Senin, November 30, 2009

Pucuk Mata Perenungan


Aku membaca puisi-puisinya D. Zawawi Imron
Hatiku menjadi mengembara ke mana-mana
Sampai tiba di sebuah pojok perenungan
Yang menyesakkan dadaku sendiria

Aku  menangis sesenggukan
Makin lama makin menjadi
Bukan karena aku miskin
Bukan karena aku putus cinta

Terlihat pucuk mata yang amat luas membentang
Tapi makin lama makin menyempit
Menjelma kegelapan dan kebuntuan
Sedang aku sendiri menoleh samping kana kiri
Mencari seberkas cahaya

Akhirnya aku menabrak pojok perenungan lain
Lalu aku mendengar bisikan
Kenapa aku tidak mempersiapkan bekal lapar
Paling tidak bermain dengan puisi
Seperti sang Zawawi yang tersenyum
Di kibaran bendera Siwalan
Damai memandang semesta

Prenduan, 29 November 2009 M

Sabtu, November 28, 2009

Kita Hanya Bisa Geger Tentang Tuhan



(Sebuah Tanggapan Terhadap Catatan Gugatan dan Kegelisahan Kritis Tentang Tuhan)

Kita Hanyalah Manusia Biasa
(Sebuah tanggapam untuk seorang sahabat yang mengaku dia adalah tuhan bagi dirinya sendiri)
Lewat kegelisahan, saya sampai tidak bisa tidur malam dan lebih memilih menulis sebuah catatan ringan ini sebagai tanggapan atas pernyataan sahabat saya yang mengatakan, “Saya adalah tuhan bagi diri saya sendiri”. Sebuah pernyataan yang sangat mudah diungkapkan namun sangat sulit diterima hati nurani saya.

Pernyataan ini sangat wajar baginya, karena dia memang mahasiswa semester akhir jurusan Aqidah Filsafat. Namun, bagi saya, pernyataan ini sangat hebat dan sangat berani. Mengingat,  saya dan dia hanyalah manusia yang mempunyai Tuhan.

Pernyataan ini bukan tanpa alasan, dia memakai dalil hadist Qudsi,” Ana inda dhonni abdi bii.” Yang lebih menggetarkan saya lagi adalah pernyataannya yang terakhir, saya kuliah di Aqidah Filsafat sudah empat tahun, kalau pemikiran saya tetap seperti dulu mengikuti tradisi, berarti saya termasuk orang yang gagal”.

Hingga kini terbesit dalam hati kecil saya, mungkinkah pernyataan, ”Saya adalah tuhan bagi diri saya sendiri” dimaksudkan dengan berubah?  Kalau ini yang dimaksud, maka benarlah kalau dia memang berubah menjadi manusia yang makin liar karena terlalu asik berkelana di dunia Filsafat.

Bagaimana pun juga, kita adalah manusia yang mempunyai Tuhan. Lantas kalau salah satu dari kita sebagi manusia ada yang mengaku Tuhan bagi dirinya sendiri meski terbatas pada ruang dan waktu, maka dia termasuk hamba yang bagaimana dan kelompok hamba yang bagaimana. Saya bisa memakluminya apabila dia berdalih bahwa semua memiliki cara sendiri dalam mengenal dan memperkenalkan Tuhan, tapi apakah ini layak untuk kita ucapkan.

Mungkin sebagai penutup dari tulisan ringan ini, marilah kita renungi sejenak pesan yang terkandung dalam puisi yang berjudul:

Aku
Pantaskah  aku mengaku
Kuasa atas segala sesuatu
Sedangkan di hadapanmu
Aku hanya debu

Dari pusi ini dapat kita simpulkan, bahwa kita hanya manusia, jadi kurang tepat kiranya jika salah seorang dari kita sebagai manusia menyatakan, ”Saya adalah Tuhan bagi diri saya sendiri”. Semoga dengan tulisan singkat ini, kita bisa mengambil khikmah. Dan semoga ijtihad saya memilih tidak tidur malam menanggapi pernyataan sahabat saya, adalah pilihan yang tepat.

Kemudian catatan lain yang lebih singkat dan tak kalah kritisnya menanggapi prinsip saya dalam blog saya tersebut berbunyi,

”Wow anda tuhan bagi diri anda sendiri, aliran filsafat macam apa yang anda ikuti, ternyata anda hanya namanya saja yang Islami, he...”.

Dua pernyataan berupa catatan singkat di atas adalah tanggapan atau gugatan kritis terhadap pernyataan saya yang tertulis dalam blog saya sebagai prinsip hidup saya yaitu, ”Ana inda dhonni Abdi”, ”you are God for your self”, ”kamu adalah tuhan bagi dirimu sendiri”, you are what you thing”, ”kamu adalah apa yang kamu pikirkan”.

Saya betul-betul amat sangat merasa tertarik membaca tanggapan-tanggapan itu, dan mungkin ada yang akan menyusulnya. Maka dari pada itu, sebelum melaju ke pada persoalan yang lebih dalam, saya ucapkan terima kasih atas gugatan dan tanggapan kritisnya. Justru dengan itu saya suka anda.

Dan mohon maaf sebelumnya, anggaplah forum ini berada dalam ruang perkuliahan yang acara kita sekarang adalah presentasi sebuah pemikiran atau pendangan yang kebetulan bagian saya. Saya akan mempresentasikan pandangan saya di depan anda dan kawan-kawan anda yang mungkin seotak, tanpa berniat untuk menggurui.

Siapakah atau Apakah Tuhan
Saya akan memulainya dengan istilah Tuhan. Jika saya ditanya tentang tuhan, siapakah tuhan menurut saya? Maka jawaban saya, banyak macam tuhan dan berbeda-beda sesuai dengan dari sudut mana saya memandangnya. Pertama, jika dari sudut struktur pemikiran, maka ada tuhannya Karl Marx yang agamanya marxisme dan tuhannya materialisme; ada juga tuhan politik; ada juga tuhan uang; ada juga tuhan jabatan; bahkan ada juga Tuhannya Niesche, ”Tuhan telah Mati”.

Tuhan dalam struktur pemikiran manusia ini maknanya lebih filosofis. Contohnya, ”tuhan uang, berarti orang yang selalu menggantungkan hidupnya kepada uang. Kalau dalam bahasa anda sebagai orang muslim, mungkin, orang yang hanya gara-gara uang kewajiban Islamnya dikorbankan, seperti lupa shalat gara-gara sibuk kerja.

Kedua, dari sudut agama atau wahyu. Juga macam-macam, Yahudi mengatakannya Yahwe; Kristen menyebutnya Yesus; Hindu menyebutnya sang Hyang Widi; Budha menyebutnya Siwa; dan, Islam menyebutnya Allah SWT. Bahkan, belakangan mulai bermunculan wahyu-wahyu atau agama-agama baru, meski berupa sempalan, yang tuhannya bisa jadi baru pula.

Ketiga, dari sudut bahasa, lebih beraneka ragam lagi, sesuai dengan jumlah bahasa yang ada. Inggris menyebutnya dengan God, Arab menyebutnya dengan Allah atau Robbun, Jerman menyebutnya dengan Gott, Prancis menyebutnya dengan Dieu, bahkan orang Madura kadang menyebunya dengan ”Gusteh Pangeran”.

Dan yang terakhir, dari sudut esensi, atau kesejatian, atau hakekat dzat Tuhan. Tuhan sejati yang tak terikat oleh ruang dan waktu, personal, kelompok, doktrin, agama, pemikiran dan sebagainya, yaitu Tuhan yang ”unsayable”. Tuhan yang betul-betul Maha Sempurna. Maha Mutlak. Yang betul-betul Maha Tak Terhingga dan Tak Terjamah oleh makhluq-makhluqnya. Siapakah dia? Sekali lagi dia tidak sesederhana apa yang dibahasakan manusia.

Oleh karena itu, Tuhan dari sudut terakhir ini tergantung dari pada nurani masing-masing orang. Lebih berlaku pada ranah pribadi. Sehingga, antara manusia yang satu dan lainnya tidak sama. Ketika saya bertanya, Tuhan anda siapa dan seperti apa, lalu apakah sama dengan tuhannya saya? Jika anda menjawab hanya dengan sekedar kata nama ”Allah” dan ”sama” karena anda umat Islam, maka bagi saya pemahaman dan keyakinan anda tentang Tuhan sangat rendah, bahkan bisa jadi anda terjerumus tidak ada bedanya dengan konsep tuhannya Karl Marx, materialistik. Yang disebut ada hanya yang tampak ini, materi ini.

Kalau demikian halnya, maka saya tidak terima, Tuhan saya tidak seperti Tuhan anda, karena Tuhan saya tidak sesederhana ”tuhan Allah” anda  itu.

Bagi saya, tuhan Allah yang memang tercantum dalam Al-Quran yang dibawa Rasul saw itu adalah ”nama Tuhan” bukan ”Diri/Dzat Tuhan”. Kita harus membedakan antara ”Nama Tuhan” dan ”Dzat Tuhan” sendiri. Sehingga, sah saja karena saya orang Muslim secara agama lantas anda mengatakan bahwa ”Nama Tuhan” kita memang sama, tapi sejatinya Tuhan kita tidak sama. Secara nurani dan hakekatnya Tuhan kita beda. Sehingga, saya tidak bisa menyebutkan Tuhan saya itu secara bahasa yang sangat sederhana sebagaimana anda. Tuhan menurut nurani saya terlalu suci. Tak terjamah oleh sekedar bahasa saya.

Nama Tuhan
Oke, sekarang saya bahas tentang ”Nama Tuhan” dan ”Dzat Tuhan”. Di sini saya akan menjelaskannya dengan kalimat introgatif untuk anda. Saya, mohon maaf, akan menganalogikakan Tuhan dengan entitas Rokok: pertanyaannya, apakah nama rokok ”Dji Sam Su” yang tercantum di bungkusnya yang anda pakai ngerokok atau ”dzat rokok Dji Sam Su” batangan yang anda pakai? Tentunya siapapun, selama pikirannya normal, pasti dia ngerokok batangan rokok yang ada di dalam bungkus itu, bukan nama yang ada di luar bungkusnya. Bahkan nama dan bungkusnya itu hanya akan dibuang di tempat sampah.

Analogika lain lagi, biar anda lebih paham. Yaitu, siapakah yang disebut anda sebenarnya, ”nama anda”, taruhlah misalnya ”Gufron” , atau dzat diri anda sendiri yang terdiri dari daging tubuh, panca indra, otak pemikiran, dan hati nurani? Ya, tentunya jika anda masih waras, maka anda akan menjawab bahwa sejatinya yang diri anda adalah ”dzat/tubuh anda itu’ yang terdiri dari daging tubuh, panca indra, otak pemikiran, dan hati nurani.

Sebab, anda disebut ada karena entitas dzat anda itu, bukan karena nama anda. Dzat anda lebih dulu adanya dari pada nama anda. Sedangkan nama anda tidak akan ada kalau tidak ada dzat anda. Anda akan tetap ada dengan dzat anda itu meski tanpa nama anda. Dzat anda bisa dinamakan dengan nama apa saja. Dan, Nama anda banyak juga dinamakan kepada dzat selain anda.

Secara sosial, nama anda memang dibutuhkan untuk identitas anda dalam berinteraksi, itupun banyak tubuh orang yang sama namanya dengan nama anda, bukan hanya diri anda seorang. Selain itu, nama anda juga bisa dirubah-rubah, tapi dzat anda tidak bisa dirubah dengan atau kepada dzat yang dinamakan sama dengan nama anda maupun yang namanya beda. Jadi, nama hanya sekedar instrumen atau sarana simbolis pemahaman struktur sosial saja. Tidak lebih.

Tapi, secara individual, personal, atau nurani anda sendiri, anda tidak butuh nama anda, sebab, anda akan tetap merasa ada dengan dzat anda bukan dengan nama anda. Anda tidak butuh manggil diri anda dengan nama anda ketika anda merasa butuh dengan diri anda sendiri. Dan anda akan tetap merasa diri anda ada meski anda tidak bernama.

Jadi, demikian juga dengan Tuhan Allah, atau Yahweh, atau Yesus, God, Gusti Pangeran, dan nama atau sebutan Tuhan dari sudut lainnya, kecuali sudut sejati esensialnya (dzat-Nya). Semuanya sekedar instrumen atau sarana struktur sosial saja. Karena manusia memang di samping hidup secara indidual juga hidup secara sosial. Dan, hidup lebih sejati dengan diri sendiri,  nurani anda, dalam dzat anda. Dan, ini persoalan personal, nurani anda, yang tentunya nurani yang satu dengan yang lainnya berbeda-beda.

Secara sosial, karena saya butuh berinteraksi dengan anda dan lainnya, maka saya memiliki banyak kesamaan dengan anda sesuai dengan macam unsur, hukum, atau sosial  yang ada, termasuk ”nama Tuhan saya”. Tapi, sekali lagi, itu adalah ”nama Tuhan” sebagai instrumen pemahaman dalam interaksi saya, anda, dan yang lainnya semata.

Sehingga bila anda menanyakan Tuhan dalam bahasa individual saya, maka saya tidak akan menjawab, karena itu pribadi saya. Dan, secara pribadi saya tidak sanggup mengungkap Tuhan saya hanya dengan sekedar bahasa saya sebagai manusia ciptaan yang serba terbatas. Tuhan saya tidak sesederhana ruang dan waktu dunia saya. Dia itu tak terjamah oleh dunia saya. Tuhan saya ”unsayable”.

Tuhan Allah Dalam Al-Quran
Lalu, kalau demikian, apakah Rasul atau Al-Quran sebagai firman Tuhan sendiri dalam Islam adalah salah, atau plin plan, atau palsu, atau justru menunjukkan keterbatasan-Nya sendiri karena menamai diri-Nya sendiri dengan Allah sebagai istilah bahasa dunia manusia?

Jawabannya tidak salah, justru itulah salah satu bukti Maha Kebijaksanaan dan Maha Kesempurnaan Tuhan (secara dzat, unsayable). Dia ”Maha Sadar” bahwa hamba-Nya lemah yang hidup secara pribadi dan sosial. Maka, untuk memahamkan ”adanya diri-Nya”, Dia harus masuk ke dalam dunia hamba-Nya yang otomatis memakai bahasa hamba-Nya itu, termasuk menamai dirinya dengan bahasa hamba-Nya.

Sebab, tanpa dengan bahasa itu manusia sebagai ciptaan-Nya yang lemah dan serba terbatas dengan ruang dan waktu ini tak akan pernah memahami dan mengakui keberadaan-Nya. Jadi, nama atau bahasa itu hanya sebagai perantara atau instrumen simbolis agar Dia bisa beriteraksi dengan hamba-hamba-Nya dan hamba-hamba-Nya mengenal dan meyakini-Nya sebagai Tuhan pencipta.

Saya kira sudah cukup jelas dari analogika rokok dan nama anda di atas. Saya kira anda waras, ketika ditanya apakah ”Ghufron” yang diri anda atau entitas dzat tubuh anda yang diri anda? Tentunya tubuh anda itu yang anda akui.

Tapi, jangan-jangan anda mengakui diri anda adalah nama anda ”Ghufron” dari pada dzat tubuh anda, sehingga setiap yang namanya Ghufron adalah diri anda. Kalau masih begitu, lebih mudahnya, coba sekali-kali anda tulis nama anda ”GHUFRON” besar-besar di papan atau kertas. Lalu pikirkan dan renungkan apakah anda adalah nama di papan itu atau anda adalah yang sedang membaca nama di papan itu?

Apalagi Tuhan yang Maha Waras dan Sempurna. Kelak jika anda bertemu dengannya, maka dia tidak akan menyuruh anda menyembah kepada namanya yang tercantum besar-besar di dalam Al-Quran yang dihadirkan di depan anda, tapi menyembah kepada wujud-Nya, yang sekarang entah seperti apa. Wujud itu terlalu Maha Sempurna. Tak terbatas oleh ruang dan waktu ini. Apalagi yang sekedar  tercantum berupa tulisan atau ungkapan material itu. Sungguh, saya tidak bisa membayangkannya apalagi membahasakannya.

Saya adalah Tuhan bagi diri saya Sendiri
Inilah inti persoalannya, kenapa saya bilang demikian. Yang jelas, itu adalah ranah pribadi saya. Itu prinsip saya sendiri yang tidak bisa diotak atik. Sehingga, sebetulnya itu tidak butuh dicampuri atau digugat oleh anda. Apalagi sudah tertulis jelas-jelas sebagai ”prinsip saya”. Dan, saya kira orang akan paham itu.

Kecuali saya mendakwakannya dengan sengaja ke depan publik, atau mendotrin masyarakat dengan pernyataan yang menurut anda bahaya itu, anda boleh menggugat saya. Itupun harus dengan argumen yang logis dan etis.

Tapi, saya tetap tidak menganggapnya sebagai gugatan, melainkan sebagai ”fadzakkir”, anda mengingati saya. Dan, saya memaklumi anda merasa tersinggung dengan posisi yang mungkin merasa Islam sejati atau merasa lebih Islami dari pada saya, sehingga anda melihatnya telah menyinggung agama anda itu, saya maklum itu.

Sebelumnya, saya katakan sekali lagi, secara sosial saya juga Islam seperti anda, sehingga seandainya ada orang yang menyinggung Islam, saya akan lebih tersinggung juga.

Saya membangun prinsip demikian bukan karena saya ingin menyinggung atau menghina Islam. Justru saya nulis demikian karena cinta Islam itu sendiri. Dengan makna filosofis sebagai berikut:

Dalam pernyataan itu, ada makna tersendiri bagi saya. Yaitu, semangat idealis masa depan. Kalau dalam bahasa yang lebih religius bisa disebut doa. Sehingga, dengan sering melihat pernyataan itu, saya tidak malas, saya bangkit. Karena kalau saya malas, maka masa depan saya akan mati. Sebab, masa depan saya tergantung dari semangat dan usaha saya itu. Artinya, sayalah yang menentukan masa depan saya sendiri dari semangat atau usaha saya itu.

Saya yang merubah masa depan saya sendiri, sukses atau tidaknya. Bukankah ini sudah dijelaskan di kitab Islam sendiri, ”Innallahu la yughiru bi qommin hatta yughoiyyru ma bi amfusihim.” Bukankah dengan ayat itu Tuhan yang Maha Tak Terbatas mengajari kita untuk bertindak dengan unsur-unsur ketuhanan-Nya, yaitu merubah, mencipta, dan menentukan?

Sebetulnya, itu sangat jelas sekali menunjukkan kepada manusia bahwa ada unsur-unsur ketuhanan dalam diri mereka. Tidak cukup itu, Tuhan juga menjelaskan dalam hadist Rasulnya, ”Aku ada pada pandangan hamba-Ku kepada-Ku”. Kalau kita mau menelaah serius firman ini, maka sangat amat jelas Tuhan menegaskan bahwa nasib seorang hamba-Nya tergantung bagaimana dirinya memandang Tuhannya untuk kehidupannya.

Kalau dia memandang Tuhan kaya maka dia akan kaya; kalau dia memandang Tuhan Miskin maka dia miskin; jika dia memandang Tuhannya jahat maka dia akan apes; Bila dia memandang Tuhannya lemah maka dia akan lemah.

Lebih gamblang lagi, kalau manusia menganggap dirinya sukses maka dia akan sukses, tapi kalau dia memandang dirinya gagal maka akan gagal. Sama halnya, anda menghina diri anda sendiri berarti anda halnya menghina pencipta diri anda, Tuhan anda.

Selain itu, mengenai unsur-unsur ketuhanan ini juga diperkuat dalam banyak ayat lain, diantaranya, ”Kemudian Dia menyempurnakan dan meniupkan ke dalam (tubuh) nya roh-Nya dan Dia menjadikan bagi kamu pendenganran, penglihatan, dan hati; (tetapi) kamu sedikit sekali bersyukur”. (QS, As-Sajdah: 9)

Pasalnya, manusia adalah ciptaan Tuhan yang memiliki beberapa unsur dari ketuhanan. Yaitu, roh yang termanifestasi dalam kehidupan ini berupa berusaha, semangat merubah, memilih, menetapkan, dan mau dibawa ke mana hidupnya. Itulah potensi-potensi yang diberi Tuhan sebagai bekal dalam hidup ini, dalam mengemban misi dan visi penciptaannya sebagai  hamba-Nya dan sebagai kholifah-Nya untuk memakmurkan semesta ini.

Dari semua itu, akhirnya saya memhasa lainkan: manusia adalah tuhan-tuhan kecil bagi dirinya sendiri yang terbatas pada ruang dan waktu; dia memiliki unsur ketuhanan untuk mengubah atau menentukan nasibnya sendiri, tapi tetap di bawah kekuasaan Tuhan yang Maha Tak Terbatas itu. Yang bagi saya Dia unsayable.

Cukuplah di sini argumen saya. sekali lagi, perlu anda pahami ini argumen saya yang termanifestasi dalam prinsip saya ”Saya adalah Tuhan bagi diri saya sendiri” di atas. Untuk saya sendiri bukan untuk anda dan lainnya. Begitu juga anda mesti punya argumen lain tentang Tuhan itu, meski secara sosial agama ”nama Tuhan” kita sama. Anda jangan menjadi diri saya, dan saya tidak akan pernah menjadi diri anda secara esensial.

Salahnya saya, saya menulis prinsip pribadi ini di media massa ini. Yang sebetulnya masalah pribadi, apalagi, yang terlalu sensitif kayak itu, tidak patut ditulis sembarangan melainkan cukup dalam ranah pribadi juga (nurani), tak perlu diungkap apalagi didotrinkan.

Pikiran saya saat menulis itu, saya menyangka bahwa orang yang akan mengunjungi media ini (situs ini) cuma orang yang akademis atau paling tidak berpendidikan, sehingga saya pikir akan bisa membedakan mana yang ranah sosial umum yang perlu dikaji dan mana yang ranah pribadi yang tak perlu dicampuri. Sekaligus, tidak mudah terkecoh dengan hanya catatan-catatan atau ungkapan begitu saja.

Tapi, ternyata ada manusia awam juga yang bisa membuka media ini. Dan menariknya lagi sudah bisa cukup kritis, sehingga sampai-sampai persoalan pribadi dikritisi karena saking fanatisnya terhadap suatu pandangan atau keyakinan. Tidak cukup itu, timbullah ego ketersinggungan atau pembelaan. Inilah mungkin salah satu bukti derasnya perkembangan kecanggihan peradaban manusia. Dan, sungguh, saya salut kepada anda-anda yang kritis, dengan adanya orang kayak anda peradaban ini insaallah akan makin bagus dan indah.

Oy, khusus bagi yang gelisah tentang prinsip saya di atas, kalau boleh saya menyumbang pemikiran, jadilah Muslim sejati yang menyandarkan segalanya hanya kepada kitab suci Al-Quran dan Al-Hadist, bukan kepada syair-syair simbolis yang tak jelas di atas. Itu pun tak jelas siapa sastrawannya. Jangan-jangan anda yang sok sastrawan. Ini lebih jelas, afdhol, logis, dan Islami.

Bukankah Al-Quran dan Al-Hadist adalah kitab suci anda sebagai Muslim? Saya meski diklaim oleh anda liar atau bahkan tersesat dalam belantara filsafat, atau juga diklaim hanya namanya yang Islami, saya masih yakin itu adalah kitab saya. Kitab suci sebagai sarana saya yang serba terbatas dalam berdialog dengan Tuhan yang, sungguh, tak terjangkau ada-Nya dengan sekedar bahasa atau dunia saya. Karena hanya dengan kitab itu saya memahami adanya Tuhan yang Maha Tak Terbatas dalam dunia saya yang penuh keterbatasan ini.

Kemudian Usulan saya, mari kita ga’ usah ngurus lagi tentang Tuhan orang. Itu sudah ada di dalam nurani masing-masing. Percuma saja ngurus Dia seperti ini, tah dia tenang-tenang saja di singgasana-Nya sana, entah di mana.

Yang jelas, dia akan lebih bahagia kalau kita ngurus peradaban kita saja yang serba lemah dan terbatas ini sehingga memang perlu diurus lebih; bagaimana kita berkembang dan hidup bahagia di dunia dan kelak di akherat. Mewujudkan segala misi dan visi yang telah diembankan kepada kita oleh-Nya; mari kita ngurus orang-orang miskin saja, orang orang yang kelaparan, yatim piatu, orang yang putus sekolah, orang yang penyakitan tak punya biaya berobat, anak-anak yang terputus sekolah gara-gara tak punya biaya, orang yang diamnya di kolom-kolom jembatan. Saya kira, itulah yang membuat Tuhan lebih bahagia dan mencintai kita.

Serta, Dia akan betul-betul murka ketika kita hanya bisa melulu mengurus-Nya, bahkan geger hanya karena persoalan tentangnya; rebutan yang paling benar, merasa paling membela Tuhan, merasa paling dekat dengan Tuhan, sedangkan di sekitar kita saudara kita menderita kekurangan. Astagfirullah.

Akhirnya, Mohon maaf dan terima kasih. Salam berkarya. Serta, Cinta Tuhan dan Kemanusiaan selalu. Selebihnya, Tuhan yang unsayable lebih tahu segalanya.

28 November 2009 M

Kamis, November 26, 2009

Santet, Orang Kaya Mati


Sakitnya cukup lumayan lama. Tapi dia sakit bukan karena tua. Juga bukan nyakit (pura-pura sakit). Seperti orang yang pura-pura sakit karena ingin lari dari tanggung jawab alias malas tak mau bekerja. Sakitnya betul-betul serius.

Selain serius juga aneh. Anehnya, konon, kalau dibawa ke rumah sakit sembuh tapi setelah pulang ke rumahnya kambuh. Begitu tiap saat. Bolak-balik ke rumah sakit. Diam di rumah sakit tidak mungkin karena sudah sembuh, tapi setelah pulang kambuh lagi.

Kambuhnya juga aneh. Waktunya yang aneh gejalanya juga aneh. Biasanya, kambuhnya pas orang lain sedang enak-enaknya tidur. Jam dua dini hari secara tiba-tiba tak disangka-sangka, serentak kejang-kejang.

Karena serba aneh penyebabnya juga tidak pasti. Pihak medis memutuskan penyakitnya kanker jantung. Tapi menurut para normal, tradisional, atau sebutlah secara mistis, katanya penyakit kiriman dari orang. Mereka menyebutnya dengan santet atau ilmu hitam. Lebih unik lagi, dari pihak spiritual menyatakan bahwa penyakitnya adalah adzab atau balasan dari perilakunya yang mungkin buruk atau penuh dosa sehingga Tuhan mengadabnya dengan penyakit itu.

Entah, saya tidak bisa memutuskan. Sebab, segala sesuatu pasti akan berbeda kalau sudut pandangnya berbeda. Sehingga, benar menurut sudut pandanya masing-masing. Secara medis benar untuknya. Secara mistis benar juga untuknya. Secara spritual juga benar untuknya. Semuanya memiliki sandaran hukum atau nilai tersendiri.

Medis sandarannya analisa dan diagnosa ilmiyah. Dan penyembuhannya, ya tentunya masuk rumah sakit dan ditangani oleh dokter spesialisnya sesuai dengan gejala dan jenis penyakitnya.

Mistis sandarannya kekuatan batin tertentu dan pengalaman. Nah, yang ini agak unik dan tidak semua orang percaya, apalagi orang modern. Seperti halnya, entah apa saya yang tidak tahu, bahwa sampai sekarang saya belum pernah dengar di Amerika atau di Jerman istilah penyakit ini. Apakah ada tapi saya tidak mendengarnya atau dengan istilah lain, atau juga ada seperti di Indonesia ini.

Di film-filmnya saja tidak ada istilah-istilah itu. Film bangsa Barat kebanyakan terkait dengan perkembangan teknologi atau sains, seperti kecanggihan bom, strategi perang, tembak, pesawat, angkasa, penelitian, dan sejenisnya. Lain dengan di Indonesia seperti, Misteri Ilahi, Nenek Lampir, Jaka Sembung, Tali Pocong, Hantu Ambulan, dan sejenisnya.

Tapi, ini betul-betul nyata, sebab terbukti ada penyakit tertentu yang memang di luar diagnosa medis atau ilmiah. Menurut diagnosa medis sudah sembuh total dan boleh dibawa pulang, eh nyampai di rumahnya malah tambah akut. Demikian terulang-ulang sampai meninggal dunia.

Terkait dengan penyakit aneh ini saya teringat kepada penyakitnya ibu saya sepuluh tahunan silam. Sungguh, waktu itu saya tidak habis pikir, penyakit ibu saya betul-betul aneh di luar akal normal. Kalau sudah datang penyakitmya, tiba-tiba ibu saya perutnya membesar dan teriak-teriak ditambah kulit seluruh badannya seakan-akan terbakar. Medis tidak mampu mendiagnosanya. Sebab, tiba-tiba datang dan tiba-tiba hilang.

Peyembuhannya tidak bisa ke dokter, tapi ke orang-orang tertentu yang memiki kekuatan batin yang mampu memahami dan menyembuhkan penyakit jenis ini. Meski pada waktu itu, banyak orang yang sok dukun dan sok sakti menggunakan momen penyakit ibu saya itu untuk mengeruk keuntungan uang sebesar-besarnya. Yang namanya orang pingin sembuh, dimintai uang mahal, ya nuruti saja.

Dan yang ketiga, sebagai penyakit gejala spritual. Sandarannya tentunya keyakinan ajaran agama atau kitab suci. Seperti ada ajaran, segala dosa akan kembali kepada dirinya sendiri; atau barang siapa yang menyakiti orang lain akan tersakiti sendiri; setiap amal perbuatan pasti ada imbalannya, baik atau buruknya, dan sejenisnya.

Penyembuhannya, ya dengan memperbanyak mohon ampunan kepada Tuhan dan beramal saleh kepada sesama manusia dan sekitarnya. Juga ada ajaran bahwa bersodaqah dapat mencegah dari bala musibah.

Nah, setiap penyakit dari sudut masing-masing sudut itu biasanya bertentangan. Tidak ada titik temunya. Bagi medis penyakit mistis tidak masuk akal. Begitu juga penyakit medis bagi mistis sia-sia belaka.

Yang jelas, semua penyakit sekaligus kesembuhannya berasal dari Tuhan dengan cara, bentuk, dan solusinya masing-masing, termasuk tiga jenis penyakit di atas. Tapi, semua itu juga dipengaruhi oleh manusianya sendiri. Hal ini dalam agama disebut sunnatullah, atau ajaran-ajaran yang tersebut di atas. Dalam dunia ilmiah disebut hukum sebab akibat. Dan dalam bahasa mistis disebut hukum karma.

Di samping semua itu, kematian seseorang menjadi bagian hal yang misterius selain rizki dan jodoh. Artinya, di mana, kapan, dan bagaimana manusia mati itu tidak ada yag tahu. Yang tahu cuma Tuhan. Sehingga, bagaimana pun parahnya penyakitnya, canggihnya diagnosa medisnya, hebatnya santetnya, tapi Tuhan tak berkenan untuk sembuh atau mati, tidak akan sembuh atau tidak akan mati juga.

Saya teringat sebuah Hadist ketika diajari oleh seorang Ustadz ahli hadist, bahwa harta yang dimiliki manusia dalam hidup ini ada tiga hal. Pertama, apa yang di makan seperti nasi dan buah-buahan. Ini akan habis ketika hanya sampai di tenggorakan saja. Kedua, apa yang dipakai sekitarnya, seperti baju, mobil, istri, rumah, tanah, dan uang. Ini akan habis saat sampai di atas kuburan saja (mati). Dan yang ketiga, apa yang diperbuat, seperti suka bersedekah, suka menolong, kasih sayang, atau amal soleh dan amal buruk. Nah, inilah yang lebih abadi dibawa sampai ke dalam kubur. Kalau baik amalnya berarti selamat, tapi kalau buruk akan menderita.

Nah, inilah yang harus dipikirkan oleh manusia. Harus bagaimana kita sebelum mati. Persiapan untuk mati. Sekiranya tidak menderita ketika dan setelah mati. Bukan memikirkan bagaimana, kapan, dan di mana mati. Apalagi merasa tidak akan mati. Sebab, siapapun itu betul-betul akan merasakan maut itu. Orang miskin, yang kaya raya, yang ganteng, yang jelek, kiaianya, presidennya, dokternya, dukunnya, artisnya, bahkan malaikat pencabut nyawa pun akan mati.

26 November  2009 M

Rabu, November 25, 2009

Filosofi Keterkenalan dan Maraknya Adegan Mesum

Kita bisa juga menyebut keterkenalan dengan kemashuran, ketenaran, dan popularitas. Kata terkenal bisa dinisbatkan kepada ”siapa” dan ”apa”. Terkenalnya siapa, tentu arahnya kepada manusia. Misalnya, Al-Ghozali terkenal sebagai filosof sekaligus sufi, D. Zawawi Imron mashur sebagai budayawan atau sastrawan, Ulil Abshor Abdallah terkenal sebagai cendikiawan Muslim, Pak Sukkur terkenal sebagai pelawak, dan Miyabi pupuler di dunia sebagai aktris hot.

Manusia terkenal tersebut tergantung dari keunikan, potensi lebih, atau kualitas unggul yang dimilikinya. Kualitas unggul ini yang membuat terkenal atau muncul lebih dari pada yang lain.

Potensi lebih atau kualitas unggul itulah yang dimaksud dengan ”apanya yang terkenal”. Seperti, Rendra terkenal dengan syair-syairnya, Suharto terkenal dengan Kabinet Pembangunan dan gerakan militernya, SBY terkenal dengan ketegasan dan disiplinnya, Quraisy Shihab mashur dengan tafsir Al-Misbahnya. Einstein terkenal dengan teori relativitasnya, Darwin populer dengan teori evolusinya, Karl Marx populer dengan ideologi marxisnya, Noordin M. Top terkenal dengan aksi terorisnya, dan Julia Peres terkenal dengan tubuh seksi dan akting hotnya.

Selain itu ”apa yang terkenal” bisa juga dinisbatkan kepada tempat, organisasi, pandangan, sistem, atau benda-benda. Seperti, Madura terkenal dengan kota santrinya, kemashuran gerakan JIL, kemashuran sistem pendidikan Muallimin di pesantren Al-Amien Prenduan, keterkenalan merek HP Blackberry, dan sebagainya.

Yang jelas, keterkenalan itu disebabkan oleh nilai lebih atau kualitas unggul dari pada entitas  lainnya, sehingga lebih tampak di atas lainnya. Bahkan, dibutuhkan atau dicari oleh yang lain meski sulit dijangkau. Oleh karena itu, keterkenalan kerap kali tidak memandang ruang. Di manapun akan dijangkau.

Saya pernah mengecatkan sepeda motor yang catnya terkelupas cukup parah kepada seorang ahli ngecat yang sangat terkenal. Padahal tempatnya jauh dari keramaian, amat pelosok. Tapi dia punya job yang sangat banyak sehingga harus antri.  Begitu juga saya pernah menjaitkan baju ke seorang tailor yang padahal tempatnya pedalaman, tapi jasanya amat laris. Dari mana-mana orang yang ingin menjaitkan pakaian pergi kepadanya. Tentu semuanya karena kualitas hasilnya yang lebih baik dari pada kualitas lainnya.

Memang, orang akan mencari kualitas yang lebih baik dalam persoalan apa saja, sehingga orang yang dapat menghasilkan sesuatu yang berkualitas lebih baik itu akan dicari orang dan terkenal. Orang akan rela lebih capek atau lebih mahal asal kualitas hasilnya lebih baik dan dapat diandalkan dari pada yang lainnya. Maka dari itu, sebenarnya gampang untuk menjadi terkenal. Tinggal mencipta sesuatu yang unik, nilai lebih, atau kualitas unggul pada entitas diri. Tapi, meski mudah tak sembarang orang bisa terkenal.

Namun, keterkenalan ada dua warna: ada yang terkenal negatifnya. Seperti, Noordin M Top terkenal dengan aksi terornya. Dunia dibuat gelisah olehnya. Dan, aktris Miyabi populer dengan akting hotnya. Membuat moral dunia makin tak karuan.

Ada juga kemashuran yang positif. Seperti, D. Zawawi Imron dengan syair-syairnya dan kiai Aa Gym dengan Manajemen Qalbunya. Hal inilah yang perlu lebih diperhatikan; bagaimana bisa terkenal dan dengan apa terkenalnya.

Sebab, akhir-akhir ini nyaris terjadi kekaburan atau keterbalikan nilai di segala bidang; yang baik menjadi hal yang memalukan dan yang buruk justru menjadi hal yang dibanggakan. Banyak orang yang bangga akan kemashurannya dengan hal-hal yang sebetulnya menurunkan derajatnya sebagai ciptaan Tuhan yang paling mulya, membuatnya terhina.

Contohnya, di dunia selebriti atau muda-mudi kita. Pakaian yang justru menutupi aurot mereka yang sebetulnya menjaga harga diri mereka sebagai perempuan yang suci malah dianggap tidak gaul, kampungan, atau ketinggalan, dan menggerahkan. Mereka membanggakan diri memakai busana yang bukak-bukaan secara vulgar, yang sejatinya menjadikan harga diri mereka menjadi murah bahkan gratis. Kemolekan tubuhnya dipertontonkan dan diumbar di depan publik. Siapa saja boleh melihat kemolekan tubuhnya, bahkan merasainya.

Hal ini bukan hanya menjangkiti aspek busana tapi sudah merasuki karakter, pandangan hidup, dan perilaku mereka. Seperti, bergaul bebas dan berhubungan maksiat di depan publik, gonta-ganti pasangan, mudah selingkuh, serta cerai suami istri menjadi hobi.

Anehnya, hal-hal negatif tersebut bagi yang lain terutama bagi generasi muda tidak hanya menjadi tontonan malah menjadi tuntunan dan tauladan dalam kehidupan mereka.

Fenomena ini bisa kita lihat tiap hari di media-media massa atau layar-layar kaca maupun di sekitar kita secara langsung. Nyaris mereka, baik yang berlatar belakang religius apalagi yang sekuler tampil dengan gaya busana, karakter, dan perilaku negatif memalukan tersebut. Mereka malah bangga dan menganggap semua itu yang dapat mengangkat harga diri mereka karena telah pupuler atau mashur di mana-mana.

Maraknya adegan mesum secara bebas di mana-mana, termasuk Mercusuar Bergoyang, bisa kita jadikan contoh dampak dari fenomena nilai yang semakin kabur dan semrawut tersebut; Tauladan Popularitas negatif menjadi rujukan kehidupan zaman ini yang amat dibanggakan.


25 November 2009    M 

Selasa, November 24, 2009

24 November, Ulang Tahun Eksistensi Saya


Hari ini pas ulang tahun saya. Ulang tahun bukan berarti kelahiran, kapan saya pertama kali nongol ke dunia ini dari perut ibu saya. Tapi, ulang tahun kapan tulisan saya awal kali dimuat di media massa. Dibaca masyarakat luas.

Saya bilang, ini adalah eksistensi saya, karena saya bermimpi jadi penulis yang baik. Menegakkan kebenaran dengan pena. Bukan dengan mulut berbusa, atau pedang, atau bom.

Sudah bosan dengan mulut berbusa, toh hanya ngomongnya saja. Manusia sudah pinter ngomong semua. Dan, sudah terlalu trauma dengan pedang dan bom, toh hanya lebih mengacaukan dunia saja.

Dan, sungguh betapa indah dengan tulisan, meski hanya sekedar pelengkap bapak-bapak atau ibu-ibu minum kopi hangat di pagi hari; meski sekedar sahabat orang yang sedang kesepian; atau, meski sebagai pengantar tidur anak-anak kecil di malam hari. Itu lebih mendamaikan.

Menulis itulah diri saya. Saya ada kalau saya dianggap ada oleh dunia. Saya dianggap ada oleh dunia kalau saya menulis. Saya bukan tubuh saya. Tubuh ini dan nama ini hanya instrumen adanya saya. Tapi saya sendiri adalah tindakan saya dalam tulisan nyata saya, pikiran saya, suara nurani saya. Itulah eksistensi saya. Saya yang sesungguhnya, sejatinya. Meski masih dalam mimpi.


Saya tidak akan ingat ulang tahun ini seandainya saya tidak mengalami masalah gara-gara tulisan kontroversial-problematif kemaren (17 November 2009). Sehingga, sungguh meski agak sedih dicampur sial, bukan menyesal, saya mendapatkan banyak hikmah darinya. Tapi, tidak mengharap terjadi lagi meski berhikmah.

Saya ingat waktu itu, 24 Noverber 2008 M. Batapa bangganya ketika pertama kali tulisan saya dimuat di koran Radar Madura setelah berhari-hari ditunggu dan berkali-kali diedit dan dikirim. Sungguh, amat sangat sulit. Sehingga ketika dimuat, betapa dada seluas angkasa.

Saya ingat, bagaimana saya mengedit tulisan itu dan dicorat coret oleh guru yang memeriksanya serta setelah dikirim tidak dimuat-muat. Maklum saya nulis serius seperti itu pertama kali. Saya baru latihan nulis serius mau dipubikasikan waktu itu saja. Apalagi saya bukan orang yang berlatar belakang ikut kelompok-kelompok kajian ilmiah belajar nulis seperti sanggar-sanggar sastra. Saya betul-betul belajar otodidak bermodal nekat. Karena itu, sungguh bahagianya sedunia ketika dimuat meski hanya level lokal, Radar Madura.

Saya juga ingat Ibnu Hajar budayawan Sumenep, yang mengabadikan tulisan saya dibukunya yang juga kontraversial berjudul " Kiai di Tengah Pusaran Politik".

Dia telah menjadikan catatan perdana saya tersebut sebagai salah satu referensi penyusunan buku tersebut yang sempat menggegerkan jagat Madura sebagai komunitas masyarakat yang paling kental dengan tradisi kharisma kekiaiannya.

Saat ini saya berpikir, mau diisi apa ulang tahun kini. Ngajak teman pestakah? Itu tidak mungkin karena saya tidak punya uang. Atau, teriak-teriak di padang luaskah. Itu tambah tidak mungkin juga, tidak ada gunanya. Atau, jalan-jalan ke manakah? Itu juga tidak mungkin, menambah capek saja. Akhirnya, entah dengan apa saya harus mengisi ulang tahun sebagai sejarah terindah ini.

Tapi, saya hanya bisa merenungi, sungguh berat merangkai mimpi hanya dengan modal nekat seperti saya ini. Mewujutkan mimpi tidak semudah membangun tembok Cina. Ada aral melintang dan air mata menggenangi jalan.

Lalu saya heran, bagi mereka yang memiliki modal segalanya, uang melimpah, tubuh sehat, peluang banyak, dan segalanya serba ada, tapi tak sampai-sampai menuju mimpi, bahkan tak punya mimpi sama sekali, atau semuanya digunakan hanya untuk senang-senang.

Sehingga saya menjadi berkesimpulan, ternyata mimpi tidak muluk-muluk, tak butuh ini itu. Simpel saja, dia hanya butuh tekat, keseriusan, dan lebih dari itu adalah cinta.

Tentang cinta ini saya ingat pelajaran Maharat Arabiyah. Di dalamnya dicontohkan kalimat indah yang berbunyi, "Wa ahibbal amal lilwushul ilaihi tasy'ur bi sa'aadatin la tuqdar", "Dan cintailah pekerjaanmu untuk sampai kepadanya niscaya kamu akan merasakan kebahagiaan yang tak terhingga". Maksudnya, tidak ada kegagalan dalam bercita dengan cinta. Ada keberhasilan yang tak terduga dan tak terhingga. Cinta ini kalau dalam agama saya yakin adalah ikhlas.

Akhirnya, selain saya hanya bisa mencatat, "entah dengan apa saya harus mengisi ulang tahun sebagai sejarah terindah ini" hari ini, saya juga hanya bisa berucap, terima kasih banyak terhadap mereka-mereka yang telah ikut andil mengingatkan saya kepada sejarah ini.

Terutama mereka: para Asatidz yang mulya. Yang saking cintanya kepada saya menggugat catatan saya yang problematis itu, sehingga saya betul-betul dapat pelajaran berharga darinya, meski saya harus mengakui apa yang tidak di nurani saya secara terpaksa. Akan saya kenang kalian semua.

Dan juga, Ibnu Hajar budayawan berani yang mengabadikan tulisan perdana saya di bukunya, meski merujuknya tanpa izin dari saya. Saya simpan bukumu itu bagus-bagus sampai sekarang, dan kapanpun. Saya sangat ikhlas dan sangat berteri makasih.

Sekaligus, yang lebih dari semuanya, Ibu Bapak saya pejuang hidup tergagah saya, seluruh famili saya penyemangat teraktif saya, dan adik saya yang terindah dalam hidup ini "Jane", namamu yang paling menyejarah dalam hidup saya selain pahlawan tergagah saya. Doa kalian semua ada diujung pena.

24 November 2009 M


Senin, November 23, 2009

Pekerjaan yang diilmui


Saya sebetulnya tidak enak, duduk-duduk santai  di atas kursi sambil menontonnya. Tapi bagaimana lagi, mau duduk di mana dan mau lihat-lihat apa selain menungguinya yang otomatis sambil melihatnya.

Saya dan seorang teman sedang memandikan sepeda motor yang saya pinjam dari teman saya. Sangat amat kotor jarang dmandikan. Seandainya saya disuruh mandikan sendiri, saya tidak mampu. Saking amat kotornya sehingga kotorannya sudah amat kuat menempel di seluruh onderdelnya.

Akhirnya, melihat sepeda bagus tapi tidak enak dan eman dipandang, saya memandikannya melaui jasa tukang memandikan sepeda motor. Biar enak dan seger dipakai. Tanpa niatan ingin dipuja oleh sang pemilik sama sekali agar mudah dipinjami lagi.

Namanya tukang jasa resmi, meski amat kotor pasti diusahakan menjadi mengkilat. Sebab, jika tidak maksimal pelayanannya, maka orang yang menggunakan jasanya tidak akan kembali lagi. Jadi, pasti bagus meski kotorannya amat repot dibersihkan.

Disaat menunggui pemandian itu, saya teringat pada fenomena para pembantu rumah tangga saat memandikan sepeda motor atau mobil para majikannya Mereka adalah pembantu yang bekerja di bawah perintah tuan-tuannya. Namanya pembantu, dia tidak merdeka. Dia melakukan apa maunya tuannya. Dia berada di bawah otoritas tuannya. Tuannya yang memegang kehidupannya, paling tidak ekonominya. Hidupnya tergantung dari tuannya.

Bahkan, konon, kita sering dengar para TKI atau TKW kita di luar negri sering diperlakukan semena-mena oleh majikannya. Ada yang disiksa dan ada yang diperkosa, bahkan ada yang hanya pulang jasadnya ke Indonesia.

Sejatinya, berprofesi sebagai pembantu, itu adalah bagian dari pada cara atau pekerjaan mencari nafkah hidup. Banyak macam cara mencari nafkah, ada yang berdagang, ada yang tukang becak, ada yang bertani, ada yang jadi lawak, dan ada yang jadi pengemis. Hanya saja bentuknya berbeda sesuai dengan potensi yang dimiliki masing-maisng diri individu. Bagaimana masing-masing menggunakan potensinya itu.

Pembantu yang berpendidikan lain dari pada pembantu amatiran yang biasanya ada di rumah-rumah tangga atau di kebun-kebun. Dino Patti Djalal adalah seorang pembantu tapi pembantunya presiden SBY dalam melaksanakan tugas-tugas ekskutifnya. Untuk menjadi pembantu seperti ini membutuhkan biaya, keseriusan, perjuangan dalam sekolah yang tinggi.

Bahkan, seorang kiai juga mengistilahkan dirinya sebagai pembantu (al-khodim). Pembantunya masyarakat dan para santri. Karena dia mengemban tugas melayani para santri dan masyarakat dalam pendidikan dan mengabdi kepada Tuhan.

Sedangkan tukang memandikan sepeda di atas adalah pembantu yang diformat sedemikian mungkin. Melayani jasa memandikan sepeda motor dan mobil. Dengan harapan bayaran uang. Sehingga dia bukan berarti pembantu sembarangan yang terserah sang tuan. Tak dibayar dia tak akan melayani jasa itu.

Makanya, meski profesinya sebagai pembantu, melayani orang berupa jasa memandikan sepeda motor, dia masih memiliki kebebasan dan kemerdekaan. Sang pemilik sepeda tidak bisa seenaknya saja bersikap kepadanya, apalagi tak membayarnya. Inilah mungkin yang disebut pembantu dengan ilmu. Jasa pemandian sepeda yang kreatif

Sehingga sejatinya, dia lebih kaya dan lebih bergaya dari pada saya. Dia memiliki perusahaan pelayaan jasa dan punya karyawan, meski secara aktifitas profesinya sebagai  tukang bersih sepeda saya atau dia yang melayani saya memandikan sepeda.

Sedangkan saya sendiri sejatinya secara profese mungkin lebih rendah dari padanya. Saya tidak sekreatif dia. Saya juga tidak memiliki sepeda. Sepedanya cuma pinjaman. Saya miskin, tak memiliki perusahaan apapun. Hanya gayanya saja saat itu sebagai orang yang dilayani, yang tinggal duduk-duduk santai di atas kursi melihat sepedanya ada yang memandikan. Kayak seorang bos yang tinggal memerintah.

Ini menjadi bukti bahwa apapun, lebih-lebih profesi, yang didasari dengan ilmu akan membuat seseorang memiliki kedudukan yang berharga dan bernilai di mata orang lain, tidak terhina.

Yang sangat amat disayangkan adalah mereka yang meremehkan ilmu. Orang yang meremehkan ilmu bukan berarti  yang tidak mampu sekolah secara materi atau biaya. Tapi orang yang memiliki peluang dan kesempatan dhohir bathin, badan dan akal sehat, namun tidak punya kesadaran, semangat atau ghirah mencari ilmu.

Sebab, ilmu tidak hanya berupa sekolah yang membutuhkan biaya material, tapi ilmu ada di mana-mana. Yang dapat ditangkap hanya oleh orang-orang yang sadar dan serius terhadap ilmu.

Dan lebih parah lagi, mereka  yang sudah memiliki ilmu tapi tidak diamalkannya. Sehingga, terjadilah fenomena yang memperagakan sarjana jadi pengangguran. Yang belakangan ini ikut antri menambah stok penyakit akut di negri kita ini.

23 November 2009 M

Sabtu, November 21, 2009

Apes, Maunya Manusia vs Maunya Tuhan

Siapakah yang tahu kalau akan mendapatkan musibah? Siapakah yang tidak sedih ketika mendapatkan musibah? Siapakah yang berniat menginginkan musibah? Dan, Siapakah yang tidak menyesal setelah mendapatkan musibah?  

Tidak ada manusia yang tahu bahwa dia akan ditimpa musibah. Jika ada yang tahu maka tidak ada istilah sedih di dunia ini. Sebab pada normalnya, kesedihan identik dengan musibah. Tidak ada menusia yang tidak sedih dalam musibah, atau tidak ada manusia yag senang ketika mengalami sebuah musibah. Sehingga, tiap manusia tidak ada yang sengaja menginginkan musibah, sekaligus pasti menyesal ketika mendapat musibah. Kecuali manusia unik. 


Kayak Abu Nawas. Konon digambarkan tentang sikapnya menghadapi kesedihan dan kesenangan hidup. Yakni, ketika dia naik sepeda dan bertemu dengan turunan maka dia menangis karena dia merasa mau bertemu dengan tonjakan yang melelahkan (kesedihan), namun ketika dia sedang menhadapi jalan tonjakan dia malah tertawa karena dia merasa mau bertemu dengan jalan turunan yang menyenangkan. Sungguh ini sebuah pandangan yang amat sangat futuristik (bermasa depan).


Inilah keunikan Abu Nawas. Tertawa ketika mendapat musibah dan menangis ketika mendapatkan nikmat. Berbeda dengan sikap manusia normalnya (pada umumnya), yang menangis atau bersedih ketika menemukan musibah dan tertawa atau bahagia ketika menemukan nikmat.

Tadi malam, saya mengalami musibah itu. Saya dan seorang temanku pergi ke sebuah daerah yang lumayan jauh untuk perizinan penelitian dengan mengendarai sepeda motor. Maunya saya membawa sepeda motor agar tidak menghabiskan biaya banyak dari pada naik angkot umum, sekaligus bisa ngajak teman plus bisa jalan-jalan ke tempat lain. Kalau naik angkot biayanya dua kali lipat. Apalagi bawa teman harus biaya dua kali, dan tak bisa ke tempat lain.

Namun, di tengah perjalanan pulang, kami jatuh menabrak genangan air lumpur yang menggenangi jalan raya, dan sepedanya rusak lumayan parah. Sehingga justru menyedot biaya lebih kali lipat dari pada seandainya saya naik angkot umum. Ruginya jadi berlipat.

Itulah kelemahan saya sebagai manusia. Apa yang dimau luput dari kenyataannya. Maunya untung, eh malah rugi. Maunya selamat, eh malah apes, celaka. Seandainya saya tahu mau apes tentunya saya urungkan niat berangkat. Namun saya sadari itu sudah biasa. Karena manusia memang makhluq biasa, citaan Tuhan. Bukan luar biasa (maha) seperti Tuhannya.

Manusia memang memiliki kemampuan dan kehendak, tapi tetap saja di bawah kemampuan dan kehendak Tuhan. Artinya, tidak semua kemauan atau kehendak menusia menjadi kenyataan. Kalau menjadi kenyataan berarti diikuti oleh kehendak Tuhan. Kalau tidak nyata berarti tidak diikuti oleh kehendak Tuhan. Hal ini dinamakan taufik, inayah, dan hidayah Tuhan. Oleh karena itu dalam doa kerap diikuti dengan istilah-istilah tersebut

Tapi, bukan berarti Tuhan kejam kalau Dia tidak mengikuti maunya sang manusia. Dia Maha Bijaksana dan Pengasih. Itulah yang dimaksud hikmah. Yaitu, asas manfaat baik yang belum masuk kepada struktur ilmu pengetahuan manusia. Oleh karena itu, manusia hanya bisa berucap, semoga semuanya ada hikmahnya.

Dan, segala urusan sudah diserahkan kepada manusia berupa potensi-potensi atau kemampuan, baik secara fisik, kecerdasan, pemikiran, maupun hukum-hukum. Maka dari itu, segalanya sejatinya tergantung atas maunya manusia itu sendiri. Sehingga, segalanya akan kembali kepada dirinya sendiri sesuai dengan apa yang dimaunya dan yang diperbuatnya.

Kalau luput dari maunya seperti di atas berarti saking Maha Sayangnya Tuhan kepadanya. Bukan karena kejam. Tuhan tidak mau hamba-Nya lebih celaka. Tuhan tahu kekurangannya ketika dia sampai kepada maunya itu, sehingga digagalkan. Itulah maunya Tuhan. Hanya saja manusia belum nyampai kepada maunya Tuhan itu. Sehingga, acapkali kita dengar manusia menyesal, manusia tidak percaya atau protes hikmah, bahkan melaknat, buruk sangka kepada Tuhan, ketika mengalami sesuatu yang tidak sesuai dengan maunya, musibah, apes.

Oleh karen itu semua, meski sehebat apapun kemampuan dan kelebihan manusia, tetaplah itu merupakan pemberian dari kehendak atau kekuasaan Tuhan. Namanya pemberian tidak akan sekali-kali sama apalagi lebih dari pada yang memberi.

Akhirnya, lebih baik, kita niru akalnya Abu Nawas saja. Biar kita lebih sadar, lebih berhati-hati, lebih idialis, lebih futuristik, memiliki masa depan yang cerah.

 21 November 2009 M

Jumat, November 20, 2009

Menduga, Watak Pengetahuan Manusia


Sebetulnya hujan malam ini (20/11/2009) bukan hujan perdana di tempat ini (Prenduan). Sebab ada hujan yang sebelumnya turun, hanya saja rintik-ritik kecil meski awan gelap menggumpal seakan di atas kepala diikuti dengan petir keras yang menyala-nyala.

Minggu terakhir ini hampir tiap hari sinar mentari tertutupi awan gelap menggumpal (mendung) pertanda akan turunnya hujan yang besar. Tapi hujan yang turun mayoritas tiap hari hanya rintik-rintik. Kecuali hari ini yang lumayan besar, meski hujannya bukan pas pada saat mendung melainkan setelah suasana langitnya agak cerah. Sama-sama luput perkiraan.

Yang sebelum-sebelumnya sering mendung sangat pekat yang secara rasio akan datang hujan tapi justru tidak datang. Yang selanjutnya hujan, cuma tidak seimbang dengan kepekatan mendungnya yang menggumpal. Secara logika akan hujan deras tapi ternyata rintik-rintik.

Dan, yang terakhir malam ini, turun hujan deras sesuai dengan kondisi mendungnya hanya saja tidak tepat waktunya. Mendungnya siang hari sehingga secara perkiraan logika hujan derasnya pasti jatuh siang hari, eh ternyata jatuhnya malam hari setelah kondisi awan sudah agak cerah.

Inilah contoh jelas perkiraan pandangan, akal pikiran manusia, atau pengetahuan manusia. Ilmu pengetahuan manusia sifatnya hanya memperkirakan, menduga, coba-coba, dan bisa juga disebut ramalan, meski term ramalan sering dilekatkan pada aktifitas khusus seperti ramalan nasib, ramalan pekerjaan, ramalan jodoh, dan sejenisnya. Sedangkan pengetahuan lebih bersifat eksperimen, analisa, dan penelitian. Tapi semuanya tetap saja bisa dikatakan ramalan yang sama-sama belum tentu kebenarannya.

Pada tahun 1543 Astronomi Copernicus mengubah pandangan sebelumnya tentang pusat alam semesta. Sebelumnya, pengetahuan manusia memutuskan bahwa pusat alam semesta adalah bumi, tapi penelitian Copernikus menemukan bahwa ternyata mataharilah yang menjadi pusat semesta. Dan, Galileo yang menemukan bumi itu bulat, padahal pengetahuan sebelumnya bumi dipandang datar.

Ilmu pengetahuan hanya bisa mengindikasikan ramalan atau dugaan kebenaran. Bisa benar atau salah; bisa tepat atau luput; atau benar tapi hanya sementara; atau benar tapi sebagianya saja; atau benar tapi suatu saat tertentu; dan, bahkan salah total.

Akhirnya dapat dikatakan, sepanjang berada pada ranah manusia, kebenaran itu relatif. Kebenaran ilmu pengetahuan atau pemikiran manusia itu tidak ubahnya tebak-tebakkan, bisa tepat, bisa luput, bisa benar, bisa salah, dan berubah. Kecuali kebenaran yang Maha Tak Terhingga dan Tak Terbahasa (unsayable). Dialah Tuhan pencipta alam semesta ini. Pencipta kebenaran yang mutlaq.

Maka, sangat amat tidak pantas sekali ada manusia, mendedikasikan dirinya sebagai yang membawa kebenaran, atau menemukan kebenaran tunggal tak bisa disangkal, atau bahkan merasa benar sendiri, orang lain harus mengekor diri.

Sungguh, Al-Ghozali adalah contoh ilmuwan sejati, dia berujar, ”Pendapat dia salah tapi bisa jadi ada benarnya. Dan, pendapat saya benar tapi bisa jadi ada salahnya”. Sebuah sistem pemikiran manusia yang sejati, yang demokratis, yang betul-betul manusiawi, sekaligus islami.

20 November 2009 M

Perbedaan dan Hegemoni Otoritas


Tidak usah jauh-jauh memahami perbedaan dan menyikapinya. Di sekitar kita semuanya serba berbeda. Tidak ada yang sama. Kita tahu bayi kembar, itupun tidak sama cuma mirip. Inilah kebijaksanaan, kesempurnaan, dan keadilan Tuhan.

Maka dari itu, sering kita dengar tentang rumusan keadilan, keadilan bukan berarti sama tapi menempatkan sesuatu pada tempatnya. Menempatkan sesuatu pada tempatnya adalah kebijaksanaan. Justru seandainya segalanya serba sama maka hidup menjadi repot, tidak utuh. Bayangkan saja, semua manusia sama-sama pedagang, atau semuanya sama menjadi presiden, atau semuanya sama laki-laki, atau semuanya sama pemalu, atau semuanya sama berkarakter kasar, atau semuanya kaya, dan sama-sama sebagainya. Hidup akan beku dan mati.

Dengan adanya perbedaan timbullah interaksi. Dengan adanya interaksi hidup akan bergerak. Hidup betul-betul hidup. Yang petani menjual hasil tanamannya kepada para pedagang; para pedagang menjual dagangannya kepada para produsen; para murid belajar kepada para guru; Yang kiai mendidik santri-santrinya; dan, yang pengemis memintak-mintak kepada yang punya. Itulah keutuhan.

Saya lebih menyerapi tentang perbedaan ini di saat saya dan teman-teman bersama-sama memakan di dapur kampus. Waktu itu, lauknya daging ayam mati disembelih dan dimasak, bukan daging ayam hidup-hidup atau mati karena menjadi bangkai, sekaligus dimasak. Kalau dipikir-pikir seperti biasanya, siapa yang tidak suka daging ayam apalagi di pesantren yang memang jarang sekali merasakan nikmatnya daging ayam kecuali pada waktu-waktu tertentu. Sehingga pasti makannya lahap dan sangat amat nikmat.


Tapi kenyataannya lain, ada beberapa teman yang santai-santai saja, tak sebahagia lainnya yang sangat amat bernafsu dan bahagia makan daging ayam yang sagat menjadi barang langka tersebut. Artinya, suasananya baginya sama saja, bahkan dia susah. Alasannya, dia tidak suka daging ayam. Baginya tahu lebih enak dari padanya.

Maka dari itu, daging ayam tersebut diganti oleh bu dapurnya dengan gorengan telur gaya mata sapi. Dan dia sangat bahagia sekali. Karena baginya, telur sama kedudukannya dengan daging ayam yang bagi teman-teman lainnya melihatnya sebagai makanan yang paling nikmat. Telur adalah ayamnya. Sedangkan bagi yang lain yang suka daging ayam,  telur biasa-biasa saja.

Akhirnya, kami sama-sama makan dengan lahap kesukaan masing-masing dan sama-sama bahagia meski berbeda. Inilah indahnya perbedaan. Perbedaan banyak macam tergantung dari potensi dan kesukaan yang ada pada diri masing-masing. Sehingga, justru dengan perbedaan itu kita sama-sama bahagia. Seandainya dia yang suka telur dipaksa agar sama makan ayam, sungguh betapa tersiksanya dia. Atau yang suka ayam dipaksa untuk makan telur yang tidak disukai. Sungguh betapa sedihnya dia.

Tapi, meski tiap diri harus hidup sesuai dengan potensi atau kesuakaannya yang berbeda-beda itu, ada saja yang hidup tidak dengan potensi atau kesukaannya tersebut. Dia rela menjalani yang bukan kesukaannya, bahkan harus menjalani kesukaan orang lain meski hal itu menjadi hal yang paling dibencinya. Itulah keterpakasaan baginya. Dan kedholiman besar bagi yang memaksanya. Maka dari itu diajarkan bahwa kita harus menghormati dan menghargai potensi atau kesukaan orang lain. Inilah ajaran sejati kehidupan bagi siapa saja. Tanpa ajaran ini maka perbedaan menjadi ajang kekacauan.

Karena hidup dibawah suatu hegemoni atau otoritas tertentu seseorang menjadi bukan acapkali menjadi bukan dirinya sendiri, dia harus menjadi sama dengan apa maunya sang otoritas. Inilah perbudakan, inilah keterkungkungan, inilah ketertindasan, inilah keterpaksaan, inilah ketersiksaan, dan inilah kematian. Serta inilah sejarah dosa besar.


Oleh karena itu, orang yang menyadari perbadaannya dan hidup dengannya, sekaligus menghargai yang lainnya, dialah yang betul-betul merdeka. Menjadi manusia yang betul-betul manusia sebagai makhluq Tuhan yang lebih dari makhluq lainnya. Dan otoritas Tuhan di atas segalanya. Antara sesama manusia hanya ada otoritas keadilan, saling menghargai dan menghormati dalam perbedaan.

20 Novenber 2009 M

Rabu, November 18, 2009

Tukang Becak dan Jalan Raya

Terus sekarang, saya selalu ingat suara nafasnya yang ngos-ngosan. Dia adalah tukang becak yang saya tumpangi dengan dua orang teman sewaktu saya jalan-jalan menelusuri jalan raya depan kampus pesantren mencari sebuah warung nasi.

Maklum nafasnya tersengal-sengal mengayuh becaknya karena selain yang menumpanginya semuanya tiga orang, beratnya diluar kapasitas kenormalan, juga karena jalan rayanya yang benjol-benjol dan bolong-bolong tak karuan. Padahal itu jalan raya kabupaten.
Sebetulnya, kami mau memesan dua becak mengingat badan kami yang lumayan besar-besar sehingga tukang becaknya tidak kuat mengayuh. Apa boleh buat, tukang becaknya malah menyatukan kami dalam satu becaknya sehingga becaknya harus memuat beban terlalu berat. Dengan alasan biar upahnya tambah berat juga (banyak). Akhirnya, saya kasihan lalu menurutinya meski saya juga sempat sial karena harus duduk dengan posisi yang tidak normal, berjejal.

Di samping itu saya mewajari, begitulah tukang becak yang memang hidupnya hanya menggantung ke becaknya itu. Bahkan, mengalami defisit penghasilan kalau tidak ada penumpang sama sekali, sehingga bagaimanapun berat muatannya tetap dia turuti. Apalagi, meski ada resikonya, jatuh misalnya, itu tak seberapa bahaya, dari pada bila kita membandingkannya dengan mobil angkot umum yang melebihi kapasitasnya.

Saya ingat, betapa saya dan penumpang lainnya amat sangat sial ketika ada mobil angkot masih memaksa para penumpang berjejal sesak melebihi kapasitas kenormalannya. Hanya gara-gara terlalu ambisi terhadap hasil yang banyak seringkali perasaan penumpang dikorbankan, bahkan bisa jadi merenggut nyawa banyak orang, kecelakaan, karena memang mobil menanggung beban yang diluar kapasitasnya. Para penumpang menjadi banyak yang menggerutu, gelisah, gundah, dan sial. Akhirnya meski bayar, bayar tidak ikhlas. Itu lebih bahaya.

Pesoalan jalan raya yang bolong-bolong, jalan demikian selalu membuat susah para pengendara, lebih-lebih para tukang becak. Banyak terjadi kecelakaan gara-gara jalan raya yang bolong-bolong tak karuan itu. Dan jalan-jalan raya yang senasib seperti itu banyak saya temukan di manapun.

Entah ceritanya saya tidak ngerti. Kerap saya melihat jalan demikian meski sudah lama umurnya tak kunjung diperbaiki. Apa karena pihak yang terkait dengan bagian jalan itu tidak tahu dan masyarakat tidak ada yang melapornya. Atau, memang sudah tahu hanya saja pura-pura tidak tahu. Atau, bisa jadi juga sudah tahu tapi tidak ada dana untuk memperbaikinya.

Yang lebih aneh lagi, saya kadang juga lihat ada jalan raya yang tidak sampai dua bulan dibangun sudah kocar-kacir ga’ karuan, bolong-bolong di sana-sini. Entah, bangunan baru kok cepat rusak. Apakah karena kondisi alam yang terlalu keras, atau karena materialmya yang memang sengaja dikurangi dari takaran normal yang bagus, lantaran pihak yang membangun ingin dapat jatah tambahan dari yang semestinya. Misalnya, pada aturannya harus menghabiskan sepuluh ton bahan material aspal, eh dikurangi jadi lima ton. Ah, biarlah saya ga’  mau tahu dan ga’ ngurus. Takut dikirain sok aktifis atau sok kritis. Lagian sudah ada bagian khusus yang mengurusinya.

Yang penting, sungguh kasihan ketika para pemakai jalan umum tersiksa. Perjalanannya terganggu hanya gara-gara jalan raya yang bolong-bolong atau benjol-benjol. Apalagi bagi komunitas tukang becak di atas. Belum lagi saat mengundang kecelakaan. Kalau saya pribadi ketika lewat di jalan demikian terus terang mangkel.

Akhirnya, saya hanya bisa berharap, semoga tukang becak tersebut bersabar plus ikhlas melihat jalan rayanya yang bolong-bolong tak karuan tersebut, meski telah mengganggu aktifitas mata pencahariannya.

Sekaligus, semoga seluruh tukang-tukang becak dan para pemakai jalan raya lainnya tidak naik darah. Lalu sama-sama memiliki kesadaran serentak mendatangi kantor Pemkab setempat, atau mungkin ke gedung DPRD, atau bahkan ke Parlemen pusat berdemo dan berbuat anarkis saking mangkelnya lantaran persoalan jalan raya bolong-bolong yang tak sembuh-sembuh tersebut. Apalagi ditambah simpati para mahasiswa. Bayangkan saja apa jadinya kalau demikian.

Dan lebih dari itu, semoga pihak terkait, pemerintah, cepat-cepat mengetahui jalan-jalan raya yang bolong-bolong di negri kita ini, sekaligus cepat-cepat diperbaiki dan dibangun. Bagi yang belum diketahui.

Sedangkan bagi yang sudah diketahui, tapi tak ada dana untuk memperbaiki dan membangunnya, semoga cepat-cepat punya rizki dana. Lebih-lebih punya rizki tidak sekedar hanya untuk persoalan jalan raya saja, tapi untuk persoalan kritis lainnya. Sebab, negri ini kaya dengan persoalan kritis yang sebetulnya harus cepat-cepat ditangani.

Mulai dari membiayai anak miskin papa yang tidak memiliki biaya untuk sekolah, membangun sekolah-sekolah yang belakangan banyak yang ambruk dan yang memang tidak layak ditempati, memberi santunan mereka yang kelaparan, memberi bantuan bagi mereka yang tak mampu mengobati penyakitnya, dan membayar hutang yang tak kunjung terlunasi. Pokoknya, demi kesejahteraan bangsa ini. Amin ya robbal alamiin.

Saya Cinta

Saya cinta kepada siapa yang pintunya selalu terbuka
Saya cinta kepada siapa yang matanya selalu menyinari keteduhan
Saya cinta kepada siapa yang bibirnya selalu mengembang senyum
Saya cinta kepada siapa yang kalah dadanya lapang
Saya cinta kepada siapa yang susah tersenyum
Saya cinta kepada siapa yang mengumbar sapa

Termasuk saya cinta kepada kiai yang pintunya selalu terbuka
Sungguh betapa hidup menjadi indah damai

Dan, saya tidak cinta kepada kiai yang pintunya tertutup
Sibuk berdzikir kepada Tuhannya

Rumah kiai tidak akan dibobol maling
Dan kiai tidak takut mati masuk neraka

18 November 2009 M