Sabtu, Oktober 03, 2009

Moralitas Orang-Orang Kampung

(Kajian Fenomenologis tentang Kesunyian Sikap Santri Pedalaman)
Kalau berbicara soal akhlak (moralitas), tentunya yang paling akan dirasa pertama kali di benak manusia-terlebih pada level perkampungan-adalah bagaimana bertingkah laku dan bersikap dengan orang lain. Hal ini sangat sederhana, namun menjadi aspek paling signifikan pada ranah kemanusiaan (humanistik).
Lain lagi ketika kita membahas akhlak yang lebih luas, yaitu akhlak yang terkait dengan lingkungan dan ketuhanan. Lebih ruwet lagi kalau menarik akhlak ke dalam ranah filsafat (filsafat moral), maka tema akhlak akan menjadi hal yang tak terbatas, penuh perdebatan tanpa garis finish, yang muaranya terjerembab ke dalam dua kategori ekstrim: relatif dan mutlak.
Dalam catatan ini, saya sengaja menjauh dari persoalan akhlak yang ruwet-ruwet tersebut, lebih santai membahas akhlak pada lingkup kampungan saja. Artinya, akhlak dipahami secara praktis; bagaimana kita bertingkah laku baik dengan manusia lain dalam pergaulan sehari-hari.
Itupun masih dipengaruhi berbagai pandang yang beraneka ragam, sebab dalam memahami akhlak masih harus menghadapi banyak konteks berdasarkan geografis atau tradisi manusia setempat, yaitu lingkungan yang di tempati manusia berbeda-beda, yang pada akhirnya menyebabkan aroma akhlak juga berbeda-beda.
Antara daerah yang satu dengan yang lainnya memiliki pola pandang, cara, dan bentuk moralitas berbeda. Misalnya, memegang kepala atau berpelukan ketika bertemu sahabat atau sedang bertamu pada tradisi tertentu merupakan sebuah kehormatan, akan tetapi kalau di Madura sikap demikian banyak yang memandangnya sebagai sikap kekurangajaran bahkan menghina.
Perbedaan ini tidak sepele, sehingga membutuhkan perhatian serius oleh semua orang. Sebab, itu memiliki dampak yang signifikan bagi eksistensi seorang manusia. Kita tentunya sudah tahu, hanya gara-gara akhlak tidak becus seorang manusia terusir dari komunitasnya. Pada intinya, akhlak dapat menjadikan diri manusia terkerangkeng di dalam kehidupan yang hina. Menunjukkan, persoalan akhlak bagaimanapun kecilnya bukan persoalan “hanya” tapi justru menjadi persoalan yang paling penting dalam kehidupan untuk diperhatikan.
Selain itu, yang menjadi persoalan akhlak adalah, seiring dengan berubahnya zaman ke arah yang lebih hedonis dan materialistis (globalisasi), persoalan akhlak menjadi semakin “sengaja” tidak mau dipahami (cuek) oleh banyak manusia. Sebab, akhlak dianggap sesuatu yang tidak ada artinya, buang-buang waktu dan mengganggu, dari pada bekerja yang hasilnya kongkrit dapat menghasilkan uang banyak dan akhirnya kaya raya bahagia. Atau, dipahami seenaknya sendiri, sehingga akhlak menjadi dasar tingkah laku dan sikap semaunya sendiri, akhlak menjadi tercerabut dari kesejatiannya.
Persoalan cuek terhadap akhlak di sini juga sudah menulari dunia yang lebih religius, yaitu pesantren, terutama di sebagian pesantren yang sudah berwajah modern. Acapkali karena sistem yang sudah modern mereka tenggelam ke dalam topik-topik atau metodologi-metodologi modernitas tersebut. Sistem pelajaran menjadi lebih menarik belajar komputer atau internet dari pada hanya mutar-mutar di bab sopan santun, tatakrama, dan sejenisnya.
Akhirnya, sang santri cuma pinter dalam persoalan intelektual dan teknologi tapi kering aspek kesantunan, kesunyian, dan kedamaian antara sesama manusia; menjadi santri-santri yang kurang ajar, ilmuwan-ilmuwan saenae udele dewe dan individualis, pemimpin-pemimpin yang menyakitkan, atau kalau jadi kiai, kiai yang sombong dan esklusif.
Rindu saya terhadap kesantunan yang terasa sunyi dan damai itu bisa terpuaskan ketika saya dan teman-teman sekampus mengadakan program P2M (Praktek Pemberdayaan Masyarakat) di salah satu kampung pedalaman.
Saya lihat, bagaimana santri-santri pesantren di kampung pedalaman yang serba sederhana itu sangat dekat dan santun menyambut saya dan teman-teman; cara duduk yang sangat lembut sekali, penyediaan suguhan yang sungguh luar biasa santunnya, komunikasi yang sungguh damai dirasa, dan sikap yang sungguh menunjukkan kedekatan dan keakraban yang damai, seakan-akan kami merasa betul-betul diperlakukan sebagai manusia yang sesungguhnya; manusia yang memiliki harga dan nilai, meski secara intelektual dan sistem pendidikan mereka serba sederhana dan terbatas.
Saya pikir, inilah sejatinya kehidupan yang agamis, moralis, dan humanis yang selama ini acapkali diselewengkan dan diperdebatkan. (Pernah dimuat di Radar Madura)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar