Minggu, Agustus 09, 2009

Virus Sekolah Favorit Di Musim PPDB

Mencermati musim Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) saat ini, penulis teringat sembilan tahun silam (2000 M), saat penulis mendaftarkan diri melanjutkan studi di sebuah pesantren yang menurut penulis terkenal di mana-mana, setelah menyelesaikan studi di sekolah kampung yang lumayan ketinggalan.

Namun, betapun berasal dari beground sekolah yang ketinggalan, penulis tidak ciut nyali dengan mem-PD-kan diri hanya karena sebuah prinsip yang diajarkan guru-guru di kampung. Kata mereka, keterkenalan, kehebatan, atau kecanggihan sebuah lembaga pendidikan itu bukan segala-galanya dalam menentukan keberhasilan pelajar. Tapi, yang paling menentukan adalah pribadi masing-masing pelajar, mau belajar serius atau tidak. Sekaligus dengan sebuah motif sederhana, yaitu bahasa komunikasinya bahasa Arab dan Inggris. Artinya, penulis berpikiran, kalau keluar dari pesantren terkenal itu akan pandai berbahasa arab dan inggris.

Penulis kira, semua calon siswa atau santri baru yang berniat melanjutkan studinya saat ini tidak jauh beda perasaannya tentang alasan, motif, dan motivasi ke mana mereka mau malanjutkan studinya. Dan tentunya, alasan pilihan tiap calon siswa berbeda-beda. Tapi yang jelas, semuanya pasti ingin yang terbaik, baik yang berupa pesantren maupun non pesantren.

Dari sinilah kemudian lahir istilah sekolah atau pesantren unggulan atau favorit. Sehingga, tiap calon siswa atau santri saling berebutan untuk diterima di lembaga yang berkategori favorit itu. Akhirnya, sekolah yang dianggap favorit kebanjiran dengan luberan pendaftar, sedangkan yang diklaim ketinggalan tenang-tenang saja kesepian.

Sayangnya, seringkali pilihan-pilihan itu didasarkan atas alasan-alasan yang tidak rasional atau rasional tapi dibumbui dengan pandangan fanatis. Yang tidak rasional, kerapkali calon siswa dan orang tuannya memburu sekolah-sekolah yang elit atau bergengsi. Padahal, bukan setiap yang elit itu favorit karena kualitasnya yang betul-betul bermutu, akan tetapi bisa jadi karena sengaja secara fisik sekolah itu dibangun oleh orang atau pihak bermodal tebal sehingga gedungnya megah terkesan elit.

Kemudian bagi mereka yang alasannya rasional tapi fanatis, adalah mereka yang berambisi memasuki sekolah tertentu lantaran memang betul-betul kualitasnya baik dan terkenal, namun mereka menganggap sekolah itu jalan satu-satunya menuju sukses sehingga kalau seandainya tidak lolos daftar mereka anggap kegagalan segala-galanya.

Akhirnya, ketika betul-betul tidak lolos mereka mengalami frustasi atau stres. Penulis pernah membaca di sebuah media massa bahwa ada seorang anak yang mengancam orang tuanya dengan tidak mau sekolah kalau tidak lolos mendaftar di sekolah favorit yang ia banggakan. Kemudian, ada orang tua siswa pusing tujuh keliling, stres, dan tidak bisa tidur hanya lantaran anaknya tidak lolos daftar ke sekolah favorit yang ia ingini.

Lain lagi dengan yang lolos, mereka terlalu bangga dengan kesuksesannya sebagai siswa sekolah unggulan yang dibanggakan, dengan keyakinan yang pasti bahwa mereka akan menjadi orang sukses setelah selesai nanti.

Sejatinya, semua motif atau perasaan di atas adalah perasaan dan sikap yang tidak baik, bahkan menjadi semacam virus yang membahayakan dan mengancam masa depan peserta didik.

Betapa tidak, yang lolos dan terlalu bangga di sekolah favoritnya, seringkali menjadi bumerang bagi dirinya sendiri, dia cuma bisa berperasaan bahwa sekolahnya sudah favorit pasti nanti sukses. Padahal, kesuksesannya adalah berada pada dirinya sendiri bukan sekolahnya. Akibatnya, dia mengentengkan keseriusan belajarnya tanpa disadarinya. Akhirnya, jangan heran ketika ada alumni sekolah atau pesantren yang terkenal di mana-mana dengan keunggulannya tapi dia biasa-biasa saja tak ada bedanya dengan manusia lainnya. Bahkan, bisa jadi lebih apes eksistensinya dari pada yang tidak sekolah sama sekali.

Lebih-lebih yang tidak lolos, lantas dia menjadi frustasi. Muaranya, dua kemungkinan yang akan terjadi, tidak jadi melanjutkan sekolah tapi langsung kerja, atau sekolah tapi dalam keadaan terpaksa. Kalau demikian, bayangkan saja, bagaimana mungkin dapat ilmu bermanfaat kalau belajarnya sudah terpaksa lantaran sekolah di sekolahan yang dirasa tidak favorit.

Memang, keberadaan sekolah memengaruhi kesuksesan peserta didik, akan tetapi tidak segala-galanya. Ada yang lebih memengaruhi dan menentukan kesuksesan mereka, yaitu kepribadian mereka sendiri. Bisa dikaitkan dengan hal ini, seorang ilmuwan membagi hal-hal yang memengaruhi intelejensi manusia (baca: kecerdasan) secara hierarkis: faktor hereditas, yaitu faktor yang berasal dari dalam diri anak didik (baca: kepribadian); faktor lingkungan, yaitu faktor yang berasal dari luar diri anak didik (baca: sekolah); dan faktor hidayah, yaitu petunjuk yang diberikan langsung oleh Tuhan.

Jadi, faktor kepribadian peserta didiklah yang utama menentukan kesuksesan belajarnya. Namun, betapapun lingkungan sekolah memengaruhi, mungkin yang membedakan favorit tidaknya adalah sistem atau infrastrukturnya an sich. Tapi, untuk visi, misi, dan tujuannya, mulai sekolah yang terfavorit sejagat raya sampai dengan sekolah yang reot pasti sama, yakni ingin peserta didikannya sukses.

Kemudian, yang perlu diperhatikan lagi adalah sekolah yang lebih dekat dengan hidayah Tuhan. Yaitu, sekolah yang memiliki sistem, prinsip, dan peraturan yang ketat dan kokoh serta steril dari sistem atau infrastruktur yang dekat dengan maksiat atau dosa.

Sebab, inilah puncak yang paling menentukan kesuksesan anak didik. Akan sia-sia kehebatan dan kecanggihan sekolah serta kecerdasan anak didik jika yang satu ini (hidayah Tuhan) tidak diraih, bahkan menjadi bumerang bukan hanya bagi diri sendiri atau keluarga, tapi nusa dan bangsa. Hal inilah yang harus diperhatikan oleh semua pihak, terutama calon siswa, wali siswa, pemerhati, sekaligus praktisi pendidikan di negri ini.

Sebelum menutup catatan ini, mari kita tengok ulang orang-orang yang sukses tanpa ruwet mencari sekolah-sekolah yang disebut favorit, bahkan tanpa sekolah-sekolah tinggi. Taruhlah misalnya, HAMKA menjadi profesor tanpa sekolah-sekolah favorit. Sastrawan mashur Zawawi Imron, beliau hanya sekolah SR dan santri kampungan. Dan, Adrea Hirata, sang novelis dan motivator sejati alumni sekolah SD kampungan yang reot, dan tokoh-tokoh sukses lainnya, bagaimana mereka belajar yang sesungguhnya. (Pernah dimuat di Radar Madura, Jawa Pos Group).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar