Jumat, Agustus 21, 2009

Fenomena Wisuda Pesantren

(Membangun prinsip alumni pendidikan yang lebih holistik dan progresif)

Kemaren (12/08), adalah hari wisuda bagi santriwan-santriwati kelas akhir PP. TMI Al-Amien Prenduan. Tidak ada yang paling membahagiakan bagi mereka sebesar bahagia saat itu. Bayangkan saja, minimal sudah lima tahun-bahkan ada yang enam sampai tujuh tahunan- selama 24 jam sepanjang hari berada di pesantren dengan berbagai peraturan dan disiplin formal yang harus dijalankan sebagai seorang santri. Yang jelas, mereka berbeda dengan anak muda yang sekolah di luar pesantren yang berada di sekolah cuma kurang lebih tujuh sampai delapan jam.

Sekarang, mereka sudah terlepas dari peraturan formal tersebut, bisa berekspresi hidup bebas, kecuali ikatan peraturan atau hukum yang sangat prinsipil terkait dengan pengamalan-pengamalan hukum syar’i dan nama baik almamater. Peraturan itu terkodifikasi utuh dalam 3 istilah: Islami, Ma’hadi, dan Tarbawi.
Islami, berarti seorang alumni pesantren harus selalu berpegang teguh, mengamalkan, dan menegakkan ajaran dan prinsip-prinsip agama Islam, baik yang berkenaan dengan ibadah mahdhoh (formal/ma’a Allah) seperti sholat dan puasa, maupun ibadah ghoiruh mahdhoh (ma’a an-nas) seperti berakhlaq dan beramal saleh.
Ma’hadi, menunjukkan bahwa para alumni harus selalu menjujung tinggi dan membiasakan nilai-nilai tradisi baik di pesantren, seperti kesederhanaan, kemandirian, merdeka, persaudaraan, keakraban, dan jiwa berkorban.

Sedangkan Tarbawi, adalah para alumni harus senantiasa bersifat dan bersikap sebagai orang yang terdidik (akademis). Masing-masing pribadi alumni harus selalu mencerminkan seorang terdidik yang memiliki ilmu pengetahuan dan wawasan yang diamalkan sekaligus disebarkan kepada masyarakatnya (dakwah). Proaktif dalam kebersamaan menghadapi kenyataan-kenyataan hidup berupa kiprah yang positif, solutif, dan produktif.

Di sini seorang alumni akan tampak bahwa mereka memiliki modal-modal ilmu, wawasan, dan pengalaman yang harus dimanfaakan atau dibarokahkan di tengah-tengah masyarakatnya, tidak liar, dan berbeda dengan mereka yang tidak pernah mengenyam pendidikan sama sekali.

Segala sifat, sikap, dan perilaku yang keluar dari peraturan, disiplin atau prinsip alumni di atas dianggap melanggar komitmen bersama sebagai seorang alumni pesantren. Maka dari itu, semuanya harus diamalkan dan ditegakkan secara utuh sepanjang masa, tidak salah satunya saja dan tidak terbatas pada ruang dan waktu. Tiga jargon prinsipil alumni tersebut menjadi sebuah keutuhan yang saling melengkapi dan harus mengakar kuat pada jiwa dan pola kehidupan masing-masing alumni.

Namun, sudah barang tentu pada kenyataannya, tidak semua alumni tetap segaris atau konsisten membawa keluar nilai-nilai prinsipil disiplin pesantren tersebut. Di sinilah kemudian ada beraneka ragam tipe alumni pesantren; ada yang tetap teguh dan konsisten membawa prinsip-prinsip tersebut secara utuh, ada juga yang sebelah-sebelah atau setengah-setengah, ada juga yang sama sekali lupa.

Pertama yang tetap konsinten, sudah barang pasti mereka pateng beribadah sekaligus aktif dalam pengabdiannya kepada masyakatnya. Artinya, ilmunya membawa manfaat dan berkah, misalnya mereka yang menjadi tokoh atau panutan masyarakat, merintis pesantren, maupun hanya sekedar menjadi guru bimbingan ngaji di musala-musala kecil.

Kedua, mereka yang sebelah-sebelah. Seperti, aspek ibadah formal atau pengabdian ketuhanannya yang terlalu diutamakan, sehingga lupa aspek kemanusiaannya, dikit-dikit berperasan takut maksiat atau dosa yang berlebihan. Tipe ini kerap terjatuh kepada fanatisme sempit keagamaan, yang diklaim oleh orang-orang liberalis sebagai kelompok yang salah dalam menafsirkan ajaran Islam (fondamentalisme). Atau sebaliknya, yang justru ghirah kemanusiaannya lebih diutamakan. Tipe ini acapkali terjebak ke dalam prinsip humanisme yang mengukur segalanya dari aspek kesejahteraan sosial atau kemanusiaannya (antroposentrisme).

Ketiga, mereka yang justru lupa sama sekali terhadap prinsip-prinsip kepesantrenannya, beribadah enggan, pengabdian kemasyarakatan juga ogah-ogahan. Tipe alumni kedua dan ketiga inilah yang kemudian hanya menjadi beban bagi masyarakatnya, maka jangan heran ketika ada seorang alumni pesantren pulangnya malah semakin tidak karuan.

Persoalan sukses atau tidak suksesnya seorang alumni pesantren, bukan menjadi indikasi dari pada kegagalan lembaga pendidikan, sistem, dan para pengurusnya (kiai dan guru) semata, tapi juga indikasi dari pada kondisi niat dan usaha peserta didik sendiri, sekaligus dukungan kedua orang tuanya (potensi pribadi). Semua pihak saling memengaruhi sehingga harus saling mengisi secara utuh.

Hal ini, tidak hanya terjadi di dunia pendidikan pesantren saja, tapi di semua lambaga pendidikan. Sebab, faktanya, orang-orang sukses di berbagai levelnya bukan hanya dari lulusan pesantren, atau lulusan sekolah ungulan atau favorit saja, akan tetapi juga dari produk sekolah-sekolah di pedalaman desa yang tidak disangka-sangka seperti sekolah-sekolah yang sangat sederhana dan terkesan ketinggalan, musala-musala kecil, dan sebagainya.

Sejatinya, semua lembaga pendidikan dengan bagaimana pun bentuk, sistem, dan situasinya tidak bisa dijadikan tolak ukur kepastian kesuksesan para alumninya. Perbedaannya cuma tingkat kendala dan usahanya. Artinya, sekolah yang memang betul-betul diseriusi dengan sarana, prasarana, sistem, atau pola pendidikan yang terjamin, tentunya lebih mendukung kesuksesan para alumninya dari pada sekolah yang segalanya serba kekurangan.

Di samping itu juga, pengaruh dari pribadi anak didik sendiri. Artinya, meski sekolahnya hebat tapi anaknya males, atau anaknya semangat tapi sekolahnya tak terurus, tetap saja jauh dari kesuksesan, tinggal semangatnya.

Maka dari itu, harus dibangun sebuah kesadaran bahwa sistem, pola, pandangan atau prinsip pendidikan harus lebih holistik dan progresif (prinsip utuh dan memiliki semangat masa depan), bagi para alumni pendidikan untuk mengembangkan studinya lebih lanjut atau mengamalkan ilmunya secara langsung, sekaligus bagi masyarakat yang masih mau menitipkan anak-anaknya di sebuah lembaga pendidikan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar