Kamis, Oktober 22, 2009

Kematian

Siapakah yang tahu dirinya atau orang lain, kapan, di mana, kenapa, dan bagaimana matinya? Nabi, Malaikat, dan siapa pun tidak ada yang mengetahuinya kecuali Tuhan semata. Tidak ada seseorang yang mengetahui kapan dan di mana dia mati, kata Tuhan dalam Al-Quran.

Da'i kondang, Zainudin MZ menyebutkan, kematian sebagai bagian dari fenomena kehidupan misterius, selain rizqi dan jodoh. Sehebat apa pun kedigdayaan manusia tidak akan pernah mengetahui akan terjadinya tiga perkara misterius tersebut, mungkin selain itu manusia akan tahu dengan kehebatan ilmu dan kecanggihan teknologi yang dimilikinya.

Taruhlah misalnya, cuaca, teknologi manusia dapat mengendus akan terjadi atau tidaknya hujan, kapan, di mana saja, dan deras kecilnya. Bahkan jauh-jauh sebelumnya. Kita bisa lihat ini pada kalender-kelender, atau pada perkiraan cuaca tiap hari di canel-canel televisi atau radio.

Begitu juga tidak kalah ngetrennya adalah kehebatan seorang kiai, sering kita jumpai bagaimana seorang kiai mengetahui sesuatu yang telah terjadi dan bahkan akan terjadi pada seorang tamunya. Misalnya, kita ketahuan tidak salat subuh kemaren-kemarennya. Atau pernah bermaksiat sebelumnya. Bahkan, kita dilarang pergi ke mana-mana pada satu saat karena kita akan mendapatkan sebuah musibah. Ini mungkin pernah terjadi pada diri kita ketika sowan ke kiai tertentu.

Semua hal dapat dijangkau oleh kemampuan manusia kecuali tiga perkara misterius di atas, bahkan saking hebatnya kedigdayaan, perkembangan ilmu, dan kecanggihan teknologi manusia, akhir-akhir ini frekuensi keimanan seseorang pun dapat dideteksi oleh manusia dengan alat deteksi semacam kamera dan monitor yang telah dirancang khusus. Luar biasa.

Kemaren ada peristiwa kematian yang betul-betul mengagetkan, seorang wanita ibu rumah tangga sebelah pesantren meninggal dunia betul-betul di luar dugaan. Sebab, dia sehat-sehat saja, tidak pernah sakit sebelumnya. Hidupnya bahagia meski latar belakang keluarganya sangat sederhana. Tiap hari bercanda dengan suaminya dan dua anaknya yang memang masih belia, lucu-lucu. Sungguh hari-harinya dijalani dengan bahagia oleh keluarga kecil tersebut.

Namun, entah mimpi apa, atau pertanda apa, kira-kira jam sembilanan di saat mencuci baju anak dan suaminya, tiba-tiba dia kesetrum arus listrik ketika menjemur cuciannya di atas jemuran yang tidak ia ketahui kalau teraliri arus listrik. Apalah daya, sang suami menolongnya tak kesampaian bahkan dia ikut juga tersengat aliran listrik sampai semaput. Sedangkan istrinya bukan hanya pingsan tapi meninggal dunia. Anak-anak yang sekolah dan siap-siap dijemput sambutan canda yang biasa oleh ibunya, tak disangka hari itu disambut dengan tangisan. Sungguh bagaikan mimpi.

Akhirnya, ketika ajal datang tiba-tiba, kita hanya bisa bertanya-tanya, kenapa terjadi, atau diam saja tak bisa berpikir, atau ada yang teriak-teriak tidak terima, bahkan ada yang sampai stres dan gila.

Siapakah yang disalahkan ajalkah, manusianyakah, atau bahkan Tuhankah? Pertanyaan yang sungguh menggelikan bagi persoalan ajal ini. Tidak ada yang di salahkan, kita hanya bisa mengambil i'tibar dan sadar bahwa ajal berlaku bagi siapa saja, wali, raja, kiai, presiden, santri, petani bahkan dokternya pun, siapa pun itu. Tidak ada manusia selamat dari mati atau hebat dalam mati.

Hanya saja yang salah adalah mereka yang tak pernah mengambil i'tibar dari mati, tidak takut mati, tidak sadar mati. Kayaknya mau hidup selamanya. Hidupnya hanya enjoi-enjoi saja, saenae udele dewe, semena-mena, serakah, tamak harta, gila popularitas, bangga maksiat, dan sejenisnya.

Saya tidak bisa membayangkan, bagaimana orang-orang yang tidak takut mati itu, apalagi yang hidupnya enak-enak dalam maksiat. Gonta-ganti pasangan, selingkuh, mafia sek bebas, bahkan bangga menjadi bintang artis pornoan atau bukak-bukaan, di-CD-kan dan dipublikasikan, naudzubillah.

Tapi, itu pun kita tidak tahu bagaimana matinya, belum tentu dia matinya sengsara. Kita hanya bisa menggambarkan saja, dari perilaku atau penampilannya saja tiap hari sewaktu hidupnya. Paling tidak semuanya selama hidup ini menggambarkan matinya kelak, meski kita tidak tahu persis kapan, bagaimana, dan di mana ia mati. Sangat misterius sekali.

Kalau kita selalu ingat mati, atau sadar bahwa kita akan mati, mungkin kita akan selalu waspada dan hati-hati terhadap apa yang membuat kita mati sengsara, bukan yang membuat kita kita selamat dari mati, sebab siapun akan mati. Paling tidak, ada bekal untuk mati itu, bekal yang baik.

Ibarat, kita mau bepergian jauh, kita sudah menyiapkan segala bekal jauh-jauh sebelumnya, semakin banyak dan baik bekal kita maka perjalanan tersebut semakin lancar dan sukses. Dari pada orang yang lupa bahwa dirinya akan mengadakan perjalanan yang begitu jauh, tiba-tiba harus berjalan dalam ketiadaan bekal dari segala seginya. Bayangkan saja, perjalanannya akan betul-betul sengsara.

Apalagi orang yang tidak percaya sama-sekali bahwa dirinya pasti akan bepergian jauh, jika sampai pada waktu ketepatan kepergiannya, dia akan terpaksa, terpaksa, dan terpaksa. Tidak punya bekal saja tersiksa apalagi yang terpaksa.

Selasa, Oktober 20, 2009

Mengahiri Bencana Bangsa

Melihat bencana yang datangnya bertubi-tubi, langsung tergambar di benak kita tentang negri dan bangsa kita ini, Indonesia, ada apa dengan bangsa ini. Perasaan demikian karena nyaris tiap saat negri dan bangsa ini ditimpa bencana. Sehingga, seakan-akan tiada perasaan bagi bangsa ini tiap saat selain perasaan selalu waswas dihantui datangnya bencana yang belakangan makin menggila.

Betapa tidak, mulai dari bencana yang memang sengaja dicipta oleh ulah manusia sendiri, seperti halnya bom bunuh diri, sampai kepada bencana-bencana yang betul-betul disebabkan oleh fenomena alam, seperti stunami, luapan lumpur, badai, banjir, dan gempa bumi.
Belum lagi bencana yang menurut penulis lebih ngeri lagi, seperti kelaparan, kurang gizi, pengangguran, dan kasus-kasus miring para pemimpin atau figur publik ini, semisal korupsi dan perselingkuhan. Semua itu menjadi hidangan rutin hari-hari bangsa ini. Akhirnya, negri kita ini-kalau boleh penulis katakan- menjadi negri seribu bencana.

Secara kasat mata, bencana yang menimpa, penulis kategorikan menjadi dua jenis. Pertama, bencana yang memang tampak disebabkan oleh ulah manusia sendiri. Gerakannya berangkat dari bermacam-macam, bisa dari intimidasi atau perlakuan yang menyakitkan, lalu menjadi pola pikir berupa rencana-rencana negatif. Selanjutnya di realisasikan dengan tindakan praktis destruktif di lapangan. Ada juga yang memang berangkat dari sifat dan sikap negatif, mudah sentimen atau budaya kaum barbar.

Taruhlah misalnya gerakan terorisme. Pada awalnya, gerakan ini muncul dari rasa psikologis berupa perlakuan tidak adil. Atau ada yang bilang, perasaan yang tersakiti karena merasa dimarjinalkan oleh pihak lain, sehingga timbullah ego memberontak atau dendam yang makin memuncak.

Gerakan ini amat sangat kuat karena telah menjadi jaringan atau organisasi yang terdiri dari kumpulan individu yang seperasaan, sekeyakinan, dan semisi. Pada individu-individu itu telah mengalir kuat dalam darahnya prinsip dan keyakinan yang sama untuk berjuang dalam membela diri atau membalas perasaan tersakiti itu, yang kemudian memunculkan kecerdasan dan ketekatan tinggi di dalam manuver-manuver hebat, rencana-rencana strategis, dan taktik-taktik jitu untuk memusnahkan target, semisal aksi teror.

Selain perasaan sakit hati itu, yang menyebabkan mereka kuat adalah perasaan fanatik benar dengan jalannya itu atau berada pada garis Tuhan (sorga), maka kebenaran tersebut harus ditegakkan bagaimana pun caranya, meski dengan aksi teror di atas.

Sebetulnya, bencana-bencana semisal ini banyak kita temukan dalam bentuk lain, seperti Penebangan atau penambangan liar, perampokan, penjarahan, pembunuhan dan korupsi, Hanya saja, selama ini acapkali yang dianggap bencana adalah bencana alam an sich. Padahal, bencana-bencana itulah sebenar-benarnya bencana kemanusiaan dan menjadi sumber dari bencana alam.

Bencana yang kedua adalah bencana alam. Bencana ini secara fisik terjadi karena fenomena alam. Seperti stunami, tanah longsor, banjir, dan gempa bumi. Untuk yang satu ini manusia akan bertanya-tanya, kenapa semuanya terjadi dan tidak jelas jawabannya yang pas. Sebab, bencana ini betul-betul terjadi di luar dugaan. Datangnya tiba-tiba. Kecanggihan teknologi nyaris tidak pernah berhasil mengendusnya.

Meski secara fisik demikian, apa pun bentuk bencananya, pada sejatinya, semuanya adalah karena ulah manusia sendiri yang kurang atau tidak konsisten atau bahkan tidak pernah mensyukuri sama sekali nikmat-nikmat kehidupan yang dilimpahkan Tuhan. Inilah penyebabnya menurut asumsi penulis. Sebagaimana firman Tuhan, ”Apabila kalian mensukuri nikmat-Ku, niscaya Aku akan menambahkannya. Namun, apabila kalian ingkar kepada nikmat-Ku, maka ketahuilah bahwa adzab-Ku amat pedih” (QS, 14: 7).

Untuk bencana yang melalui tangan manusia, ini dikarenakan dalam pergaulan horizontal sehari-hari telah terjadi ketidakseimbangan antara sesama, semisal prilaku tidak adil, sikap keras, dengki, iri, serta benar dan menangnya sendiri. Lebih-lebih secara vertikal, manusia banyak yang telah bersikap tidak harmonis (bermaksiat) terhadap Tuhannya.

Begitu juga antara manusia dan lingkungan sekitarnya, telah terjadi ketidakharmonisan. Manusia cenderung cuma bisa mengeksploitasi alam, bukan membangun dan merawat alam, seperti sifat dan sikap rakus dan berlebihan.

Agama mengajarkan, bencana-bencana itu ada tiga kemungkinan khikmahnya. Pertama, sebagai ujian bagi manusia yang berlaku baik. Kedua, sebagai peringatan bagi manusia yang berbuat maksiat. Dan ketiga, sebagai adzab bagi manusia yang ketagihan berbuat maksiat dan kejahatan

Anehnya, penjelasan agama tersebut nyaris tidak pernah dihayati; manusia cenderung tidak bisa mengambil pelajaran darinya. Yang biasa jahat makin menghebat, yang bermaksiat makin menguat, yang biasa menyakiti makin menjadi-jadi, seakan manusia tidak takut mati. Manusia telah banyak yang tenggelam dalam pusaran materialisme dan hedonisme

Maka dari itu, sejatinya mudah untuk mengahiri atau paling tidak meminimalkan terjadinya bencana-bencana itu. Yaitu, kita bangun kembali kesadaran dan perilaku harmonis terhadap Tuhan, sesama, dan alam secara holistik (utuh). Tanpa itu, jangan harap negri dan bangsa ini selamat dari bencana-bencana itu.

Hidup Enjoy

Siapakah yang tidak sibuk dalam hidupnya? Saya yakin jawabannya pasti orang yang tidak dituntut dengan tugas atau pekerjaan yang terlalu banyak. Dan orang yang tidak memiliki tugas atau pekerjaan terlalu banyak tersebut liniernya pasti diarahkan kepada orang yang hidupnya berkecukupan atau sudah kaya raya.

Namun, kenyataannya acapkali orang yang kaya bahkan sudah terlalu kaya, segalanya sudah tercukupkan, bahkan lebih dari sekedar cukup masih saja tampak sibuk, pontang-panting ke sana ke mari ngurusin hartanya.

Bahkan, kita sering saksikan, baik di media massa maupun dalam lingkungan langsung sehari-hari, justru yang kaya raya itu yang jarang di rumahnya. Bahkan, hanya buat ngurusin atau mendidik anaknya saja tidak sempat. Kita kerap lihat anak-anak orang kaya dididik oleh para pembantu di rumahnya, bahkan sampai ada istilah baby sister.

Akhirnya, standar untuk menjawab tentang orang yang tidak sibuk hidupnya di atas perlu ditilik ulang, itu hanya menjadi jawaban dangkal saja, yang acapkali tidak pas dengan fakta.

Bagi saya, orang ysng tidak sibuk alias enjoi dalam hidupnya adalah bukan orang yang sedikit pekerjaannya atau mungkin tidak memiliki perkerjaan sama sekali karena sudah terlalu kaya, akan tetapi yang enjai adalah orang yaang dapat menghayati atau menikmati tugas-tugas atau pekerjaannya.

Orang yang dapat menikmati dan menghayati tugas dan pekerjaannya itu adalah mereka yang ikhlas. Mereka yang ikhlas adalah mereka yang dapat meyakini bahwa setiap apa yang dialami dalam hidupnya, termasuk tugas dan pekerjaan pasti ada khikmahnya atau manfaat yang akan kembali kepada dirinya secara langsung lebih-lebih kelak di kehidupan yang lebih abadi (akherat). Sekecil atau seberat apa pun pengalamannya.

Nah, persoalan yang sering terjadi adalah kesulitan untuk menimbulkan keyakinan yang kemudian juga sulit keikhlasannya.

Ilmu adalah pintu menuju keyakinan dan kesuksesan itu. Ilmu di sini berarti ilmu apa pun, terutama ilmu yang terkait langsung dengan tugas atau pekerjaan terkait. Para politikus, mereka harus mengusai ilmu politik serta ilmu yang mendukungnya. Para ekonom, mereka harus mengusai ilmu ekonomi. Para pedagang dan petani pun sama, semua manusia harus memiliki ilmu di bidangnya masing-masing.

Oleh karena itu ada perkataan, sebuah pekerjaan harus dilimpahkan kepada ahlinya. Kalau bukan pada ahlinya, maka tunggulah kerusakannya. Rusak karena memang tak ikhlas; Tak ikhlas karena memang tak yakin; tak yakin karena memang tak tahu ilmunya.

Persoalan terakhir, bagaimana dapat ilmu itu, jawabannya sudah tidak asing lagi, belajar yang serius.
Dari penjelasan di atas, sudah jelas secara sitematis hieraskis dapat dirumuskan: belajar, ilmu, yakin, dan ikhlas, sehingga hidup enjoi dan santai.

Konflik Lucu di Awal Tahun

Awal tahun seharusnya dimulai dengan semangat baru. Untuk tahun ini, saya memulainya di pondok dengan kondisi diri yang lain. Kondisi ini betul-betul tidak pernah terjadi sebelumnya, meski tiap tahun sejak jadi santri baru tahun 2000an saya selalu memulai awal tahun di pondok dengan sesuatu yang tentunya sangat tidak membahagiakan, hanya saja dalam bentuk yang lain.

Kalau jadi santri mesti kondisinya adalah perasaan tidak kerasan karena baru selesai liburan. Setelah jadi alumni lain lagi bentuknya, apa lagi yang satu ini, pas di tahun terakhir pengabdian.

Begini, kurang lebih tiga tahun saya mengabdi di pondok sebagai takmir Masjid Al-Amien, sehingga selama tiga tahun itu tiap awal tahun tidak pernah diganti-ganti. Tapi kali ini tidak demikian, tiba-tiba tanpa ada sinyal-sinyal dikit pun sebelumnya saya dipindah ke bagian kesantrian. Temen-temen pada bertanya-tanya, lebih-lebih saya, langsung timbul perasaan takut punya masalah di Takmir sehingga dipindah.

Sebab, konon, biasanya guru yang kedudukannya sudah lama atau paten di sebuah bagian, lalu tiba-tiba dipindah, berarti paling tidak dia memiliki masalah tidak baik di bagian itu sehingga butuh dikeluarkan ke bagian yang lain.

Singkat cerita, saya dengan kejadian tersebut merasa punya salah, apalagi di Masjid sebagai tempat yang sakral, sehingga dikit-dikit saya merasa takut kena walat.

Namun, setelah satu minggu bertugas di bagian yang baru, ternyata ada bagian yang memersalahkanproses kepindahan saya tersebut, pihak yayasan sebagai atasan Takmir tidak terima dan merasa diserobot begitu saja oleh pihak marhalah aliyah.

Dari itu, duduk perkaranya menjadi jelas, sekaligus melegakan saya bahwa saya pindah bukan karena-kasarnya-terusir dari Takmir karena salah-akan tetapi karena dibutuhkan oleh bagian lain, marhalah aliyah. Di samping itu, menjadi jelas, telah terjadi konflik antara pihak aliyah dan yayasan.

Hawa persoalannya semakin memanas ketika kedua belak pihak saling mengaku benar dan saling menyalahkan sampai berlarut-larut.

Menariknya, hanya masalah sepele, gara-gara saya, konflik keduanya memanas. Betapa tidak, persoalan tersebut sampai menjadi topik khusus dalam rapat pusat para pimpinan pondok selama dua minggu berturut-turut, lucu! Saya hanya bisa senyum skeptis sambil mengelus dada; pondok segede ini bisa kacau hanya gara-gara persoalan yang objeknya manusia kecil seperti saya ini. Apalagi manusia berpengaruh.

Sebenarnya, motif inti makin memanasnya persoalan tersebut adalah karena kedua belah pihak belum pernah duduk rembuk bersama untuk menyelesaikannya secara cepat; Kedua pihak hanya dengar variabel persoalannya hanya dari katanya, katanya, dan katanya.

Begitulah bahaya kabar katanya, dapat mengacaukan struktur kerukunan manusia, baik awam maupun akademika. Aneknya, kalau sudah merambah kepada lingkungan akademika yang bergelut dalam dunia logika dan sistematika.

Oleh kareana itu, siapa pun kita harus senantiasa mawas diri dari hal-hal yang tidak jelas faktanya, jangan karena katanya, tapi mana datanya. Itulah saya kira sejatinya untuk menilai siapakah orang yang terpelajar sejati dan yang tidak sejati, bagaimana dia menghadapi masalah, dan mencari solusinya.

Akhirnya, konflik lucu di awal tahun akhir pengabdian ini, Alhamdulillah, semuanya sudah beres, saya sudah bisa enak makan, nyenyak tidur, enjoi bertugas, dan semangat belajar.

Senin, Oktober 19, 2009

Sketsa Perjuangan Islam Masa Kini

Judul buku : Imperialisme Baru
Penulis : Nuim Hidayat
Pengantar : Abdurrahman Albaghdady
Penerbit : Gema Insani, Jakarta
Cetakan : Pertama, 2009
Tebal : 291 halaman
Dalam beberapa tahun terakhir ini, dunia Islam betul-betul mengalami guncangan yang luar biasa hebatnya, secara internal maupun eksternal. Secara internal, banyak isu-isu pemikiran sekaligus tindakan yang justru mengacaukan bangunan Islam itu sendiri, seperti gerakan-gerakan yang lahir dalam Islam yang membawa isu-isu memanas kontraversial layaknya yang disebut-sebut sebagai Islam liberal maupun yang disebut-sebut sebagai Islam tradisional (militan). Meski keduanya sama-sama merasa mengusung kebenaran, sehingga keduanya dicap sebagai gerakan yang saling berlawanan, namun keduanya telah menyebabkan tubuh Islam seakan penuh peperangan yang bahkan tidak jarang berakhir dengan bentrokan-bentrokan fisik dalam ruang Islam itu sendiri.
Secara eksternal, goncangan Islam bersumber dari luar tubuh Islam, yang hal ini kerap mengambil jalan isu-isu internal Islam itu sendiri. Dalam bahasa lain, pihak luar yang ingin menghancurkan Islam cenderung merusak Islam dari isu-isu dalam Islam itu sendiri, semisal klaim terorisme yang memang dikendarai oleh gerakan-gerakan radikal Islam atau Islam garis keras, sehingga Islam pada muaranya seakan-akan menjadi agama yang seram menakutkan bagi dunia; Islam identik dengan pedang, peperangan, dan kekerasan.
Stigma buruk tersebut semakin marak belakangan ini, lebih-lebih di Indonesia yang menjadi mayoritas orang-orang Muslim. Maraknya bom bunuh diri memerkuat stigma buruk tersebut. Mereka yang ingin merusak Islam secara eksternal itu banyak yang menyebutnya dengan gerakan-gerakan orientalisme dan imperialisme yang dimotori oleh bangsa Barat (Amerika dan Israel).
Berangkat dari pemikiran di atas, banyak macam istilah gerakan memusuhi Islam, baik secara internal maupun eksternal. Yaitu, orientalisme, imperialisme, liberalisme, sekulerisme dan isme-isme lainnya. Nah, dalam buku yang setebal 291 halaman ini, meski tidak terlalu tebal menurut ukuran kesempurnaan, Nuim hidayat, pengarangnya, tidak mengurangi pemahamanmya dalam menjelaskan isu-isu di atas, karena disusun dengan gaya bahasa yang sederhana, sekaligus diwarnai dengan pemaparan fakta-fakta terkini yang meyakinkan pembaca, lebih-lebih mengenai persoalan orientalisme dan imperialisme sebagai gerakan musuh Islam (orang-orang kafir) yang lebih dia nisbatkan kepada bangsa Amerika (AS) dan Israel (Yahudi) (hal: 178-185).
Dalam salah satu bagian, ada beberapa ide menarik yang dia jelaskan dan menjadi orientasi inti ijtihad buku tersebut, yaitu sebagai mana yang dia tulis,
”Meski kaum kafir-yang kini didominasi pemerintah AS-mencoba menggilas Islam baik secara pikiran maupun tindakan, kita mesti melawan dengan kemampuan kita semaksimal mungkin. Tentu medan peperangan mesti kita teliti dan kuasai. Bila medan yang ada sekitar kita adalah medan ekonomi politik, kita berjuang semaksimal mungkin menegakkan ekonomi politik Islam. Bila di hadapan kita medan jihad fisik, kita relakan fisik kita untuk berjihad di jalan Allah. Bila medan di hadapan kita adalah peperangan pemikiran, kita kerahkan semaksimal mungkin otak kita untuk berjihat memerjuangkan pemikiran Islam.” (hal: 14).
Dari catatan tersebut sangat jelas bahwa pemikiran dia sangat fleksibel dan dinamis, alias tidak rigit, tentang struktur cara penghacuran Islam sekaligus perjuangan Islam. Artinya, dia memerlihatkan kepada umat Islam bahwa musuh-musuh Islam tidak hanya memakai jalan peperangan fisik sebagai mana yang terjadi di zaman Rasulullah dan masa perang dunia I dan II, namun lebih bahaya lagi adalah penyerangan musuh Islam dalam bentuk pemikiran atau pandangan, berupa konspirasi-konspirasi (kasus RUU Sisdiknas/10 Juni) (hal: 85-91), pemutarbalikkan fakta Islam (hal: 56-66), pelencengan Aqidah Islam (liberalisme dan sekulerisme) (hal: 92-107), dan sistem penafsiran (hermeneutika) (hal: 38-40). Maka dari itu, perjuangan Islam harus lebih fleksbel sesuai dengan cara dan bentuk penyerangan tersebut. Perjuangan Islam harus tidak melulu berbentuk tindakan fisik (jihad) semisal perang dengan pedang, namun juga berupa sistem logika atau pemikiran (ijtihad).
Bentuk penyerangan berupa pemikiran tersebut lebih bahaya dari pada sekedar perang fisik, sebab lebih halus yang acapkali tidak terasa merasuki tubuh Islam, di berbagai bidangnya mulai dari ekonomi politik, sistem pendidikan, perundang-undangan, sampai pola prinsip-prinsip kehidupan. Terbukti, banyak umat Muslim mulai goyah atau bahkan asing dengan akidahnya sendiri, seperti lahirnya pola pikir liberalis, sekuler, dan hedonis.
Dari struktur pemikiran dalam buku ini juga, menjadi lebih menarik lagi, ketika pada satu sisi buku ini menjadi pencerahan bagi umat Islam sebagai umat yang harus fleksibel, tidak boleh rigit, namun pada satu sisi menjadi singgungan serius bagi eksistensi gerakan Islam liberal (JIL) yang telah mengakar kuat khususnya di negri kita ini, Indonesia. Sebagaimana yang menjadi dominasi pembahasan topik-topiknya, seperti yang diperkuat pada beberapa judul bab berikut ini: ”Fikih lintas agama, persembahan untuk siapa?”, ”Islam Liberal mau ke mana?, dan ”Raksasa di balik program liberalisasi Islam.”
Di samping itu, ada sisi yang saya pribadi sebagai peresensi buku ini, tergugah untuk menjelaskan keunikan sosok penulis buku ini, yaitu ketegasan dan keberanian gagasan utuhnya, bahwa yang menjadi raja kafir sebagai musuh Islam adalah Amerika dan Yahudi, merekalah yang menjadi setir dari segala bentuk penghancuran Islam, lebih-lebih belakangan ini, termasuk isu-isu panas terorisme Islam di Indonesia.
Namun, betapa pun demikian, untuk mengakhiri catatan resensi ini, ada pertanyaan pribadi penulis resensi ini kepada penulis buku ini, kalau memang yang melatarbelakangi penghancuran dalam segala bentuknya yang diluncurkan kepada Islam di dunia ini, khususnya di Indonesia adalah Amerika dan antek-anteknya, kenapa gerakan-yang disebut-terorisme dalam aksi bom bunuh diri, yang gembong-gembongnya telah berguguran sekaliber Dr. Azhari, Noordin M. Top, Syaifuddin Zuhri, Muhammad Syahrir, dan lainnya justru memiliki motif ketidakadilan Amerika dan sekutu-kutunya terhadap dunia Islam, seperti di Paletina, Afganistan, dan negara-negara Islam Lainnya?
Kemudian, jika memang stigma terorisme itu bagian dari buah konspirasi atau doktrin pemikiran Amerika terhadap dunia, sahkah jihad dengan bom bunuh diri dilakukan demi menegakkan Islam? Bukankah dengan demikian tidak tambah menampakkan ketertinggalan kecerdasan pemikiran dunia Islam atau kewalahan pemikiran dunia Islam dalam menghadapi kecerdasan dunia Barat?
Penulis merasa, pertanyaan-pertanyaan di atas tidak cukup terjelaskan dalam buku ini. Oleh karena itu, selebihnya, buku ini perlu ditelaah dan dicermati lebih lanjut oleh semua unsur Islam, lebih-lebih buku ini sangat sesuai dengan isu-isu gawat dunia Islam saat ini. Dengan harapan, terjadi dialog kritis konstruktif bagi ketegakan dan kemajuan eksistensi Islam di masa-masa akan datang.

Minggu, Oktober 04, 2009

Pemberdayaan Pemuda Desa

(Catatan konseptual tentang cara praktis menuju sukses memajukan masyarakat desa)

Salah satu dampak negatif perkembangan zaman adalah menyerang kaula muda, termasuk pemuda desa. Ini maklum, sebab pemuda masih berdarah muda yang sifatnya menggebu-gebu dan penuh potensi sekaligus semangat membara. Sehingga, kalau seandainya potensi itu difungsikan di jalan yang keliru niscaya akan mengakibatkan dilema yang luar biasa, namun apabila digunakan di jalan yang luhur, maka akan mendatangkan kesejahteraan dan perkembangan yang luar biasa juga. Maka amat logis ketika Sukarno mengatakan, “Berilah aku sepuluh orang pemuda, Aku akan menggoncang dunia”.

Banyak gagasan dan solusi yang dipaparkan oleh para pemikir untuk-paling tidak-meminimalkan potensi negatif para pemuda, diantaranya yang pasti, jangan sampai pemuda berwaktu kosong atau nganggur. Artinya, harus diadakan kegiatan-kegiatan positif dalam sebuah wadah khusus semacam organisasi-organisasi kepemudaan untuk mengalokasikan waktu-waktu senggang pemuda tersebut di dalam hal-hal yang posistif dan produktif, termasuk bagaimana pemuda mandiri, kreatif, dan berprestasi. Lebih luasnya, bagaimana para pemuda berpartisipasi aktif dalam mengembangkan dan memajukan desanya bersama masyarakatnya menuju kesejahteraan abadi.

Sebab, bagaimana pun pemuda adalah generasi yang akan meneruskan tongkat estafeta kepengurusan, tugas-tugas, dan tanggung jawab yang tua. Apabila pemudanya memiliki bekal bagus maka mereka akan siap memikul dan melanjutkan tanggung jawab para orang tua, namun apabila tidak memiliki kesiapan baik maka malah akan lebih buruk, dan ini menjadi ancaman keras masa depan sebuah desa, lebih luasnya bangsa.

Dalam hal ini berarti mendidik dan membina pemuda sejak dini melalui wadah yang jelas sistematis, dan independen. Jelas berarti keberadaannya resmi diketahui dan diakui semua pihak atau unsur, baik dari unsur masyarakat maupun lembaga-lembaga yang eksis di desa, dari segi bentuk, nama, personel, kinerja, serta visi dan misinya.

Sistematis berarti berupa organisasi yang memiliki struktur, visi dan misi, serta kinerja yang prosedural sesuai dengan aturan atau kode etika yang berlaku yang dipegang dan dipatuhi bersama-sama. Tanpa begini maka wadah atau organisasi itu tidak akan memiliki potensi produktif, kerja yang terarah, dan tujuan yang pasti, kecuali hanya sekedar nama di atas kertas pelengkap administrasi kepedesaan dalam laporan atau justifikasi ke atasan. Atau, bahkan menjadi wadah ajang kerusakan yang terorganisir. Betapa tidak, wadahnya ada dan diakui tapi tak jelas siapa sebagai penasehatnya, pemimpinnya, pengawasnya, pelaksananya, programnya, serta visi dan misinya yang tidak pasti; adanya tidak bermanfaat bahkan malah menambah beban.

Adapun independen berarti keberadaannya berdiri sendiri, mandiri, tanpa ada pihak atau otoritas yang mengintervensi penuh, semuanya diprakarsai dan dijalani oleh unsur-unsur pemuda. Dengan maksud agar ada kebebasan dalam berkreasi. Pihak tua hanya sekedar mengawasi, melindungi, dan mengarahkan, tapi tidak membiarkan secara bebas sebebas-bebasnya, mengingat masa muda masih labil. Organisasi-organisasi yang tidak seperti konsep ini biasanya hanya sebagai pelengkap unsur perangkat desa di atas kertas putih an sich, saya contohkan biasanya Karangtaruna

Pemahaman tentang pengakuan dari berbagai pihak di atas, terutama pihak-pihak yang memegang otoritas, seperti kepala desa dan para tokoh di sekitarnya harus jelas. Sebab, dikawatirkan terjadi missunderstanding (salah paham) akan adanya organisasi kepemudaan tersebut, seperti halnya ada pihak yang mensinyalir eksistensi organisasi tersebut sebagai sempalan atau bahkan oposisi yang mengancam eksistensi pihaknya.

Oleh karena itu, harus diperjelas pemahamannya bahwa keberadaan organisasi tersebut sebagai rekan atau mitra kerja pihak-pihak lain dalam rangka membangun desa, terutama bagi kepala desa. Misal praktisnya, jika terjadi apa-apa bagi kepala desa maka pihak pemuda itulah yang membantunya; atau ketika kepala desa menemukan kesulitan-kesulitan di lapangan dalam melaksanakan tugasnya maka dia bisa memanggil pihak pemuda tersebut untuk turut rembuk mencari solusinya.

Pada intinya, dengan keberadaan organisasi kepemudaan desa tersebut kekuatan aparat atau unsur-unsur otoritas kepedesaan dalam membangun desanya akan bertambah, sehingga segala apa yang menjadi visi dan misinya dapat tercapai secara efektif, efisien, dan maksimal. Akhirnya, berkembanglah desa sebagaimana yang menjadi visi dan misi Negara. Inilah yang menjadi visi dan misi inti dari pada eksistensi organisasi kepemudaan. Hal ini sebetulnya sama dengan apa yang terjadi di HMII, PMII, atau organisasi-organisasi akademis kemahasiswaan di perguruan tinggi. Kalau di kampus ada kenapa di desa tidak bisa?

Di samping sebagai rekan para unsur otoritas desa, juga agar masyarakat, khususnya pemuda desa yang tidak lanjut sekolah memiliki pengetahuan dan pengalaman sebagaimana pemuda di sekolah. Sebab, dalam keorganisasian tersebut dilengkapi dengan unsur-unsur atau kinerja-kinerja yang holistik (utuh) dan komprehensif (lengkap) untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan sebagai manusia normal dan maju berupa divisi-divisi.

Divisi-divisi itu adalah divisi keilmuwan, salah satu kinerjanya adalah membentuk pemuda-pemuda berwawasan dan berpengetahuan luas meski tanpa akademis formal, misalnya melalui kegiatan-kegiatan ilmiah, seminar-seminar, loka karya, membangun perpustakaan dan sejenisnya. Divisi perekonomian, termasuk kinerjanya adalah membina pemuda mandiri sejak dini atau pengalaman mencari nafkah hidup. Kemudian, divisi tradisi dan keagamaan, misalnya membina pemuda dan masyarakat dalam pengamalan tradisi dan agama yang benar, dan divisi-divisi lainnya.

Dengan konsep praktis di atas, insya Allah dalam waktu cepat desa-desa akan mengalami kemajuan yang pesat; yang sudah maju bertambah maju, yang berkembang menjadi maju, apalagi yang ketinggalan akan melaju berkembang dan maju.

Terlebih lagi dalam menjalankan program negara, otonomi daerah, di mana tiap-tiap daerah atau desa memiliki hak paten untuk mengembangkan dan memajukan daerahnya secara mandiri sesuai dengan potensi dan khas yang dimiliki. Sehingga, daerah yang tidak memiliki ambisi dan sistem yang benar dan proporsional akan ketinggalan dan terseret oleh roda zaman, adapun daerah yang memiliki ambisi dan cara atau sistem yang benar dan proporsional akan melaju cepat membawa masyarakatnya menuju kemajuan dan kesejahteraan.


* Catatan ini dibuat sebagai latar belakang gagasan pembentukan organisasi kepemudaan desa, oleh tim P2M IDIA Prenduan di Pakandangan Tengah, yang membutuhkan sumbangan pemikiran secara kritis konstruktif dari berbagai pihak sebagai perbaikan dan penyempurnaan.

Pakandangan Tengah, 09 September 2009

Adikku Lembah Sunyi



Adikku lembah sunyi
aku menulis ini untukmu
agar ada kisah yang abadi
menghibur tangis sesak di hati
langit, bumi, tebing, dan batu-batu
yang kau lewati di lorongmu
menjadi saksi tak terduga
saksi yang tak pernah
ada manusia tahu kecuali

kesunyian yang kau bangun
di tiap langkah polosmu
Aku pernah bercerita kepadamu
tentang jalan cinta jalan sunyi
itulah kau

Sungguh, tak pernah ada yang mengerti
tentang langkahmu itu, dik
yang sempat gontai
disapa tebing-tebing di pinggir nasibmu
tapi engkau tetap saja senyum
seperti mentari pagi menyapa bumi
betapa indahnya senyummu
betapa sunyinya dadamu

Oh, betapa polosnya kau dik
tiap hari menyusuri lorong itu
yang sering kali kau tak pahami
sapanya

Ingatlah dik, batu yang kau telusuri
tebing yang seringkali kau sandari
dikala kau lelah dalam perjalananmu
melukiskan untukmu
bahwa kau sedang mencipta nasibmu sendiri

Sedang Tuhan slalu senyum
pada wajah teduhmu
meski tak pernah kau pandang dia
Tegarlah bersama tebing-tebing di lorong itu
tak pernah goyah
tak pernah renta
dan tak pernah berwajah pasi
senyumlah selalu dik
mekarlah selalu
Tuhan sedang terlena padamu
Pakandangan Tengah, 15 September 2009


Sabtu, Oktober 03, 2009

Kau Wanita Liar di Hatiku

 Dik, kini aku datang dengan ini
ingin mencurahkan segalanya
telah kau didik diriku
dengan caramu sendiri
yang bagiku sangat unik
tidak bisa dipahami dunia
agar aku menjadi suami dewasa
dan engkau bisa tertawa
seluas angkasa raya

Airmata akan mengering sudah

Kini, sudah tersingkap jelas
kau pantas menjadi wanita liar
yang selalu mengoyak-ngoyak
hatiku

Tapi, Engkau lebih paham aku
dari pada diriku untukku
terlalu bodoh diriku

Dik, aku kagum kau
aku cinta kau
aku rindu kau
kau wanita liar di hatiku

Pekandangan Tengah, P2M, 250809


Moralitas Orang-Orang Kampung

(Kajian Fenomenologis tentang Kesunyian Sikap Santri Pedalaman)
Kalau berbicara soal akhlak (moralitas), tentunya yang paling akan dirasa pertama kali di benak manusia-terlebih pada level perkampungan-adalah bagaimana bertingkah laku dan bersikap dengan orang lain. Hal ini sangat sederhana, namun menjadi aspek paling signifikan pada ranah kemanusiaan (humanistik).
Lain lagi ketika kita membahas akhlak yang lebih luas, yaitu akhlak yang terkait dengan lingkungan dan ketuhanan. Lebih ruwet lagi kalau menarik akhlak ke dalam ranah filsafat (filsafat moral), maka tema akhlak akan menjadi hal yang tak terbatas, penuh perdebatan tanpa garis finish, yang muaranya terjerembab ke dalam dua kategori ekstrim: relatif dan mutlak.
Dalam catatan ini, saya sengaja menjauh dari persoalan akhlak yang ruwet-ruwet tersebut, lebih santai membahas akhlak pada lingkup kampungan saja. Artinya, akhlak dipahami secara praktis; bagaimana kita bertingkah laku baik dengan manusia lain dalam pergaulan sehari-hari.
Itupun masih dipengaruhi berbagai pandang yang beraneka ragam, sebab dalam memahami akhlak masih harus menghadapi banyak konteks berdasarkan geografis atau tradisi manusia setempat, yaitu lingkungan yang di tempati manusia berbeda-beda, yang pada akhirnya menyebabkan aroma akhlak juga berbeda-beda.
Antara daerah yang satu dengan yang lainnya memiliki pola pandang, cara, dan bentuk moralitas berbeda. Misalnya, memegang kepala atau berpelukan ketika bertemu sahabat atau sedang bertamu pada tradisi tertentu merupakan sebuah kehormatan, akan tetapi kalau di Madura sikap demikian banyak yang memandangnya sebagai sikap kekurangajaran bahkan menghina.
Perbedaan ini tidak sepele, sehingga membutuhkan perhatian serius oleh semua orang. Sebab, itu memiliki dampak yang signifikan bagi eksistensi seorang manusia. Kita tentunya sudah tahu, hanya gara-gara akhlak tidak becus seorang manusia terusir dari komunitasnya. Pada intinya, akhlak dapat menjadikan diri manusia terkerangkeng di dalam kehidupan yang hina. Menunjukkan, persoalan akhlak bagaimanapun kecilnya bukan persoalan “hanya” tapi justru menjadi persoalan yang paling penting dalam kehidupan untuk diperhatikan.
Selain itu, yang menjadi persoalan akhlak adalah, seiring dengan berubahnya zaman ke arah yang lebih hedonis dan materialistis (globalisasi), persoalan akhlak menjadi semakin “sengaja” tidak mau dipahami (cuek) oleh banyak manusia. Sebab, akhlak dianggap sesuatu yang tidak ada artinya, buang-buang waktu dan mengganggu, dari pada bekerja yang hasilnya kongkrit dapat menghasilkan uang banyak dan akhirnya kaya raya bahagia. Atau, dipahami seenaknya sendiri, sehingga akhlak menjadi dasar tingkah laku dan sikap semaunya sendiri, akhlak menjadi tercerabut dari kesejatiannya.
Persoalan cuek terhadap akhlak di sini juga sudah menulari dunia yang lebih religius, yaitu pesantren, terutama di sebagian pesantren yang sudah berwajah modern. Acapkali karena sistem yang sudah modern mereka tenggelam ke dalam topik-topik atau metodologi-metodologi modernitas tersebut. Sistem pelajaran menjadi lebih menarik belajar komputer atau internet dari pada hanya mutar-mutar di bab sopan santun, tatakrama, dan sejenisnya.
Akhirnya, sang santri cuma pinter dalam persoalan intelektual dan teknologi tapi kering aspek kesantunan, kesunyian, dan kedamaian antara sesama manusia; menjadi santri-santri yang kurang ajar, ilmuwan-ilmuwan saenae udele dewe dan individualis, pemimpin-pemimpin yang menyakitkan, atau kalau jadi kiai, kiai yang sombong dan esklusif.
Rindu saya terhadap kesantunan yang terasa sunyi dan damai itu bisa terpuaskan ketika saya dan teman-teman sekampus mengadakan program P2M (Praktek Pemberdayaan Masyarakat) di salah satu kampung pedalaman.
Saya lihat, bagaimana santri-santri pesantren di kampung pedalaman yang serba sederhana itu sangat dekat dan santun menyambut saya dan teman-teman; cara duduk yang sangat lembut sekali, penyediaan suguhan yang sungguh luar biasa santunnya, komunikasi yang sungguh damai dirasa, dan sikap yang sungguh menunjukkan kedekatan dan keakraban yang damai, seakan-akan kami merasa betul-betul diperlakukan sebagai manusia yang sesungguhnya; manusia yang memiliki harga dan nilai, meski secara intelektual dan sistem pendidikan mereka serba sederhana dan terbatas.
Saya pikir, inilah sejatinya kehidupan yang agamis, moralis, dan humanis yang selama ini acapkali diselewengkan dan diperdebatkan. (Pernah dimuat di Radar Madura)

Pemuda Desa Antara Tradisi dan Globalisasi

Melihat perkembangan zaman yang semakin melaju cepat dan keras, membuat kita sesekali menjadi miris. Sebab, zaman dengan segala perkembangannya semakin hari makin mengarah kepada hal-hal yang jauh dari dimensi moral dan nilai-nilai agama. Zaman itu disebut zaman modern atau globalisasi, di mana ia lebih membawa manusia kepada hal-hal yang hedonis materialistis. Memandang dan menilai segala sesuatunya di atas materi dan enak-enaknya saja. Fenomena ini menjadi persoalan tersendiri bagi kemanusiaan mutakhir ini, bagi mereka yang tidak memiliki bekal dan benteng hidup yang kuat.
Tentunya, tidak semua manusia terjangkit persoalan itu. Penulis melihat yang paling banyak adalah menjangkiti masyarakat kota-kota metropolitan. Namun, tidak menutup kemungkinan persoalan itu juga menyerang masyarakat pedesaan terlebih pemudanya, yang tersangkut pada teknologi yang juga mulai meluber ke pojok-pojok pedesaan, semisal TV, komputer, dan internet.
Ada beberapa asumsi yang dapat penulis tangkap ketika ngobrol-ngobrol tentang fenomena pemuda-pemudi desa. Yaitu, pertama, kalau pemuda-pemudi desa (bukan berarti semua) ketinggalan perkembangan modern, mereka justru memiliki pola pandang dan sikap yang fanatik sempit dan amat sangat sederhana dalam tradisi dan pengamalan keagamaan.
Dalam tradisi ada dua kemungkinan: pertama, mereka cenderung berpikiran sangat sederhana yang diwarisi dari pandangan tradisional nenek moyang atau orang tua mereka, terlebih dalam pendidikan. Yakni, buat apa sekolah tinggi-tinggi lawong sama saja, cuma menghabisi biaya. Apalagi bagi pemudinya, tradisi orang tua mereka mengajarkan, cukup bagi anak wanita tahu ngaji saja sudah selamat dalam perkara kasur, dapur, dan sumur, sehingga pada akhirnya hanya lulus SD/MI atau mondok beberapa tahun saja sudah dikawinkan. Kedua, mereka cenderung egois dan fanatik pada kelompoknya atau tradisinya sendiri, sehingga bersikap esklusif (tertutup) bahkan keras kepada kelompok lain. Sedangkan dalam hal agama, mereka cenderung hanya ikut-ikutan kata orang tua mereka (taqlid buta), sehingga pemahaman keagamaan mereka keras tapi mudah goyah, karena tanpa didasari ilmu yang benar dan kuat.
Kedua, kalau pemuda-pemudi desa mengikuti perkembangan zaman, mereka terkesan norak dan seakan-akan lebih dari pada mereka yang hidup di kota-kota metropolitan. Hal ini seakan-akan menegaskan selorohan di pesantren yang berbunyi, kalau ayam dikurung lama kemudian ia keluar bebas, maka ia akan kaget dan mabuk (lupa daratan) menikmati dunia baru yang serba bebas. Orang Madura menyebutnya dengan istilah ngoangoh (keterlaluan).
Inilah fenomena problematis khususnya masyarakat desa pada masa kini; zaman tega, siap menggilas siapa saja yang tidak memiliki bekal yang cukup dan benteng diri yang kokoh. Apalagi khususnya bagi masyarakat pedesaaan di Madura setelah berkembangnya operasi Suramadu.
Penilaian asumtif di atas mungkin terkesan berlebihan atau bahkan mengada-ngada, karena tanpa melalui penelitian resmi. Tapi, cobalah kita lihat secara langsung, bagaimana pemuda-pemudi desa yang sudah berbau gaya hidup modern mereka lupa daratan, semisal berpakaian bukak-bukaan, senonoh, bertingkah bebas, bermaksiat terang-terangan, berprinsip gaul-gaulan, gaul bebas, dan sejenisnya, parahnya lagi dibarengi dengan sikap fanatik keras, orak-orakan, dan keterlaluan.
Dalam hal ini, penulis ajukan beberapa argumen sebagai solusi. Yaitu, pertama, semua pihak secara holistik dan komprehensif harus sama-sama memerhatikan dengan serius persoalan tersebut. Partisipasi aktif mulai dari orang tua, para tokoh seperti kiai dan guru serta institusi atau lembaga daerah semacam kepala desa, yayasan, lembaga pendidikan, dan LSM. Dan, dari berbagai dimensi (komprehensif), pendidikan, ekonomi, budaya, dan sebagainya.
Kedua, memerdayakan organisasi-organisasi dan kegiatan-kegiatan positif produktif, baik dalam lembaga pendidikan atau kemasyarakatan dengan sistem yang baik, seperti OSIS, REMAS, karangtaruna, yasinan, solawatan, atau arisan. Nah, ini menjadi wadah dan momen emas bagi semua pihak tersebut untuk sama-sama bergerak meluruskan pemahaman yang benar tentang pola pandang, sikap, dan prinsip-prinsip yang diusung oleh era modern dan globalisasi, sekaligus bagaimana mereka bisa berkreatifitas dan berprestasi.
Harapannya, agar orang-orang desa khususnya generasi mudanya bisa dan terbiasa hidup teratur; berwawasan dan berpola hidup modern dan global, namun tidak tercerabut dari nilai-nilai tradisi lokal yang penuh dengan kesunyian, kesantunan, keakraban, dan kedamaian yang hal ini jarang dimiliki oleh masyarakat perkotaan; mereka akan terangkat dari persoalan-persoalan yang memalukan di atas; ketertinggalan, keras, ngoangoh, dan hedonis materialistis.

Tradisi Salawat Dangdut, Toleransi atau Provokasi?

Di zaman ini pantas dibilang ada-ada saja dan serba bisa. Betapa tidak, suatu malam saya menonton lomba nasyid Islami. Dalam salah satu penampilannya ada salawatan yang bergaya dangdutan, dibumbui dengan goyangan hampir mirip goyangannya Inul. Hanya saja dengan lirik salawat dan busana Muslim. Ini menjadi hiburan atau tradisi yang sudah lumrah dan marak di tengah-tengah masyarakat saat ini.

Salawatan dan dangdutan dalam Islam berbanding terbalik. Artinya, Tidak mungkin salawat sebagai bagian dari ajaran Islam yang mengandung nilai pahala dicampur adukkan dengan dangdutan yang cenderung bernilai dosa. Salawat adalah puji-pujian dalam menghormati dan mencintai Nabi sebagai Rasulullah. Sedangkan dangdutan merupakan tradisi yang cenderung menjadi jalan maksiat; bukak-bukaan, amoral, yang dilarang dalam Islam.

Tapi, meskipun sudah jelas demikian, masih ada saja yang berpikiran lain; ada pro dan kontranya. Pihak yang berlatar belakang pikiran yang agak bebas akan mengatakan itu adalah kebebasan berekspresi atau kreasi dalam seni. Adapun bagi pihak yang berlatar belakang sebaliknya, itu disebut menghina salawat dan ujung-ujungnya sama halnya menghina Nabi dan Islam.

Zaman sekarang akal memang cenderung menjadi standart segalanya, apa saja serba bisa dipandang secara bebas berdasar masing-masing kepala. Itulah manifestasi dari prinsip toleransi dan menghargai kebebasan berpikir dan berekspresi. Namun, sebagai orang yang bijak dan lebih dewasa, kita tentunya tidak seenaknya memahami dan memutuskan sesuatu. Sudah barang pasti dalam Islam pun diajari toleransi dan kebebasan dalam berekspresi, hanya saja ada aturan mainnya yang sehat, di mana batas dan standartnya.

Bagi saya sebagai orang Islam, kebebasan bukan berarti bebas segala-galanya tanpa batas. Yang jelas, boleh bebas asal tidak menyinggung, menyakiti, atau merusak. Tidak bisa dikata kebebasan berekspresi yang harus ditoleransi dan dihormati apabila mengganggu aktifitas atau ketenangan pandangan, keyakinan, kelompok atau pribadi lain.

Misalnya, saya tidak boleh mengekspresikan pikiran saya dalam bentuk karya tulis kalau tulisan saya tersebut sekiranya menimbulkan fitnah atau menyakiti orang lain. Atau, saya tidak bisa lantaran berprinsip kebebasan berekpresi atau berkreasi lantas saya nari-nari telanjang bulat di depan publik, kecuali saya ingin disebut sebagai orang yang tak waras.

Pada dasarnya, dalam Islam saya yakini, prinsip kebebasan berpikir adalah selama berpikir atau berekspresi itu pantas bagi kemanusiaan sejati yang memiliki nilai, harga diri atau kehormatan yang lebih tinggi dari pada binatang, serta tidak menimbulkan singgungan, gangguan, provokasi atau kerusakan.

Begitu juga halnya dalam salawatan. Salawatan adalah tradisi penghormatan kepada Nabi bagi orang Muslim, sehingga masuk akal kalau ada orang Muslim tidak terima jika tradisi tersebut dibuat mainan atau diformat dalam bentuk yang justru bertolak belakang dengan tradisi atau ajaran Islam sendiri, seperti salawatan yang didangdutkan itu, karena umat Muslim betul-betul merasa tersinggung dan sakit hati.

Dengan demikian, sejatinya, bukan berarti umat Muslim tidak memiliki semangat toleransi, justru orang yang merasa bertapak pada haluan semangat hormat kebebasan berekspresi tapi menyinggung itu yang tidak memiliki semangat toleransi, namun memiliki semangat menyakiti dan provokasi. Anehnya lagi, semangat menyakiti dan provokasi tersebut malah kerap marak dilakukan oleh orang Islam sendiri.

Fenomena inilah yang perlu diluruskan kembali, manakah yang toleransi dan provokasi; manakah yang semangat menghormati kebebasan berekspresi dan menyakiti. Sebab, belakangan ini hal tersebut menjadi semacam ‘senjata syetan” yang paling ampuh untuk menimbulkan perseteruan kemanusiaan terlebih dalam tubuh Islam; hanya gara-gara berbeda prinsip dan memahami kebebasan umat Muslim menjadi saling sentimen, saling menyalahkan (truth claim), saling merasa benar, dan akhirnya saling tega menafikan atau mengganyang.

Betul pemahaman ulil Absor Abdallah (Jawa Pos, 7/9) bahwa toleransi berarti bila ditemukan ketidakcocokan terhadap sesuatu atau atas diri orang lain, orang harus bisa menahan diri. Kalau ada orang yang tidak cocok dengan kita, kita tidak akan memaksakan agar orang itu menjadi cocok. Sebab, manusia memang tidak bisa menafikan perbedaan. Apalagi sudah jelas dalam Islam bahwa perbedaan adalah sebuah keniscayaan,” perbedaaan yang terjadi pada umatku adalah rahmat (hadist Nabi). Orang juga mengatakan likulli ro’sin ro’yun (lain kepala lain isinya).

Di samping itu, toleransi juga bukan berarti membiarkan gangguan, singgungan, pengrusakan, atau provokasi, apalagi disengaja terang-terangan menghina, akan tetapi membasmi tradisi atau semangat provokasi. Membasmi semangat provokasi bukan berarti membunuh para provokator secara keras layaknya bom bunuh diri sehinga seakan Islam terkesan keras sebagaimana yang selama ini kerap dilabelkan kepadanya (baca: terorisme), akan tetapi mulai dari diri sendiri untuk tidak menyinggung, menyakiti, mengganggu dan memprovokasi pandangan, keyakinan, dan tradisi pihak lain, serta menjelaskan dan meluruskan bagi diri lain dengan cara yang lebih dewasa dan bijaksana.

Itulah sejatinya toleransi, kesabaran, dan perjuangan, yaitu menghargai perbedaan; kita menghargai dan menghormati tradisi lain sehingga kita dihargai. Bukan berarti kita tidak memprovokasi sekaligus tidak terprovokasi sedangkan orang lain seenaknya mengganggu, menyakiti, dan memprovokasi adapun kita harus menerimanya dengan alasan harus sabar karena sabar dikasih Tuhan. Atau, bahkan sebaliknya dengan menempuh jalan kekerasan sebagai perjuangan (baca: jihad).

Saya kira, agama mana pun akan mengakui hal itu. Sebab, semua agama dalam ranah kemanusiaannya (humanistik/hubungan horizontal) sama-sama mengusung ajaran berbuat baik, tidak ada agama yang mengajari berbuat kejahatan, meski secara ketuhanan (akidah/hubungan vertikal) berbeda sesuai dengan keyakinan masing-masing. Dan, itu bukan sebuah persoalan karena itu perbedaan yang menjadi keutuhan dan dinamika kehidupan, asal dalam lingkaran toleransi yang lurus tadi. (pernah dimuat di Jawa Pos Group Radar Madura, Senen 5 Oktober 2009)

Cinta kita

Dik, Ketika hati harus menghadapi

Kenyataan yang menyakiti

Adalah hiburan dalam bentuk lain

Ketika hiburan menjadi kesenangan

Itulah kesuksesan

Kesuksesan yang mengisahkan

Bahwa hidup kita adalah

Mengolah rasa sakit

Menjadi masakan yang nikmatnya

Tiada tara

Lalu, kita akan merekam dunia

Bahwa dunia hanyalah

Gurauan mesra hari-hari kita

Yang tidak boleh tidak

Akan menjadi kenangan terindah

Dan aku bercerita

Kepada para generasi cinta

Dik, sungguh hidup kita unik

Indah tak terbatas

Terpoles canda dan tangis

Semuanya adalah bahagia kita

Inilah kisah kita

Kisah tentang cinta dalam bentuk lain

Kisah yang unik

Kisah yang luar biasa

Kisah yang mencipta surga kita

Aku yakin itu, sayang.

Polean, 270909