Minggu, Agustus 09, 2009

Kado Tahun Baru Dari Pesantren Buat Palestina

Di pagi hari, 1 Januari 2009 M, saya menjadi bertanya-tanya keheranan atas sebuah acara yang tidak biasa dilakukan di pesantren. Yaitu, acara istighotsah yang diikuti oleh seluruh civitas pesantren beserta anggota masyarakat sekitar pesantren. Sebab, mana mungkin pesantren juga ikut-ikutan merayakan tahun baru masehi, toh dengan kegiatan yang Islami. Bukankah perayaan tahun baru masehi menjadi suatu hal yang sangat kontraversial dalam Islam. Tapi, setelah diperjelas duduk persoalannya, ternyata motif dan tujuan isthighosah tersebut adalah dalam rangka mendoakan masyarakat Palestina yang sedang didholimi oleh tentara-tentara zionis Israel dengan rudal-rudal mereka. Sekaligus doa dalam mengawali tahun baru masehi, sebagai sebuah keyakinan dari hadist Nabi yang artinya, “Setiap perbuatan yang tidak dimulai dengan dzikrullah (mengingat Allah), maka akan terputus barokahnya.”.

Bila kita mencermati fenomena yang melingkari perayaan tahun baru saat ini, ada suatu hal yang menarik sekaligus mengiris-ngiris hati. Menariknya, ternyata masih banyak umat manusia yang menyambut tahun baru dengan kegiatan-kegiatan yang positif, semisal muhasabah, tablig akbar, istighotsah, khotmu Al-Quran di pesantren, di masjid, dan di musholla-musholla. Sementara ironisnya, di sudut lain justru lebih banyak umat manusia yang melakukan perayaan tahun baru dengan perbuatan-perbuatan negatif; berjingkrak-jingkrak, kumpul-kumpul maksiat, pesta miras, konvoi-konvoi, tawuran antar geng, hura-hura, dan sejenisnya. Lebih menyedihkan lagi, di tempat lain ada yang seenaknya membantai sesamanya, sebagaimana yang terjadi pada bangsa Palestina di jalur Gaza yang tanpa henti-hentinya ditaburi rudal-rudal pesawat F-16 oleh pasukan Zionis Israel. Belum lagi mereka yang menyambut tahun baru dengan kelaparan, kemiskinan, trauma bencana, dan sejenisnya.

Dari semua itu, kalau boleh saya tarik lebih dalam, pada dasarnya manusia merayakan tahun baru saat ini dapat dikategorikan menjadi dua sisi yang bersebrangan, yaitu di satu sisi ada yang merayakannya dengan tangisan air mata, sementara pada sisi lain ada yang merayakannya dengan tertawa bangga.

Sudah barang tentu, setiap manusia punya motif dan alasan sendiri dalam merayakan sekaligus mengisi tahun baru. Yang merayakan tahun baru dengan bangga dalam hiburan dan kemaksiatan, pada sejatinya tanpa sadar mereka telah memulai tahun baru dengan kesedihan dan bencana untuk dirinya sendiri. Bukankah tidak ada akibat bagi kemaksiatan kecuali hanya kerusakan dan penderitaan? Jadi, pada hakekatnya mereka telah mendholimi dirinya sendiri. Lebih dari itu, dapat mendatangkan bencana bagi yang lain. Tapi, sungguh sangat beruntung sekali mereka yang masih sempat dan semangat menyambut awal tahun baru dengan mengingat Tuhannya, introspeksi, berdoa, dan beramal baik di momen yang lebih merangsang manusia untuk bernikmat-nikmat di tempat-tempat hiburan,. Sebagaimana sabda Nabi di atas, bagi mereka akan mendapat barokah.

Sedangkan yang merayakan dengan pembantaian terhadap sesama, maka mereka jangan bangga, karena pada hakekatnya mereka telah membantai dirinya sendiri. Sebagaimana Tuhan telah menjelaskan, bahwa setiap apa yang diperbuat oleh manusia akan kembali kepada dirinya sendiri. Konkritnya, barang siapa yang menyakiti orang lain berarti dia telah menyakiti diriya sendiri. Dan sebaliknya, barang siapa yang membahagiakan orang lain sebetulnya dia telah membahagiakan dirinya sendiri. Maka, bangsa Israel dan sekutunya sekaligus siapapun yang hobinya suka membantai dan mendholimi orang dan bangsa lain, jangan bangga dengan hal tersebut, betapapun kuasa dan hebatnya, suatu saat akan merasakan hal yang sama. Tidak di dunia ini, maka di akherat nanti.

Selain itu, fenomena-fenomena tahun baru tersebut menjadi bukti kongkrit, bahwa manusia hidup di dunia ini acapkali lebih suka dan mudah terhipnotis oleh hal-hal yang tampak serba mudah, glamor, dan membahagiakan. Sedangkan untuk hal-hal yang membutuhkan perjuangan dan susah payah mereka pantang dan alergi. Padahal, seringkali yang tampak membahagiakan pada akhirnya membawa kesedihan. Dan sebaliknya, hal yang tampaknya susah payah dan menuntut penuh perjuangan pada akhirnya membawa kapada kebahagiaan. Hal ini sesuai dengan kata bijak yang berbunyi, “Bila kamu menemukan sesuatu yang pahit, maka jangan mudah kau buang begitu saja siapa tahu itu menjadi jamu bagi penyakitmu. Begitu juga, jika kamu menemukan sesuatu yang manis jangan tiba-tiba kau mudah menelannya siapa tahu menjadi penyakit bagi dirimu”. Pendek kata, manusia ingin bahagia tanpa susah payah. Padahal, hidup tidak seideal kata fantasi, “Hidup bahagia mati masuk surga.”

Akhirnya, sesungguhnya tahun baru ini menjadi kaca mata bening bagi kita untuk mengamati kondisi manusia dan kemanusiaan di zaman ini. Mata kita menjadi terbuka lebar-lebar, bahwa seperti itulah kondisi bangsa kita di negri ini sekaligus bangsa-bangsa di dunia. Lalu, apakah kita hanya bisa menundukkan kepala meratapi atau bahkan berpangku tangan saja? Paling tidak, inilah kado doa dari pesantren, untuk semua yang mangawali tahun baru ini dengan linangan air mata, yang selalu didholimi. Janganlah bersedih dan berkecil hati. Maka berjuang, tabah, konsisten, dan yakinlah hanya kepada Tuhan. Sebab, hanya dengan perjuangan, ketabahan, konsisstensi, dan keyakinan kepada Tuhan akan datang sebuah kemenangan yang abadi. (Pernah dimuat di Radar Madura, Jawa Pos Group).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar