Senin, Oktober 19, 2009

Sketsa Perjuangan Islam Masa Kini

Judul buku : Imperialisme Baru
Penulis : Nuim Hidayat
Pengantar : Abdurrahman Albaghdady
Penerbit : Gema Insani, Jakarta
Cetakan : Pertama, 2009
Tebal : 291 halaman
Dalam beberapa tahun terakhir ini, dunia Islam betul-betul mengalami guncangan yang luar biasa hebatnya, secara internal maupun eksternal. Secara internal, banyak isu-isu pemikiran sekaligus tindakan yang justru mengacaukan bangunan Islam itu sendiri, seperti gerakan-gerakan yang lahir dalam Islam yang membawa isu-isu memanas kontraversial layaknya yang disebut-sebut sebagai Islam liberal maupun yang disebut-sebut sebagai Islam tradisional (militan). Meski keduanya sama-sama merasa mengusung kebenaran, sehingga keduanya dicap sebagai gerakan yang saling berlawanan, namun keduanya telah menyebabkan tubuh Islam seakan penuh peperangan yang bahkan tidak jarang berakhir dengan bentrokan-bentrokan fisik dalam ruang Islam itu sendiri.
Secara eksternal, goncangan Islam bersumber dari luar tubuh Islam, yang hal ini kerap mengambil jalan isu-isu internal Islam itu sendiri. Dalam bahasa lain, pihak luar yang ingin menghancurkan Islam cenderung merusak Islam dari isu-isu dalam Islam itu sendiri, semisal klaim terorisme yang memang dikendarai oleh gerakan-gerakan radikal Islam atau Islam garis keras, sehingga Islam pada muaranya seakan-akan menjadi agama yang seram menakutkan bagi dunia; Islam identik dengan pedang, peperangan, dan kekerasan.
Stigma buruk tersebut semakin marak belakangan ini, lebih-lebih di Indonesia yang menjadi mayoritas orang-orang Muslim. Maraknya bom bunuh diri memerkuat stigma buruk tersebut. Mereka yang ingin merusak Islam secara eksternal itu banyak yang menyebutnya dengan gerakan-gerakan orientalisme dan imperialisme yang dimotori oleh bangsa Barat (Amerika dan Israel).
Berangkat dari pemikiran di atas, banyak macam istilah gerakan memusuhi Islam, baik secara internal maupun eksternal. Yaitu, orientalisme, imperialisme, liberalisme, sekulerisme dan isme-isme lainnya. Nah, dalam buku yang setebal 291 halaman ini, meski tidak terlalu tebal menurut ukuran kesempurnaan, Nuim hidayat, pengarangnya, tidak mengurangi pemahamanmya dalam menjelaskan isu-isu di atas, karena disusun dengan gaya bahasa yang sederhana, sekaligus diwarnai dengan pemaparan fakta-fakta terkini yang meyakinkan pembaca, lebih-lebih mengenai persoalan orientalisme dan imperialisme sebagai gerakan musuh Islam (orang-orang kafir) yang lebih dia nisbatkan kepada bangsa Amerika (AS) dan Israel (Yahudi) (hal: 178-185).
Dalam salah satu bagian, ada beberapa ide menarik yang dia jelaskan dan menjadi orientasi inti ijtihad buku tersebut, yaitu sebagai mana yang dia tulis,
”Meski kaum kafir-yang kini didominasi pemerintah AS-mencoba menggilas Islam baik secara pikiran maupun tindakan, kita mesti melawan dengan kemampuan kita semaksimal mungkin. Tentu medan peperangan mesti kita teliti dan kuasai. Bila medan yang ada sekitar kita adalah medan ekonomi politik, kita berjuang semaksimal mungkin menegakkan ekonomi politik Islam. Bila di hadapan kita medan jihad fisik, kita relakan fisik kita untuk berjihad di jalan Allah. Bila medan di hadapan kita adalah peperangan pemikiran, kita kerahkan semaksimal mungkin otak kita untuk berjihat memerjuangkan pemikiran Islam.” (hal: 14).
Dari catatan tersebut sangat jelas bahwa pemikiran dia sangat fleksibel dan dinamis, alias tidak rigit, tentang struktur cara penghacuran Islam sekaligus perjuangan Islam. Artinya, dia memerlihatkan kepada umat Islam bahwa musuh-musuh Islam tidak hanya memakai jalan peperangan fisik sebagai mana yang terjadi di zaman Rasulullah dan masa perang dunia I dan II, namun lebih bahaya lagi adalah penyerangan musuh Islam dalam bentuk pemikiran atau pandangan, berupa konspirasi-konspirasi (kasus RUU Sisdiknas/10 Juni) (hal: 85-91), pemutarbalikkan fakta Islam (hal: 56-66), pelencengan Aqidah Islam (liberalisme dan sekulerisme) (hal: 92-107), dan sistem penafsiran (hermeneutika) (hal: 38-40). Maka dari itu, perjuangan Islam harus lebih fleksbel sesuai dengan cara dan bentuk penyerangan tersebut. Perjuangan Islam harus tidak melulu berbentuk tindakan fisik (jihad) semisal perang dengan pedang, namun juga berupa sistem logika atau pemikiran (ijtihad).
Bentuk penyerangan berupa pemikiran tersebut lebih bahaya dari pada sekedar perang fisik, sebab lebih halus yang acapkali tidak terasa merasuki tubuh Islam, di berbagai bidangnya mulai dari ekonomi politik, sistem pendidikan, perundang-undangan, sampai pola prinsip-prinsip kehidupan. Terbukti, banyak umat Muslim mulai goyah atau bahkan asing dengan akidahnya sendiri, seperti lahirnya pola pikir liberalis, sekuler, dan hedonis.
Dari struktur pemikiran dalam buku ini juga, menjadi lebih menarik lagi, ketika pada satu sisi buku ini menjadi pencerahan bagi umat Islam sebagai umat yang harus fleksibel, tidak boleh rigit, namun pada satu sisi menjadi singgungan serius bagi eksistensi gerakan Islam liberal (JIL) yang telah mengakar kuat khususnya di negri kita ini, Indonesia. Sebagaimana yang menjadi dominasi pembahasan topik-topiknya, seperti yang diperkuat pada beberapa judul bab berikut ini: ”Fikih lintas agama, persembahan untuk siapa?”, ”Islam Liberal mau ke mana?, dan ”Raksasa di balik program liberalisasi Islam.”
Di samping itu, ada sisi yang saya pribadi sebagai peresensi buku ini, tergugah untuk menjelaskan keunikan sosok penulis buku ini, yaitu ketegasan dan keberanian gagasan utuhnya, bahwa yang menjadi raja kafir sebagai musuh Islam adalah Amerika dan Yahudi, merekalah yang menjadi setir dari segala bentuk penghancuran Islam, lebih-lebih belakangan ini, termasuk isu-isu panas terorisme Islam di Indonesia.
Namun, betapa pun demikian, untuk mengakhiri catatan resensi ini, ada pertanyaan pribadi penulis resensi ini kepada penulis buku ini, kalau memang yang melatarbelakangi penghancuran dalam segala bentuknya yang diluncurkan kepada Islam di dunia ini, khususnya di Indonesia adalah Amerika dan antek-anteknya, kenapa gerakan-yang disebut-terorisme dalam aksi bom bunuh diri, yang gembong-gembongnya telah berguguran sekaliber Dr. Azhari, Noordin M. Top, Syaifuddin Zuhri, Muhammad Syahrir, dan lainnya justru memiliki motif ketidakadilan Amerika dan sekutu-kutunya terhadap dunia Islam, seperti di Paletina, Afganistan, dan negara-negara Islam Lainnya?
Kemudian, jika memang stigma terorisme itu bagian dari buah konspirasi atau doktrin pemikiran Amerika terhadap dunia, sahkah jihad dengan bom bunuh diri dilakukan demi menegakkan Islam? Bukankah dengan demikian tidak tambah menampakkan ketertinggalan kecerdasan pemikiran dunia Islam atau kewalahan pemikiran dunia Islam dalam menghadapi kecerdasan dunia Barat?
Penulis merasa, pertanyaan-pertanyaan di atas tidak cukup terjelaskan dalam buku ini. Oleh karena itu, selebihnya, buku ini perlu ditelaah dan dicermati lebih lanjut oleh semua unsur Islam, lebih-lebih buku ini sangat sesuai dengan isu-isu gawat dunia Islam saat ini. Dengan harapan, terjadi dialog kritis konstruktif bagi ketegakan dan kemajuan eksistensi Islam di masa-masa akan datang.

1 komentar:

  1. salahsatu cara agar tampilan blog terlihat proffesional adalah jangan pernah di pakein ama yang namanya jam....

    BalasHapus