Sabtu, November 14, 2009

Tarekatnya Julia Peres

Saya pernah membaca kabar di sebuah media massa online (Kapan Lagi, entah tanggalnya saya lupa). Sangat menarik bagi saya. Tertulis ungkapan artis tenar Julia Peres bahwa dia akan tetap mempertahankan posisinya sebagai seorang promotor iklan kondom sampai kapanpun, meski banyak pihak yang menggugat sosialisasi iklan tersebut sebagai ajang porno atau maksiat.

Ungkapan demikian, karena dia yakin bahwa apa yang menjadi pilihannya itu adalah kebenaran dan kebaikan baginya. Dia berniat, demi menyelamatkan umat manusia dari penyakit HIV/AIDS dan mengajak mesyarakat agar berhubungan intim (bersetubuh) yang sehat.

Kalau dikaitkan dengan firman Tuhan, "Kullun ya’ malu ala syaakilatihi". Artinya, kalau boleh saya tafsirkan, segala ciptaan Tuhan baik manusia, binatang, tumbuhan, maupun benda mati, mencari dan menegakkan kebenaran, atau mengabdi kepada Tuhannya dengan caranya sendiri sesuai dengan potensi yang dimiliki. 

Dengan demikian, maka aktifitas JUPE dalam iklan kondom tersebut bisa dimasukkan sebagai jalan atau cara dia menegakkan kebaikan atau kebenaran yang sesuai dengan potensi dirinya sendiri.

Para kiai menegakkan kebenaran dan mengabdi kepada Tuhan dengan taushiyah taushiyahnya, para pemimpin dengan keadilannya, para guru dengan pengajarannya, para santri dengan ngajinya, para tukang becak dengan ayunan kakinya, serta samudra dengan gelombangnya, burung-burung dengan kicauannya, sedangkan Julia peres di atas dengan aktifitasnya tersebut, sebagai promotor dalam iklan kondom, sekaligus tampil panggung dengan gaya buka-bukaan. Sementara sampai di sini ini mungkin sah-sah saja.

Pada intinya, tiap makhluq Tuhan dalam hidup ini berdzikir kepada-Nya dengan caranya sendiri sesuai dengan potensi yang dimiliki.

Terkait dengan hal ini, dalam kitab klasik, Minhajul Abidin, para ulama sepakat  memahami tarekat (thariqah) sebagai jalan (sabilun) atau pintu (babun) menuju Tuhan. Dan mereka sepakat merumuskan tarekat atau jalan itu menjadi empat macam. Pertama, duduk diantara manusia dan menunjukkan mereka kepada jalan yang lurus. Ini maksudnya, dalam bahasa sekarang, menjadi guru, pengajar, ustadz, dosen, kiai, dan sejenisnya.

Kedua, memperbanyak wiridan (dzikir) atau amalan-amalan ibadah formal lainnya, seperti banyak berdzikir dan puasa. Yang termasuk tarekat ini adalah tarekat-tarekat formal yang banyak kita kenal, misalnya Tarekat Tijaniyah, Naqsyabandiyah, dan sejenisnya.

Ketiga, menjadi khodimnya ahli fikih. Maksudnya, menjadi pembantunya para ahli agama. Seperti membantu kiai, guru, dan sejenisnya. Orang Madura mengenalnya dengan kabuleh atau khoddam. Maka jangan heran ketika ada sebuah keyakinan bahwa menjadi kabuleh seorang kiai akan mendapatkan barokah atau keajaiban tersendiri. Biasanya meski orang itu tidak sekolah dia akan pinter sendiri (ilmu ladunni).

Keempat, membawa kayu dari hutan sebagai sumber nafkah keluarga. Artinya, ini adalah gambaran tentang bekerja mencari nafkah yang halal demi keluarga.

Dari keterangan di atas, sungguh Tuhan begitu Maha Adil. Dia memperluas jalan-jalan menuju kepada-Nya. Terserah hamba-Nya mau milih yang mana. Tidak ada seseorang dan sesuatu apapun yang tidak memiliki jalan menuju Tuhan. Semuanya sudah disediakan jalannya.

Jalan atau tarekat tersebut gamblangnya adalah potensi atau kelebihan yang ada pada diri seseorang atau sesuatu. Oleh Karena itu, tidak ada manusia yang tidak memiliki kelebihan atau potensi diri itu.

Selain itu, dengan kelebihan dan potensi itu manusia dapat mempertahankan hidupnya di dunia ini, yang akhirnya dapat menuju Tuhan tadi. 

Dari semua itu, mungkin kita akan bertanya, lalu tarekat kita yang mana. Jawabannya, ada pada nurani masing-masing. Paling tidak, kita harus bertanya secara mendasar dulu tentang diri kita, apa kelebihan atau potensi kita; ahli ngajar, ahli nulis, ahli bisnis, atau mungkin ahli mencangkul (petani). Jangan ada yang keder, semuanya sama di depan Tuhan. Yang penting serius dengan jalan atau potensi yang dimiliki, alias ikhlas.

Dan, saya tidak tahu apakah kelebihan atau keyakinan JUPE dan kawan-kawannya sesama artis yang sealiran bisa dimasukkan ke dalam bagian tarekat tersebut. Atau, mungkin ada cara baru yang belum terdeteksi oleh para ulama klasik karena mereka hidup di zaman klasik yang tentunya sudah jauh berbeda dengan zaman sekarang. Atau, mungkin masuk kepada apa yang marak disebut dengan tarekat modern atau tarekat kontemporer?

Entahlah, saya menjadi bertanya-tanya, apakah Tuhan menerima goyangan atau tampil buka-bukaannya para artis yang belakangan makin marak dan menjadi kebanggaan hiburan banyak media massa, seperti banyak dari kita yang suka melotot kalau ada penampilan demikian.

 Saya kira, Tuhan maha bijaksana dan suci. Dan kesucian itu, bagi pemahaman saya, tidak bisa dicampur dengan hal-hal yang najis. Yang suci tetaplah suci dan yang najis tetaplah najis. Yang jelas, ”Naashiril haqqi bil haqqi”, demikian tertulis dalam Salawat Fatih.


(MOHON MAAF GAMBAR DI ATAS BUKAN KOLEKSI ATAU UMBAR MAKSIAT, TAPI SEKEDAR SEBAGAI DATA ILMIYA)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar