Minggu, Agustus 09, 2009

Salat Tahajud vs Sepak Bola di Pesantren

Jika kita berbincang mengenai sepak bola hanya pada konteks Liga Champions (LC) di Roma, yakni antara Barcelona dari Spanyol vs Manchester United dari Inggris, kemarin dini hari WIB (28/5), sebagai even persepakbolaan paling spektakuler, maka perbincangan topik ini pada catatan ini menjadi basi karena sudah berlalu.

Kecuali, kita membahasnya pada konteks sepak bola yang lebih luas, termasuk pertandingan yang digelar di lapangan perkampungan sehari-hari. Sekaligus, catatan ini menjadi sebuah wahana reflektif yang khikmahnya dapat dikonsumsi pada even-even selanjutnya. Sebab, siapakah yang tidak mengerti dunia sepak bola. Dan, siapakah yang tidak suka sepak bola. Nyaris semua orang ngefans sepak bola, mulai dari kepala negara, kiai, santri, sampai petani di pedalaman.

Sebagai bukti, penulis pernah ketemu dengan beberapa orang di sebuah kedai kopi di pedalaman sebuah kampung beberapa hari menjelang final LC tersebut. Mereka sibuk berdebat serius saling membela tim jagoannya masing-masing. Serunya, pembelaan tersebut tidak hanya sebatas di lisan saja tapi lebih diseriusi dengan pertaruhan uang yang tidak sedikit nilainya. Bahkan konon, kalau di kota-kota besar atau bagi orang-orang berduit, nominal taruhannya sampai puluhan juta rupiah.

Lebih seru lagi, bukan hanya orang kampung atau orang kota yang sangat antusias untuk acara ini, pesantren juga tidak kalah saing. Misalnya, pas disaat malam digelarnya acara LC tersebut, ada sebuah pesantren juga mengadakan acara Nonton Bersama (Nobar).

Mengenai kebijakan pesantren mengadakan acara nobar LC ini perlu kita renungi di sini. Sebab, ini menjadi hal yang aneh di dunia pesantren. Mengingat, dunia pesantren adalah dunia pendidikan agama. Sedangkan dunia sepak bola adalah dunia olah raga, apalagi akhir-akhir ini lebih cenderung mengarah kepada ajang perjudian.

Beberapa versi mengenai motif kebijakan tersebut. Ada yang bilang, biar santri dapat mengambil khikmah atau pelajaran dari fenomena tersebut, semacam menumbuhkan semangat belajar untuk mencetak prestasi. Seperti semangatnya Eto’o dalam mencetak gol lewat kaki lincahnya atau kehebatan Messi lewat heading (sundulan) mautnya. Ada juga yang bilang, agar santri tidak ketinggalan zaman. Selain itu, sebagai referensi bakat bagi santri yang hobi sepak bola. Tapi banyak juga yang bilang, untuk sekedar refresing (baca: hiburan) dari kejenuhan selama mengikuti pelajaran dan program-program yang padat, sehingga bisa segar kembali. Setidaknya, kalau seandainya ada seorang santri yang tidak kerasan di pondok karena jenuh, akhirnya dia bisa menjadi kerasan lagi.

Semua alasan tersebut sangat rasional. Sekaligus, hal ini dapat menunjukkan bahwa demi kesuksesan dan prestasi para santrinya segala cara dilakukan oleh pesantren, selama cara itu tidak keluar dari rambu-rambu Islam. Selain itu, sebagai bukti untuk menepis klaim miring sebagian orang yang sentimen terhadap pesantren selama ini, yaitu pesantren diidentikkan dengan kejorokan, kolot, sarungan, ketinggalan, fondamentalis, teroris, dan sejenisnya. Tapi, pesantren mendidik para santrinya secara serius, utuh, idealis, dan futuristik. Sampai kepada persoalan sepak bola pun.

Hanya saja, di samping penulis bangga terhadap fenomena kebijakan nobar LC di pesantren itu, penulis juga merasa sedih. Malam itu, santri sangat antusias mengikuti nobar di saat bersamaan acara rutin pesantren yaitu sholat tahajjud di Masjid. Akibatnya, Masjid kosong melompong gara-gara para santri bangun tidur langsung menuju acara nobar LC tersebut.

Maka dari itu, kalau kita pikir-pikir lebih mendalam, luar biasa aroma fenomena sepak bola (baca: final LC) dapat menghipnotis manusia siapa saja dan dimana saja, tak terkecuali insan pesantren. Tapi, kita tidak bisa menyalahkan acara sepak bola an sich. Atau barangkali menyalahkan para pembuat kebijakan di pesantren itu? Yang salah sering kali diri kita sendiri dalam mamahami dan menanggapi suatu kebijakan.

Memang, kebijakan tersebut diawali dengan niat yang posisif dan luhur, tapi sebuah keputusan, peraturan, dan kebijakan yang diberlakukan kepada para santri acapkali disalah-artikan dan disalah-niatkan. Fenomena ini bukan hanya terjadi di pesantren, tapi juga dalam kehidupan masyarakat luas.

Taruhlah contoh, pada sejatinya pemerintah memiliki kebijakan atau program luhur untuk mengentas kemiskinan berupa bantuan beras kepada fakir miskin (raskin) atau Bantuan Langsung Tunai (BLT), tapi acapkali oleh oknum-oknum tertentu kebijakan tersebut diselewengkan menjadi bantuan pribadi (baca: dikorupsi). Bukankah perilaku itu tidak ada bedanya dengan para santri yang menggunakan kebijakan acara nobar LC sebagai pelarian untuk tidak melaksanakan sholat tahajjud di Masjid. Atau, acara final LC yang diselewengkan menjadi ajang perjudian akbar oleh masyarakat.

Padahal qiamaul Lail adalah sebuah keniscayaan dan kebutuhan bagi insan Muslim, lebih-lebih santri, meski hukum syar’inya hanya sunnah. Pesantren yang tidak membiasakan qiamul lail perlu dipertanyakan lagi eksistensi kepesantrenannya. Sedangkan sepak bola atau final LC hanya sebatas intertainment sebagai kebutuhan sampingan saja, tidak dipenuhi tidak menjadi masalah.

Sekarang persoalannya, kenapa kalau dilihat dari semangat dan keantusiasannya mayoritas santri-pada kasus di atas-lebih antusias mengikuti pergelaran nobar LC ketimbang sholat tahajjud yang waktunya sama-sama dini hari?

Dari pengalaman di atas, maka untuk selanjutnya, mungkin lebih baik dipertimbangkan lagi kebiasaan acara nobar sepak bola atau final LC di pesantren-pesantren -meski hanya kalangan asatidz saja yang nobarnya merahasia di kantor-kantor-kalau hanya pada muaranya acara tersebut disalahniatkan dan mengalahkan kegiatan-kegiatan yang lebih esensial.

Akhirnya, ada sebuah pertanyaan, mungkinkah ini bagian daripada misi orientalisme untuk mengacaukan Islam dari kerusakan emosi orang-orang muslim sendiri, termasuk para santri? Semoga ini hanya hayalan penulis saja. Dan, semoga kita lebih semangat untuk melakukan hal-hal yang lebih bermanfa’at dari pada yang sia-sia. (pernah dimuat di Radar Madura, selasa 2 Juni 2009)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar