Jumat, November 20, 2009

Menduga, Watak Pengetahuan Manusia


Sebetulnya hujan malam ini (20/11/2009) bukan hujan perdana di tempat ini (Prenduan). Sebab ada hujan yang sebelumnya turun, hanya saja rintik-ritik kecil meski awan gelap menggumpal seakan di atas kepala diikuti dengan petir keras yang menyala-nyala.

Minggu terakhir ini hampir tiap hari sinar mentari tertutupi awan gelap menggumpal (mendung) pertanda akan turunnya hujan yang besar. Tapi hujan yang turun mayoritas tiap hari hanya rintik-rintik. Kecuali hari ini yang lumayan besar, meski hujannya bukan pas pada saat mendung melainkan setelah suasana langitnya agak cerah. Sama-sama luput perkiraan.

Yang sebelum-sebelumnya sering mendung sangat pekat yang secara rasio akan datang hujan tapi justru tidak datang. Yang selanjutnya hujan, cuma tidak seimbang dengan kepekatan mendungnya yang menggumpal. Secara logika akan hujan deras tapi ternyata rintik-rintik.

Dan, yang terakhir malam ini, turun hujan deras sesuai dengan kondisi mendungnya hanya saja tidak tepat waktunya. Mendungnya siang hari sehingga secara perkiraan logika hujan derasnya pasti jatuh siang hari, eh ternyata jatuhnya malam hari setelah kondisi awan sudah agak cerah.

Inilah contoh jelas perkiraan pandangan, akal pikiran manusia, atau pengetahuan manusia. Ilmu pengetahuan manusia sifatnya hanya memperkirakan, menduga, coba-coba, dan bisa juga disebut ramalan, meski term ramalan sering dilekatkan pada aktifitas khusus seperti ramalan nasib, ramalan pekerjaan, ramalan jodoh, dan sejenisnya. Sedangkan pengetahuan lebih bersifat eksperimen, analisa, dan penelitian. Tapi semuanya tetap saja bisa dikatakan ramalan yang sama-sama belum tentu kebenarannya.

Pada tahun 1543 Astronomi Copernicus mengubah pandangan sebelumnya tentang pusat alam semesta. Sebelumnya, pengetahuan manusia memutuskan bahwa pusat alam semesta adalah bumi, tapi penelitian Copernikus menemukan bahwa ternyata mataharilah yang menjadi pusat semesta. Dan, Galileo yang menemukan bumi itu bulat, padahal pengetahuan sebelumnya bumi dipandang datar.

Ilmu pengetahuan hanya bisa mengindikasikan ramalan atau dugaan kebenaran. Bisa benar atau salah; bisa tepat atau luput; atau benar tapi hanya sementara; atau benar tapi sebagianya saja; atau benar tapi suatu saat tertentu; dan, bahkan salah total.

Akhirnya dapat dikatakan, sepanjang berada pada ranah manusia, kebenaran itu relatif. Kebenaran ilmu pengetahuan atau pemikiran manusia itu tidak ubahnya tebak-tebakkan, bisa tepat, bisa luput, bisa benar, bisa salah, dan berubah. Kecuali kebenaran yang Maha Tak Terhingga dan Tak Terbahasa (unsayable). Dialah Tuhan pencipta alam semesta ini. Pencipta kebenaran yang mutlaq.

Maka, sangat amat tidak pantas sekali ada manusia, mendedikasikan dirinya sebagai yang membawa kebenaran, atau menemukan kebenaran tunggal tak bisa disangkal, atau bahkan merasa benar sendiri, orang lain harus mengekor diri.

Sungguh, Al-Ghozali adalah contoh ilmuwan sejati, dia berujar, ”Pendapat dia salah tapi bisa jadi ada benarnya. Dan, pendapat saya benar tapi bisa jadi ada salahnya”. Sebuah sistem pemikiran manusia yang sejati, yang demokratis, yang betul-betul manusiawi, sekaligus islami.

20 November 2009 M

Tidak ada komentar:

Posting Komentar