Senin, November 23, 2009

Pekerjaan yang diilmui


Saya sebetulnya tidak enak, duduk-duduk santai  di atas kursi sambil menontonnya. Tapi bagaimana lagi, mau duduk di mana dan mau lihat-lihat apa selain menungguinya yang otomatis sambil melihatnya.

Saya dan seorang teman sedang memandikan sepeda motor yang saya pinjam dari teman saya. Sangat amat kotor jarang dmandikan. Seandainya saya disuruh mandikan sendiri, saya tidak mampu. Saking amat kotornya sehingga kotorannya sudah amat kuat menempel di seluruh onderdelnya.

Akhirnya, melihat sepeda bagus tapi tidak enak dan eman dipandang, saya memandikannya melaui jasa tukang memandikan sepeda motor. Biar enak dan seger dipakai. Tanpa niatan ingin dipuja oleh sang pemilik sama sekali agar mudah dipinjami lagi.

Namanya tukang jasa resmi, meski amat kotor pasti diusahakan menjadi mengkilat. Sebab, jika tidak maksimal pelayanannya, maka orang yang menggunakan jasanya tidak akan kembali lagi. Jadi, pasti bagus meski kotorannya amat repot dibersihkan.

Disaat menunggui pemandian itu, saya teringat pada fenomena para pembantu rumah tangga saat memandikan sepeda motor atau mobil para majikannya Mereka adalah pembantu yang bekerja di bawah perintah tuan-tuannya. Namanya pembantu, dia tidak merdeka. Dia melakukan apa maunya tuannya. Dia berada di bawah otoritas tuannya. Tuannya yang memegang kehidupannya, paling tidak ekonominya. Hidupnya tergantung dari tuannya.

Bahkan, konon, kita sering dengar para TKI atau TKW kita di luar negri sering diperlakukan semena-mena oleh majikannya. Ada yang disiksa dan ada yang diperkosa, bahkan ada yang hanya pulang jasadnya ke Indonesia.

Sejatinya, berprofesi sebagai pembantu, itu adalah bagian dari pada cara atau pekerjaan mencari nafkah hidup. Banyak macam cara mencari nafkah, ada yang berdagang, ada yang tukang becak, ada yang bertani, ada yang jadi lawak, dan ada yang jadi pengemis. Hanya saja bentuknya berbeda sesuai dengan potensi yang dimiliki masing-maisng diri individu. Bagaimana masing-masing menggunakan potensinya itu.

Pembantu yang berpendidikan lain dari pada pembantu amatiran yang biasanya ada di rumah-rumah tangga atau di kebun-kebun. Dino Patti Djalal adalah seorang pembantu tapi pembantunya presiden SBY dalam melaksanakan tugas-tugas ekskutifnya. Untuk menjadi pembantu seperti ini membutuhkan biaya, keseriusan, perjuangan dalam sekolah yang tinggi.

Bahkan, seorang kiai juga mengistilahkan dirinya sebagai pembantu (al-khodim). Pembantunya masyarakat dan para santri. Karena dia mengemban tugas melayani para santri dan masyarakat dalam pendidikan dan mengabdi kepada Tuhan.

Sedangkan tukang memandikan sepeda di atas adalah pembantu yang diformat sedemikian mungkin. Melayani jasa memandikan sepeda motor dan mobil. Dengan harapan bayaran uang. Sehingga dia bukan berarti pembantu sembarangan yang terserah sang tuan. Tak dibayar dia tak akan melayani jasa itu.

Makanya, meski profesinya sebagai pembantu, melayani orang berupa jasa memandikan sepeda motor, dia masih memiliki kebebasan dan kemerdekaan. Sang pemilik sepeda tidak bisa seenaknya saja bersikap kepadanya, apalagi tak membayarnya. Inilah mungkin yang disebut pembantu dengan ilmu. Jasa pemandian sepeda yang kreatif

Sehingga sejatinya, dia lebih kaya dan lebih bergaya dari pada saya. Dia memiliki perusahaan pelayaan jasa dan punya karyawan, meski secara aktifitas profesinya sebagai  tukang bersih sepeda saya atau dia yang melayani saya memandikan sepeda.

Sedangkan saya sendiri sejatinya secara profese mungkin lebih rendah dari padanya. Saya tidak sekreatif dia. Saya juga tidak memiliki sepeda. Sepedanya cuma pinjaman. Saya miskin, tak memiliki perusahaan apapun. Hanya gayanya saja saat itu sebagai orang yang dilayani, yang tinggal duduk-duduk santai di atas kursi melihat sepedanya ada yang memandikan. Kayak seorang bos yang tinggal memerintah.

Ini menjadi bukti bahwa apapun, lebih-lebih profesi, yang didasari dengan ilmu akan membuat seseorang memiliki kedudukan yang berharga dan bernilai di mata orang lain, tidak terhina.

Yang sangat amat disayangkan adalah mereka yang meremehkan ilmu. Orang yang meremehkan ilmu bukan berarti  yang tidak mampu sekolah secara materi atau biaya. Tapi orang yang memiliki peluang dan kesempatan dhohir bathin, badan dan akal sehat, namun tidak punya kesadaran, semangat atau ghirah mencari ilmu.

Sebab, ilmu tidak hanya berupa sekolah yang membutuhkan biaya material, tapi ilmu ada di mana-mana. Yang dapat ditangkap hanya oleh orang-orang yang sadar dan serius terhadap ilmu.

Dan lebih parah lagi, mereka  yang sudah memiliki ilmu tapi tidak diamalkannya. Sehingga, terjadilah fenomena yang memperagakan sarjana jadi pengangguran. Yang belakangan ini ikut antri menambah stok penyakit akut di negri kita ini.

23 November 2009 M

Tidak ada komentar:

Posting Komentar