Sabtu, Oktober 03, 2009

Pemuda Desa Antara Tradisi dan Globalisasi

Melihat perkembangan zaman yang semakin melaju cepat dan keras, membuat kita sesekali menjadi miris. Sebab, zaman dengan segala perkembangannya semakin hari makin mengarah kepada hal-hal yang jauh dari dimensi moral dan nilai-nilai agama. Zaman itu disebut zaman modern atau globalisasi, di mana ia lebih membawa manusia kepada hal-hal yang hedonis materialistis. Memandang dan menilai segala sesuatunya di atas materi dan enak-enaknya saja. Fenomena ini menjadi persoalan tersendiri bagi kemanusiaan mutakhir ini, bagi mereka yang tidak memiliki bekal dan benteng hidup yang kuat.
Tentunya, tidak semua manusia terjangkit persoalan itu. Penulis melihat yang paling banyak adalah menjangkiti masyarakat kota-kota metropolitan. Namun, tidak menutup kemungkinan persoalan itu juga menyerang masyarakat pedesaan terlebih pemudanya, yang tersangkut pada teknologi yang juga mulai meluber ke pojok-pojok pedesaan, semisal TV, komputer, dan internet.
Ada beberapa asumsi yang dapat penulis tangkap ketika ngobrol-ngobrol tentang fenomena pemuda-pemudi desa. Yaitu, pertama, kalau pemuda-pemudi desa (bukan berarti semua) ketinggalan perkembangan modern, mereka justru memiliki pola pandang dan sikap yang fanatik sempit dan amat sangat sederhana dalam tradisi dan pengamalan keagamaan.
Dalam tradisi ada dua kemungkinan: pertama, mereka cenderung berpikiran sangat sederhana yang diwarisi dari pandangan tradisional nenek moyang atau orang tua mereka, terlebih dalam pendidikan. Yakni, buat apa sekolah tinggi-tinggi lawong sama saja, cuma menghabisi biaya. Apalagi bagi pemudinya, tradisi orang tua mereka mengajarkan, cukup bagi anak wanita tahu ngaji saja sudah selamat dalam perkara kasur, dapur, dan sumur, sehingga pada akhirnya hanya lulus SD/MI atau mondok beberapa tahun saja sudah dikawinkan. Kedua, mereka cenderung egois dan fanatik pada kelompoknya atau tradisinya sendiri, sehingga bersikap esklusif (tertutup) bahkan keras kepada kelompok lain. Sedangkan dalam hal agama, mereka cenderung hanya ikut-ikutan kata orang tua mereka (taqlid buta), sehingga pemahaman keagamaan mereka keras tapi mudah goyah, karena tanpa didasari ilmu yang benar dan kuat.
Kedua, kalau pemuda-pemudi desa mengikuti perkembangan zaman, mereka terkesan norak dan seakan-akan lebih dari pada mereka yang hidup di kota-kota metropolitan. Hal ini seakan-akan menegaskan selorohan di pesantren yang berbunyi, kalau ayam dikurung lama kemudian ia keluar bebas, maka ia akan kaget dan mabuk (lupa daratan) menikmati dunia baru yang serba bebas. Orang Madura menyebutnya dengan istilah ngoangoh (keterlaluan).
Inilah fenomena problematis khususnya masyarakat desa pada masa kini; zaman tega, siap menggilas siapa saja yang tidak memiliki bekal yang cukup dan benteng diri yang kokoh. Apalagi khususnya bagi masyarakat pedesaaan di Madura setelah berkembangnya operasi Suramadu.
Penilaian asumtif di atas mungkin terkesan berlebihan atau bahkan mengada-ngada, karena tanpa melalui penelitian resmi. Tapi, cobalah kita lihat secara langsung, bagaimana pemuda-pemudi desa yang sudah berbau gaya hidup modern mereka lupa daratan, semisal berpakaian bukak-bukaan, senonoh, bertingkah bebas, bermaksiat terang-terangan, berprinsip gaul-gaulan, gaul bebas, dan sejenisnya, parahnya lagi dibarengi dengan sikap fanatik keras, orak-orakan, dan keterlaluan.
Dalam hal ini, penulis ajukan beberapa argumen sebagai solusi. Yaitu, pertama, semua pihak secara holistik dan komprehensif harus sama-sama memerhatikan dengan serius persoalan tersebut. Partisipasi aktif mulai dari orang tua, para tokoh seperti kiai dan guru serta institusi atau lembaga daerah semacam kepala desa, yayasan, lembaga pendidikan, dan LSM. Dan, dari berbagai dimensi (komprehensif), pendidikan, ekonomi, budaya, dan sebagainya.
Kedua, memerdayakan organisasi-organisasi dan kegiatan-kegiatan positif produktif, baik dalam lembaga pendidikan atau kemasyarakatan dengan sistem yang baik, seperti OSIS, REMAS, karangtaruna, yasinan, solawatan, atau arisan. Nah, ini menjadi wadah dan momen emas bagi semua pihak tersebut untuk sama-sama bergerak meluruskan pemahaman yang benar tentang pola pandang, sikap, dan prinsip-prinsip yang diusung oleh era modern dan globalisasi, sekaligus bagaimana mereka bisa berkreatifitas dan berprestasi.
Harapannya, agar orang-orang desa khususnya generasi mudanya bisa dan terbiasa hidup teratur; berwawasan dan berpola hidup modern dan global, namun tidak tercerabut dari nilai-nilai tradisi lokal yang penuh dengan kesunyian, kesantunan, keakraban, dan kedamaian yang hal ini jarang dimiliki oleh masyarakat perkotaan; mereka akan terangkat dari persoalan-persoalan yang memalukan di atas; ketertinggalan, keras, ngoangoh, dan hedonis materialistis.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar