Rabu, Agustus 19, 2009

Refleksi Tradisi Perayaan Tahun Baru

Kalau membahas perayaan tahun baru melalui sudut agama (baca: Islam), maka saya akan berhubungan erat dengan kepastian hukum: halal-haram atau boleh tidaknya mengadakan perayaan tahun baru. Dalam diskursus keislaman, beraneka pandangan tentang hukum merayakan tahun baru apapun (apalagi masehi), seperti yang banyak beredar di media-media massa.

Bila berbicara mengenai keragaman pandangan tentang suatu hukum, kita tidak akan menemukan garis finish yang pasti. Sebab, setiap agama dalam keberagamaan, bahkan setiap pemeluk dalam satu agama pun acapkali punya pandangan sendiri mengenai hukum. Masing-masing akan tetap melegitimasi pandangannya sendiri.

Oleh karena itu, saya lebih suka melihat tradisi perayaan tahun baru dari sudut sosial budaya, yang menurut saya, lebih kongkrit dan praktis di tengah-tengah masyarakat. Yaitu, bagaimana kondisi tradisi masyarakat, terutama kalangan remaja yang menjadi pihak paling semangat merayakan tahun baru. Anehnya, Bukan hanya para remaja yang berasal dari agama yang memang yakin melakukan perayaan tersebut, namun juga remaja Islam yang secara hukum banyak mempersoalkannya.

Selama ini, tradisi perayaan tahun baru cenderung dilakukan dalam bentuk kegiatan yang tidak bermanfaat, seperti senang-senang, hura-hura, pesta minuman keras, kumpul-kumpul di pantai, dan sejenisnya. Bahkan, tidak jarang dalam merayakan tahun baru, mereka melakukan kegiatan mesum (maksiat). Mayoritas para remaja merayakan tahun baru bukan dengan kegiatan yang positif, seperti introspeksi dan evaluasi diri, khotmu Al-Quran, istighosah, pengajian-pengajian, dan do’a sebagaimana yang terjadi di pesantren, namun dengan kegiatan-kegiatan yang negatif.

Tradisi perayaan yang tidak benar tersebut harus mendapat perhatian lebih dari siapapun, dari agama, atau kelompok apapun. Sebab, tradisi tersebut akibatnya lebih luas dan penanganannya lebih berat dari pada hanya rebutan otoritas dan legitimasi hukum agama. Semisal truth claim, fanatisme, dan sejenisnya.

Kemudian, sebagai remaja di zaman yang katanya modern ini, kita tidak sepatutnya lagi hanya berpikiran bagaimana hidup glamor dan senang-senang semata. Namun, bagaimana kita menjadi manusia yang punya nilai tinggi penuh prestasi. Sebab, semakin kompleks dan canggihnya suatu zaman, maka kian membutuhkan kecerdasan (baca: kualitas diri) untuk menghadapinya. Apalagi, hidup di dunia ini hanya sekali.

Seorang Kiai di sebuah pesantren, dalam pengajian peringatan tahun baru hijriah mengatakan, “Dengan bergantinya tahun lama ke tahun baru ini, berarti semakin bertambah usia kita. Semakin bertambah usia kita, berarti semakin berkurang jatah umur kita”. Dalam pertemuan lain seorang kiai mengatakan, “Pada hakekatnya hidup di dunia ini hanya berjalan menuju ke satu arah, yaitu kematian. Ibarat, setiap hari kita menggali liang lahat kita sendiri, semakin hari semakin dalam, akhirnya akan sampai kepada kedalaman yang pas kita dipendam”.

Waktu kematian itu tidak ada yang mengetahuinya. Bisa jadi detik ini, setelah ini, jam ini, hari ini, minggu ini, atau mungkin bulan depan, sehingga kita tidak bisa lagi menikmati tahun baru depan. Atau, bisa jadi tahun depan, dua tahun lagi, dan seterusnya. Dan bisa jadi, kita akan mati di saat kita sedang melakukan perbuatan yang tidak bermanfaat atau maksiat. Na’udzubillah. Tidak pernahkah kita membayangkan semua itu.

Maka dari itu, mulai dari sekarang di tahun baru ini (hijriah maupun masehi), mari kita lakukan introspeksi, ekstrospeksi, dan evaluasi diri dengan menengok kembali masa lalu sebagai cermin. Sekaligus menatap ke masa depan sebagai harapan. Selanjutnya, mengadakan perubahan, pembaharuan, pengembangan, dan konsistensi. Kita harus merubah segala tradisi yang dulunya buruk dengan tradisi yang lebih luhur di tahun ini. Dan mengembangkan perbuatan yang kemarennya sudah baik menjadi lebih baik, sekaligus konsisten dalam tahun-tahun berikutnya dengan semangat baru yang lebih jitu (pernah dimuat di Radar Madura, Rabu 31 Desember 2008).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar