Minggu, Agustus 09, 2009

Dramaturgi

Sewaktu saya memintak bimbingan skripsi ke dosen saya, beliau mengatakan bahwa dalam penelitian berjenis kualitatif lapangan (sosial) tidak boleh tidak akan melewati sebuah teori atau konsep yang disebut dengan dramaturgi. Yaitu, sebuah teori yang dilakukan oleh peneliti untuk memilah mana yang sejati dan mana yang tidak sejati dari sumber data; mana yang hanya sekedar basa basi dan mana yang benar-benar fakta. Bisa jadi ketika seseorang ditanya jawabannya A pada faktanya atau sejatinya yang ada dalam nuraninya adalah B. Inilah yang kemudian disebut aspek dhohir dan aspek bathin pada seorang manusia, bahwa aspek dhohir (fisik) yang tampak tidak selamanya sesuai dengan aspek bathin (nurani) yang tak kelihatan, sehingga sulit untuk mengetahuinya.
***
Dramaturgi adalah teori seni teater yang dicetuskan oleh Arestoteles dalam karya agungnya Poetics (350 SM) yang di dalamnya terdapat kisah paling tragis Oedipus Rex dan menjadi acuan bagi dunia teater, drama, dan perfilman sampai saat ini.
Kemudian dikembangkan oleh Erving Goffman (1922-1982), seorang sosiolog interaksionis dan penulis, melalui pendekatan sosiologis. Dia menyempurnakannya lebih praktis dalam bentuk interaksi simbolik tentang kehidupan sosial sehari-hari yang kemudian termanifestasi dalam bukunya The Presentation of Self in Everyday Life dan menjadi terkenal sebagai salah satu sumbangan terbesar bagi teori ilmu sosial.
Dia menggambarkan sosok tokoh tertentu atau interaksi sosial dengan sebuah permainan drama yang dimainkan oleh para pemeran (aktor), dengan tujuan para penonton dapat mengambil kesan baik dari pertunjukan tersebut. Oleh karena itu, pasti dalam pertunjukan drama, teater, atau film ada pemeran yang membawakan karakter baik dan ada pemeran yang memainkan karakter buruk, pokoknya sesuai dengan semua karakter personal maupun sosial kehidupan manusia.
Teori ini menggambarkan kehidupan manusia di kehidupan nyata sosial. Di samping itu, sebagai pertanda dua sisi kehidupan sang aktor, sebagai pemain kehidupan dengan memakai karakter orang lain di atas panggung (front stage) dan sebagai dirinya sendiri saat di belakang panggung (back stage). Tentunya, kedua sisi tersebut relatif. Yang satu menunjukkan nilai kepalsuan dan yang satu nilai kesejatian, atau keduanya sewarna.
Dalam kata lain, teori dramaturgi menjelaskan bahwa identitas manusia adalah tidak stabil, dan identitas itu merupakan bagian kejiwaan psikologi pribadinya yang sekaligus acapkali karena tujuan-tujuan tertentu dipengaruhi oleh interaksi dengan orang lain (sosial) atau lingkungannya. Manusia adalah aktor yang berusaha untuk menggabungkan karakteristik personal dan sosialnya melalui “skenarionya sendiri”. Dalam mencapai tujuan-tujuan itu, manusia akan mengembangkan perilaku-perilaku yang mendukung perannya meski acapkali bertolak belakang atau mengorbankan bisikan sejati pribadinya.
Oleh karena itu, ada perbedaan akting saat aktor berada di atas panggung dan di belakang panggung. Kondisi akting di front stage adalah adanya penonton yang melihat aktor dan dia sedang berada dalam bagian pertunjukan. Saat itu dia berusaha untuk memainkan peran sebaik-baiknya agar penonton memahami tujuan dari perilakunya.
Perilakunya dibatasi oleh konsep-konsep drama sesuai dengan alur atau skenario yang telah direncanakan di belakang panggung. Sedangkan back stage adalah keadaan di mana dia berada di belakang panggung, dengan kondisi tidak ada penonton, sehingga dia dapat berperilaku bebas tanpa mempedulikan alur perilaku bagaimana yang harus dia bawakan. Nah, di belakang panggung itulah yang lebih memperlihatkan siapa sebenarnya dirinya sendiri.
Contohnya, seorang artis pemain sebuah film senantiasa berpakaian rapi, berdandan indah, berparas menawan, dan bersikap ceriah meski pada hakekatnya setelah kembali ke belakang layar atau ke rumahnya dia sebetulnya sedang dirundung masalah berat yang membuatnya sedih dan menangis.
Ini menunjukkan bahwa kesejatian dirinya dikorbankan hanya karena tujuan-tujuan tertentu dalam skenario film di layar, seperti tujuan popularitas, kekayaan, dan sejenisnya. Sama halnya dalam kehidupan nyata sosial, sebelum berinteraksi dengan orang lain, seseorang pasti akan mempersiapkan perannya dulu, atau kesan yang ingin ditangkap oleh orang lain.
***
Selain itu, dengan teori dramaturgi atau permainan peran yang dilakukan oleh manusia, terciptalah suasana-suasana atau kondisi interaksi yang kemudian memberikan makna rahasia tersendiri bagi masing-masing pribadi yang tidak diketahui oleh orang lain di saat berada di belakang layar.
Munculnya pemaknaan ini sangat tergantung pada latar belakang pribadi dan sosial masyarakat itu sendiri; nilai sejati pribadi dengan nilai kondisi sosial. Bagi yang hidup dalam lingkungan yang hedonis acapkali mengikuti alur hedonisme tersebut meski berlawanan dengan bisikan nurani di bathinnya (back stage), karena kalau tidak mengikuti arus lingkungan di mana dia hidup eksistensi dirinya tidak akan bertahan lama.
Oleh karena itu, permainan drama atau film hanya sekedar simbolik kehidupan saja, bukan yang sesungguhnya, sebab semua alurnya sudah diatur oleh sang sutradara di belakang layar atau panggung. Maka dari itu, sering kita dengar sebuah adagium, “Hidup tidak seperti permainan drama,” Artinya, kita dapat mengambil pelajaran dari teori dramaturgi ini, bahwa hidup tidak semudah apa yang terjadi pada permainan drama; hidup tidak bisa direkayasa oleh angan atau kehendak pribadi apalagi dikonstruksi paksa oleh sebuah hegemoni, sehebat apapun hegemoni itu. Di sisi lain yang lebih penting, hidup tidak bisa dinilai dari sekedar yang tampak atau tampil.
Lebih-lebih dewasa ini kehidupan hadir dalam bentuk semakin bebas, atau istilah ngetrennya disebut hidup dalam sistem demokratis yang segalanya serba bebas. Maksudnya, bebas mengekspresikan diri di atas panggung kehidupan. Meskipun kebebasan tersebut acapkali disalahpahami; bukan hanya bebas berekspresi positif, yang negatif pun bisa dipandang menjadi positif, seperti tampil bukak-bukaan (maksiat) yang sering kita lihat di layar-layar TV kita.
Kalau dulu, kata mbah-mbah saya di kampung, kaum perempuan sangat malu memperlihatkan bagian-bagian tubuhnya sedikit pun, sekarang malah menjadi trend dan kebangggaan, sedangkan justru penampilan kaum laki-laki yang lebih tertutup dan layak. Tapi itu, kalau dikembalikan lagi kepada teori dramaturgi, bisa jadi itu ketika tampil di atas panggung saja, namun pada hakekatknya saat di belakang panggung menjadi perempuan yag tertutup dan sopan. Atau, bisa jadi sebaliknya, yang tampil di atas panggung dengan gaya yang sopan dan santun bisa jadi malah di belakang panggung menjadi manusia yang sejatinya buka-bukaan.
***
Teori dramaturgi ini juga bisa dilihat pada bidang kehidupan nyata lainnya. Seperti halnya, pada fenomena para calon pemimpin kita dalam setiap levelnya. Bisa jadi ketika masa-masa kampanye di depan publik dalam mempromosikan dirinya agar terpilih menjadi pemimpin berpenampilan santun, penolong, dermawan, dan murah senyum, akan tetapi ketika balik ke ruang-ruang pribadi atau rumahnya kembali kepada habitat sejatinya, menjadi penipu, pembohong, dan sejenisnya.
Ini bisa terbukti, apakah beberapa pemimpin atau pejabat yang terjerat kasus-kasus korupsi, penipuan, pembunuhan, dan kasus tak baik lainnya ketika tampil di atas panggung publik tampak sebagai seorang koruptor atau penipu? Tentunya tidak, kecuali ketersingkapan di belakang panggung saja yang dapat membuktikan. Sebab, seringkali yang di belakang panggung itulah yang menjadi karakter, sikap, dan wajah aslinya.
Akhirnya, walaupun pada satu sisi saya percaya terhadap perkataan “Hidup bukan seperti permainan drama”, saya juga percaya pada pandangan Burke seorang teoritis literatur Amerika bahwa “Hidup bukan seperti drama, tapi hidup itu sendiri adalah drama.” Artinya, pada dataran nurani, seseorang tidak bisa didramatisir atau mendramatisir. Nurani tetap akan berbisik tentang kebenaran dan kelembutan. Namun, pada sisi penampilan (action) atau eskspresi hidup bisa didramatisir dan mendramatisir; seorang penipu atau penjahat bisa ditampilkan dan menampilkan diri sebagai penyantun, dan sebaliknya kerap kali juga penyantun ditampilkan atau menampilkan diri sebagai penipu atau penjahat.
Sebagai penutup, saya punya harapan khususnya pada para pemimpin bangsa ini, semoga penampilan mereka saat tampil di atas panggung publik ini (dhohirnya/front stage) sewarna dengan penampilannya di belakang panggung (bathinnya/back stage), inilah kesejatian seorang diri pemimpin. Sebab, masyarakat mulai pandai menilai dan memilah mana yang di belakang panggung dan mana yang di atas panggung.

8 komentar:

  1. Heya i am for the first time here. I found this board and I find It truly useful & it helped me out much.
    I hope to give something back and help others like you aided
    me.

    Look at my homepage; green coffee bean extract for weight loss

    BalasHapus
  2. We stumbled over here by a different page and thought I should
    check things out. I like what I see so i am just following
    you. Look forward to finding out about your web page for a
    second time.

    Also visit my website modelos

    BalasHapus
  3. It's a relief that I was able to come across blogger.com: it has the info I was really looking for. It’s astonishingly helpful and you’re obviously highly knowledgeable in this field. You have opened up my mind to a number of insights related to this sort of subject applying intriguing and strong material.

    Feel free to surf to my weblog - abilità

    BalasHapus
  4. I'm a student studying at University of Wyoming and honestly enjoy what you have gathered right here, truly like what you're thinking and the form via which you
    declare it. Your post was excellently balanced between entertaining and intelligent.
    I am delighted to exchange ideas and critical information with you.
    Your website is undoubtedly one of the better blogs available
    right now.

    Here is my site :: excursionista

    BalasHapus
  5. I'm a writer from Oelsnitz, Germany just submitted this to a coworker who is doing some research on this. And she in fact bought me lunch only because I discovered it for her... lol. So allow me to reword this.... Thanks for the food... But yeah, thanks for spending some time to talk about this subject here on your site.

    Feel free to surf to my blog post: neutralité

    BalasHapus
  6. I came across this post on http://hiburansunyi.blogspot.com/ and if
    I could I'd like to suggest to you some useful things or ideas. Maybe you could write your next articles referring to these ideas. I want to read more stuff concerning what you're talking about.


    my homepage; http://wiki.owars.de/index.php?title=Benutzer:Pijygecderi860

    BalasHapus
  7. I'm a writer from Graben Bei Haag, Austria just sent this onto a colleague who was running a bit of research on this. And she in fact bought me lunch just because I came across it for her... lol. Actually, allow me to paraphrase this.... Thanks for the food... But anyways, thanks for taking some time to write about this issue here on your site.

    My blog post ... underwater

    BalasHapus
  8. I just can say for all my hearted writers brothers here, thaks so much unlimited. because have visited my page here and feld it usually for you all. but, brothers say more about me, in the fact, i am common men know nothing.

    And, really since i find these writing, i miss you all, i will visit yours sites, but i fell difficulty to come in, so i can't write some thing for you all easily. so, let's we connect together just on face book, until we can connect easily and direcly. this is my FB site, plis clik and add on the name "Rojo Bolo Rojo" or direcly http://www.facebook.com/ASabilullah. And the email: ASabilullah@yahoo.com.

    by it we can build usual dialogue betwen us. In the last, i love you all, succesfully for your all in every your dreams.

    I wait your all, my beloved brothers. Yups....

    BalasHapus