Selasa, Oktober 20, 2009

Mengahiri Bencana Bangsa

Melihat bencana yang datangnya bertubi-tubi, langsung tergambar di benak kita tentang negri dan bangsa kita ini, Indonesia, ada apa dengan bangsa ini. Perasaan demikian karena nyaris tiap saat negri dan bangsa ini ditimpa bencana. Sehingga, seakan-akan tiada perasaan bagi bangsa ini tiap saat selain perasaan selalu waswas dihantui datangnya bencana yang belakangan makin menggila.

Betapa tidak, mulai dari bencana yang memang sengaja dicipta oleh ulah manusia sendiri, seperti halnya bom bunuh diri, sampai kepada bencana-bencana yang betul-betul disebabkan oleh fenomena alam, seperti stunami, luapan lumpur, badai, banjir, dan gempa bumi.
Belum lagi bencana yang menurut penulis lebih ngeri lagi, seperti kelaparan, kurang gizi, pengangguran, dan kasus-kasus miring para pemimpin atau figur publik ini, semisal korupsi dan perselingkuhan. Semua itu menjadi hidangan rutin hari-hari bangsa ini. Akhirnya, negri kita ini-kalau boleh penulis katakan- menjadi negri seribu bencana.

Secara kasat mata, bencana yang menimpa, penulis kategorikan menjadi dua jenis. Pertama, bencana yang memang tampak disebabkan oleh ulah manusia sendiri. Gerakannya berangkat dari bermacam-macam, bisa dari intimidasi atau perlakuan yang menyakitkan, lalu menjadi pola pikir berupa rencana-rencana negatif. Selanjutnya di realisasikan dengan tindakan praktis destruktif di lapangan. Ada juga yang memang berangkat dari sifat dan sikap negatif, mudah sentimen atau budaya kaum barbar.

Taruhlah misalnya gerakan terorisme. Pada awalnya, gerakan ini muncul dari rasa psikologis berupa perlakuan tidak adil. Atau ada yang bilang, perasaan yang tersakiti karena merasa dimarjinalkan oleh pihak lain, sehingga timbullah ego memberontak atau dendam yang makin memuncak.

Gerakan ini amat sangat kuat karena telah menjadi jaringan atau organisasi yang terdiri dari kumpulan individu yang seperasaan, sekeyakinan, dan semisi. Pada individu-individu itu telah mengalir kuat dalam darahnya prinsip dan keyakinan yang sama untuk berjuang dalam membela diri atau membalas perasaan tersakiti itu, yang kemudian memunculkan kecerdasan dan ketekatan tinggi di dalam manuver-manuver hebat, rencana-rencana strategis, dan taktik-taktik jitu untuk memusnahkan target, semisal aksi teror.

Selain perasaan sakit hati itu, yang menyebabkan mereka kuat adalah perasaan fanatik benar dengan jalannya itu atau berada pada garis Tuhan (sorga), maka kebenaran tersebut harus ditegakkan bagaimana pun caranya, meski dengan aksi teror di atas.

Sebetulnya, bencana-bencana semisal ini banyak kita temukan dalam bentuk lain, seperti Penebangan atau penambangan liar, perampokan, penjarahan, pembunuhan dan korupsi, Hanya saja, selama ini acapkali yang dianggap bencana adalah bencana alam an sich. Padahal, bencana-bencana itulah sebenar-benarnya bencana kemanusiaan dan menjadi sumber dari bencana alam.

Bencana yang kedua adalah bencana alam. Bencana ini secara fisik terjadi karena fenomena alam. Seperti stunami, tanah longsor, banjir, dan gempa bumi. Untuk yang satu ini manusia akan bertanya-tanya, kenapa semuanya terjadi dan tidak jelas jawabannya yang pas. Sebab, bencana ini betul-betul terjadi di luar dugaan. Datangnya tiba-tiba. Kecanggihan teknologi nyaris tidak pernah berhasil mengendusnya.

Meski secara fisik demikian, apa pun bentuk bencananya, pada sejatinya, semuanya adalah karena ulah manusia sendiri yang kurang atau tidak konsisten atau bahkan tidak pernah mensyukuri sama sekali nikmat-nikmat kehidupan yang dilimpahkan Tuhan. Inilah penyebabnya menurut asumsi penulis. Sebagaimana firman Tuhan, ”Apabila kalian mensukuri nikmat-Ku, niscaya Aku akan menambahkannya. Namun, apabila kalian ingkar kepada nikmat-Ku, maka ketahuilah bahwa adzab-Ku amat pedih” (QS, 14: 7).

Untuk bencana yang melalui tangan manusia, ini dikarenakan dalam pergaulan horizontal sehari-hari telah terjadi ketidakseimbangan antara sesama, semisal prilaku tidak adil, sikap keras, dengki, iri, serta benar dan menangnya sendiri. Lebih-lebih secara vertikal, manusia banyak yang telah bersikap tidak harmonis (bermaksiat) terhadap Tuhannya.

Begitu juga antara manusia dan lingkungan sekitarnya, telah terjadi ketidakharmonisan. Manusia cenderung cuma bisa mengeksploitasi alam, bukan membangun dan merawat alam, seperti sifat dan sikap rakus dan berlebihan.

Agama mengajarkan, bencana-bencana itu ada tiga kemungkinan khikmahnya. Pertama, sebagai ujian bagi manusia yang berlaku baik. Kedua, sebagai peringatan bagi manusia yang berbuat maksiat. Dan ketiga, sebagai adzab bagi manusia yang ketagihan berbuat maksiat dan kejahatan

Anehnya, penjelasan agama tersebut nyaris tidak pernah dihayati; manusia cenderung tidak bisa mengambil pelajaran darinya. Yang biasa jahat makin menghebat, yang bermaksiat makin menguat, yang biasa menyakiti makin menjadi-jadi, seakan manusia tidak takut mati. Manusia telah banyak yang tenggelam dalam pusaran materialisme dan hedonisme

Maka dari itu, sejatinya mudah untuk mengahiri atau paling tidak meminimalkan terjadinya bencana-bencana itu. Yaitu, kita bangun kembali kesadaran dan perilaku harmonis terhadap Tuhan, sesama, dan alam secara holistik (utuh). Tanpa itu, jangan harap negri dan bangsa ini selamat dari bencana-bencana itu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar