Sabtu, November 21, 2009

Apes, Maunya Manusia vs Maunya Tuhan

Siapakah yang tahu kalau akan mendapatkan musibah? Siapakah yang tidak sedih ketika mendapatkan musibah? Siapakah yang berniat menginginkan musibah? Dan, Siapakah yang tidak menyesal setelah mendapatkan musibah?  

Tidak ada manusia yang tahu bahwa dia akan ditimpa musibah. Jika ada yang tahu maka tidak ada istilah sedih di dunia ini. Sebab pada normalnya, kesedihan identik dengan musibah. Tidak ada menusia yang tidak sedih dalam musibah, atau tidak ada manusia yag senang ketika mengalami sebuah musibah. Sehingga, tiap manusia tidak ada yang sengaja menginginkan musibah, sekaligus pasti menyesal ketika mendapat musibah. Kecuali manusia unik. 


Kayak Abu Nawas. Konon digambarkan tentang sikapnya menghadapi kesedihan dan kesenangan hidup. Yakni, ketika dia naik sepeda dan bertemu dengan turunan maka dia menangis karena dia merasa mau bertemu dengan tonjakan yang melelahkan (kesedihan), namun ketika dia sedang menhadapi jalan tonjakan dia malah tertawa karena dia merasa mau bertemu dengan jalan turunan yang menyenangkan. Sungguh ini sebuah pandangan yang amat sangat futuristik (bermasa depan).


Inilah keunikan Abu Nawas. Tertawa ketika mendapat musibah dan menangis ketika mendapatkan nikmat. Berbeda dengan sikap manusia normalnya (pada umumnya), yang menangis atau bersedih ketika menemukan musibah dan tertawa atau bahagia ketika menemukan nikmat.

Tadi malam, saya mengalami musibah itu. Saya dan seorang temanku pergi ke sebuah daerah yang lumayan jauh untuk perizinan penelitian dengan mengendarai sepeda motor. Maunya saya membawa sepeda motor agar tidak menghabiskan biaya banyak dari pada naik angkot umum, sekaligus bisa ngajak teman plus bisa jalan-jalan ke tempat lain. Kalau naik angkot biayanya dua kali lipat. Apalagi bawa teman harus biaya dua kali, dan tak bisa ke tempat lain.

Namun, di tengah perjalanan pulang, kami jatuh menabrak genangan air lumpur yang menggenangi jalan raya, dan sepedanya rusak lumayan parah. Sehingga justru menyedot biaya lebih kali lipat dari pada seandainya saya naik angkot umum. Ruginya jadi berlipat.

Itulah kelemahan saya sebagai manusia. Apa yang dimau luput dari kenyataannya. Maunya untung, eh malah rugi. Maunya selamat, eh malah apes, celaka. Seandainya saya tahu mau apes tentunya saya urungkan niat berangkat. Namun saya sadari itu sudah biasa. Karena manusia memang makhluq biasa, citaan Tuhan. Bukan luar biasa (maha) seperti Tuhannya.

Manusia memang memiliki kemampuan dan kehendak, tapi tetap saja di bawah kemampuan dan kehendak Tuhan. Artinya, tidak semua kemauan atau kehendak menusia menjadi kenyataan. Kalau menjadi kenyataan berarti diikuti oleh kehendak Tuhan. Kalau tidak nyata berarti tidak diikuti oleh kehendak Tuhan. Hal ini dinamakan taufik, inayah, dan hidayah Tuhan. Oleh karena itu dalam doa kerap diikuti dengan istilah-istilah tersebut

Tapi, bukan berarti Tuhan kejam kalau Dia tidak mengikuti maunya sang manusia. Dia Maha Bijaksana dan Pengasih. Itulah yang dimaksud hikmah. Yaitu, asas manfaat baik yang belum masuk kepada struktur ilmu pengetahuan manusia. Oleh karena itu, manusia hanya bisa berucap, semoga semuanya ada hikmahnya.

Dan, segala urusan sudah diserahkan kepada manusia berupa potensi-potensi atau kemampuan, baik secara fisik, kecerdasan, pemikiran, maupun hukum-hukum. Maka dari itu, segalanya sejatinya tergantung atas maunya manusia itu sendiri. Sehingga, segalanya akan kembali kepada dirinya sendiri sesuai dengan apa yang dimaunya dan yang diperbuatnya.

Kalau luput dari maunya seperti di atas berarti saking Maha Sayangnya Tuhan kepadanya. Bukan karena kejam. Tuhan tidak mau hamba-Nya lebih celaka. Tuhan tahu kekurangannya ketika dia sampai kepada maunya itu, sehingga digagalkan. Itulah maunya Tuhan. Hanya saja manusia belum nyampai kepada maunya Tuhan itu. Sehingga, acapkali kita dengar manusia menyesal, manusia tidak percaya atau protes hikmah, bahkan melaknat, buruk sangka kepada Tuhan, ketika mengalami sesuatu yang tidak sesuai dengan maunya, musibah, apes.

Oleh karen itu semua, meski sehebat apapun kemampuan dan kelebihan manusia, tetaplah itu merupakan pemberian dari kehendak atau kekuasaan Tuhan. Namanya pemberian tidak akan sekali-kali sama apalagi lebih dari pada yang memberi.

Akhirnya, lebih baik, kita niru akalnya Abu Nawas saja. Biar kita lebih sadar, lebih berhati-hati, lebih idialis, lebih futuristik, memiliki masa depan yang cerah.

 21 November 2009 M

Tidak ada komentar:

Posting Komentar