Jumat, Agustus 21, 2009

Iri Prestasi

Ketika ada orang yang berprestasi, saya menjadi amat iri. Saya langsung berpikiran rugi kalau tidak seperti dia juga. kalau dia bisa kenapa saya tidak bisa, lawong dia makan nasi saya juga makan nasi, dia punya tangan dua saya juga punya tangan dua, pokonya secara fisik kan ga’ ada yang berbeda! Tapi kenapa kok saya tidak seperti dia yang berprestasi?!

Di samping itu, saya juga berpikir, apakah dengan perasaan iri ini saya menjadi berdosa atau tidak? Atau bahkan mungkin dapat pahala, paling tidak mubah, atau baik? Sebab, apakah iri terhadap prestasi atau ilmu pengetahuan dinilai seperti iri terhadap harta dunia? Soalnya, kalau saya lihat dari konsekwensinya, kalau iri terhadap dunia itu malah membuat orang lupa terhadap akheratnya, menjadi sibuk hanya ngurusi dunia sekiranya sama atau melebihi orang yang diirikan.

Padahal, dalam persoalan harta dunia manusia tidak akan pernah merasa cukup dan puas. Harta dunia bukan standart kehidupan, sehingga pada akhirnya acapkali kalau tidak tercapai ambisi irinya itu akan menghalalkan segala cara yang hal ini mudah dilakukan, seperti merusak orang yang diirikan, merampok, memfitnah, dan sejenisnya.

Sedangkan iri terhadap ilmu pengetahuan atau prestasi konsekwensinya akan membuat orang yang iri berusaha semaksimal mungkin untuk berprestasi dan lebih dari pada orang yang diirikan. Praktisnya, dia akan belajar, belajar, dan belajar dengan konsisten, membuang sifat-sifat malas atau perilaku-perilaku tidak baik yang menjadikan dia jauh dari pada prestasi itu.

Misalnya, ada orang yang berpresasi dalam bidang dakwah, dia dakwanya berhasil dan disukai masyarakatnya karena di saat berdakwah memakai kata-kata lembut, sopan, penuh kasih sayang, kedamaian, santun, dan suka menolong sesama, di samping ibadahnya yang pateng kepada Tuhannya, sehingga yang iri tersebut akan berusaha untuk lebih dari yang diirikan itu, dia harus lebih disukai oleh masyarakat dalam dakwahnya; harus lebih halus, lebih santun, lebih kasih sayang, dan harus lebih konsisten ibadahnya.

Kalau dipikir-pikir bukankah iri demikian adalah baik? Bahkan, menurut logika saya, iri dalam berprestasi seperti itu malah menjadi “harus”-meski tidak disebut wajib dalam agama-masuk dalam karakter dan perilaku umat muslim. Sebab, dengan demikian umat muslim akan makin berkembang karena berlomba-lomba dalam kebaikan yang ditumbuhkan dari sikap iri tersebut, fastabiqul khairat.

Bukankah berlomba-lomba dalam kebaikan itu memang menjadi ajaran Islam? Bayangkan saja seandainya ada yang iri kepada orang yang menghapal Al-Quran lantas dia harus hapal juga, atau prestasi baik lainnya.

Kemarin, ada teman saya yang berprestasi dalam hal kebaikan itu, yaitu tulisannya dimuat di rubrik opini Jawa Pos. Bayangkan saja, tulisannya bisa dibaca berbagai level orang se Indonesia. Bukankah ini prestasi yang luar biasa. Sedangkan karya saya meski berkali-kali dimuat media masa, itu sangat lokal, cuma di Radar Madura. Jadi, yang baca cuma orang sebatas warga Madura saja. Meski hal ini sangat saya syukuri dan bagi saya sudah luar biasa.

Sebab, saya belajar nulis baru mulai pada 24 November 2008 kemarin yang pas waktu itu tulisan saya langsung dimuat pertama kali di Radar Madura yang kemudian diabadikan menjadi kutipan budayawan madura Ibnu Hajar dalam bukunya “Politik Kiai” yang pernah kontraversial, saya masih kurang puas karena ada teman saya yang lebih daripada saya.

Tapi, saya juga menyadari dan memaklumi bahwa karya dia bisa dimuat di Jawa Pos, sebab mulai mondok kira-kira tujuh sampai delapan tahunan sudah digembleng dengan karya tulis di kelompok elitnya. Sedangkan saya baru delapan bulanan kemaren. Tapi, saya tetap harus lebih, paling tidak dapat menyaingi dia yang sudah masuk ke kelas kakap dari pada saya yang masih kelas teri ini. Saya salut konsistennya dalam berlatih.

Dan, Saya yakin pasti bisa pada saatnya nanti. Lebih dari itu, saya selalu berdoa semoga teman-teman saya yang sudah mahir menulis akan tetap konsisten dan makin berkembang adapun saya dapat seperti mereka juga.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar