Kamis, November 26, 2009

Santet, Orang Kaya Mati


Sakitnya cukup lumayan lama. Tapi dia sakit bukan karena tua. Juga bukan nyakit (pura-pura sakit). Seperti orang yang pura-pura sakit karena ingin lari dari tanggung jawab alias malas tak mau bekerja. Sakitnya betul-betul serius.

Selain serius juga aneh. Anehnya, konon, kalau dibawa ke rumah sakit sembuh tapi setelah pulang ke rumahnya kambuh. Begitu tiap saat. Bolak-balik ke rumah sakit. Diam di rumah sakit tidak mungkin karena sudah sembuh, tapi setelah pulang kambuh lagi.

Kambuhnya juga aneh. Waktunya yang aneh gejalanya juga aneh. Biasanya, kambuhnya pas orang lain sedang enak-enaknya tidur. Jam dua dini hari secara tiba-tiba tak disangka-sangka, serentak kejang-kejang.

Karena serba aneh penyebabnya juga tidak pasti. Pihak medis memutuskan penyakitnya kanker jantung. Tapi menurut para normal, tradisional, atau sebutlah secara mistis, katanya penyakit kiriman dari orang. Mereka menyebutnya dengan santet atau ilmu hitam. Lebih unik lagi, dari pihak spiritual menyatakan bahwa penyakitnya adalah adzab atau balasan dari perilakunya yang mungkin buruk atau penuh dosa sehingga Tuhan mengadabnya dengan penyakit itu.

Entah, saya tidak bisa memutuskan. Sebab, segala sesuatu pasti akan berbeda kalau sudut pandangnya berbeda. Sehingga, benar menurut sudut pandanya masing-masing. Secara medis benar untuknya. Secara mistis benar juga untuknya. Secara spritual juga benar untuknya. Semuanya memiliki sandaran hukum atau nilai tersendiri.

Medis sandarannya analisa dan diagnosa ilmiyah. Dan penyembuhannya, ya tentunya masuk rumah sakit dan ditangani oleh dokter spesialisnya sesuai dengan gejala dan jenis penyakitnya.

Mistis sandarannya kekuatan batin tertentu dan pengalaman. Nah, yang ini agak unik dan tidak semua orang percaya, apalagi orang modern. Seperti halnya, entah apa saya yang tidak tahu, bahwa sampai sekarang saya belum pernah dengar di Amerika atau di Jerman istilah penyakit ini. Apakah ada tapi saya tidak mendengarnya atau dengan istilah lain, atau juga ada seperti di Indonesia ini.

Di film-filmnya saja tidak ada istilah-istilah itu. Film bangsa Barat kebanyakan terkait dengan perkembangan teknologi atau sains, seperti kecanggihan bom, strategi perang, tembak, pesawat, angkasa, penelitian, dan sejenisnya. Lain dengan di Indonesia seperti, Misteri Ilahi, Nenek Lampir, Jaka Sembung, Tali Pocong, Hantu Ambulan, dan sejenisnya.

Tapi, ini betul-betul nyata, sebab terbukti ada penyakit tertentu yang memang di luar diagnosa medis atau ilmiah. Menurut diagnosa medis sudah sembuh total dan boleh dibawa pulang, eh nyampai di rumahnya malah tambah akut. Demikian terulang-ulang sampai meninggal dunia.

Terkait dengan penyakit aneh ini saya teringat kepada penyakitnya ibu saya sepuluh tahunan silam. Sungguh, waktu itu saya tidak habis pikir, penyakit ibu saya betul-betul aneh di luar akal normal. Kalau sudah datang penyakitmya, tiba-tiba ibu saya perutnya membesar dan teriak-teriak ditambah kulit seluruh badannya seakan-akan terbakar. Medis tidak mampu mendiagnosanya. Sebab, tiba-tiba datang dan tiba-tiba hilang.

Peyembuhannya tidak bisa ke dokter, tapi ke orang-orang tertentu yang memiki kekuatan batin yang mampu memahami dan menyembuhkan penyakit jenis ini. Meski pada waktu itu, banyak orang yang sok dukun dan sok sakti menggunakan momen penyakit ibu saya itu untuk mengeruk keuntungan uang sebesar-besarnya. Yang namanya orang pingin sembuh, dimintai uang mahal, ya nuruti saja.

Dan yang ketiga, sebagai penyakit gejala spritual. Sandarannya tentunya keyakinan ajaran agama atau kitab suci. Seperti ada ajaran, segala dosa akan kembali kepada dirinya sendiri; atau barang siapa yang menyakiti orang lain akan tersakiti sendiri; setiap amal perbuatan pasti ada imbalannya, baik atau buruknya, dan sejenisnya.

Penyembuhannya, ya dengan memperbanyak mohon ampunan kepada Tuhan dan beramal saleh kepada sesama manusia dan sekitarnya. Juga ada ajaran bahwa bersodaqah dapat mencegah dari bala musibah.

Nah, setiap penyakit dari sudut masing-masing sudut itu biasanya bertentangan. Tidak ada titik temunya. Bagi medis penyakit mistis tidak masuk akal. Begitu juga penyakit medis bagi mistis sia-sia belaka.

Yang jelas, semua penyakit sekaligus kesembuhannya berasal dari Tuhan dengan cara, bentuk, dan solusinya masing-masing, termasuk tiga jenis penyakit di atas. Tapi, semua itu juga dipengaruhi oleh manusianya sendiri. Hal ini dalam agama disebut sunnatullah, atau ajaran-ajaran yang tersebut di atas. Dalam dunia ilmiah disebut hukum sebab akibat. Dan dalam bahasa mistis disebut hukum karma.

Di samping semua itu, kematian seseorang menjadi bagian hal yang misterius selain rizki dan jodoh. Artinya, di mana, kapan, dan bagaimana manusia mati itu tidak ada yag tahu. Yang tahu cuma Tuhan. Sehingga, bagaimana pun parahnya penyakitnya, canggihnya diagnosa medisnya, hebatnya santetnya, tapi Tuhan tak berkenan untuk sembuh atau mati, tidak akan sembuh atau tidak akan mati juga.

Saya teringat sebuah Hadist ketika diajari oleh seorang Ustadz ahli hadist, bahwa harta yang dimiliki manusia dalam hidup ini ada tiga hal. Pertama, apa yang di makan seperti nasi dan buah-buahan. Ini akan habis ketika hanya sampai di tenggorakan saja. Kedua, apa yang dipakai sekitarnya, seperti baju, mobil, istri, rumah, tanah, dan uang. Ini akan habis saat sampai di atas kuburan saja (mati). Dan yang ketiga, apa yang diperbuat, seperti suka bersedekah, suka menolong, kasih sayang, atau amal soleh dan amal buruk. Nah, inilah yang lebih abadi dibawa sampai ke dalam kubur. Kalau baik amalnya berarti selamat, tapi kalau buruk akan menderita.

Nah, inilah yang harus dipikirkan oleh manusia. Harus bagaimana kita sebelum mati. Persiapan untuk mati. Sekiranya tidak menderita ketika dan setelah mati. Bukan memikirkan bagaimana, kapan, dan di mana mati. Apalagi merasa tidak akan mati. Sebab, siapapun itu betul-betul akan merasakan maut itu. Orang miskin, yang kaya raya, yang ganteng, yang jelek, kiaianya, presidennya, dokternya, dukunnya, artisnya, bahkan malaikat pencabut nyawa pun akan mati.

26 November  2009 M

Tidak ada komentar:

Posting Komentar