Minggu, November 15, 2009

Jalan Cinta Jalan Sunyi

“Jalan cinta jalan sunyi. Istana sudah selesai dibangun. Ke manakah perginya tukang-tukang batu?”

Dalam sebuah literatur sufi, konon, ada sekelompok orang pengembara. Tujuannya mencari Tuhan. Dalam setiap singgah di sebuah tempat, mereka membangun istana yang megah. Memancing Tuhan agar menempatinya. Namun, Tuhan tak pernah mendatangi istana megah yang baru itu. Tuhan pun tak kunjung ketemu.

Perjalanan dan pembangunan tersebut terus dilakukan. Tiap singgah di tempat yang baru, membangun istana yang baru pula. Selesai membangun istana yang baru, mereka pindah ke tempat yang baru pula. Demikian yang mereka lakukan terus menerus.

Suatu hari, di sebuah perjalanannya, bertemulah mereka dengan seorang musafir lusuh yang sudah mengetahui tujuan dan yang mereka lakukan. Dia menegor mereka, bahwa Tuhan tidak akan pernah ditemukan hanya dengan membangun istana-istana megah nan indah itu, namun Tuhan dapat ditemukan di dalam hati yang sunyi, yaitu istana cinta (maksudnya cinta Tuhan dan manusia/beramal saleh).

Cerita ini sangat sederhana, namun penuh makna. Cerita tentang meraih cinta dan kasih sayang Tuhan. Yang dirangkum dalam bentuk ungkapan puitis sufistik di atas.
Salah satu tradisi klasik untuk mendekatkan diri (mengabdi) kepada Tuhan adalah bermusafir jauh. Ada yang menyebutnya dengan tirakat jalan. Dan biasa dilakukan oleh para sufi, seperti para rahib dan darwis. Selain dengan cara menyepi di gua-gua, pojok-pojok masjid, dan sebagainya.

Dalam agama dijelaskan, manusia tidak dicipta oleh Tuhan di dunia ini melainkan dalam rangka hanya untuk mengabdi kepada-Nya, dalam tiap misi dan kondisinya. Misi manusia termaktub, sebagai kholifah di bumi (interaksi horizontal) dan sebagai hamba-Nya (interaksi vertikal).

Sebagai kholifah berarti manusia mengemban tugas dan tanggung jawab memakmurkan bumi ini. Merekalah yang menjadi penguasa di bumi ini di atas makhluq-makhluq Tuhan yang lain. Peradaban bumi beserta isinya ada di tangan manusia itu.

Sebagai hamba-Nya, manusia harus melaksanakan sekaligus menegakkan amalan-amalan ibadah yang diperintahkan kepadanya. Ini biasa dikenal dengan ibadah formal, yaitu khusus terkait dengan manusia dan Tuhannya. Seperti, sholat, puasa, zakat, dan haji. Serta meningglkan apa-apa yang dilarangnya, seperti bermaksiat, menyakiti yang lain (dholim), sombong, dengki, iri, KKN, dan sejenisnya.

Namun, semua misi itu, harus hanya ditujukan atau diniatkan semata-mata karena mengabdi kepada Tuhan. Menjadi pemimpin diniatkan karena Tuhan. Bekerja cari nafkah diniatkan demi Tuhan. Menjadi bisnismen diniatkan karena Tuhan. Menjadi artis diniatkan karena Tuhan. Dan, segala aktifitas apapun di dunia ini diniatkan demi Tuhan.

Sampai-sampai mencari rumputnya sapi di persawahan, menjadi tukang kebun, dan buruh, bisa diniatkan demi ibadah kepada Tuhan. Lebih-lebih dalam mengerjakan sholat dan menjadi kiai. Rasulullah menjelaskan, “Sesungguhnya tiap perbuatan tergantung dari niatnya”.

Namun, meski agungnya sebuah niat, semua hal yang semata-mata diniatkan baik tidak selalu menjadi baik. Ada hal lain yang harus diperhatikan, yaitu cara. Misalnya, sering kita dengar, ada orang yang mencuri harta orang lain diniatkan untuk menolong orang miskin yang kelaparan, sahkah?

Kiai saya di desa menjawabnya dengan, sama halnya kita memberi makan orang miskin, tapi dicampuri dengan kotoran. Tentunya, bukan menolong tapi malah mendholimi. Pasalnya, niat sekaligus caranya harus sama-sama baik. ”Penolong kebaikan dengan kebaikan”, demikian termaktub dalam Salawat Fatih. Tidak ada menegakkan kebaikan dengan maksiat.

Di zaman sekarang, cara mencari Tuhan sangat beraneka ragam. Saking banyaknya, sampai-sampai banyak manusia kebingungan.

Ada yang melalui jadi pemimpin, sehingga dalam kampanye dia selalu menyebut-nyebut, lillah dan lillah, allahu akbar dan allahu akbar, ayat-ayat diumbar, meski setelah jadi pemimpin lupa daratan. Tiba-tiba nongol di media massa terjerat kasus korupsi, suap, penyalahgunaan wewenang, dan merampas hak orang lain, BLT dan Raskin sempat-sempatnya diembat, dan sebagainya. Ini yang marak sekarang.

Pernah juga ngetren. Banyak organisasi bisnis, yang merasa mengajak masyarakat berpenghasilan halal dan suci, karena niat dan prinsipnya yang diumbar; mengangkis orang-orang miskin, demi cinta kebenaran dan Tuhan, demi tujuan ibadah kepada Tuhan, namun pada akhirnya justru menipu masyarakat.

Paman saya di desa jatuh miskin gara-gara umbaran niat baik organisasi bisnis itu. Konon, ada organisasi bisnis ”Amalillah”. Namanya saja sudah suci. Tapi sayang setelah banyak orang menanam saham, uangnya ambles entah ke mana. Para pengurusnya pun lenyap pula.

Dari semua itu, kita lebih mengerti, zaman makin belakang manusia makin banyak yang aneh. Beribadah kepada Tuhan dengan cara yang aneh. Dalih kebenaran dan Ibadah kepada Tuhan kerap menjadi alasan atau niat yang macam-macam, atau menumpuk keuntungan pribadi. Sehingga, kata-kata kebenaran, niat demi Tuhan, dan ayat-ayat suci Tuhan makin tak bermakna.

Itulah mungkin yang menyebabkan masyarakat makin tak memiliki rasa percaya kepada siapapun, sekaligus mudah sentimen antara sesama. Rasa cinta, belas kesih, percaya, kedamaian, dan kesunyian makin tercerabut dari hati manusia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar