Minggu, Agustus 09, 2009

Merenungi Eksitensi Diri Melalui Maulid Nabi

Berbicara mengenai kelahiran akan tergambar di benak kita tentang kehidupan, harapan, dan kebahagiaan. Sebab, dengan kelahiran kehidupan akan terus berlanjut dan estafet kehidupan sebuah komunitas keluarga akan bersambung. Maka dari itu, kelahiran adalah sebuah momentum yang ditunggu-tunggu, toh sebaliknya ada juga kelahiran yang tidak diinginkan dengan adanya kasus-kasus aborsi, pembuangan bayi, dan sejenisnya.

Lain lagi dengan kematian, berbicara tentang kematian sudah pasti akan tergambar kengerian, ketakutan, dan kesedihan. Sebab, dengan kematian berarti terputusnya estafet kehidupan. Banyak deretan peristiwa kematian yang sering kita saksikan dengan berbagai motifnya: kedholiman, peperangan, tawuran, bencana alam, dan sebagainya. Namun ada juga kematian yang diharapkan, seperti matinya para penjahat, koruptor, dan pemimpin yang sewenang-wenang.

Kebanyakan manusia menganggap kematian adalah berpisahnya roh dari raga badan manusia saja. Padahal, ada yang lebih dari itu, yaitu kematian batin. Sebab, kematian ini bukan hanya terjadi ketika roh tercerabut dari raga akan tetapi bisa dialami oleh manusia yang sedang hidup sehat raga. Maksudnya, raganya sehat tapi akal dan hatinya mati dari kebenaran.

Kematian ini implikasinya lebih luas dan abadi. Misalnya, para pejabat-pejabat yang korupsi, pemimpin yang sewenang-wenang, dan orang kaya yang rakus yang mengakibatkan kematian lain yang lebih menyedihkan, yaitu pupusnya harapan, terampasnya hak, kasih sayang, keamanan, dan kebebasan. Ada yang menyebut pula kematian ini dengan, "I'm possibilite de Toute Possibilite": berpikir ketidakmungkinan dari segala kemungkinan.

Begitu juga kelahiran, ada kelahiran batin yang lebih bernilai dari pada kelahiran fisik. Yaitu, bisa berupa semangat baru, keselamatan, kesucian, kesuksesan, dan kebebasan. Seperti, orang yang baru nikah, orang akan mengucapkan kepadanya "selamat menempuh hidup baru", sama artinya kelahiran semangat baru.

Ada empat macam kondisi manusia berkaitan dengan kelahiran dan kematiannya. Pertama, manusia yang kelahirannya disenangi dan kematiannya ditangisi. Kedua, manusia yang kelahirannya disenangi dan kematiannya disenangi. Ketiga, manusia yang kelahirannya ditangisi dan kematiannya disenangi. Dan keempat, manusia yang kelahirannya ditangisi dan kematiannya ditangisi.

Bagi kelahirannya yang disenangi berarti kehadirannya memang diharapkan. Dan kelahirannya yang ditangisi bisa jadi karena kehadirannya dianggap akan menimbulkan malapetaka, seperti anaknya penjahat ditakuti mewarisi kejahatannya. Sedangkan yang kematiannya ditangisi berarti manusia berat ditinggalkannya karena selama hidupnya membawa kedamaian bagi yang lain.

Dan yang kematiannya disenangi berarti kematiannya memang diharapkan karena sepanjang hidupnya selalu membuat keonaran. Manusia yang bahagia adalah manusia yang pertama dan yang terakhir.

Berkaitan dengan kelahiran ini, di bulan ini, terdapat hari kelahiran panutan agung kita, Nabi Muhammad SAW, 12 Rabiul Awal yang menjadi hari besar umat Islam sedunia.

Konon, Tradisi maulid Nabi diresmikan secara global pada masa Dinasti Bani Ayyub oleh Sultan Salahuddin Yusuf al-Ayyubi (570-590 H) atas restu kholifah An-Nashir di Bagdad melalui momen ibadah haji (579 H/1183 M) dengan motif: Pertama, untuk mengimbangi maraknya peringatan Natal oleh umat Nasrani saat itu sehingga umat Muslim tidak mudah terpengaruh.

Kedua, mempertebal kecintaan umat kepada Rasulullah SAW serta memerkuat keyakinan akan kebenaran risalah Beliau. Dan ketiga, menumbuhkan kembali ghirah perjuangan dan persaudaraan umat muslim yang mulai lesu karena terombang-ambing oleh serangan-serangan berbagai bangsa eropa yang bertubi-tubi pada perang salib waktu itu.

Berangkat dari semua itu, diharapkan kita dapat mengenang sekaligus meneladani sang pahlawan sejati yang selalu berada digaris depan saat perang, pemimpin yang adil yang tidak pilih kasih, dan seorang hamba Tuhan yang ibadahnya tak dapat dibayangkan.

Pada intinya, Beliau adalah manusia sejati yang segala amalnya tanpa pertimbangan "karena"; karena ingin dipuji, karena ingin pangkat tinggi, apalagi karena ingin dapat bayaran tinggi, dan "karena-isme" lainnya, kecuali karena cinta Allah dan li'izzil Islam walmuslimin semata. Jadi motif etis, psikologis, dan spiritual itulah yang melatarbelakangi lahirnya tradisi maulid Nabi.

Sehingga, tidaklah pantas kiranya kalau ada pihak yang membid'ahkan tradisi maulid Nabi ini hanya karena tidak pernah dilakukan oleh Rasulullah SAW secara langsung.

Oleh karena itu, meskipun Rasulullah SAW sebagai manusia biasa (inni Basyarun mitslukum), sangat wajar sekali bila kelahiran Beliau menjadi momentum yang ditunggu-tunggu oleh semua makhluk Tuhan. Lahirnya Beliau ibarat munculnya sang mentari yang menyinari kegelapan semesta alam sepanjang masa. Firman Allah, "Dan tiadalah Kami mengutus kamu,melainkan untuk rahmat bagi semesta alam" (QS. 21:107).

Dan ahirnya, kematian Beliau menjadi sesuatu yang ditangisi (berduka) semesta alam. Pada konteks inilah, kita harus dapat mengambil hikmah (baca: merenungi diri): siapakah kita, sebagai pengikut sejati Rasulullah SAW yang meneruskan jejak-jejak Beliau sehingga kehadiran kita disenangi dan kepergian kita ditangisi, atau malah sebaliknya keberadaan kita dibenci oleh masyarakat. Na'udzubillah. (Pernah dimuat di Radar Madura, Jawa Pos Group).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar