Minggu, Agustus 09, 2009

Giarah Ilmiah dan Santriwati Cantik di Pesantren

Dalam sebuah pertemuan dengan para asatidz, pengasuh PP. Al-Amien Prenduan, KH. Moh. Idris Jauhari menerangkan tentang perilaku negatif yang belakangan ini muncul makin serius di tengah-tengah para asatidz, yaitu mengendornya ghirah (semangat) untuk menambah ilmu. Baik ilmu yang bersifat teoritis maupun praktis.

Hal ini kalau dibiarkan akan menjadi penyakit yang bukan hanya merusak tapi juga menular dan menyebar ke arah yang lebih luas. Lebih-lebih bagi seorang ustadz, guru, atau pendidik. Seorang guru apabila hanya berbekal ilmu yang minim di bidangnya, ditambah dengan literatur buku bacaan yang sangat terbatas, dan dia tidak mau menambahnya, serta tidak didekeng dengan wawasan yang mendukung di bidang lainnya, maka dia akan menjadi guru dengan ilmu yang pas-pasan, tidak profesional, kata beliau. Akibatnya, tinggal main logika, “Kalau ustadznya bodoh apalagi santrinya”.

Sebelumnya, sewaktu mengantarkan santri kelas akhir ke tempat Khidmah tarbawiyah (program Kuliah Kerja Nyata bagi santri kelas akhir PP. Al-Amien Prenduan) di sebuah pondok pesantren yang berada jauh di pedalaman desa, penulis menemukan fenomena yang tidak kalah serunya.

Konon, di pondok itu santriwatinya yang cantik-cantik mayoritas sudah bertunangan. Serunya, mereka masih duduk di kelas MI dan MTS dengan umur antara 10 dan 15 tahun. Dan biasanya paling lama tunangannya dua tahun, sehingga kadang tidak sempat melanjutkan ke MTS atau belum sampai lulus MTS sudah dikawinkan.

Kedua fenomena di atas menjadi suatu hal yang memalukan dan memilukan dunia pesantren. Meskipun fenomena tersebut berangkat dari kasus di sebuah pesantren tertentu, tidak menutup kemungkinan akan merambah bahkan menjadi lumrah di dunia pesantren pada umumnya, meski tidak semua pesantren begitu.

Yang pertama, lebih sering menimpa pesantren yang berlabel maju. Sebab, penyakit itu acapkali ditimbulkan oleh faktor perasaan bangga berlebihan dan pandangan silau terhadap ketenaran serta kemegahan bangunan fisik. Padahal, seringkali kelulusannya dan keberadaannya di pesantren terkenal karena faktor ketepatan atau keterpaksaan saja.

Akhirnya, dia merasa pintar tapi sebetulnya bodoh (berilmu pas-pasan). Maka, jangan heran ketika menemukan seorang alumni pesantren besar tidak ada bedanya dengan orang-orang yang tidak pernah menyentuh pesantren sama sekali. Misalnya, pondoknya terkenal dengan penguasaan bahasa asingnya tapi alumninya tidak bisa berbahasa asing sama sekali.

Yang kedua, lebih biasa terjadi pada pesantren-pesantren yang memang masih pada tingkat berkembang (meminjam istilah “Negara Berkembang” agar lebih halus dari pada terbelakang). Dalam pesantren level ini, fenomena itu menjadi budaya yang sudah lumrah. Dan hal ini lebih parah dari pada penyakit pesantren yang pertama. Sebab, akibatnya bukan hanya mengurangi semangat“menambah ilmu” tapi membunuh kewajiban“mencari ilmu”.

Santri yang masih ingin menuntut ilmu setinggi langit lantaran dia berperawakan indah dan cantik cepat-cepat digaet sama ustadz atau gurunya, tanpa bisa ditolak karena berbagai faktor yang meyakinkan, seperti doktrin barokah dan kuwalat; akan kuwalat kalau menolak lamaran ustadz atau lora.

Ditambah faktor kesadaran orang tua yang nihil terhadap pendidikan. Apalagi didukung dengan visi dan misi pesantrennya yang memang naggung-nanggung, terutama bagi wanita.Yakni, sekedar tahu ngaji Al-Quran, bisa sholat, dan perilaku sopan dengan merujuk kepada keyakinan bahwa nasib wanita hanya berkisar pada “sumur, dapur, dan kasur”. Bisa baca Al-Quran, sholat, dan berperilaku sopan sudah cukup selamat untuk hidup dalam tiga bidang tersebut. Pesantren ini pada akhirnya bukan menjadi ladang atau wahana pendidikan Islam, tapi menjadi wahana pencarian gadis-gadis cantik (perkawinan).

Padahal, kalau kita menengok kepada ajaran Islam hal tersebut sangat berbanding terbalik. Ajaran yang pertama kali diajarkan oleh Islam adalah tholabul ilmi. Bagi siapa saja, dimana, kapan, dan ilmu apa saja, kecuali ilmu yang dapat merusak. Bahkan, Muhammad pun sebagai Rasulullah saw yang segalanya dijamin oleh Allah swt, beliau masih selalu berdo’a “Robbi zidni ilman warzuqni Fahman”. Sampai istri beliau pun, Aisah sangat cinta terhadap ilmu pengetahuan sehingga beliau termasuk yang paling dijamin kesahehan periwayatan hadits-haditsnya.

Beberapa solusi yang dapat penulis ajukan untuk menyembuhkan atau setidaknya dapat meminimalkan penyakit atau budaya buruk pesantren di atas. Pertama, pemerintahan daerah harus ikut aktif berperan serta membangun secara serius pesantren dalam kategori “berkembang” tersebut, baik dalam bentuk bangunan fisik atau dana maupun non fisik tanpa mengintervensi independensi (baca: prinsip kemandirian) pesantren.

Kedua, semua elemen pesantren lebih-lebih kiai dan asatidznya harus mereformasi penuh sistem, visi, dan misi pesantrennya sesuai dengan idealisme Islam yang diajarkan Rasulullah saw. Termasuk merekrut tenaga-tenaga pengajar yang profesional. Selanjutnya ketiga, mengadakan sosialisasi signifikansi pendidikan kepada masyarakatnya (baca: penyadaran) secara holistik.

Ketiga solusi ini harus dilakukan secara utuh; pihak pemerintahan, pesantren, dan masyarakat harus saling aktif berperan serta. Kalau tidak, maka nasib pesantren tersebut tidak akan pernah berubah. Jika demikian, lebih baik mengundurkan diri saja dari posisi sebagai lembaga pendidikan pesantren agar tidak menambah beban sejarah pendidikan Islam. Atau kalau tidak, bersinergi saja dengan pesantren-pesantren maju yang betul-betul serius liizzil islam walmuslimin.

Sedangkan bagi pesantren yang telah berada pada level maju, untuk ke depan agar betul-betul memperhatikan mutu para alumninya dengan tidak mudah-mudah meluluskan para santrinya. Sekaligus, merekrut dan menfilter para asatidz atau tenaga pengajar yang betul-betul profesional dan memiliki ghirah ilmiyah dan islamiyah yang kuat. Kalau tidak demikian, maka semakin hari pesantren tersebut hanya tinggal namanya saja dan tidak ada bedanya dengan pesantren yang masih berada pada level “berkembang” (istilah halus daipada terbelakang) yang berbudaya malu-maluin di atas. (Pernah dimuat di Radar Madura, Selasa 26 Mei 2009).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar