Rabu, November 18, 2009

Tukang Becak dan Jalan Raya

Terus sekarang, saya selalu ingat suara nafasnya yang ngos-ngosan. Dia adalah tukang becak yang saya tumpangi dengan dua orang teman sewaktu saya jalan-jalan menelusuri jalan raya depan kampus pesantren mencari sebuah warung nasi.

Maklum nafasnya tersengal-sengal mengayuh becaknya karena selain yang menumpanginya semuanya tiga orang, beratnya diluar kapasitas kenormalan, juga karena jalan rayanya yang benjol-benjol dan bolong-bolong tak karuan. Padahal itu jalan raya kabupaten.
Sebetulnya, kami mau memesan dua becak mengingat badan kami yang lumayan besar-besar sehingga tukang becaknya tidak kuat mengayuh. Apa boleh buat, tukang becaknya malah menyatukan kami dalam satu becaknya sehingga becaknya harus memuat beban terlalu berat. Dengan alasan biar upahnya tambah berat juga (banyak). Akhirnya, saya kasihan lalu menurutinya meski saya juga sempat sial karena harus duduk dengan posisi yang tidak normal, berjejal.

Di samping itu saya mewajari, begitulah tukang becak yang memang hidupnya hanya menggantung ke becaknya itu. Bahkan, mengalami defisit penghasilan kalau tidak ada penumpang sama sekali, sehingga bagaimanapun berat muatannya tetap dia turuti. Apalagi, meski ada resikonya, jatuh misalnya, itu tak seberapa bahaya, dari pada bila kita membandingkannya dengan mobil angkot umum yang melebihi kapasitasnya.

Saya ingat, betapa saya dan penumpang lainnya amat sangat sial ketika ada mobil angkot masih memaksa para penumpang berjejal sesak melebihi kapasitas kenormalannya. Hanya gara-gara terlalu ambisi terhadap hasil yang banyak seringkali perasaan penumpang dikorbankan, bahkan bisa jadi merenggut nyawa banyak orang, kecelakaan, karena memang mobil menanggung beban yang diluar kapasitasnya. Para penumpang menjadi banyak yang menggerutu, gelisah, gundah, dan sial. Akhirnya meski bayar, bayar tidak ikhlas. Itu lebih bahaya.

Pesoalan jalan raya yang bolong-bolong, jalan demikian selalu membuat susah para pengendara, lebih-lebih para tukang becak. Banyak terjadi kecelakaan gara-gara jalan raya yang bolong-bolong tak karuan itu. Dan jalan-jalan raya yang senasib seperti itu banyak saya temukan di manapun.

Entah ceritanya saya tidak ngerti. Kerap saya melihat jalan demikian meski sudah lama umurnya tak kunjung diperbaiki. Apa karena pihak yang terkait dengan bagian jalan itu tidak tahu dan masyarakat tidak ada yang melapornya. Atau, memang sudah tahu hanya saja pura-pura tidak tahu. Atau, bisa jadi juga sudah tahu tapi tidak ada dana untuk memperbaikinya.

Yang lebih aneh lagi, saya kadang juga lihat ada jalan raya yang tidak sampai dua bulan dibangun sudah kocar-kacir ga’ karuan, bolong-bolong di sana-sini. Entah, bangunan baru kok cepat rusak. Apakah karena kondisi alam yang terlalu keras, atau karena materialmya yang memang sengaja dikurangi dari takaran normal yang bagus, lantaran pihak yang membangun ingin dapat jatah tambahan dari yang semestinya. Misalnya, pada aturannya harus menghabiskan sepuluh ton bahan material aspal, eh dikurangi jadi lima ton. Ah, biarlah saya ga’  mau tahu dan ga’ ngurus. Takut dikirain sok aktifis atau sok kritis. Lagian sudah ada bagian khusus yang mengurusinya.

Yang penting, sungguh kasihan ketika para pemakai jalan umum tersiksa. Perjalanannya terganggu hanya gara-gara jalan raya yang bolong-bolong atau benjol-benjol. Apalagi bagi komunitas tukang becak di atas. Belum lagi saat mengundang kecelakaan. Kalau saya pribadi ketika lewat di jalan demikian terus terang mangkel.

Akhirnya, saya hanya bisa berharap, semoga tukang becak tersebut bersabar plus ikhlas melihat jalan rayanya yang bolong-bolong tak karuan tersebut, meski telah mengganggu aktifitas mata pencahariannya.

Sekaligus, semoga seluruh tukang-tukang becak dan para pemakai jalan raya lainnya tidak naik darah. Lalu sama-sama memiliki kesadaran serentak mendatangi kantor Pemkab setempat, atau mungkin ke gedung DPRD, atau bahkan ke Parlemen pusat berdemo dan berbuat anarkis saking mangkelnya lantaran persoalan jalan raya bolong-bolong yang tak sembuh-sembuh tersebut. Apalagi ditambah simpati para mahasiswa. Bayangkan saja apa jadinya kalau demikian.

Dan lebih dari itu, semoga pihak terkait, pemerintah, cepat-cepat mengetahui jalan-jalan raya yang bolong-bolong di negri kita ini, sekaligus cepat-cepat diperbaiki dan dibangun. Bagi yang belum diketahui.

Sedangkan bagi yang sudah diketahui, tapi tak ada dana untuk memperbaiki dan membangunnya, semoga cepat-cepat punya rizki dana. Lebih-lebih punya rizki tidak sekedar hanya untuk persoalan jalan raya saja, tapi untuk persoalan kritis lainnya. Sebab, negri ini kaya dengan persoalan kritis yang sebetulnya harus cepat-cepat ditangani.

Mulai dari membiayai anak miskin papa yang tidak memiliki biaya untuk sekolah, membangun sekolah-sekolah yang belakangan banyak yang ambruk dan yang memang tidak layak ditempati, memberi santunan mereka yang kelaparan, memberi bantuan bagi mereka yang tak mampu mengobati penyakitnya, dan membayar hutang yang tak kunjung terlunasi. Pokoknya, demi kesejahteraan bangsa ini. Amin ya robbal alamiin.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar