Selasa, Oktober 20, 2009

Hidup Enjoy

Siapakah yang tidak sibuk dalam hidupnya? Saya yakin jawabannya pasti orang yang tidak dituntut dengan tugas atau pekerjaan yang terlalu banyak. Dan orang yang tidak memiliki tugas atau pekerjaan terlalu banyak tersebut liniernya pasti diarahkan kepada orang yang hidupnya berkecukupan atau sudah kaya raya.

Namun, kenyataannya acapkali orang yang kaya bahkan sudah terlalu kaya, segalanya sudah tercukupkan, bahkan lebih dari sekedar cukup masih saja tampak sibuk, pontang-panting ke sana ke mari ngurusin hartanya.

Bahkan, kita sering saksikan, baik di media massa maupun dalam lingkungan langsung sehari-hari, justru yang kaya raya itu yang jarang di rumahnya. Bahkan, hanya buat ngurusin atau mendidik anaknya saja tidak sempat. Kita kerap lihat anak-anak orang kaya dididik oleh para pembantu di rumahnya, bahkan sampai ada istilah baby sister.

Akhirnya, standar untuk menjawab tentang orang yang tidak sibuk hidupnya di atas perlu ditilik ulang, itu hanya menjadi jawaban dangkal saja, yang acapkali tidak pas dengan fakta.

Bagi saya, orang ysng tidak sibuk alias enjoi dalam hidupnya adalah bukan orang yang sedikit pekerjaannya atau mungkin tidak memiliki perkerjaan sama sekali karena sudah terlalu kaya, akan tetapi yang enjai adalah orang yaang dapat menghayati atau menikmati tugas-tugas atau pekerjaannya.

Orang yang dapat menikmati dan menghayati tugas dan pekerjaannya itu adalah mereka yang ikhlas. Mereka yang ikhlas adalah mereka yang dapat meyakini bahwa setiap apa yang dialami dalam hidupnya, termasuk tugas dan pekerjaan pasti ada khikmahnya atau manfaat yang akan kembali kepada dirinya secara langsung lebih-lebih kelak di kehidupan yang lebih abadi (akherat). Sekecil atau seberat apa pun pengalamannya.

Nah, persoalan yang sering terjadi adalah kesulitan untuk menimbulkan keyakinan yang kemudian juga sulit keikhlasannya.

Ilmu adalah pintu menuju keyakinan dan kesuksesan itu. Ilmu di sini berarti ilmu apa pun, terutama ilmu yang terkait langsung dengan tugas atau pekerjaan terkait. Para politikus, mereka harus mengusai ilmu politik serta ilmu yang mendukungnya. Para ekonom, mereka harus mengusai ilmu ekonomi. Para pedagang dan petani pun sama, semua manusia harus memiliki ilmu di bidangnya masing-masing.

Oleh karena itu ada perkataan, sebuah pekerjaan harus dilimpahkan kepada ahlinya. Kalau bukan pada ahlinya, maka tunggulah kerusakannya. Rusak karena memang tak ikhlas; Tak ikhlas karena memang tak yakin; tak yakin karena memang tak tahu ilmunya.

Persoalan terakhir, bagaimana dapat ilmu itu, jawabannya sudah tidak asing lagi, belajar yang serius.
Dari penjelasan di atas, sudah jelas secara sitematis hieraskis dapat dirumuskan: belajar, ilmu, yakin, dan ikhlas, sehingga hidup enjoi dan santai.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar