Minggu, Agustus 09, 2009

Budaya Tirakat dan Santri Masa Kini

Pada suatu hari, saya ditelpon teman lama dari desa. Katanya, dia sedang menjalankan sebuah ritual tirakat di komplek pemakaman para wali kuno, Segoropuro Pasuruan. Dalam rangka mendapatkan ilmu agama (jadi orang alim) dengan jalan pintas tanpa pendidikan formal. Konon, katanya dia adalah santri yang frustasi terhadap pendidikan formal. Sebab, dia merasa sebagai orang yang paling bodoh di pesantrennya.

Asta Segoropuro adalah sebuah komplek pemakaman umum para wali kuno, seperti Sayyid Arif, dan lainnya. Asta dan gua memang biasa menjadi tempat khusus bagi mereka yang menyepikan diri dari keramaian dunia. Kalau di Madura tempat-tempat semacam itu seperti, pasarean Syakhuna Kholil Bangkalan, Asta Tinggi Sumenep, Sayyid Yusuf Talango, dan lainnya.

Merujuk pada sejarah, menyepi dalam tradisi Islam dikenal dengan Uzlah atau khalwat, dan sudah muncul sejak zaman para nabi, sekaligus banyak dilakukan oleh para ulama klasik terutama ketika sistem kepemimpinan Islam berganti dalam bentuk dinasti yang rajanya diangkat dengan sistem keturunan. Dimana saat itu orang-orang, baik dari kalangan pejabat, ilmuwan, lebih-lebih golongan agamawan banyak yang kecewa terhadap sistem tersebut yang cenderung disesakkan oleh urusan politik, perebutan kekuasaan, dan serba kesenangan dunia. Akhirnya mereka lebih memilih sikap hidup dengan mengasingkan diri ke tempat-tempat sepi menghususkan diri hanya untuk bertaqarrub kepada Allah SWT.

Konon, gaya hidup mistis bermotif politik itu disinyalir menjadi salah satu sebab kemunduran kejayaan Islam, lebih-lebih setelah tumbangnya dinasti Abbasyiah. Dalam Islam orang yang ber-khalwat tersebut dikenal dengan sufi atau darwis.

Sebagaimana dalam kitab klasik para ulama sepakat, bahwa jalan (Tarekat) menuju Allah itu ada empat cara: pertama, duduk di tengah-tengah manusia dan mengajak mereka kepada kebenaran seperti, menjadi guru dan muballig. Kedua, memperbanyak ibadah-ibadah formal, seperti memperbanyak dzikir, sholat, dan puasa. Ketiga, Menjadi abdi (pembantu/khoddam/ngebuleh) para ahli agama atau fuqaha. Dan keempat, mencari nafkah yang halal demi kebutuhan keluarga sehari-hari. Nah, jalan yang kedua itulah yang ditempuh oleh mereka yang bertirakat.

Selain itu, ada juga yang bertujuan hanya untuk mendapatkan ilmu-ilmu dunia, kesaktian, kedigdayaan, senjata-senjata kramat, dan sejenisnya. Biasanya dilakukan oleh orang yang mengalami persoalan terlalu rumit dalam hidup atau frustasi. Seperti ingin kaya pintas, kebal, dan sejenisnya yang lebih bersifat kedunawian. Tujuan ini terjadi di tengah-tengah masyarakat pada umumnya.

Dalam dunia pesantren istilah tirakat menjadi khasanah dan lumrah. Biasa dilakukan oleh sebagian santri sekaligus kiai. Bahkan ada sebuah pesantren yang sistem dan orientasi pendidikannya mengacu pada ajaran tirakat; semacam mengamalkan puasa mutih atau menyepi di asta sesepuh kiai dengan mengamalkan bacaan-bacaan khusus yang di-jaza’ oleh kiainya. Dan biasanya, tujuannya adalah ingin memperoleh kecerdasan atau kualitas diri tanpa melalui usaha akademik formal, seperti ilmu ladunni. Disamping itu, secara umum ada juga yang dilakukan di masjid-masjid atau musholla. Sekaligus ada yang berbentuk sejenis organisasi resmi seperti, tarekat tijaniyah, dan lainnya.

Mengingat fenomena di atas, saya menjadi ingat dan sangat tertarik kepada pandangan seorang penulis pada rublik yang sama yang menyinggung soal ini, “melejitkan Intelejensi dengan jampi-jampi”. Yaitu ketika dia berandai, dengan hanya membaca jampi-jampi (baca; sekitar tirakat) orang menjadi pintar tanpa baca buku dan sekolah formal, yang diperkuat dengan penemuan penelitian-penelitian tentang adanya pengaruh kuat bacaan-bacaan mistis terhadap partikel air. Dan saya percaya pembuktian dan pandangan tersebut.

Hal tersebut memang biasa dilakukan dalam dunia pesantren. Hanya saja, ketika saya melihat situasi dan kondisi zaman sekarang, saya berpikir: Apakah pantas kiranya di zaman yang serba canggih, sistematis, dan rasional ini (baca: modern) kita butuh tirakat semacam yang mistis-mistis tersebut. Bayangkan saja, bila ada seorang santri masa sekarang dengan kesibukan akademik formal yang dia jalankan setiap hari di pesantrennya; pelajaran kelas yang super full pagi siang; masih ada acara ekstrakurikuler; lalu acara-acara kelompok pilihan; belum lagi tugas-tugas organisasi dan pribadi yang harus diselesaikan. Mampukah dia melakukan semuanya dengan puasa mutih setiap hari atau dengan amalan-amalan doa yang banyaknya tidak cukup dibaca lima jam. Saya yakin santri tersebut akan loyo dan klenger. Bagaimana tidak, perutnya kosong dan sibuk hanya mengamalkan amalan-amalan abakadabra yang tidak boleh tidak-dan kalau tidak-akan sia-sia bahkan menjadi gila. Akhirnya, dia akan menjadi generasi yang lembek, bodoh, dan ketinggalan.

Rasulullah SAW telah mengajarkan kepada kita, bahwa orang muslim sejati (lebih-lebih santri sebagai generasi) adalah “dia yang di siang seperti penunggang-penunggang kuda yang gagah berani dan di malam hari seperti para rahib yang khusu’ bermunajat kepada Tuhannya”. Artinya, para santri sejati adalah mereka yang di siang hari menjadi pencari dan pejuang ilmu yang gagah berani, penuh usaha keras, belajar serius, niat yang lurus dan cita-cita yang tinggi. Untuk itu, dia harus cukup makan penuh gizi agar mampu usaha keras dan belajar serius, sekaligus bangun di malam hari dengan dzikir dan tahajjudnya (syahirullayali). Akhirnya dia akan menjadi generasi yang kuat, gagah, cerdas, sekaligus alim. Subhanallah. Saya kira begitulah seharusnya tirakat santri dalam konteks modern ini. (Pernah dimuat di Radar Madura, Jawa Pos Group).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar