20: 123/7: 23-25)
Lain dari pada para malaikat, sewaktu disuruh bersujud kepada Adam mereka tidak menggunakan akalnya untuk berpikir yang macam-macam, tapi mereka menggunakan keimanan dalam hatinya sehingga ia-ia saja. Konon, memang Malaikat dicipta oleh Tuhan hanya dengan potensi hati nurani (iman) yang sifatnya “sam’an wa tho’atan”, selalu patuh dan konsisten apa kata Tuhan, tanpa potensi akal dan nafsu.
Dengan potensi itu kadar pengabdian atau keimanan malaikat tidak rendah tidak tinggi, tidak ingin ini dan itu. Makanya, para malaikat tetap dengan tugasnya sepanjang masa. Tidak ada yang berpikiran bosan, ingin ganti tugas, dan segala macam pikiran dan pertimbangan lainnya, malaikat adalah makhluq pasif.
Sedangkan manusia, dia tidak sekedar memiliki hati nurani yang selalu lurus, dan beriman, akan tetapi juga dicipta dengan akal dan nafsu. Oleh karena itu, hati nuraninya bisa berubah-rubah sesuai dengan situasi pikiran akal dan nafsunya. Akal membuat manusia berpikir, bertanya, menganalisa, meneliti, dan mencari-cari. Adapun nafsu membuat manusia berkeinginan, berkehendak, berambisi, dan bercita-cita. Sedangkan hatinya yang menimbang-nimbang dan mengontrol. Dengan keutuhan semua potensi itu manusia akan utuh; bisa berubah, berkembang, sekaligus seimbang dan lurus (beriman).
Kalau ketiganya tidak utuh, maka diri manusia tidak akan beres. Imannya tinggi tapi akalnya tidak digunakan, maka akan menjadi manusia pasif, kebudayaan dan peradaban tidak akan berkembang, hidup menjadi mandeg, paling tidak lambat. Begitu juga jika akalnya saja yang berfungsi, maka peradaban dunia akan berkembang pesat tapi sejatinya menuju kehancuran, seperti para teroris semisal Amerika Serikat yang mendholimi Irak atau Israel yang membasmi Palestina.
Atau, potensi keimanannya yang terlalu fanatik kepada ketuhanannya, sehingga akalnya buntu berpikir menghasilkan kesimpulan manusia lain dianggap kafir dan menghardik keimanannya, akhirnya segala cara dilalui demi membasmi manusia lain yang dianggap menghardik itu, semisal terorisme bom bunuh diri, dalih perang suci, dan sejenisnya. Sedangkan jika nafsunya saja yang lebih menonjol, maka manusia akan membabi buta, bahkan layaknya hewan yang kerjanya cuma ingin makan, tidur, dan bernafsu sek.
Ketidakutuhan dan ketidakseimbangan potensi kemanusiaan inilah yang menjadi dasar penyebab peperangan dan konflik di dunia ini amat sukar dimusnahkan, kecuali manusia telah dapat mengimbangkan segala potensi tersebut.


Keutuhan Potensi Kemanusiaan
Pasalnya, kekuatan akal, nafsu, dan nurani yang ada pada diri manusia adalah potensi dasar utuh yang tidak dimiliki oleh makhluq Tuhan lain yang bisa menjadi kelebihan sekaligus sebuah kebahayaan, tergantung personal manusianya yang memakainya. Bila dia memakainya dengan benar, utuh, dan seimbang, maka dia bukan hanya menjadi manusia hebat bahkan dapat mengalahkan malaikat. Dia beriman sekaligus juga berpikiran bagaimana meningkatkan keimanan itu setinggi-tingginya dengan peradaban dan kesejahteraan dunia. Namun, dia juga bisa menjadi makhluq yang jahat bahkan lebih bejat dari pada syetan, karena kalau sudah jahat dia akan berpikiran bagaimana kejahatan lebih handal dengan pikirannya, dan akibatnya makhluq lain juga akan musnah.
Juga tidak benar, jika ada pihak selalu mengkambinghitamkan akal dan nafsu ketika terjadi kerusakan. Seperti, kerap orang bilang kalau ada orang berbuat jahat penyebabnya karena mengikuti hawa nafsunya. Hanya saja, memang nafsu lebih mudah menjadi jalan godaan syetan. Tapi, bukan berarti esensi nafsunya yang jahat. Nafsu adalah potensi utuh bersanding dengan nurani dan akal dalam diri manusia.
Kemudian, persoalan akal tidak sampai kepada wilayah ketuhanan, itu adalah benar. Hanya saja, sampai mananya batas akal dan Tuhan itu tidak pasti. Oleh karena itu, manusia diperintah menggunakan akal, nafsu, nurani, dan segala potensi dirinya setinggi mungkin untuk mencari dan mengimani Tuhannya. Simaklah sabdah Tuhan yang sampai menantang manusia untuk menggapai (menembus) penjuru langit dan bumi dengan kekuatannya (segala potensi akal, nafsu dan nurani) demi kesejahteraan dirinya di dunia (Qs. 55: 33). Akhirnya, tanpa keutuhan akal, nafsu, dan nurani tidak akan pernah ada budaya atau peradaban, dan Tuhan tidak akan pernah diimani secara sejati. Dan, untuk mengutuhkan dan menyeimbangkan potensi-potensi tersebut tidak butuh dengan menggunakan bom atau aksi terorisme yang justru membuat umat manusia sengsara, tapi dengan pendidikan yang serius, kedamaian, keadilan, dan berbuat baik.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar