Selasa, Oktober 20, 2009

Konflik Lucu di Awal Tahun

Awal tahun seharusnya dimulai dengan semangat baru. Untuk tahun ini, saya memulainya di pondok dengan kondisi diri yang lain. Kondisi ini betul-betul tidak pernah terjadi sebelumnya, meski tiap tahun sejak jadi santri baru tahun 2000an saya selalu memulai awal tahun di pondok dengan sesuatu yang tentunya sangat tidak membahagiakan, hanya saja dalam bentuk yang lain.

Kalau jadi santri mesti kondisinya adalah perasaan tidak kerasan karena baru selesai liburan. Setelah jadi alumni lain lagi bentuknya, apa lagi yang satu ini, pas di tahun terakhir pengabdian.

Begini, kurang lebih tiga tahun saya mengabdi di pondok sebagai takmir Masjid Al-Amien, sehingga selama tiga tahun itu tiap awal tahun tidak pernah diganti-ganti. Tapi kali ini tidak demikian, tiba-tiba tanpa ada sinyal-sinyal dikit pun sebelumnya saya dipindah ke bagian kesantrian. Temen-temen pada bertanya-tanya, lebih-lebih saya, langsung timbul perasaan takut punya masalah di Takmir sehingga dipindah.

Sebab, konon, biasanya guru yang kedudukannya sudah lama atau paten di sebuah bagian, lalu tiba-tiba dipindah, berarti paling tidak dia memiliki masalah tidak baik di bagian itu sehingga butuh dikeluarkan ke bagian yang lain.

Singkat cerita, saya dengan kejadian tersebut merasa punya salah, apalagi di Masjid sebagai tempat yang sakral, sehingga dikit-dikit saya merasa takut kena walat.

Namun, setelah satu minggu bertugas di bagian yang baru, ternyata ada bagian yang memersalahkanproses kepindahan saya tersebut, pihak yayasan sebagai atasan Takmir tidak terima dan merasa diserobot begitu saja oleh pihak marhalah aliyah.

Dari itu, duduk perkaranya menjadi jelas, sekaligus melegakan saya bahwa saya pindah bukan karena-kasarnya-terusir dari Takmir karena salah-akan tetapi karena dibutuhkan oleh bagian lain, marhalah aliyah. Di samping itu, menjadi jelas, telah terjadi konflik antara pihak aliyah dan yayasan.

Hawa persoalannya semakin memanas ketika kedua belak pihak saling mengaku benar dan saling menyalahkan sampai berlarut-larut.

Menariknya, hanya masalah sepele, gara-gara saya, konflik keduanya memanas. Betapa tidak, persoalan tersebut sampai menjadi topik khusus dalam rapat pusat para pimpinan pondok selama dua minggu berturut-turut, lucu! Saya hanya bisa senyum skeptis sambil mengelus dada; pondok segede ini bisa kacau hanya gara-gara persoalan yang objeknya manusia kecil seperti saya ini. Apalagi manusia berpengaruh.

Sebenarnya, motif inti makin memanasnya persoalan tersebut adalah karena kedua belah pihak belum pernah duduk rembuk bersama untuk menyelesaikannya secara cepat; Kedua pihak hanya dengar variabel persoalannya hanya dari katanya, katanya, dan katanya.

Begitulah bahaya kabar katanya, dapat mengacaukan struktur kerukunan manusia, baik awam maupun akademika. Aneknya, kalau sudah merambah kepada lingkungan akademika yang bergelut dalam dunia logika dan sistematika.

Oleh kareana itu, siapa pun kita harus senantiasa mawas diri dari hal-hal yang tidak jelas faktanya, jangan karena katanya, tapi mana datanya. Itulah saya kira sejatinya untuk menilai siapakah orang yang terpelajar sejati dan yang tidak sejati, bagaimana dia menghadapi masalah, dan mencari solusinya.

Akhirnya, konflik lucu di awal tahun akhir pengabdian ini, Alhamdulillah, semuanya sudah beres, saya sudah bisa enak makan, nyenyak tidur, enjoi bertugas, dan semangat belajar.

2 komentar: