Rabu, Agustus 19, 2009

Sastra Santri: Antara Jalan Sunyi dan Ambisi Materi

Catatan ini berangkat dari pengamatan saya mengenai geliat sastra yang semakin bergejolak, khususnya cerpen dan puisi di pesantren Al-Amien yang belakangan sedang membanjiri pusat-pusat pergelaran karya tulis, seperti di depan Masjid dan depan kelas.
Hal ini tidak hanya terjadi di kalangan santri Al-Amien saja, tapi juga pesantren-pesantren lainnya. Saya pernah ngobrol dengan seorang santri An-Nuqayyah, bahwa di sana beberapa santri sudah biasa menerbitkan buku antologi cerpen dan puisi, tanpa butuh duduk di kelas tinggi. Semua itu membuktikan bahwa karya sastra terutama puisi dan cerpen tidak hanya tumbuh di kalangan non pesantren saja, tapi juga tumbuh subur di pesantren yang kerap sebelumnya diklaim hanya terkungkung pada persoalan kitab kuning saja.
Selain itu, juga bisa dilihat pada karya-karya sastra yang belakangan lahir secara massif bergenre religius yang selama ini menjadi ladang pesantren. Taruhlah misalnya, novel Ayat-Ayat Cinta atau Ketika Cinta bertasbih. Novel-novel tersebut adalah karya sastra tulis yang berhasil diwujudkan dalam bentuk film yang konon menjadi mega film yang mengguncang tidak hanya negara Indonesia tapi manca negara dengan jutaan penonton.
Sebetulnya, wacana mengenai geliat sastra santri di pesantren sudah bergulir begitu lama dalam ruang-ruang kajian. Hanya saja, siapa tahu ada sisi lain yang mungkin luput dari pengkajian tersebut, atau dikaji tapi tidak masuk secara serius dalam ruang-ruang intensionalitas (kesadaran).
Bahwa dewasa ini, zaman yang disebut modernisasi atau globalisasi, segala nilai dalam tiap sisi dan lini kehidupan telah bergeser menuju nilai yang menyesuaikan diri dengan perkembangan era global. Jika dicermati perkembangannya lebih mengarahkan manusia kepada hal-hal yang hedonis-materialistis. Segalanya dipikir di atas pertimbangan materi dan enaknya saja.
Lebih-lebih nilai-nilai yang terkait langsung dengan hati nurani (spiritual) atau agama (religiusitas), termasuk bidang sastra yang konon ada yang menyebutnya sebagai “jalan sunyi” yang menuntut aktivasi hati nurani. Yaitu, menjadi wahana mencari realitas yang Maha Mutlaq. Dalam bahasa tasawwuf disebut Tarekat.
Hal inilah yang disebut fenomena religiusitas dan spritualitas dalam sastra. Sastrawan Ahmad Tohari pernah mencatat bahwa karya sastra dapat menggambarkan secara gamblang tentang kegelisahan manusia dalam mencari dan menemukan sangkan lan paraning dumadi (baca: Tuhan). Sekaligus hal ini menjadi keistimewaan dan ciri khas sastra pesantren yang tidak hanya menjadi pembahasan aspek seni atau estetika saja, akan tetapi juga membumbung tinggi menembus ranah metafisika, yaitu sebagai jalan sunyi menuju Tuhan.
Namun, betapa pun demikian khasnya, tidak boleh tidak harus disadari bahwa sastra pesantren juga telah terserang virus akut globalisasi sebagai zaman yang mengusung industri sebagai patokan segala-galanya. Akibatnya, saking hebatnya virus tersebut banyak para sastrawan yang tertular menyebabkan mereka tercerabut dari akar kreatifitas kesunyiannya.
Bersastra bukan lagi karena panggilan hati yang dimasuki lewat pergulatan jalan sunyi yang penuh perenungan dan kesabaran, akan tetapi karena kepentingan-kepentingan yang mengandung popularitas dan materi. Buat puisi ingin dipuji; buat cerpen dan novel ingin mendapatkan keuntungan materi.
Segala cara dilakukan untuk menghasilkan karya, sehingga kreatifitas kesunyian yang muncul dari hati tidak lagi menjadi pondasi dan pada muaranya karya sastra hadir ke depan publik tanpa membawa makna sama sekali. Maka jangan heran, ketika makin banyak dakwah melalui kreasi adaptasi novel-novel religius yang disosialisasikan depan publik dengan media yang lebih mudah berupa film, keadaan masyarakat tetap-tetap saja dalam keadaan makin terpuruk, atau bahkan justru mereka meniru adegan-adegan yang sebetulnya negatif, seperti sayang-sayangan dengan lain muhrim (pacaran) meski berbusana muslim.
Di samping itu, makin banyak buku sastra membanjiri toko-toko buku semacam antologi-antologi, akan tetapi hanya menjadi tumpukan pemenuh rak-rak buku yang sulit laku. Akhirnya saya berpikir, apakah ini akibat dari pada semakin membludaknya kemunculan para sastrawan instan yang ingin populer, sehingga dengan mudahnya membuat antologi puisi lalu diterbitkan dan disebarkan di toko-toko buku?
Fenomena tersebut menjadi ancaman dunia sastra yang harus menjadi perhatian penuh para pemerhati sastra, sastrawan, seniman maupun budayawan. Sebab, jangan-jangan hukum ekonomi yang berbunyi, “semakin banyak sesuatu maka nilainya akan semakin murah bahkan tak berharga”, akan menimpa dunia sastra ke belakang nanti.
Lalu, siapakah yang mampu menyediakan ladang persemaian kembali karya sastra sebagai jalan sunyi menuju suara kemanusiaan? Jawabannya, mereka (para sastrawan) yang masih sejati berakar kokoh pada landasan keimanan; mereka yang masih sadar dengan kefitrahannya sebagai makhkluq Tuhan yang berderajat paling tinggi.
Maka, mereka bekerja, termasuk menulis bukan karena materi dunia, akan tetapi demi membangun kepribadian dengan sifat, sikap, dan perilaku yang sejati sebagai manusia yang derajatnya lebih tinggi dari makhluq lainnya. Materi dunia hanya sekedar menjadi efek moral dari perilaku atau tindakan manusia. Artinya, keberadaan mereka dengan karyanya mengalirkan kedamaian dunia. Akhirnya, justru materi atau popularitaslah yang sibuk mencari dirinya (pernah dimuat di Radar Madura, Sabtu 15 Agustus 2009).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar