Minggu, Agustus 09, 2009

Ratapan Hati

Malam ini entah apa yang akan aku tulis, dan ini tidak ada bedanya dengan malam-malam lain bagiku. Acapkali perasaan hanya penuh bisikan tentng kehidupan, ya kehidupan penuh dramatis bahkan tragis. Yang selalu tidak aku pahami. Maunya bahagia sering kali yang hadir adalah nestapa. Dan ahirnya, hanya berahir dengan tuangan air mata.

Tapi, siapakah yang ingin nestapa? Semua manusia ingin bahagia termasuk aku. Aku selalu iri melihat mereka-mereka yang hidup selalu mewah dan jaya, seperti para konglomerat dan pejabat.

Aku mengerti mereka pantas bahagia, karena mereka memang pemimpin yang berjuang untuk rakyat, tapi kenapa kerap diganti dengan penampilan foya-foya, mobil bergonta-ganti, bahkan istri yang gonta ganti, lebih-lebih masih sempat-sempatnya ngrampas hak-hak rakyat, mau korupsi, masih mau menipu, masih mau ini dan itu, sehingga acapkali tugas kerakyatan malah terbengkalai, kebutuhan dan foya-foya pribadi menjadi tuhan-tuhan baru, yang merubah misi dan visi mereka sebagai pejuang rakyat yang seharusnya mengangkis rakyat dari kesengsaraan malah menindas rakyat.

Dan ini tidak hanya terjadi di tingkat mereka yang atas, yang namany a pemimpin pada level apa saja, hampir lebih banyak yang tidak becus, hanya selalu mendahulukan kenikmatan pribadinya. Kedudukan hanya dibuat sebagai jalan mencari kesenangan, tugas-tugas hanya sebagai gaya dan peraturan hanya sebagi dekengan, bukan sbagu amanah suci lagi.


Seperti saya menjadi heran di desa saya, mayoritas hampir setiap pilihan kepala desa, kepala desa yang terpilih tidak sampai 2 atau 3 bulanan, baru sebulan saja jadi kepala desa sudah bermobil mewah, dapat dari mana uang? Mungkin ada yag bilang punya bisnis sampingan, itu jawaban cengeng tanpa bukti keterlaluan. Kenapa kok sebelum jadi kepala desa dia tidak bermewah?

Ahirnya, sekan-akan di mata saya jarang orang yang benar, mayoritas sudah terhipnotis dengan kenikmatan dunia, harta mewah, gadis-gadis cantik, dan hobi-hobi iblis lainnya, sampai-sampai bukan hanya pada dunia sekuler yang menjadi korban, dunia santri pun, kiai pun sama saja; kiai yang mobil mewah dan rumahnya lebih megah dari pesantrennya, istrinya banyak, bahkan ada yang menyelingkuhi santriwatinya. Naudzubillah. Tuhan, betapa hidup menjadi semakin tak kupaham.


Sedangkan saya orang yang tak berdaya, kenapa amat sulit sekali menghadapi hidup ini, di mana dan kapan pun selalu ketemu aral susah. bukankah saya juga ingin berbahagia, bukankah saya juga berusaha?

Ya Tuhan, apakah dosa saya, sampai kapan kesepian dan kehampaan ini akan selalu mengerubungiku, saya tidak kuat Tuhan, saya tidak kuat.

Malam ini, saya seperti biasa menghampa diri, saksikanlah wahai penguasa jagat raya, yang saya tidak mampu membayangi dan membahasakan kebesaran-Nya, inilah yang bisa saya catat pada layar putih ini, pada kecanggihan peradaban manusia ini, aku ingin mengutarakan apa yang ada di hati: aku juga ingin bahagia, aku juga berusaha. Jangan Engkau selalu hadirkan hidup ini penuh teka-teki tak pernah aku pahami. Jangan sampai peluhku kering dengan tangisan hari yang tak pernah henti, karena tidak ada aku yang kedua kali.

Dan rasanya, aku harus membangun kebenaran-kebenaran baru, bagi diriku sendiri. Ya, aku harus mencari dengan diriku sendiri, mulai sekarang, detik ini, malam yang basah ini.

Maka, izinkan aku menjadi Tuhan kedua setelah-Mu, aku ingin mencipta kehidupan baru, bukan untuk menyaingi-Mu, tapi karena aku terlalu cinta Kamu. Karena hanya kamulah yang selalu menemaniku dan menyaksikanku di malam-malam kosong begini. Izinkanlah aku.

Prenduan, 8/9/09

Tidak ada komentar:

Posting Komentar