Sabtu, Oktober 03, 2009

Tradisi Salawat Dangdut, Toleransi atau Provokasi?

Di zaman ini pantas dibilang ada-ada saja dan serba bisa. Betapa tidak, suatu malam saya menonton lomba nasyid Islami. Dalam salah satu penampilannya ada salawatan yang bergaya dangdutan, dibumbui dengan goyangan hampir mirip goyangannya Inul. Hanya saja dengan lirik salawat dan busana Muslim. Ini menjadi hiburan atau tradisi yang sudah lumrah dan marak di tengah-tengah masyarakat saat ini.

Salawatan dan dangdutan dalam Islam berbanding terbalik. Artinya, Tidak mungkin salawat sebagai bagian dari ajaran Islam yang mengandung nilai pahala dicampur adukkan dengan dangdutan yang cenderung bernilai dosa. Salawat adalah puji-pujian dalam menghormati dan mencintai Nabi sebagai Rasulullah. Sedangkan dangdutan merupakan tradisi yang cenderung menjadi jalan maksiat; bukak-bukaan, amoral, yang dilarang dalam Islam.

Tapi, meskipun sudah jelas demikian, masih ada saja yang berpikiran lain; ada pro dan kontranya. Pihak yang berlatar belakang pikiran yang agak bebas akan mengatakan itu adalah kebebasan berekspresi atau kreasi dalam seni. Adapun bagi pihak yang berlatar belakang sebaliknya, itu disebut menghina salawat dan ujung-ujungnya sama halnya menghina Nabi dan Islam.

Zaman sekarang akal memang cenderung menjadi standart segalanya, apa saja serba bisa dipandang secara bebas berdasar masing-masing kepala. Itulah manifestasi dari prinsip toleransi dan menghargai kebebasan berpikir dan berekspresi. Namun, sebagai orang yang bijak dan lebih dewasa, kita tentunya tidak seenaknya memahami dan memutuskan sesuatu. Sudah barang pasti dalam Islam pun diajari toleransi dan kebebasan dalam berekspresi, hanya saja ada aturan mainnya yang sehat, di mana batas dan standartnya.

Bagi saya sebagai orang Islam, kebebasan bukan berarti bebas segala-galanya tanpa batas. Yang jelas, boleh bebas asal tidak menyinggung, menyakiti, atau merusak. Tidak bisa dikata kebebasan berekspresi yang harus ditoleransi dan dihormati apabila mengganggu aktifitas atau ketenangan pandangan, keyakinan, kelompok atau pribadi lain.

Misalnya, saya tidak boleh mengekspresikan pikiran saya dalam bentuk karya tulis kalau tulisan saya tersebut sekiranya menimbulkan fitnah atau menyakiti orang lain. Atau, saya tidak bisa lantaran berprinsip kebebasan berekpresi atau berkreasi lantas saya nari-nari telanjang bulat di depan publik, kecuali saya ingin disebut sebagai orang yang tak waras.

Pada dasarnya, dalam Islam saya yakini, prinsip kebebasan berpikir adalah selama berpikir atau berekspresi itu pantas bagi kemanusiaan sejati yang memiliki nilai, harga diri atau kehormatan yang lebih tinggi dari pada binatang, serta tidak menimbulkan singgungan, gangguan, provokasi atau kerusakan.

Begitu juga halnya dalam salawatan. Salawatan adalah tradisi penghormatan kepada Nabi bagi orang Muslim, sehingga masuk akal kalau ada orang Muslim tidak terima jika tradisi tersebut dibuat mainan atau diformat dalam bentuk yang justru bertolak belakang dengan tradisi atau ajaran Islam sendiri, seperti salawatan yang didangdutkan itu, karena umat Muslim betul-betul merasa tersinggung dan sakit hati.

Dengan demikian, sejatinya, bukan berarti umat Muslim tidak memiliki semangat toleransi, justru orang yang merasa bertapak pada haluan semangat hormat kebebasan berekspresi tapi menyinggung itu yang tidak memiliki semangat toleransi, namun memiliki semangat menyakiti dan provokasi. Anehnya lagi, semangat menyakiti dan provokasi tersebut malah kerap marak dilakukan oleh orang Islam sendiri.

Fenomena inilah yang perlu diluruskan kembali, manakah yang toleransi dan provokasi; manakah yang semangat menghormati kebebasan berekspresi dan menyakiti. Sebab, belakangan ini hal tersebut menjadi semacam ‘senjata syetan” yang paling ampuh untuk menimbulkan perseteruan kemanusiaan terlebih dalam tubuh Islam; hanya gara-gara berbeda prinsip dan memahami kebebasan umat Muslim menjadi saling sentimen, saling menyalahkan (truth claim), saling merasa benar, dan akhirnya saling tega menafikan atau mengganyang.

Betul pemahaman ulil Absor Abdallah (Jawa Pos, 7/9) bahwa toleransi berarti bila ditemukan ketidakcocokan terhadap sesuatu atau atas diri orang lain, orang harus bisa menahan diri. Kalau ada orang yang tidak cocok dengan kita, kita tidak akan memaksakan agar orang itu menjadi cocok. Sebab, manusia memang tidak bisa menafikan perbedaan. Apalagi sudah jelas dalam Islam bahwa perbedaan adalah sebuah keniscayaan,” perbedaaan yang terjadi pada umatku adalah rahmat (hadist Nabi). Orang juga mengatakan likulli ro’sin ro’yun (lain kepala lain isinya).

Di samping itu, toleransi juga bukan berarti membiarkan gangguan, singgungan, pengrusakan, atau provokasi, apalagi disengaja terang-terangan menghina, akan tetapi membasmi tradisi atau semangat provokasi. Membasmi semangat provokasi bukan berarti membunuh para provokator secara keras layaknya bom bunuh diri sehinga seakan Islam terkesan keras sebagaimana yang selama ini kerap dilabelkan kepadanya (baca: terorisme), akan tetapi mulai dari diri sendiri untuk tidak menyinggung, menyakiti, mengganggu dan memprovokasi pandangan, keyakinan, dan tradisi pihak lain, serta menjelaskan dan meluruskan bagi diri lain dengan cara yang lebih dewasa dan bijaksana.

Itulah sejatinya toleransi, kesabaran, dan perjuangan, yaitu menghargai perbedaan; kita menghargai dan menghormati tradisi lain sehingga kita dihargai. Bukan berarti kita tidak memprovokasi sekaligus tidak terprovokasi sedangkan orang lain seenaknya mengganggu, menyakiti, dan memprovokasi adapun kita harus menerimanya dengan alasan harus sabar karena sabar dikasih Tuhan. Atau, bahkan sebaliknya dengan menempuh jalan kekerasan sebagai perjuangan (baca: jihad).

Saya kira, agama mana pun akan mengakui hal itu. Sebab, semua agama dalam ranah kemanusiaannya (humanistik/hubungan horizontal) sama-sama mengusung ajaran berbuat baik, tidak ada agama yang mengajari berbuat kejahatan, meski secara ketuhanan (akidah/hubungan vertikal) berbeda sesuai dengan keyakinan masing-masing. Dan, itu bukan sebuah persoalan karena itu perbedaan yang menjadi keutuhan dan dinamika kehidupan, asal dalam lingkaran toleransi yang lurus tadi. (pernah dimuat di Jawa Pos Group Radar Madura, Senen 5 Oktober 2009)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar