Jumat, November 06, 2009

Merantau


“Saafir tajid iwadlon an man tufaariquhu, fanshob fa inna ladziiddzal aisyi fin nashobi”
“Merantaulah kamu, niscaya kamu akan menemukan ganti dari apa yang kamu tinggalkan, dan bersemangatlah (optimis) karena sesungguhnya nikmatnya hidup ada pada semangat itu."

Kalau boleh dibilang, orang-orang di negri kita ini, Indonesia, banyak yang merantau ke luar negri, sampai-sampai teman saya di kampus bilang bahwa negri kita ini tukang pengimpor buruh ke luar negri, TKI dan juga ada yang disebut TKW.

Saudara-sauadara saya di desa, seperti paman atau bibik dan tetangga-tenggga banyak yang ada di luar negri, bekerja di sana, katanya cari penghasilan.

Sangat kompleks sekali pemikiran tentang tenaga kerja ini, sering kita dengar dan pandang fenomena-fenomena tenaga kerja yang tidak mengasikkan, misalnya TKW di perkosa, disiksa, dibunuh, pulangnya tiba-tiba yang sampai hanya mayatnya, juga ada yang menghilang tanpa kabar, atau juga ada TKI yang selingkuh ga pulang-pulang, menjual diri, dan sebagainya. Meski demikian, tidak membuat mereka jera bekerja di luar negri.

Fenomena tersebut juga disaksikan oleh pemerintah, bahkan kerapkali terjadi pertengkaran antara pemerintahan kita dengan pemerintahan luar negri, gara-gara TKI kita yang disiksa.

Di sisi lain, mungkin banyak orang yang menganggap, mereka tidak berpikiran normal, karena masih tetap saja pergi ke luar negri untuk mencari perkerjaan.

Bagi saya, mereka normal-normal saja, bahkan sikap pilihan mereka itu menunjukkan kenormalan mereka, kedewasaan mereka, kesadaran mereka sebagai manusia yang bertanggung jawab dalam hidup ini.

Salah satu bukti kedewasaan dan rasionalisasi mereka, mereka mencari pekerjaan di negri orang adalah karena di negri mereka, mereka hidup kesulitan gara-gara tidak ada akses untuk berpenghasilan, mereka mengalami kesempitan di daerahnya sendiri.

Lalu, apa boleh buat, sedang anak-istri kelaparan, tidak ada yang mau dimakan tiap hari, kerja ini dan itu tidak berhasil, tengak-tenguk di sana sini tidak bisa memenuhi kebutuhannya. Merantaulah akhirnya. Mereka pergi ke negri-negri yang memang diyakini secara rasio dan nurani mereka dapat memenuhi kebutuhan keluarga mereka.

Ini adalah kenyataan, mereka karena kesulitan di negri atau daerahnya sendiri, tidak ada jalan lagi kecuali merantau tersebut. Akhirnya, apakah kita masih ngotot menyalahkan mereka, atau menggilakan mereka?

Sekaliber ulama Imam Syafi’i pun, merasionalkan mereka, bahkan menyarankan mereka harus demikian, sebagaiamana yang tersurat pada syairnya di atas. Dengan demikian, sejatinya para, yang biasa kita sebut dengan, buruh itu adalah mulya di sisi Tuhan sekaligus manusia. Justru, merekalah yang memiliki kesadaran tinggi sebagai manusia yang memiliki rasa tanggung jawab di muka bumi ini.

Bahasa idealnya, mereka sadar bahwa mereka adalah kholifah di alam semesta ini. Selain itu, menunjukkan bahwa mereka betul-betul lebih rasional menghadapi hidup ini, mereka mengerti dan memahami nasib yang dijalani. Kita patut berbangga pada mereka sebagai pejuang-pejuang sejati kehidupan.

Hanya saja, ada persoalan lain, yang justru, membuat komnitas mereka tervonis buruk, yaitu mereka yang merantau keluar negri bukan karena motif perjuangan hidup, tapi hanya karena ingin, justru, lari dari tanggung jawab, pengecut, mereka yang inginnya main-main, hidup enak-enak, hedonis, bebas, mereka yang menjadi penjahat di negri orang, mereka yang tidak pulang-pulang, mereka yang jarang mengirimi uang, lupa keluarga, dan mereka yang menggunakan kesempatan dalam kesempitan, menjual diri atau selingkuh. Merekalah Pencoreng wajah dan komunitasnya sendiri. Sehingga, mereka itulah yang pantas kita sesali, sekaligus mungkin, kita anggap gila.

Saya punya teman perempuan, cantiq dan dewasa. Konon, dia merantau keluar negri, gara-gara kedua orang tuanya broken home. tidak ada yang merawatnya sejak kecil. Orang tuanya tak hirau semua karena masalah hidupnya. Dia jatuh miskin. Dan, akhirnya ikut merantau salah satu sanak familinya ke negri tetangga, sampai sekarang ga’ pulang-pulang.

Dia menulis dalam onlinenya,”kak, saya bekerja di negri orang mulai kecil demi masa depanku dan demi kebahagiaan orang tuaku. Sekaligus, suamiku kelak, biar tidak sengsara beristri aku meski dia berasal dari miskin papa, agar tidak seperti aku sebelum ini, penuh sengsara. Aku juga ingin hidup bahagia ka…”, adunya.

Membacanya, aku menangis. Dia betul-betul pejuang sejati, yang gigih, yang sejatinya lebih futuristik, membangun masa depan dengan kekuatan pendirian dan penuh keyakinan. Sekolah ditinggalkan, hura-hura muda tak dihiraukan. Saya berpikir, padahal kalau kita lihat fenomena pemuda-pemudi sekarang, luar biasa anehnya, pergaulan bebas, selalu ingin enak-enak, hedonis.

Aku salut kepadanya, bagiku dia pahlawan sejati kehidupan, aku merasa kalah. Aku yakin, dia pasti bahagaia. Jangan pernah menyerah wahai saudariku, teruskan perjuanganmu sampai titik nadimu.Pada tubuhmu terpencar sinar yang begitu memukau dunia. Juga bagi para TKI, TKW lain yang senasib dengannya.

Terakhir kali, saudara-saudariku semua, kalian bukan orang miskin dan bukan orang hina, kalian adalah kaya raya, kaya raya, dan karya raya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar