Sabtu, November 28, 2009

Kita Hanya Bisa Geger Tentang Tuhan



(Sebuah Tanggapan Terhadap Catatan Gugatan dan Kegelisahan Kritis Tentang Tuhan)

Kita Hanyalah Manusia Biasa
(Sebuah tanggapam untuk seorang sahabat yang mengaku dia adalah tuhan bagi dirinya sendiri)
Lewat kegelisahan, saya sampai tidak bisa tidur malam dan lebih memilih menulis sebuah catatan ringan ini sebagai tanggapan atas pernyataan sahabat saya yang mengatakan, “Saya adalah tuhan bagi diri saya sendiri”. Sebuah pernyataan yang sangat mudah diungkapkan namun sangat sulit diterima hati nurani saya.

Pernyataan ini sangat wajar baginya, karena dia memang mahasiswa semester akhir jurusan Aqidah Filsafat. Namun, bagi saya, pernyataan ini sangat hebat dan sangat berani. Mengingat,  saya dan dia hanyalah manusia yang mempunyai Tuhan.

Pernyataan ini bukan tanpa alasan, dia memakai dalil hadist Qudsi,” Ana inda dhonni abdi bii.” Yang lebih menggetarkan saya lagi adalah pernyataannya yang terakhir, saya kuliah di Aqidah Filsafat sudah empat tahun, kalau pemikiran saya tetap seperti dulu mengikuti tradisi, berarti saya termasuk orang yang gagal”.

Hingga kini terbesit dalam hati kecil saya, mungkinkah pernyataan, ”Saya adalah tuhan bagi diri saya sendiri” dimaksudkan dengan berubah?  Kalau ini yang dimaksud, maka benarlah kalau dia memang berubah menjadi manusia yang makin liar karena terlalu asik berkelana di dunia Filsafat.

Bagaimana pun juga, kita adalah manusia yang mempunyai Tuhan. Lantas kalau salah satu dari kita sebagi manusia ada yang mengaku Tuhan bagi dirinya sendiri meski terbatas pada ruang dan waktu, maka dia termasuk hamba yang bagaimana dan kelompok hamba yang bagaimana. Saya bisa memakluminya apabila dia berdalih bahwa semua memiliki cara sendiri dalam mengenal dan memperkenalkan Tuhan, tapi apakah ini layak untuk kita ucapkan.

Mungkin sebagai penutup dari tulisan ringan ini, marilah kita renungi sejenak pesan yang terkandung dalam puisi yang berjudul:

Aku
Pantaskah  aku mengaku
Kuasa atas segala sesuatu
Sedangkan di hadapanmu
Aku hanya debu

Dari pusi ini dapat kita simpulkan, bahwa kita hanya manusia, jadi kurang tepat kiranya jika salah seorang dari kita sebagai manusia menyatakan, ”Saya adalah Tuhan bagi diri saya sendiri”. Semoga dengan tulisan singkat ini, kita bisa mengambil khikmah. Dan semoga ijtihad saya memilih tidak tidur malam menanggapi pernyataan sahabat saya, adalah pilihan yang tepat.

Kemudian catatan lain yang lebih singkat dan tak kalah kritisnya menanggapi prinsip saya dalam blog saya tersebut berbunyi,

”Wow anda tuhan bagi diri anda sendiri, aliran filsafat macam apa yang anda ikuti, ternyata anda hanya namanya saja yang Islami, he...”.

Dua pernyataan berupa catatan singkat di atas adalah tanggapan atau gugatan kritis terhadap pernyataan saya yang tertulis dalam blog saya sebagai prinsip hidup saya yaitu, ”Ana inda dhonni Abdi”, ”you are God for your self”, ”kamu adalah tuhan bagi dirimu sendiri”, you are what you thing”, ”kamu adalah apa yang kamu pikirkan”.

Saya betul-betul amat sangat merasa tertarik membaca tanggapan-tanggapan itu, dan mungkin ada yang akan menyusulnya. Maka dari pada itu, sebelum melaju ke pada persoalan yang lebih dalam, saya ucapkan terima kasih atas gugatan dan tanggapan kritisnya. Justru dengan itu saya suka anda.

Dan mohon maaf sebelumnya, anggaplah forum ini berada dalam ruang perkuliahan yang acara kita sekarang adalah presentasi sebuah pemikiran atau pendangan yang kebetulan bagian saya. Saya akan mempresentasikan pandangan saya di depan anda dan kawan-kawan anda yang mungkin seotak, tanpa berniat untuk menggurui.

Siapakah atau Apakah Tuhan
Saya akan memulainya dengan istilah Tuhan. Jika saya ditanya tentang tuhan, siapakah tuhan menurut saya? Maka jawaban saya, banyak macam tuhan dan berbeda-beda sesuai dengan dari sudut mana saya memandangnya. Pertama, jika dari sudut struktur pemikiran, maka ada tuhannya Karl Marx yang agamanya marxisme dan tuhannya materialisme; ada juga tuhan politik; ada juga tuhan uang; ada juga tuhan jabatan; bahkan ada juga Tuhannya Niesche, ”Tuhan telah Mati”.

Tuhan dalam struktur pemikiran manusia ini maknanya lebih filosofis. Contohnya, ”tuhan uang, berarti orang yang selalu menggantungkan hidupnya kepada uang. Kalau dalam bahasa anda sebagai orang muslim, mungkin, orang yang hanya gara-gara uang kewajiban Islamnya dikorbankan, seperti lupa shalat gara-gara sibuk kerja.

Kedua, dari sudut agama atau wahyu. Juga macam-macam, Yahudi mengatakannya Yahwe; Kristen menyebutnya Yesus; Hindu menyebutnya sang Hyang Widi; Budha menyebutnya Siwa; dan, Islam menyebutnya Allah SWT. Bahkan, belakangan mulai bermunculan wahyu-wahyu atau agama-agama baru, meski berupa sempalan, yang tuhannya bisa jadi baru pula.

Ketiga, dari sudut bahasa, lebih beraneka ragam lagi, sesuai dengan jumlah bahasa yang ada. Inggris menyebutnya dengan God, Arab menyebutnya dengan Allah atau Robbun, Jerman menyebutnya dengan Gott, Prancis menyebutnya dengan Dieu, bahkan orang Madura kadang menyebunya dengan ”Gusteh Pangeran”.

Dan yang terakhir, dari sudut esensi, atau kesejatian, atau hakekat dzat Tuhan. Tuhan sejati yang tak terikat oleh ruang dan waktu, personal, kelompok, doktrin, agama, pemikiran dan sebagainya, yaitu Tuhan yang ”unsayable”. Tuhan yang betul-betul Maha Sempurna. Maha Mutlak. Yang betul-betul Maha Tak Terhingga dan Tak Terjamah oleh makhluq-makhluqnya. Siapakah dia? Sekali lagi dia tidak sesederhana apa yang dibahasakan manusia.

Oleh karena itu, Tuhan dari sudut terakhir ini tergantung dari pada nurani masing-masing orang. Lebih berlaku pada ranah pribadi. Sehingga, antara manusia yang satu dan lainnya tidak sama. Ketika saya bertanya, Tuhan anda siapa dan seperti apa, lalu apakah sama dengan tuhannya saya? Jika anda menjawab hanya dengan sekedar kata nama ”Allah” dan ”sama” karena anda umat Islam, maka bagi saya pemahaman dan keyakinan anda tentang Tuhan sangat rendah, bahkan bisa jadi anda terjerumus tidak ada bedanya dengan konsep tuhannya Karl Marx, materialistik. Yang disebut ada hanya yang tampak ini, materi ini.

Kalau demikian halnya, maka saya tidak terima, Tuhan saya tidak seperti Tuhan anda, karena Tuhan saya tidak sesederhana ”tuhan Allah” anda  itu.

Bagi saya, tuhan Allah yang memang tercantum dalam Al-Quran yang dibawa Rasul saw itu adalah ”nama Tuhan” bukan ”Diri/Dzat Tuhan”. Kita harus membedakan antara ”Nama Tuhan” dan ”Dzat Tuhan” sendiri. Sehingga, sah saja karena saya orang Muslim secara agama lantas anda mengatakan bahwa ”Nama Tuhan” kita memang sama, tapi sejatinya Tuhan kita tidak sama. Secara nurani dan hakekatnya Tuhan kita beda. Sehingga, saya tidak bisa menyebutkan Tuhan saya itu secara bahasa yang sangat sederhana sebagaimana anda. Tuhan menurut nurani saya terlalu suci. Tak terjamah oleh sekedar bahasa saya.

Nama Tuhan
Oke, sekarang saya bahas tentang ”Nama Tuhan” dan ”Dzat Tuhan”. Di sini saya akan menjelaskannya dengan kalimat introgatif untuk anda. Saya, mohon maaf, akan menganalogikakan Tuhan dengan entitas Rokok: pertanyaannya, apakah nama rokok ”Dji Sam Su” yang tercantum di bungkusnya yang anda pakai ngerokok atau ”dzat rokok Dji Sam Su” batangan yang anda pakai? Tentunya siapapun, selama pikirannya normal, pasti dia ngerokok batangan rokok yang ada di dalam bungkus itu, bukan nama yang ada di luar bungkusnya. Bahkan nama dan bungkusnya itu hanya akan dibuang di tempat sampah.

Analogika lain lagi, biar anda lebih paham. Yaitu, siapakah yang disebut anda sebenarnya, ”nama anda”, taruhlah misalnya ”Gufron” , atau dzat diri anda sendiri yang terdiri dari daging tubuh, panca indra, otak pemikiran, dan hati nurani? Ya, tentunya jika anda masih waras, maka anda akan menjawab bahwa sejatinya yang diri anda adalah ”dzat/tubuh anda itu’ yang terdiri dari daging tubuh, panca indra, otak pemikiran, dan hati nurani.

Sebab, anda disebut ada karena entitas dzat anda itu, bukan karena nama anda. Dzat anda lebih dulu adanya dari pada nama anda. Sedangkan nama anda tidak akan ada kalau tidak ada dzat anda. Anda akan tetap ada dengan dzat anda itu meski tanpa nama anda. Dzat anda bisa dinamakan dengan nama apa saja. Dan, Nama anda banyak juga dinamakan kepada dzat selain anda.

Secara sosial, nama anda memang dibutuhkan untuk identitas anda dalam berinteraksi, itupun banyak tubuh orang yang sama namanya dengan nama anda, bukan hanya diri anda seorang. Selain itu, nama anda juga bisa dirubah-rubah, tapi dzat anda tidak bisa dirubah dengan atau kepada dzat yang dinamakan sama dengan nama anda maupun yang namanya beda. Jadi, nama hanya sekedar instrumen atau sarana simbolis pemahaman struktur sosial saja. Tidak lebih.

Tapi, secara individual, personal, atau nurani anda sendiri, anda tidak butuh nama anda, sebab, anda akan tetap merasa ada dengan dzat anda bukan dengan nama anda. Anda tidak butuh manggil diri anda dengan nama anda ketika anda merasa butuh dengan diri anda sendiri. Dan anda akan tetap merasa diri anda ada meski anda tidak bernama.

Jadi, demikian juga dengan Tuhan Allah, atau Yahweh, atau Yesus, God, Gusti Pangeran, dan nama atau sebutan Tuhan dari sudut lainnya, kecuali sudut sejati esensialnya (dzat-Nya). Semuanya sekedar instrumen atau sarana struktur sosial saja. Karena manusia memang di samping hidup secara indidual juga hidup secara sosial. Dan, hidup lebih sejati dengan diri sendiri,  nurani anda, dalam dzat anda. Dan, ini persoalan personal, nurani anda, yang tentunya nurani yang satu dengan yang lainnya berbeda-beda.

Secara sosial, karena saya butuh berinteraksi dengan anda dan lainnya, maka saya memiliki banyak kesamaan dengan anda sesuai dengan macam unsur, hukum, atau sosial  yang ada, termasuk ”nama Tuhan saya”. Tapi, sekali lagi, itu adalah ”nama Tuhan” sebagai instrumen pemahaman dalam interaksi saya, anda, dan yang lainnya semata.

Sehingga bila anda menanyakan Tuhan dalam bahasa individual saya, maka saya tidak akan menjawab, karena itu pribadi saya. Dan, secara pribadi saya tidak sanggup mengungkap Tuhan saya hanya dengan sekedar bahasa saya sebagai manusia ciptaan yang serba terbatas. Tuhan saya tidak sesederhana ruang dan waktu dunia saya. Dia itu tak terjamah oleh dunia saya. Tuhan saya ”unsayable”.

Tuhan Allah Dalam Al-Quran
Lalu, kalau demikian, apakah Rasul atau Al-Quran sebagai firman Tuhan sendiri dalam Islam adalah salah, atau plin plan, atau palsu, atau justru menunjukkan keterbatasan-Nya sendiri karena menamai diri-Nya sendiri dengan Allah sebagai istilah bahasa dunia manusia?

Jawabannya tidak salah, justru itulah salah satu bukti Maha Kebijaksanaan dan Maha Kesempurnaan Tuhan (secara dzat, unsayable). Dia ”Maha Sadar” bahwa hamba-Nya lemah yang hidup secara pribadi dan sosial. Maka, untuk memahamkan ”adanya diri-Nya”, Dia harus masuk ke dalam dunia hamba-Nya yang otomatis memakai bahasa hamba-Nya itu, termasuk menamai dirinya dengan bahasa hamba-Nya.

Sebab, tanpa dengan bahasa itu manusia sebagai ciptaan-Nya yang lemah dan serba terbatas dengan ruang dan waktu ini tak akan pernah memahami dan mengakui keberadaan-Nya. Jadi, nama atau bahasa itu hanya sebagai perantara atau instrumen simbolis agar Dia bisa beriteraksi dengan hamba-hamba-Nya dan hamba-hamba-Nya mengenal dan meyakini-Nya sebagai Tuhan pencipta.

Saya kira sudah cukup jelas dari analogika rokok dan nama anda di atas. Saya kira anda waras, ketika ditanya apakah ”Ghufron” yang diri anda atau entitas dzat tubuh anda yang diri anda? Tentunya tubuh anda itu yang anda akui.

Tapi, jangan-jangan anda mengakui diri anda adalah nama anda ”Ghufron” dari pada dzat tubuh anda, sehingga setiap yang namanya Ghufron adalah diri anda. Kalau masih begitu, lebih mudahnya, coba sekali-kali anda tulis nama anda ”GHUFRON” besar-besar di papan atau kertas. Lalu pikirkan dan renungkan apakah anda adalah nama di papan itu atau anda adalah yang sedang membaca nama di papan itu?

Apalagi Tuhan yang Maha Waras dan Sempurna. Kelak jika anda bertemu dengannya, maka dia tidak akan menyuruh anda menyembah kepada namanya yang tercantum besar-besar di dalam Al-Quran yang dihadirkan di depan anda, tapi menyembah kepada wujud-Nya, yang sekarang entah seperti apa. Wujud itu terlalu Maha Sempurna. Tak terbatas oleh ruang dan waktu ini. Apalagi yang sekedar  tercantum berupa tulisan atau ungkapan material itu. Sungguh, saya tidak bisa membayangkannya apalagi membahasakannya.

Saya adalah Tuhan bagi diri saya Sendiri
Inilah inti persoalannya, kenapa saya bilang demikian. Yang jelas, itu adalah ranah pribadi saya. Itu prinsip saya sendiri yang tidak bisa diotak atik. Sehingga, sebetulnya itu tidak butuh dicampuri atau digugat oleh anda. Apalagi sudah tertulis jelas-jelas sebagai ”prinsip saya”. Dan, saya kira orang akan paham itu.

Kecuali saya mendakwakannya dengan sengaja ke depan publik, atau mendotrin masyarakat dengan pernyataan yang menurut anda bahaya itu, anda boleh menggugat saya. Itupun harus dengan argumen yang logis dan etis.

Tapi, saya tetap tidak menganggapnya sebagai gugatan, melainkan sebagai ”fadzakkir”, anda mengingati saya. Dan, saya memaklumi anda merasa tersinggung dengan posisi yang mungkin merasa Islam sejati atau merasa lebih Islami dari pada saya, sehingga anda melihatnya telah menyinggung agama anda itu, saya maklum itu.

Sebelumnya, saya katakan sekali lagi, secara sosial saya juga Islam seperti anda, sehingga seandainya ada orang yang menyinggung Islam, saya akan lebih tersinggung juga.

Saya membangun prinsip demikian bukan karena saya ingin menyinggung atau menghina Islam. Justru saya nulis demikian karena cinta Islam itu sendiri. Dengan makna filosofis sebagai berikut:

Dalam pernyataan itu, ada makna tersendiri bagi saya. Yaitu, semangat idealis masa depan. Kalau dalam bahasa yang lebih religius bisa disebut doa. Sehingga, dengan sering melihat pernyataan itu, saya tidak malas, saya bangkit. Karena kalau saya malas, maka masa depan saya akan mati. Sebab, masa depan saya tergantung dari semangat dan usaha saya itu. Artinya, sayalah yang menentukan masa depan saya sendiri dari semangat atau usaha saya itu.

Saya yang merubah masa depan saya sendiri, sukses atau tidaknya. Bukankah ini sudah dijelaskan di kitab Islam sendiri, ”Innallahu la yughiru bi qommin hatta yughoiyyru ma bi amfusihim.” Bukankah dengan ayat itu Tuhan yang Maha Tak Terbatas mengajari kita untuk bertindak dengan unsur-unsur ketuhanan-Nya, yaitu merubah, mencipta, dan menentukan?

Sebetulnya, itu sangat jelas sekali menunjukkan kepada manusia bahwa ada unsur-unsur ketuhanan dalam diri mereka. Tidak cukup itu, Tuhan juga menjelaskan dalam hadist Rasulnya, ”Aku ada pada pandangan hamba-Ku kepada-Ku”. Kalau kita mau menelaah serius firman ini, maka sangat amat jelas Tuhan menegaskan bahwa nasib seorang hamba-Nya tergantung bagaimana dirinya memandang Tuhannya untuk kehidupannya.

Kalau dia memandang Tuhan kaya maka dia akan kaya; kalau dia memandang Tuhan Miskin maka dia miskin; jika dia memandang Tuhannya jahat maka dia akan apes; Bila dia memandang Tuhannya lemah maka dia akan lemah.

Lebih gamblang lagi, kalau manusia menganggap dirinya sukses maka dia akan sukses, tapi kalau dia memandang dirinya gagal maka akan gagal. Sama halnya, anda menghina diri anda sendiri berarti anda halnya menghina pencipta diri anda, Tuhan anda.

Selain itu, mengenai unsur-unsur ketuhanan ini juga diperkuat dalam banyak ayat lain, diantaranya, ”Kemudian Dia menyempurnakan dan meniupkan ke dalam (tubuh) nya roh-Nya dan Dia menjadikan bagi kamu pendenganran, penglihatan, dan hati; (tetapi) kamu sedikit sekali bersyukur”. (QS, As-Sajdah: 9)

Pasalnya, manusia adalah ciptaan Tuhan yang memiliki beberapa unsur dari ketuhanan. Yaitu, roh yang termanifestasi dalam kehidupan ini berupa berusaha, semangat merubah, memilih, menetapkan, dan mau dibawa ke mana hidupnya. Itulah potensi-potensi yang diberi Tuhan sebagai bekal dalam hidup ini, dalam mengemban misi dan visi penciptaannya sebagai  hamba-Nya dan sebagai kholifah-Nya untuk memakmurkan semesta ini.

Dari semua itu, akhirnya saya memhasa lainkan: manusia adalah tuhan-tuhan kecil bagi dirinya sendiri yang terbatas pada ruang dan waktu; dia memiliki unsur ketuhanan untuk mengubah atau menentukan nasibnya sendiri, tapi tetap di bawah kekuasaan Tuhan yang Maha Tak Terbatas itu. Yang bagi saya Dia unsayable.

Cukuplah di sini argumen saya. sekali lagi, perlu anda pahami ini argumen saya yang termanifestasi dalam prinsip saya ”Saya adalah Tuhan bagi diri saya sendiri” di atas. Untuk saya sendiri bukan untuk anda dan lainnya. Begitu juga anda mesti punya argumen lain tentang Tuhan itu, meski secara sosial agama ”nama Tuhan” kita sama. Anda jangan menjadi diri saya, dan saya tidak akan pernah menjadi diri anda secara esensial.

Salahnya saya, saya menulis prinsip pribadi ini di media massa ini. Yang sebetulnya masalah pribadi, apalagi, yang terlalu sensitif kayak itu, tidak patut ditulis sembarangan melainkan cukup dalam ranah pribadi juga (nurani), tak perlu diungkap apalagi didotrinkan.

Pikiran saya saat menulis itu, saya menyangka bahwa orang yang akan mengunjungi media ini (situs ini) cuma orang yang akademis atau paling tidak berpendidikan, sehingga saya pikir akan bisa membedakan mana yang ranah sosial umum yang perlu dikaji dan mana yang ranah pribadi yang tak perlu dicampuri. Sekaligus, tidak mudah terkecoh dengan hanya catatan-catatan atau ungkapan begitu saja.

Tapi, ternyata ada manusia awam juga yang bisa membuka media ini. Dan menariknya lagi sudah bisa cukup kritis, sehingga sampai-sampai persoalan pribadi dikritisi karena saking fanatisnya terhadap suatu pandangan atau keyakinan. Tidak cukup itu, timbullah ego ketersinggungan atau pembelaan. Inilah mungkin salah satu bukti derasnya perkembangan kecanggihan peradaban manusia. Dan, sungguh, saya salut kepada anda-anda yang kritis, dengan adanya orang kayak anda peradaban ini insaallah akan makin bagus dan indah.

Oy, khusus bagi yang gelisah tentang prinsip saya di atas, kalau boleh saya menyumbang pemikiran, jadilah Muslim sejati yang menyandarkan segalanya hanya kepada kitab suci Al-Quran dan Al-Hadist, bukan kepada syair-syair simbolis yang tak jelas di atas. Itu pun tak jelas siapa sastrawannya. Jangan-jangan anda yang sok sastrawan. Ini lebih jelas, afdhol, logis, dan Islami.

Bukankah Al-Quran dan Al-Hadist adalah kitab suci anda sebagai Muslim? Saya meski diklaim oleh anda liar atau bahkan tersesat dalam belantara filsafat, atau juga diklaim hanya namanya yang Islami, saya masih yakin itu adalah kitab saya. Kitab suci sebagai sarana saya yang serba terbatas dalam berdialog dengan Tuhan yang, sungguh, tak terjangkau ada-Nya dengan sekedar bahasa atau dunia saya. Karena hanya dengan kitab itu saya memahami adanya Tuhan yang Maha Tak Terbatas dalam dunia saya yang penuh keterbatasan ini.

Kemudian Usulan saya, mari kita ga’ usah ngurus lagi tentang Tuhan orang. Itu sudah ada di dalam nurani masing-masing. Percuma saja ngurus Dia seperti ini, tah dia tenang-tenang saja di singgasana-Nya sana, entah di mana.

Yang jelas, dia akan lebih bahagia kalau kita ngurus peradaban kita saja yang serba lemah dan terbatas ini sehingga memang perlu diurus lebih; bagaimana kita berkembang dan hidup bahagia di dunia dan kelak di akherat. Mewujudkan segala misi dan visi yang telah diembankan kepada kita oleh-Nya; mari kita ngurus orang-orang miskin saja, orang orang yang kelaparan, yatim piatu, orang yang putus sekolah, orang yang penyakitan tak punya biaya berobat, anak-anak yang terputus sekolah gara-gara tak punya biaya, orang yang diamnya di kolom-kolom jembatan. Saya kira, itulah yang membuat Tuhan lebih bahagia dan mencintai kita.

Serta, Dia akan betul-betul murka ketika kita hanya bisa melulu mengurus-Nya, bahkan geger hanya karena persoalan tentangnya; rebutan yang paling benar, merasa paling membela Tuhan, merasa paling dekat dengan Tuhan, sedangkan di sekitar kita saudara kita menderita kekurangan. Astagfirullah.

Akhirnya, Mohon maaf dan terima kasih. Salam berkarya. Serta, Cinta Tuhan dan Kemanusiaan selalu. Selebihnya, Tuhan yang unsayable lebih tahu segalanya.

28 November 2009 M

Tidak ada komentar:

Posting Komentar