Minggu, Agustus 09, 2009

Pesantren Dan Kehidupan Santri Modern

Kita semua sudah tahu bahwa ada tiga bentuk pesantren yang memiliki corak tersendiri. Pertama, pesantren salaf, yaitu pesantren yang masih melestarikan tradisi-tradisi ke-salaf-an sebagai sebuah warisan khazanah keilmuan ulama-ulama al-salaf al-sholih (baca: ulama-ulama klasik) seperti hanya menekankan pembelajaran kitab-kitab klasik, dan sistemnya sangat sederhana.

Kedua, pesantren khalaf, atau disebut dengan pesantren modern, adalah pesantren yang sudah mengadopsi khasanah keilmuan dan sistem pendidikan yang berkembang melalui kecanggihan teknologi, fasilitasnya yang serba lengkap sekaligus kompleks, dan kurikulum pendidikannya sudah menyamakan dengan kurikulum yang disajikan pendidikan formal.

Ketiga, pesantren semi modern, pesantren ini corak keilmuan dan sistem pendidikannya tidak jauh berbeda dengan pesantren modern, hanya saja segi fasilitas yang disediakan tidak selengkap dan sekompleks pesantren modern.

Namun, bagaimanapun perbedaan corak khas masing-masing bentuk pesantren di atas, lembaga pendidikan pesantren tetaplah lembaga pendidikan pesantren, sebuah lembaga pendidikan yang membawa visi dan misi luhur tersendiri yaitu keislaman, li al-tafaqquh fi al-din dan li’izzil islam wa al-muslimin. Sekaligus memiliki ciri-ciri yang berbeda dengan lembaga-lembaga pendidikan di luar pesantren yang memiliki ciri, visi, dan misi yang beraneka ragam sekaligus cenderung kepada kedunawian semata.

Tapi, keungulan lembaga pendidikan pesantren terletak pada Panca Jiwa kepesantrenannya, diantranya: keikhlasan, kesederhanaan, kemandirian, ukhuwah islamiyah, dan kemerdekaan.

Keikhlasan, berarti dalam melaksanakan segala aktivitas pendidikan dan aktivitas apapun di pesantren hanya semata-mata lillahi ta’ala. Kalau ada seorang kiai, guru, atau ustadznya digaji atau hanya berorientasi mencari honor maka berarti dia tidak jauh beda dengan guru-guru honoran di luar pesantren.

Kesederhanaan, berarti berpola hidup dan berpenampilan hidup yang sederhana, tidak serba mewah. Sehingga ketika ada seorang santri yang pola hidupnya serba mewah, maka pada hakekatnya dia tidak jauh berbeda dengan siswa-siswi pendidikan non pesantren. Begitu juga ketika ada seorang kiai yang hidupnya serba mewah dan kediamannya lebih megah dari pada bangunan pesantrenya, maka dia bukan seorang kiai kecuali tidak jauh beda dengan seorang top manajer sebuah perusahaan.

Kemandirian, artinya berdikari, berdiri di atas kaki sendiri, baik dalam konsep, sistem, maupun dana. Maka, bila ada sebuah pesantren yang sistem pendidikan dan konsep kurikulumnya memakai susunan konsep dan sistem orang atau institusi di luar pesantren berarti bukan sebuah pesantren. Begitu juga dalam hal dana, ketika ada sebuah pesantren bergantung kepada orang atau pihak di luar pesantren seperti halnya disokong subsidi dari pemerintah atau institusi-institusi lain maka tidak ada bedanya dengan sekolah negri dan institusi-institusi lainnya.

Ukhuwah islamiyah, adalah semua komunitas pesantren selalu berada dalam ikatan prinsip persaudaraan. Sebagaimana mottonya, “Berdiri di atas semua golongan” dalam satu kesatuan persaudaraan. Tidak membawa kepentingan segelintir orang maupun kelompok tertentu. Kemerdekaan, yaitu mempunyai jiwa yang bebas. Dalam artian, bebas dari perbudakan hawa nafsu dan syetan yang terkutuk. Sekaligus bebas dari tekanan-tekanan secara personal maupun komunal, dari siapa dan pihak manapun.

Namun, ada suatu hal yang membuat perasaan penulis sedikit skeptis, bahwa potret idealis pesantren di atas hanya berlaku di sebagian kecil pesantren saja. Seperti masih ada pesantren yang masih berkutat secara fanatis-konservatif dalam tradisi-tradisi pesantren klasik dengan dalih “ menjaga purifikasi (kemurnian) dan otentisitas (keaslian) nilai-nilai tradisi ulama-ulama pendahulu, serta selalu menganggap tradisi keilmuan baru dengan segala metodologinya sebagai sebuah warisan kolonialisme (budaya barat yang mereka anggap sebagai musuh) yang dapat menciderai bangunan keilmuan ulama-ulama al-salaf al-sholih tersebut sehingga harus dijauhi dan diharamkan penerapannya.

Bagi pesantren modern, terutama bagi pihak santrinya sering kali salah menafsirkan kemodernan sistem pendidikan pesantren. Oleh karena itu, mereka harus menengok kembali pemahaman mereka tentang modernitas dengan kejernihan pikiran. Sedangkan, yang terlalu ke-salaf-salaf-an mereka sering salah paham dan berlebihan dalam memandang antara tradisi al-salaf al-sholih dan tradisi modern.

Akhirnya, penulis-paling tidak-dapat mengajukan sebuah harapan solutif: Kita jangan sampai berlebihan dalam memandang sekaligus menyikapi suatu persoalan tertentu, apalagi menyangkut serangkaian sistem pendidikan. Sebab, semua itu hanya hasil pemikiran manusia yang dipengaruhi ruang dan waktu. Sedangkan ruang dan waktu akan terus bergulir dan berubah dengan segala pernak-perniknya. Pandangan salaf tidak sepenuhnya tetap utuh di zaman sekarang, pasti ada perubahan. Begitu juga hasil kesimpulan pemikiran modern tidak akan sepenuhnya benar dan utuh, keduanya seharusnya saling melengkapi dan menutupi kekurangan. Wallahu a’lamu bis showab. (Karyaku yang pertama kali dimuat di Radar Madura, Jawa Pos Group).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar