Senin, November 30, 2009

Pucuk Mata Perenungan


Aku membaca puisi-puisinya D. Zawawi Imron
Hatiku menjadi mengembara ke mana-mana
Sampai tiba di sebuah pojok perenungan
Yang menyesakkan dadaku sendiria

Aku  menangis sesenggukan
Makin lama makin menjadi
Bukan karena aku miskin
Bukan karena aku putus cinta

Terlihat pucuk mata yang amat luas membentang
Tapi makin lama makin menyempit
Menjelma kegelapan dan kebuntuan
Sedang aku sendiri menoleh samping kana kiri
Mencari seberkas cahaya

Akhirnya aku menabrak pojok perenungan lain
Lalu aku mendengar bisikan
Kenapa aku tidak mempersiapkan bekal lapar
Paling tidak bermain dengan puisi
Seperti sang Zawawi yang tersenyum
Di kibaran bendera Siwalan
Damai memandang semesta

Prenduan, 29 November 2009 M

Tidak ada komentar:

Posting Komentar