Kamis, Oktober 22, 2009

Kematian

Siapakah yang tahu dirinya atau orang lain, kapan, di mana, kenapa, dan bagaimana matinya? Nabi, Malaikat, dan siapa pun tidak ada yang mengetahuinya kecuali Tuhan semata. Tidak ada seseorang yang mengetahui kapan dan di mana dia mati, kata Tuhan dalam Al-Quran.

Da'i kondang, Zainudin MZ menyebutkan, kematian sebagai bagian dari fenomena kehidupan misterius, selain rizqi dan jodoh. Sehebat apa pun kedigdayaan manusia tidak akan pernah mengetahui akan terjadinya tiga perkara misterius tersebut, mungkin selain itu manusia akan tahu dengan kehebatan ilmu dan kecanggihan teknologi yang dimilikinya.

Taruhlah misalnya, cuaca, teknologi manusia dapat mengendus akan terjadi atau tidaknya hujan, kapan, di mana saja, dan deras kecilnya. Bahkan jauh-jauh sebelumnya. Kita bisa lihat ini pada kalender-kelender, atau pada perkiraan cuaca tiap hari di canel-canel televisi atau radio.

Begitu juga tidak kalah ngetrennya adalah kehebatan seorang kiai, sering kita jumpai bagaimana seorang kiai mengetahui sesuatu yang telah terjadi dan bahkan akan terjadi pada seorang tamunya. Misalnya, kita ketahuan tidak salat subuh kemaren-kemarennya. Atau pernah bermaksiat sebelumnya. Bahkan, kita dilarang pergi ke mana-mana pada satu saat karena kita akan mendapatkan sebuah musibah. Ini mungkin pernah terjadi pada diri kita ketika sowan ke kiai tertentu.

Semua hal dapat dijangkau oleh kemampuan manusia kecuali tiga perkara misterius di atas, bahkan saking hebatnya kedigdayaan, perkembangan ilmu, dan kecanggihan teknologi manusia, akhir-akhir ini frekuensi keimanan seseorang pun dapat dideteksi oleh manusia dengan alat deteksi semacam kamera dan monitor yang telah dirancang khusus. Luar biasa.

Kemaren ada peristiwa kematian yang betul-betul mengagetkan, seorang wanita ibu rumah tangga sebelah pesantren meninggal dunia betul-betul di luar dugaan. Sebab, dia sehat-sehat saja, tidak pernah sakit sebelumnya. Hidupnya bahagia meski latar belakang keluarganya sangat sederhana. Tiap hari bercanda dengan suaminya dan dua anaknya yang memang masih belia, lucu-lucu. Sungguh hari-harinya dijalani dengan bahagia oleh keluarga kecil tersebut.

Namun, entah mimpi apa, atau pertanda apa, kira-kira jam sembilanan di saat mencuci baju anak dan suaminya, tiba-tiba dia kesetrum arus listrik ketika menjemur cuciannya di atas jemuran yang tidak ia ketahui kalau teraliri arus listrik. Apalah daya, sang suami menolongnya tak kesampaian bahkan dia ikut juga tersengat aliran listrik sampai semaput. Sedangkan istrinya bukan hanya pingsan tapi meninggal dunia. Anak-anak yang sekolah dan siap-siap dijemput sambutan canda yang biasa oleh ibunya, tak disangka hari itu disambut dengan tangisan. Sungguh bagaikan mimpi.

Akhirnya, ketika ajal datang tiba-tiba, kita hanya bisa bertanya-tanya, kenapa terjadi, atau diam saja tak bisa berpikir, atau ada yang teriak-teriak tidak terima, bahkan ada yang sampai stres dan gila.

Siapakah yang disalahkan ajalkah, manusianyakah, atau bahkan Tuhankah? Pertanyaan yang sungguh menggelikan bagi persoalan ajal ini. Tidak ada yang di salahkan, kita hanya bisa mengambil i'tibar dan sadar bahwa ajal berlaku bagi siapa saja, wali, raja, kiai, presiden, santri, petani bahkan dokternya pun, siapa pun itu. Tidak ada manusia selamat dari mati atau hebat dalam mati.

Hanya saja yang salah adalah mereka yang tak pernah mengambil i'tibar dari mati, tidak takut mati, tidak sadar mati. Kayaknya mau hidup selamanya. Hidupnya hanya enjoi-enjoi saja, saenae udele dewe, semena-mena, serakah, tamak harta, gila popularitas, bangga maksiat, dan sejenisnya.

Saya tidak bisa membayangkan, bagaimana orang-orang yang tidak takut mati itu, apalagi yang hidupnya enak-enak dalam maksiat. Gonta-ganti pasangan, selingkuh, mafia sek bebas, bahkan bangga menjadi bintang artis pornoan atau bukak-bukaan, di-CD-kan dan dipublikasikan, naudzubillah.

Tapi, itu pun kita tidak tahu bagaimana matinya, belum tentu dia matinya sengsara. Kita hanya bisa menggambarkan saja, dari perilaku atau penampilannya saja tiap hari sewaktu hidupnya. Paling tidak semuanya selama hidup ini menggambarkan matinya kelak, meski kita tidak tahu persis kapan, bagaimana, dan di mana ia mati. Sangat misterius sekali.

Kalau kita selalu ingat mati, atau sadar bahwa kita akan mati, mungkin kita akan selalu waspada dan hati-hati terhadap apa yang membuat kita mati sengsara, bukan yang membuat kita kita selamat dari mati, sebab siapun akan mati. Paling tidak, ada bekal untuk mati itu, bekal yang baik.

Ibarat, kita mau bepergian jauh, kita sudah menyiapkan segala bekal jauh-jauh sebelumnya, semakin banyak dan baik bekal kita maka perjalanan tersebut semakin lancar dan sukses. Dari pada orang yang lupa bahwa dirinya akan mengadakan perjalanan yang begitu jauh, tiba-tiba harus berjalan dalam ketiadaan bekal dari segala seginya. Bayangkan saja, perjalanannya akan betul-betul sengsara.

Apalagi orang yang tidak percaya sama-sekali bahwa dirinya pasti akan bepergian jauh, jika sampai pada waktu ketepatan kepergiannya, dia akan terpaksa, terpaksa, dan terpaksa. Tidak punya bekal saja tersiksa apalagi yang terpaksa.

1 komentar:

  1. http://www.bocahandini.blogspot.com



    Hmm.......gimana ea....top deh!!!!!!!! ma'annajah fiy blogikum...

    BalasHapus