Jumat, Desember 25, 2009

Mimpi, Tuhanpun Berproses


Mimpi. Pasti membacanya otak kita akan mengarah kepada tidur. Sebab, seperti biasanya, orang berbicara mimpi berarti orang berbicara tidur. Mimpi jadinya selalu identik dengan tidur. Itu benar.

Tapi mimpi di sini bukan berarti mimpi dalam tidur itu. Mimpi yang saya maksud adalah mimpi yang bermakna konotasi. Yakni, mimpi yang berarti cita-cita, ambisi, atau keinginan tinggi. Pengertian ini mengacu kepada kata kiai saya di pesantren. Beliau sering menasehatkan kepada kami santri-santrinya bahwa kami harus memiliki mimpi-mimpi yang tinggi agar menjadi orang yang sukses dan bahagia di masa depan.

Kata mimpi itu kerapkali menghiasi nasehat-nasehat beliau, hampir di setiap pertemuan, sehingga seakan-akan memiliki nilai motivasi tersendiri yang paling tinggi untuk para santrinya.

Saya ingat kata ini dan tergelitik untuk mengabadikannya dengan catatan sederhana ini setelah saya dan dua teman saya tanpa sengaja membahasnya di kamar.

Di kamar asrama, saya memang hanya memiliki dua seorang teman, tiada lain. Satu kamar isinya cuma tiga orang. Dan kebetulan kami memang sudah saling akrab meski sebelumnya tidak sekamar, apalagi satu kamar.

Salah satu teman kami yang paling tua tiba-tiba keluar lebih awal dari Masjid dan masuk ke kamar duluan, sehingga saat kami masuk kamar dia sudah duduk duluan dengan posisi yang sangat strategis di depan komputer. Betul-betul tidak seperti biasanya.

Karena melihat hal yang menurut kami aneh itu, akhirnya kami menggojlognya, ”Tumben tak seperti biasanya, serius banget di depan komputer kayak penulis handal aja”, gojlokan saya kepadanya. Teman saya yang satunya cuma menertawainya.

Lalu, dia menanggapi saya dengan serius, ”E, saat sholat jamaah Magrib tadi, tiba-tiba muncul inspirasi bagus di otak saya untuk membuat cerpen. Saya pingin bisa nulis cerpen. Akhirnya saya langsung keluar dulu langsung menulis cerpen dengan inspirasi yang berkelebat dalam sholat saya itu, takut keburu hilang. Saya iri kepada teman saya yang kuliah di Mesir, karya-karya cerpennya sering dimuat di majalah-majalah yang darinya dia bisa membiayai kuliahnya di sana. Cerpennya bagus. Sehingga saya jadi amat sangat pingin bisa cerpen juga.” Katanya.

mendengarnya kami yang dua orang cuma bisa tertawa cekikikan, sebab memang sebelumnya dia tidak pernah nulis sama sekali, kecuali ada tugas-tugas kuliah, apalagi nulis cerpen. Ga’ ada potongan dia pateng menulis cerpen. Demikian dalam perasaan kami sehingga seakan menjadi hal yang sangat amat lucu.

Tapi, di balik mulut saya yang cekikikan itu, saya sambil merenunginya dalam hati, apalagi kebetulan saya juga berambisi untuk jadi penulis, termasuk menulis cerpen, yang saya rasa selama ini saya tidak pernah berhasil. Saya merasa sulit membuat cerpen. Tapi, setiap saya membaca cerpennya teman-teman yang masuk di media masa saya menjadi iri. Padahal, saya pikir mereka juga pernah sekelas dengan saya, dan sama-sama makan nasi.

Sehingga, perasaan teman itu juga saya renungi menjadi singgungan sekaligus motivasi tak terduga yang amat berharga bagi saya yang bermimpi jadi penulis juga.

Akhirnya, kami saling curhat tentang ambisi atau mimpi-mimpi itu. Diantara kami ada yang bermimpi kelak bisa membangun pesantren besar yang fenomenal, santri-santrinya berprestasi sedunia. Yang satu tadi juga bermimpi jadi motivator terkenal sekaligus bisnismen yang dermawan. Termasuk juga saya bermimpi, ingin menjadi penulis sejati, suatu hari media massa-media massa akan diwarnai dengan karya-karya saya yang fenomenal. Dengannya saya menyampaikan pengetahuan dan kebenaran

Kesimpulan akhir, meski terkesan agak materialistis, tapi bukan untuk itu, kami bersama bermimpi, suatu hari kami akan diundang oleh stasion televisi untuk menyemangati manusia tentang prestasi-prestasi kami yang fenomenal. Semisal acara Kick Andi yang menampilkan orang-orang yang prestisius fenomenal, sehingga menjadi contoh bagi yang lain.

Setiap kami saling menjadi saksi bagaimana sepak terjang kami terkhusus ketika bersama di kampus, sehingga kami menjadi orang prestisius itu. Para penonton saling terharu menyaksikan kami, seperti terharunya ketika Andrea Hirata dipertemukan dengan gurunya Bu’ Muslimah yang terkisahkan dalam karya fenomenalnya, ”Laskar Pelangi”. Ini mimpi kami.

Dari itu saya menyadari, bahwa pasti tiap orang di dunia ini memiliki mimpi-mipi itu. Ada suatu hal yang harus diraih di masa depannya. Masing-masing memiliki rasa ingin sukses dan bahagia di masa depannya. Masa depan yang sungguh cemerlang.

Hanya saja dengan cara dan bentuknya yang berbeda. Ada yang bermimpi jadi bisnismen kaya raya; ada yang bermimpi menjadi motivator terkenal; ada yang bermimpi jadi pejabat tinggi; ada yang bermimpi jadi kiai, dan sebagainya.

Caranya juga berbeda, dari yang logis sampai yang mistis; ada yang melalui jalur sekolah sampai tinggi; ada yang dengan bekerja tanpa henti; ada yang memperluas pengalaman dengan menjadi musafir; ada yang dengan mempebanyak dzikir; ada yang tiap hari berpuasa; bahkan ada yang bertapa di dalam gua; juga ada yang tidur-tiduran saja. Pokoknya banyak macam mimpi dan caranya. Sungguh, hidup memang indah dan konpleks. Tuhan Maha Adil.

Di samping itu, kita tidak tahu mana yang akan berhasil dan gagal merangkai mimpinya itu. Sebab, yang terakhir ini menjadi urusan Tuhan yang akal kita sampai kapanpun tidak akan dapat mengurusnya.

Akhirnya orang bilang, ”Man purpose God dispose”. Manusia bisanya hanya berusaha, Tuhan yang memastikan. tapI, Tuhan tidak sa’ karepe udele dewe, orang Jawa mengatakannya, meski Dia bisa melakukan apa saja. Sebab, Dia tidak menyia-nyiakan hukum-Nya sendiri di dunia ini, sekaligus mengajari manusia bahwa segala sesuatunya dalam hidup ini harus melalui proses usaha, bukan sulap. Seperti halnya, Tuhan masih menciptakan bumi berproses sampai enam hari meski Tuhan bisa melakukannya dalam sekejap. Itulah proses, itulah usaha.

Filosofi Keterkenalan dan Maraknya Adegan Mesum


Kita bisa juga menyebut keterkenalan dengan kemashuran, ketenaran, dan popularitas. Kata terkenal bisa dinisbatkan kepada ”siapa” dan ”apa”. Terkenalnya siapa, tentu arahnya kepada manusia. Misalnya, Al-Ghozali terkenal sebagai filosof sekaligus sufi, D. Zawawi Imron mashur sebagai budayawan atau sastrawan, Ulil Abshor Abdallah terkenal sebagai cendikiawan Muslim, Pak Sukkur terkenal sebagai pelawak, dan Miyabi pupuler di dunia sebagai aktris hot.

Manusia terkenal tersebut tergantung dari keunikan, potensi lebih, atau kualitas unggul yang dimilikinya. Kualitas unggul ini yang membuat terkenal atau muncul lebih dari pada yang lain.

Potensi lebih atau kualitas unggul itulah yang dimaksud dengan ”apanya yang terkenal”. Seperti, Rendra terkenal dengan syair-syairnya, Suharto terkenal dengan Kabinet Pembangunan dan gerakan militernya, SBY terkenal dengan ketegasan dan disiplinnya, Quraisy Shihab mashur dengan tafsir Al-Misbahnya. Einstein terkenal dengan teori relativitasnya, Darwin populer dengan teori evolusinya, Karl Marx populer dengan ideologi marxisnya, Noordin M. Top terkenal dengan aksi terorisnya, dan Julia Peres terkenal dengan tubuh seksi dan akting hotnya.

Selain itu ”apa yang terkenal” bisa juga dinisbatkan kepada tempat, organisasi, pandangan, sistem, atau benda-benda. Seperti, Madura terkenal dengan kota santrinya, kemashuran gerakan JIL, kemashuran sistem pendidikan Muallimin di pesantren Al-Amien Prenduan, keterkenalan merek HP Blackberry, dan sebagainya.

Yang jelas, keterkenalan itu disebabkan oleh nilai lebih atau kualitas unggul dari pada entitas  lainnya, sehingga lebih tampak di atas lainnya. Bahkan, dibutuhkan atau dicari oleh yang lain meski sulit dijangkau. Oleh karena itu, keterkenalan kerap kali tidak memandang ruang. Di manapun akan dijangkau.

Saya pernah mengecatkan sepeda motor yang catnya terkelupas cukup parah kepada seorang ahli ngecat yang sangat terkenal. Padahal tempatnya jauh dari keramaian, amat pelosok. Tapi dia punya job yang sangat banyak sehingga harus antri.  Begitu juga saya pernah menjaitkan baju ke seorang tailor yang padahal tempatnya pedalaman, tapi jasanya amat laris. Dari mana-mana orang yang ingin menjaitkan pakaian pergi kepadanya. Tentu semuanya karena kualitas hasilnya yang lebih baik dari pada kualitas lainnya.

Memang, orang akan mencari kualitas yang lebih baik dalam persoalan apa saja, sehingga orang yang dapat menghasilkan sesuatu yang berkualitas lebih baik itu akan dicari orang dan terkenal. Orang akan rela lebih capek atau lebih mahal asal kualitas hasilnya lebih baik dan dapat diandalkan dari pada yang lainnya. Maka dari itu, sebenarnya gampang untuk menjadi terkenal. Tinggal mencipta sesuatu yang unik, nilai lebih, atau kualitas unggul pada entitas diri. Tapi, meski mudah tak sembarang orang bisa terkenal.

Namun, keterkenalan ada dua warna: ada yang terkenal negatifnya. Seperti, Noordin M Top terkenal dengan aksi terornya. Dunia dibuat gelisah olehnya. Dan, aktris Miyabi populer dengan akting hotnya. Membuat moral dunia makin tak karuan.

Ada juga kemashuran yang positif. Seperti, D. Zawawi Imron dengan syair-syairnya dan kiai Aa Gym dengan Manajemen Qalbunya. Hal inilah yang perlu lebih diperhatikan; bagaimana bisa terkenal dan dengan apa terkenalnya.

Sebab, akhir-akhir ini nyaris terjadi kekaburan atau keterbalikan nilai di segala bidang; yang baik menjadi hal yang memalukan dan yang buruk justru menjadi hal yang dibanggakan. Banyak orang yang bangga akan kemashurannya dengan hal-hal yang sebetulnya menurunkan derajatnya sebagai ciptaan Tuhan yang paling mulya, membuatnya terhina.

Contohnya, di dunia selebriti atau muda-mudi kita. Pakaian yang justru menutupi aurot mereka yang sebetulnya menjaga harga diri mereka sebagai perempuan yang suci malah dianggap tidak gaul, kampungan, atau ketinggalan, dan menggerahkan. Mereka membanggakan diri memakai busana yang bukak-bukaan secara vulgar, yang sejatinya menjadikan harga diri mereka menjadi murah bahkan gratis. Kemolekan tubuhnya dipertontonkan dan diumbar di depan publik. Siapa saja boleh melihat kemolekan tubuhnya, bahkan merasainya.

Hal ini bukan hanya menjangkiti aspek busana tapi sudah merasuki karakter, pandangan hidup, dan perilaku mereka. Seperti, bergaul bebas dan berhubungan maksiat di depan publik, gonta-ganti pasangan, mudah selingkuh, serta cerai suami istri menjadi hobi.

Anehnya, hal-hal negatif tersebut bagi yang lain terutama bagi generasi muda tidak hanya menjadi tontonan malah menjadi tuntunan dan tauladan dalam kehidupan mereka.

Fenomena ini bisa kita lihat tiap hari di media-media massa atau layar-layar kaca maupun di sekitar kita secara langsung. Nyaris mereka, baik yang berlatar belakang religius apalagi yang sekuler tampil dengan gaya busana, karakter, dan perilaku negatif memalukan tersebut. Mereka malah bangga dan menganggap semua itu yang dapat mengangkat harga diri mereka karena telah pupuler atau mashur di mana-mana.

Maraknya adegan mesum secara bebas di mana-mana, termasuk Mercusuar Bergoyang, bisa kita jadikan contoh dampak dari fenomena nilai yang semakin kabur dan semrawut tersebut; Tauladan Popularitas negatif menjadi rujukan kehidupan zaman ini yang amat dibanggakan.

(Pernah dimuat di koran Jawa Pos Group Radar Madura, Kamis 24 Desember 2009 M)



Senin, Desember 21, 2009

Bela Diri dan Ego Manusia


 Melihat penampilan Bela Diri,  saya ingat beberapa tahun yang lalu ketika saya belum kuliah di rumah. Sejak kecil, meski sekarang saya tidak ahli dalam praktik Bela Diri, saya betul-betul digodok sama Bapak saya sendiri dengn latihan Bela Diri di rumah. Memang pada saat itu di rumah saya sedang aktif-aktifnya latihan Bela Diri.

Banyak orang tua muda berlatih kepada Bapak saya. Memang kebetulan saya punya Bapak yang sama orang dipercayai pintar Bela Diri. Entah sejarahnya apa kok Bapak saya dipercayai seperti itu, apakah Bapak saya dulu pernah  tampil di depan masyarakat mempragakan keahlian Bela Dirinya, atau Bapak saya pernah tarung dengan orang dan menang disaksikan oleh masyarakat, saya tidak tahu itu.

Tanpa niat mempromosikan keahlian Bapak saya, atau lebih jauh lagi perasaan sombong mengumbar kelebihannya, Alhamdulillah, saya sangat bersyukur punya Bapak, orang yang katakanlah meski tidak pernah mengenyam pendidikan sama sekali, maklum termasuk orang kuno, masih memiliki keahlian yang jarang orang memilikinya.

Dengan ini, akhirnya saya semakin sadar bahwa masing-masing manusia pasti sama Tuhan dianugrahi dengan kelebihannya sendiri yang sesuai dengan potensi dirinya. Sebab, dengan kelebihannya itu dia akan hidup sekaligus sebagai instrumen ibadah kepada-Nya. Sehingga sangat amat muhal manusia tidak memiliki kelebihan dalam dirinya, siapapun itu. Hanya saja persoalannya adalah disadari atau tidak kelebihan itu. Dan, diniatkan untuk ibadah atau tidak kelebihan itu.

Misalnya, Bapak saya itu dengan keahlian Bela Dirinya, maka dikenal atau disegani orang. Sekaligus bila diniatkan untuk ibadah, maka dia akan dapat pahala setiap mengajari para muridnya. Dengan pelatihan Bela Diri itu juga Bapak saya bisa berdakwa atau menolong orang dari aniaya orang lain yang jahat. Begitu juga murid-muridnya, dengan Bela Diri dari Bapak saya itu, mereka bisa menjaga dan melindungi dirinya dari aniaya fisik orang lain, sekaligus bisa membela dan melindungi orang lain. Kan ini sebuah amal yang amat manusiawi dan mengandung pahala?

Bahkan, konon, para ulama membela dan melindungi Islam dan Indonesia ini dari penjajahan dengan keahlian Bela Diri itu. Tanpa keahlian itu amat sulit sekali mereka bisa menang dalam perang. Akhirnya, Islam dan Indonesia bisa bereksistensi di negri ini sampai sekarang.

Tapi, Bela Diri di zaman sekarang maknanya berubah, entah semakin diperluas atau diselewengkan. Pertama, Bela Diri tidak hanya sebagai membela diri dari aniaya orang, tapi menjadi lebih tampak dan populer sebagai momen olah raga dan turnamen atau perlombaan. Bahkan turnamen antar Negara. Sering kita dengar istilah PON, SEA GAME, Olimpiade, dan istilah lainnya. Ada yang menang dan ada yang kalah. Yang menang dapat hadiah.

Kedua, menjadi momen hiburan. Kita sering melihat di acara atau even tertentu penampilan-penampilan Bela Diri. Dan biasanya dibumbui dengan atraksi-atraksi ilmu kebatinan. Seperti biasanya ketika acara-acara peringatan 17 Agustusan, ada yang menarik mobil besar dengan rambutnya, ada yang dililiti letusan mercon, ada yang memecahkan batu bata hanya dengan kepalan tangannya, ada yang dilindas mobil, ada juga yang makan beling, dan ada juga yang dibacok tidak mampan.

Tapi itu masih mendingan, justru menjadikan makna dan fungsi dunia Bela Diri lebih kaya, dari pada Bela Diri disalahartikan atau disalahgunakan. Dibuat menganiaya orang, benteng kekuatan jaringan mavia, lebih-lebih terorisme.

Pasti pembaca akan bertanya-tanya tentang istilah Bela Diri ini. Bela Diri yang saya maksud adalah Bela Diri secara konotasi. Artinya, Bela Diri bukan arti dalam kamus yang maknanya berdekatan dengan melindungi diri atau menjaga diri, sehingga tidak ada makna khusus. Kalau begitu berarti menjaga diri atau melindungi diri pada umumnya yang siapa saja pasti memilikinya. Siapa saja pasti membela dan menjaga dirinya sendiri.

Tapi, Bela Diri di sini adalah kesatuan kata yang menjadi istilah, nama, atau sebutan khusus untuk sesuatu, yaitu dunia persilatan. Maka Bela Diri di sini berarti silat. Ketika orang berbicara “latihan Bela Diri” berarti “latihan silat”, bukan semata latihan menjaga diri.

Jadi, Bela Diri di sini berarti lebih khusus dinisbatkan kepada aktifitas orang yang membela dirinya dengan teori, metode, dan seni khusus yang disebut dengan silat, sehingga membutuhkan latihan khusus. Maka, bila dinisbatkan kepada istilah denotasi pada umumnya, Bela Diri atau silat adalah salah satu cara orang untuk membela dirinya.

Maka dari itu, orang yang tidak memiliki keahlian silat, bukan berarti tidak bisa membela dirinya, tapi membela dirinya dengan caranya sendiri selain dengan silat itu. Entah dengan bom, pistol, tulisan, argumen, algojo, alibi, dan sebagainya.

Tiap orang pasti membela dirinya dengan cara-cara yang beraneka ragam itu; yang layak semestinya atau yang tidak semestinya; Baik dalam posisi salah ataupun memang dalam keadaan benar. Yang jelas, orang pasti tidak akan mencelakaan dirinya sendiri.

Nah, akhir-akhir ini banyak jenis cara dan trik pembelaan orang untuk dirinya yang unik, bahkan aneh. Anehmya, banyak orang yang sudah nyata-nyata bersalah masih membela dirinya sebagai pihak yang benar sampai ngotot-ngototan dengan segala caranya. Anehnya lagi, meski sudah jelas demikian pembelaannya bisa lolos mulus, selamat dari tuntutan dan hukuman.

Di samping itu, banyak yang mereka pada hakekatnya wajar dan semestinya membela diri karena benar, malah terjerat hukuman. Pembelaannya acap kali gagal total. Dasar manusia, banyak yang terlalu egoistik dengan kediriannya. Selalu merasa benar sendiri. Hebat sendiri. Sehingga harus selalu menjaga diri bagaimanapun keadaan dan caranya.

Yang lucu, ketika alam juga merasa harus membela dirinya, dari keserakahan manusia. Alam selalu diekspoitasi dan diambil untungnya saja. Bahkan, untungnya justru hanya untuk sombong-sombongan, dan berfoya-foya tanpa ingat terhadap ketenangan dan kelestarian alam itu sendiri. Sehingga menuntut alam untuk membela dirinya dengan ketidaksabarannya dan bala tentaranya; tsunami, banjir, gempa bumi, luberan lumpur, badai, dan yang lebik marak lagi, global warming. Tak perlu silat-silatan. Baru manusia merasa dan sadar bahwa dirinya lemah. Akhirnya, tinggal ratapannya, tinggal tangisannya, dan tinggal ceritanya.

Minggu, Desember 20, 2009

Yang Terhormat dan Yang Terhina


Betapa bahagianya jadi anaknya seorang kiai, masih muda sudah dihormati. Sama seperti halnya anaknya seorang raja, pejabat tinggi, dan kalangan atas lainnya.

Siapapun ingin jadi orang yang terhormat meski tanpa niat ingin dihormati. Sebab, orang terhormat itu harga dirinya tinggi. Ibarat barang komoditas yang kualitasnya tinggi, sehingga harganya mahal.

Saya sempat merasa sakit hati ditambah sial ketika ada seorang membedakan anaknya orang awam yang biasa disebut darah merah dengan anaknya kiai atau anaknya orang yang berkududukan tinggi yang sering disebut darah biru.

Anaknya orang awam diibaratkan buah jagung, sedangkan anaknya kiai atau kalangan atas diibaratkan buah manggis. Maksudnya, apa sih enaknya buah jagung dari pada enaknya buah manggis. Buah manggislah yang dicari-cari sedangkan buah jagung, paling tidak, untuk makanannya ayam. Kemudian, kalau sudah buah jagung ya tetap buah jagung tidak mungkin berubah menjadi buah apel.

Lebih gamblangnya, apa sih kelebihan anaknya orang awam. Kalau sudah keturunan orang awam ya tetap saja awam, tapi kalau sudah keturunan orang atas tetap saja jadi orang atas.

Selain ibarat itu, ada juga ibarat lain yang tidak kalah sadisnya. Yaitu, seorang anak ibarat pepohohan dan buahnya. Buah suatu pohon jatuhnya tidak jauh dari bawah pohonnya.

Artinya, kalau anak seorang kiai pasti tetap saja jadi kiai, tidak jauh dari kekiaiannya itu. Sedangkan anaknya orang awam akan tetap awam, tidak jauh berubah dari keawamannya.

Bagi saya, ibarat-ibarat atau anggapan-anggapan di atas adalah sadis. Tak kalah sadisnya dengan teroris yang melakukan pengeboman di tempat-tempat orang yang tak bersalah apa. Ibarat tersebut sama halnya membunuh peradaban luhur manusia pelan-pelan.

Betapa tidak, peradaban manusia tumbuh karena adanya persatuan diantara sesama manusia. Persatuan membutuhkan perasaan sama, rasa kemanusiaan, senasib, dan seperjuangan. Sehingga timbullah rasa saling mencintai, menyayangi, menghormati, menghargai, dan tolong-menolong. Yang akhirnya timbullah persatuan itu.

Oleh karena itu, perubahan manusia dari tidak berperadaban luhur (jahiliyah) menjadi kehidupan yang beradab dan berkembang sampai sekarang adalah karena kesadaran dan persatuan manusia semua, baik yang miskin dan yang kaya, baik yang bodoh maupun yang pintar, baik yang kuli maupun yang raja. Semuanya berbaur menjadi satu baris membangun peradaban yang lebih luhur.

Dari logika motif dan prinsip peradaban ini, bukankah ibarat-ibarat di atas arahnya akan menghancurkan peradaban manusia itu sendiri. Sudah pasti. Sebab, ibarat itu akan menimbulkan kecemburuan sosial  yang begitu mendalam, sehingga muaranya akan menggali jurang perbedaan dan keterpecahan prinsipil yang makin mendalam di antara manusia.

Manusia menjadi terkotak-kotak, yang awam terhina dan yang berkedudukan tinggi yang dihormati. Belum lagi perbedaan motif ekonomi, yang miskin dan yang kaya. ini yang mulai terjadi di zaman ini.

Di samping itu, itu dapat membunuh semangat kreatifitas generasi muda. Sebab, mereka yang berasal dari kasta awam akan merasa keder (tidak PD) sebagai kalangan jagungan yang akan tetap menjadi jagung sebagai makanan ayam yang takkan pernah berubah. Mereka terhargakan dengan harga mati.

Tapi, bagaimanapun semua itu perlu dikoreksi kembali, bahwa manusia tidak sesederhana ibarat-ibarat atau anggapan-anggapan itu. Manusia bukan batu yang tak bisa berubah. Manusia tidak sesedehana entitas lainnya. Manusia makhluq kompleks sekaligus unik, tak bisa ditebak-tebak. Akal boleh menganalisa dan menilai manusia, tapi tidak bisa memastikan manusia.

Maka dari itu, Banyak kita jumpai,  anaknya tani miskin jadi kiai besar, anaknya nelayan amatiran jadi pejabat tinggi, anaknya penjual rujak pedalaman jadi cendikiawan terkenal. Dan sebaliknya, anaknya manusia yang berkedudukan tinggi, pejabat tinggi atau kiai, tidak sedikit yang jadi tukang togel, perampok, penipu, pengangguran, bahkan jongos di jalanan.

Mari kita merenungi sejarah Kan’an orang paling sombong sedunia, meski anaknya Nabi, berdarah biru, katanya, dia tenggelam bersama orang-orang kafir, neraka sebagai kandangnya. Di samping itu juga si Qorun dan Firaun orang yang sok angkuh sedunia, bukan hanya anak istrinya yang hancur, dirinya dan semua yang dimilikinya ludes tak tersisa, lenyap di telan bumi, neraka juga tempatnya.

Terakhir mari kita hayati sejarah Rasulullullah, orang paling prestisius sepanjang sejarah, manusia. Raja semesta alam (bukan hanya dunia). Beliau bukan hanya berasal dari keluarga miskin tapi yatim piatu, ingin makan sepiring nasi saja masih harus nyari upah kembalaan kambing kepada pamannya sendiri. Beliau hidup penuh derita sejak kecil.

Akhirnya, kita berpikir, anaknya Nabi saja musnah terhina di dalam Neraka, apalagi hanya anaknya kiai atau pejabat tinggi. Dan, semoga Rasulullah sebagai orang miskin yang yatim piatu tidak tersinggung terhadap ibarat-ibarat sadis tak manusiawi di atas.

Catatan ini adalah manifestasi dari sakit hati saya sebagai anaknya orang tani miskin papa terhadap ibarat-ibarat sadis di atas. Sekaligus, berangkat dari, teman-teman saya kemaren cerita bahwa anaknya kiai pasti dapat (nikah) anaknya kiai.

Konon, mayoritas kiai mencarikan jodoh untuk anaknya dengan anaknya kiai juga, bahkan meski anaknya tidak saling mencinta. Mereka egois untuk berjodohan dengan anaknya orang selain garis kiai, apalagi anaknya orang tani miskin, meski anaknya orang miskin itu tidak kalah hebatnya dengan yang anaknya kiai. Fenomena ini lebih sering terjadi, katanya. Entah, apakah ini benar atau tidak.

Yang jelas, saya juga tidak sedikit melihat fenomena itu. Tapi, mungkin justru perasaan saya ini yang salah, karena saya orang miskin, pikirannya juga sempit. Padahal sebetulnya, anaknya kiai memang seharusnya dapat anaknya kiai, agar garis kekiaiannya dapat dilestarikan; agar darah birunya tidak bercampur dengan darah merah; atau, agar kehormatan dan kesuciannya tetap dapat dipertahankan. Mungkin saja.

Sabtu, Desember 19, 2009

Aku Mencemburuimu


Melukis wajahmu di alam dadaku
Adalah mimpi
merampas malam-malamku

Aku mengerti
Aku tak mampu melukis wajahmu
Dengan sisa titik tinta buram ini

Tapi aku harus bagaimana
Kerinduan selalu menggempurku
Dari segala arah

Sementara wajahmu menjadi rebutan
Mataku jatuh seketika
Alamku terbakar tanpa nyala
Tintaku mengering tak tersisa

Aku harus bagaimana

Akhirnya, aku hanya bisa
Mencemburuimu
Dengan sepi ini

Kampus Hijau, 20 12 09 M

Malam Senyap

Malamnya senyap
Aku harus merayap
Berharap
Mencari serpihan hati
Bertebaran di jalan-jalan

Kasihlah aku kekuatan
Tinggalkan ketakutan
Biarkan aku berani mencintaimu
Dengan sisa hati ini

Kampus Hijau, 20 12 09 M

Sunyiku Bahasaku

Senyap malamnya
menerobos peperangan di dadaku
Aku harus beranjak
Menabrak kobaran api
Membuat mata silau terpejam 
Tua

Wajahku semburat pasi ini
ingin membahasakanmu
meski dengan setitik tinta
yang sudah pucat

Sunyiku adalah bahasaku untukmu

Kampus Hijau, 20 12 09 M

Jumat, Desember 18, 2009

Darah Di Indonesiaku


Bersama sepi aku ingat
Indonesiaku selalu sekarat
Tapi bahagia di bumi surga

Para raksasanya mengusir luka-luka
Yang makin menganga
Sambil tertawa menjadi tontonan dunia
Itu menariknya

Raksasanya terus bilang
Mari kita keringkan luka-luka

Dengan gagah
Mulutnya terbuka
Tak kalah nganganya

Sementara di belakangnya
Banjir darah yang amis
Makin hari makin banjir
Ke sudut kota-kota
Ke pelosok desa-desa
Ke dada-dada negri ini

Sungaiku penuh darah
Hutanku penuh darah
Samudraku penuh darah
Surgaku menjadi darah

Para raksasa malah makin  bergaerah
Katanya, memang hobi darah

18 12 09 M

Kamis, Desember 17, 2009

Mata Yang Gerhana

Pejamkan mata kera-keras
deru hati bertempur ganas
siang di kepala malam segala

Ya Tuhan tak terhingga
kurindukan angkasa luas pada dada
siang di kepala yang malam

Aku iri pada mereka
di pagi hari semangat meneguk embun
mengejar mentari yang segar tersenyum

Mumpung hatiku belum senja
ku tak mau batu sendiri
berbaring di atas sutra ini
dengan mata yang gerhana

Aku Ingin membangun surgamu di bumi

Filosofi Keinginan dan Cita-Cita


Dalam hidup ini, pasti manusia memiliki sebuah keinginan, ambisi, cita-cita, dan lebih nyastra sedikit disebut mimpi-mimpi. Baik secara masa pendek maupun masa panjang.

Masa pendek misalnya, ingin beli baju baru, ingin beli sepeda motor, ingin beli mobil, ingin punya perusahaan, atau bahkan ingin punya pesawat pribadi. Yang masa panjang misalnya, ingin menjadi insinyur, ingin menjadi pejabat, ingin menjadi dokter, ingin menjadi mentri, atau ingin menjadi presiden.

Masa panjang pendeknya sebuah keinginan itu relatif, tergantung dari pada latar belakang pribadinya. Bagi orang yang kaya raya, beli mobil itu bukan lagi menjadi keinginan, tapi kebiasaan. Mobil sudah ada. Ingin yang lebih baru kapan saja, tinggal pergi ke dieller mobil tanpa menunggu hari.

Tapi, bagi yang kondisi ekonominya biasa-biasa saja, beli mobil menjadi sebuah keinginan yang masanya bisa panjang, bahkan menjadi cita-cita seumur hidupnya. Apalagi bagi yang miskin, bisa jadi bukan menjadi keinginan lagi tapi mimpi di siang bolong atau-meminjam istilahnya Paterpen- khayalan tingkat tinggi.

Oleh karena itu, menjadi terkesan, antara istilah keinginan dan cita-cita, keinginan lebih bersifat fisik dan jangka pendek, seperti beli-beli di atas. Tapi, kalau cita-cita cenderung bersifat nonfisik dan lebih memasa depan. Biasanya terkait dengan profesi dan posisi, seperti dokter atau pejabat. Karena bagi siapapun ini tidak bisa langsung dicapai. Tidak seperti keinginan fisik yang bisa langsung dicapai sesuai dengan latar belakang ekonominya.

Oleh karena itu, anak di sekolah ditanya sama gurunya dengan lebih sering menggunakan ungkapan, kalau sudah besar cita-cita kamu apa. Bukan ditanya dengan, kalau sudah besar kamu ingin apa? Kecuali pada ungkapan, kamu ingin beli buku apa, tidak mungkin bilang, kamu bercita-cita beli buku apa. Ungkapan yang pertama lebih pantas.

Tapi bagi orang miskin, bisa jadi yang sifatnya fisik menjadi cita-cita kalau memang jangka sampainya butuh waktu yang panjang dan perjuangan berat. Seperti orang miskin ingin beli mobil. Maka, pantas saja ketika ditanya, cita-cita kamu apa? lalu dia menjawab, cita-cita saya nanti beli mobil mewah. Tapi ini tidak pantas bagi yang kaya raya, karena langsung bisa dapat.

Sehingga kalau dipikir-pikir, keberhasilan dalam bercita-cita itu tergantung dari usaha dan keseriusan pribadi seseorang, bukan tergantung dari melimpahnya harta uang atau tingginya posisi sosial. Bercita-cita menjadi dokter siapa saja bisa, meskipun yang miskin papa. Asal punya kemauan tinggi, proses panjang, dan usaha keras.

Ini banyak terbukti. Misalnya, anaknya nelayan miskin jadi kiai besar dan terkenal, anaknya orang tani amatiran menjadi pejabat tinggi terkenal, anaknya penjual rujak di pedalaman jadi cendikiawan terkenal, serta banyak yang lainnya. Dan, justru tidak sedikit anaknya orang yang kaya raya jadi gelandangan, pecundang, pengangguran, dan sejenisnya.

Inilah keadilan Tuhan, mencipta cita-cita bagi siapa saja. Semuanya sama-sama memiliki peluang untuk bercita-cita tinggi. Oleh karena itu, orang bilang, bercita-citalah setinggi langit. Artinya, kalau sekalian bercita-cita jangan nanggung-nanggung soalnya cita-cita itu masa depan yang menentukan bahagia tidaknya seseorang.

Ini memiliki makna filosofis. Yaitu, jika cita-citanya amat tinggi, taruhlah misalnya ingin menjadi presiden, kan paling tidak gagalnya jadi mentri. Atau, bercita-cita mau menaiki puncak Himalaya, kan jatuhnya paling tidak di gunung merapi, masih tinggi. Tapi kalau cita-citanya nanggung, misalnya bercita mau jadi kepala desa, ya apesnya jadi rakyat biasa. Atau, bercita mau menaiki puncak bromo, maka jatuhnya ke lembah.

Jadi, kalau bercita-cita harus amat sangat tinggi sekali, sehingga paling tidak kalau gagal masih tinggi. Tapi kalau cita-citanya nanggung-nanggung atau tidak tinggi, ya jatuhnya rendah.

Minggu, Desember 13, 2009

Pemulung Dan Hidup Kaya Raya Bahagia



Pemulung, mendengar katanya saja rasanya hanya tergambar kesengsaraan hidup padanya. Kecuali ditambah kalimatnya menjadi ”bosnya pemulung”. Tapi juga lihat apa yang dipulung. Meski akrab dengan sampah-sampah atau barang rongsokan lihat dulu sampahnya. Sampah apa yang dipulungnya.

Di sekitar rumah saya di desa, ada banyak orang yang kaya mendadak gara-gara jadi bosnya pemulung. Maka banyak juga yang jadi pemulungnya, dengan memakai sepeda khusus maupun jalan kaki. Mencari sampah tertentu kemudian disetor ke bosnya itu dan pulangnya mambawa penghasilan yang menurut level mereka lumayan cukup untuk kebutuhan. Bahkan dicelengi untuk keperluan yang lebih besar pada saat-saat tertentu, seperti beli baju anak istri di hari raya, atau beli televisi, dan sejenisnya.

Saya lihat, pada hari raya keluarga para pemulung memakai baju-baju baru juga, bahkan lebih narcis dari pada yang kaya-kaya bukan pemulung.

Mereka para bos pemulung, secara mendadak, sekitar hanya beberapa bulan memulai usaha serentak langsung bermobil, sekaligus bangun rumah besar, meski mobilnya juga dari hasil pulungan atau timbangan yang direnovasi kembali. Pokoknya bermobil. Ciri-cirinya, biasanya bosnya pemulung ini di rumahnya banyak bertumpukan sampah-sampah atau barang rongsokan, baik yang sudah dipilah berdasarkan jenisnya maupun yang masih kalang kabut dari penyetornya. Mulai dari yang berjenis kertas, plastik, dan besi.

Konon, orang Madura, katanya banyak yang sukses kerja di Jakarta dengan bisnis besi tua (besi bekas/rongsokan). Entah, apa sebagai pencari besi tuanya atau sebagai bos tempat penyetoran besi tua, saya tidak paham itu. Yang jelas, paling tidak mereka setelah pulang ke Madura bergaya narcis-narcis dan bermobil.

Teman saya di pesantren juga banyak yang cerita bahwa ayahnya bisnis besi tua di Jakarta. Bahkan ada yang baru lulus dari pesantren langsung boyongan ke Jakarta bisnis besi tua ikut paman atau orang tuanya. Tidak jarang yang ngajak saya.

Saya kira, pekerjaan apapun, asal boleh, pantas, wajar, dan halal dalam pandangan apapun, secara sosial terlebih agama, itu boleh dijalani.

Misalnya, di desa saya sekarang banyak orang yang menernak ayam potong dengan kandang khusus yang butuh lumayan luas. Ini halal, tapi tempatnya dibangun di dekat perumahan penduduk sehingga rumah penduduk dikerubungi lalat dan bau tidak enak yang bersumber dari kandang ayam tersebut. Akhirnya, hari-hari penduduk dipenuhi kegelisahan dengan lalat-lalat dan bau menyengat itu. Ini tidak wajar dan tidak manusiawi, meski ayam itu halal.

Di samping itu, sebetulnya pekerjaan jenis apapun asal dilakoni dengan manajemen yang baik sekaligus konsisten akan membuat orang kaya raya sekaligus bahagia dunia akherat.

Manajemen yang baik berarti bekerja berdasarkan ilmunya; bagaimana perencanaan, sistem kerja, dan strategi pengembangan keuangan yang lihai. Misalnya, jadi bosnya pemulung. Ini butuh keterampilan khusus, termasuk, tentunya, bagaimana mendapatkan modal tanpa menunggu memiliki uang, misalnya meminjam ke teman atau bank.

Kemudian bagaimana taktik pengembangannya yang jitu, termasuk misalnya dia tidak akan pernah membeli sesuatu atau barang untuk senang-senang dengan keuntungan perdana yang ia dapat, tapi dia berpikir bagaimana menjadikan keuntungan itu untuk menutupi pinjaman atau memperbanyak barang dagangan, sekaligus dia berpikir bagaimana bisnisnya itu tidak kalah saing dengan yang lainnya dan lebih terkenal agar orang-orang lebih menyetor kepadanya.

Begitu juga bagi pemulungnya yang beroperasi di lapangan. Dia harus mengatur strategi bagaimana dia mendapatkan barang rongsokan yang nilainya berkualitas tinggi (mahal) dan dirinya terkenal dan disukai masyarakat agar masyarakat lebih suka menjual rongsokan padanya, sehingga banyak hasilnya.

Selain manajemen yang jitu itu atau kecerdasan itu adalah tidak kalah pentingnya konsisten dalam kecerdasan dan kebaikan itu. Konsisten ini adalah jejeg dan yakin bahwa pekerjaannya itu dapat membahagiakannya dunia dan akherat.

Kaya sekaligus membahagiakan dunia akherat. Sebab, banyak orang kaya yang hanya membawa dirinya bahagia dunia saja tapi tidak di akherat kelak. Dan, ini tergantung dari jenis pekerjaannya. Orang yang kaya gara-gara mencuri atau merampok, meski bahagia tapi di dunia saja. Atau kayanya gara-gara korupsi, meski bahagia ya di dunia saja. Itupun kalau tidak ketahuan. Kalau ketahuan korupsinya malah kayanya membawa sengsara di dunia, lebih-lebih di akherat. Itulah pekerjaan orang yang tidak beres; tidak wajar, tidak pantas, sekaligus tidak halal.

Ada adagium pas untuk orang yang kaya tapi sengsara ini, tapi khusus dalam bahasa Madura saja. Yaitu, orang-orang di desa menyebut orang seperti itu dengan “sogi sarah”. Sebetulnya maksud aslinya adalah “kaya sekali atau sangat kaya”, tapi khusus untuk orang yang kaya raya tapi sengsara itu diplesetkan maknanya menjadi lebih filosofis “orang yang kaya tapi sengsara” (sarah diplesetkan menjadi sengsara).

Sebab, dalam bahasa Madura “sarah” bisa saja artinya sangat atau sekali, misalnya dalam kalimat “genteng sarah” (sangat ganteng), tapi juga bisa menjadi sengsara atau penuh derita, misalnya dalam kata “oreng se odi’en sarah” artinya orang yang hidupnya sengsara.

Jadi, gampang saja hidup, tak usah ruwet-ruwet: kalau bercita ingin kaya raya harus sekaligus diikuti dengan bahagia dunia akherat. Takut berhasil kaya raya tapi tak bahagia. Cara  ingin jadi orang kaya itu modalnya hanya dengan ilmu dan kekonsistenan. Tak usah repot-repot cari jenis pekerjaan yang macam-macam.

Menggambarkan pekerjaan hidup ini, saya ingat pesan Kiai saya, KH. Moh. Idris Jauhari, “Jangan kau mencari pekerjaan tapi bentuklah pekerjaan”, kata Beliau. Sedangkan kata Gusdur, gitu aja kok repot.

Seperti Apa dan Di Manakah Tuhan?


(Catatan reflektif logis mengenai ide tentang misteri Tuhan)  

Berbincang mengenai Tuhan tidak ada habisnya sekaligus tidak ada kesimpulan paripurna. Apalagi sudah jelas-jelas dalam ajaran agama (Islam) bahwa manusia dilarang memikirkan diri Tuhan, sebab akal manusia tidak mungkin akan pernah menemukan-Nya.

Pertanyaan tentang Tuhan di atas, menjadi persoalan yang misterius sejak periode perkembangan manusia pertama kali, kira-kira 14.000 tahun silam. Menarik mengingat Ibrohim bagaimana dia mencari Tuhannya.

Bermula dari kekuatan alam materi, awal kali dia menganggap Matahari sebagai Tuhan karena mataharilah yang dia pandang suatu benda di alam yang paling kuat dapat menyinari seluruh bumi, tapi tak berapa lama matahari tenggelam diganti kegelapan. Lalu dia tidak percaya, tidak ada Tuhan yang tenggelam.

Kemudian muncullah rembulan yang menerangi kegelapan. Dia lalu percaya benda bundar yang indah itulah Tuhan, tapi lagi lagi dia lenyap ditelan siang membuat dia tidak pecaya lagi bahwa bulan adalah Tuhan.

Akhirnya, dia hanya menemukan kegelisahan sambil terus melakukan pencarian dan permenungan, yang pada muaranya Tuhan menunjukkan dirinya melalui wahyu dan tanda-tanda alam secara langsung. Sehingga Ibrohim dapat menyimpulkan dan memutuskan Tuhannya dengan bentuk gambaran dalam pemikiran dan nuraninya bahwa ada Tuhan Yang Maha Kuasa, Mulia Yang Maha Tak Terbatas, yang wujudnya tak bisa dia gambarkan atau pikirkan.

Ini berlanjut sampai periode selanjutnya berupa Millah Ibrohim atau yang disebut dengan agama. Ibrohim tidak mewarisi wujud tuhan secara pasti tapi mewarisi pemikiran atau pandangan tentang adanya tuhan sebagai pencipta yang tak terhingga yang termanifestasi dalam millah itu. Karena tuhan memang tidak menampakkan wujudnya secara langsung tapi menurunkan penjelasannya berupa wahyu dan kekuatan-kekuatan alam yang dipahami atau ditafsirkan oleh pemikiran Ibrohim waktu itu.

Pada akhirnya, karena millah Ibrohim itu berupa ide pemikiran atau pemahaman dalam otak dan nuraninya, maka selanjutnya berkembang berdasarkan ide-ide yang pasti berbeda sesuai dengan situasi dan kondisi otak dalam kepala masing-masing manusia. Ide-ide itu banyak yang termanifestasi dalam diri secara personal dan kelompok atau agama-agama baru. Millah berganti millah, atau agama berganti agama baru dan berkembang.

Perkembangannya beralih ke Daud, wahyunya lain lagi menjadi Zabur sehingga penafsiran, pemahaman, dan penyebutan tentang Tuhan lain juga. Selanjutnya Musa dengan wahyu barunya Taurat, ide tentang Tuhan berubah kembali. Pengikutnya menyebut komunitas agamanya dengan Yahudi dan Tuhannya dengan sebutan Yahweh.

Kemudian datanglah Isa dengan wahyu barunya injil, berubahlah kembali ide tetang Tuhan. Pengikutnya menamakan komunitasnya dengan agama Kristen dan menyebut Tuhannya dengan Yesus.

Dan terakhir, dalam sejarah Nabi-Nabi, diakhiri dengan Muhammad dengan kitab barunya Al-Quran. Di sini konsep tentang Tuhan lebih baru lagi. Agamanya bernama Islam dan Tuhannya disebut  Allah Ta’ala. Ini memandang Tuhan dari sudut wahyu dalm sejarah para Nabi.

Namun, secara  pemikiran bukan berarti berakhir. Artinya, Tuhan dalam struktur pemikiran manusia atau ide tetap akan bergerak selama manusia itu ada. Pada perkembangannya, sampai-sampai ada ide baru tentang tuhan politik, tuhan uang, tuhan jabatan, bahkan ada ide terbaru Tuhan itu telah mati, nische mengataknnya. Ini adalah tuhan dilihat dari sudut ide atau struktur pemikiran.

Belum lagi sudut lain, ada sudut bahasa, orang Inggris menyebut tuhannya dengan God, Jerman dengan Got, Belamda dengan Dieu; dan sebagainya. Maka dari semua itu, bukan sebuah keanehan bila ide tentang agama dan Tuhan selalu berubah-rubah dan bertambah.

Sejarah misteri Tuhan memang komplek dan rumit. Ada yang menggambarkan tuhan dengan seorang ibu (Dewi Ibu), karena tuhan diyakini maha pemberi kesuburan alam dalam kehidupan mereka. Sedangkan para seniman mengasosiasikannya berupa ukiran patung-patung berbentuk seorang perempuan hamil. Ada juga yang mengapresiasikan Tuhan dengan langit yang tinggi (Dewa Langit), karena dia maha tinggi, di Sumeria Kuno ini disebut Inana, di Babilonia disebut Isytar, Anat di Kanaan, Isis di Mesir, dan Aprodite di Yunani. Ada juga yang menggabarkan Tuhan berupa patung-patung yang gagah besar, menggambarkan terlalu maha besarnya tuhan.

Semua ekspresi atau gambaran Tuhan itu, mereka lakukan bukan karena sedang mencari penafsiran harfiah atas fenomena alam, atau membentuk tuhan-tuhan yang material karena tidak ada seorangpun yang pernah dihadiri wujud tuhan, yang tak pantas menurut zaman kita, mungkin, akan tetapi sebuah usaha untuk mengungkapkan kekaguman mereka kepada kekuatan yang maha dahsat (tuhan) dan untuk menghubungkan misteri yang maha luas tak terbatas itu (tuhan) dengan kehidupan mereka yang serba terbatas.

Atau dalam bahasa lain, itu adalah sebuah sikap personalisasi atau upaya metaforis untuk menggambarkan sebuah realitas yang terlalu rumit dan pelik itu (realitas tak terjangkau/tuhan) agar bisa diekspresikan dengan cara lain sesuai dengan bahasa hidup mereka yang serba terbatas.

Sebetulkan ekspresi tentang tuhan semacam itu tidak jauh beda dengan para seniman dengan karya seninya yang melukiskan kebesaran tuhan atau para sastrawan yang melukiskan tuhan dengan bahasa bait-bait puisinya di zaman modern kita sekarang.

Dalam kesempatan kali ini, saya akan menggambarkan bagaimana ilmuwan memandang posisi tuhan (masih dalam struktur pemikiran). Soal seperti apa wujut tuhan banyak ilmuwan filosofis memandang Tuhan tak terbatas (unsayable), sehingga tidak terbatas pada wujud dalam pemikiran manusia.

Namun persoalan posisi dan kepastian keberadaan-nya, dapat digambar dengan metode analogi-analogi. Termasuk, analogi dimensi. Yaitu, Tuhan berposisi di dimensi ekstra, di luar dimensi material kita.

Kita sebagai manusia hidup di dunia 3D sebagai dunia ruang material, yaitu dunia yang memiliki 3 dimensi ruang: utara-selatan, barat- timur, atas-bawah. atau dimensi lebar, panjang, dan tinggi.

Namun, pada abad permulaan ke 20, dalam teori relatifitasnya Einstein menambah dunia baru karena manusia tidak cukup hidup dalam dimensi ruang itu, yaitu dimensi waktu yang berada pada dunia 4D. Ini gebrakan baru dan revolusi besar waktu itu sampai sekarang dalam pemikiran ilmiah. Maka lengkaplah bahwa manusia hidup dalam dunia 4D, dimensi ruang dan waktu. Sekarang, adakah dimensi lain?

Dimensi lain itu adalah dunia 2D yang melingkupi 2 dimensi saja, yaitu selatan-utara dan barat-timur, tidak ada atas-bawah. Atau meliputi lebar dan panjang saja. Makhluq yang hidup di dunia ini ilmuwan menyebutnya dengan flatlander (merujuk pada ahli matimatika, Edwin Abbot, satu abad yang lalu dalam bukunya berjudul flatland).

Saya pahami flatlander itu dengan “makhluq tulisan” di atas kertas. Tulisan hidup di atas kertas yang segala sesuatunya datar. Dia tidak memiliki dimensi  ketinggian atau atas bawah, sehingga dia tidak mengenal yang namanya atas bawah atau ketinggian. Hidupnya di atas datar saja.

Karena tulisan tidak mengenal dunia atas bawah, maka dia juga tidak mengenal makhluq yang mendiami dimensi ruang itu apalagi waktu, yaitu manusia. Tapi manusia dapat menjangkau, memahami, atau menguasai dunia datar tulisan itu. Sebab, dunia 2D itu lebih rendah dari pada dunia 3D dan 4D yang di tempati oleh manusia.

Manusia bisa berbuat apa saja terhadap dunia yang ada di bawahnya. Tapi, dunia di bawahnya tidak tahu apa tentang dunia di atasnya. Tidak mungkin tulisan memahami manusia, apalagi ingin menguasai atau merebut dunianya manusia.

Inilah saya kira analogi yang sangat tepat dan logis sekali bagi kita dalam menggambar posisi dan keberadaan tuhan. Tuhan itu Ada Yang Maha Tak Terbatas yang otomatis hidup di dunia yang ada di luar ruang dan waktu kita. Dunia yang lebih tingi dari pada dunia ruang waktu kita (4D). Mungkin kita bisa menyebutnya dengan dunia 5D (Islam menyebutnya dunia spiritual).

Sehingga kita dan semua unsur yang ada di dunia kita tidak bisa menjangkaunya. Apalagi mau menempatinya. Tapi, tuhan yang di luar dunia kita itu dapat menguasai dan berbuat apa saja terhadap kita dan segala apa yang ada di dunia kita.

Jadi bagaimanpun, tuhan itu ada, di dunianya yang di luar jangkauan dunia kita. Kita tidak tahu wujud adanya tuhan itu secara pasti karena memang unsur dunia kita tidak dapat mendeteksinya. Sebagaimana makhluq tulisan tidak dapat mendeteksi seperti apa kita, dunia kita, tapi kita ada. Apalagi ada tulisan yang sok-sok-an mau menjadi kita manusia. Mungkin ada tulisan sakti. Sehebat apapun saktinya, dia tidak akan pernah menjadi manusia. Kita akan amat menertawainya. Itu lucu sekali.

Barang kali ini menjadi gambaran yang lebih moderat-kalau memang kita butuh penggambaran untuk memahami tuhan- tentang misteri Tuhan.

Sekaligus lebih manusiawi, sebab kita memang manusia makhluq ciptaan yang serba terbatas. Dari pada saling klaim memperebutkan kebenaran Tuhan sampai-sampai menimbulkan pertumpahan darah, padahal Tuhan sendiri tenang-tenang saja di singgasan-Nya. Sebab, sampai kapanpun kita tidak akan pernah bisa menghadirkan wujud tuhan yang menurut kita paling benar di hadapan kita sendiri dan orang lain.

Saya yakin, tuhan lebih bahagia kepada yang lebih manusiawi, karena itulah sebetulnya salah satu eksistensi Tuhan itu sendiri di dunia ini.  Seorang Nabi pum menyebut, ”Tuhan berada di atas kepala anak-anak yatim”.

(Sumber: Sejarah Tuhan, Karen Amstrong 2007 dan Tuhan Abad 21, editor Russel Stnnard 2005)

Sabtu, Desember 12, 2009

Pendidikan Holistik, Pendidikan Yang Manusiawi


Suara salamnya agak serak-serak basah dan terkesan malu-malu. Dia adalah seorang santri yang datang ke ustadznya. Dia mau meminta tanda tangan rekomendasi untuk dispensasi atau keringanan pembayaran uang pondok (pembayaran asrama dan indekos).

Ditanya sama ustadznya, kenapa kok minta rekomendasi, pekerjaan ortumu apa? Ortu saya orang tani miskin ustadz. Saya ga’ mampu membayar uang pondok secara penuh tiap bulan sehingga saya harus pakai rekomendasi ini, jawabannya. Dilihat datanya ortunya memang orang tani yang penghasilannya cuma cukup untuk makan sehari-hari. Tapi, dia nekat dan semangat untuk belajar di sebuah pesantren yang lumayan besar dan terkenal.

Sehingga dari ceritanya itu, dia maklum tidak mampu untuk membayar segala kebutuhannya di pondoknya, yang otomatis butuh biaya lebih dari pada pesantren yang biasa-biasa saja atau sekolah pada umumnya. Seperti butuh pembayaran asrama dan indekos.

Tapi, bukan berarti tidak patut atau tidak pantas belajar di sebuah pesantren yang besar dan terkenal. Siapapun, penulis yakin, bisa belajar di pesantren-pesantren selevel besar itu dengan jalannya atau caranya masing-masing. Maksudnya, tentunya kalau yang kaya pasti tidak ada kendala yang terlalu rumit dari sisi biaya.

Sedangkan bagi yang tidak mampu tadi, caranya lain. Yaitu, dengan modal keseriusan belajar, konsistensi, dan prestasi. Penulis sebut keseriusan belajar terlebih dulu, karena segala prestasi berangkat dari keseriusan itu. Bukan dari kepintaran otak, atau potensi kognitif, apalagi sekedar uang. Begitu juga, keseriusan menjadi percuma juga tanpa dibarengi dengan konsistensi. Yaitu keseriusan yang terus menerus. Di pesantren, cara ini biasanya termanifestasi melalui pemberian dispensasi bagi orang yang tidak mampu.

Sebab, kecerdasan otak (kognitif) yang dimiliki secara hereditas akan menjadi mandul kalau tidak didorong dengan keseriusan belajar. Adapun dengan keseriusan, meski otaknya tanggung-tanggung atau bahkan lemah sekalipun kalau dibarengi dengan keseriusan yang tinggi, akan ada keajaiban. Otak itu akan menjadi cerdas dan berprestasi.

Kita ingat cerita, bahwa orang alim mashur prestisius, Ibnu Hajar Al-Asqolani adalah bukan orang cerdas. Bahkan, saking amat bodohnya, beliau mengibaratkan kondisi otaknya sendiri dengan batu yang amat keras. Tapi sekeras apapun batu itu kalau terus menerus ditetesi air meski halus lama-lama akan bolong juga. Oleh karena itu beliau dijuluki dengan ”Ibnu Hajar”.

Begitu juga Albert Enstein yang populer dengan teori relativitasnya. Konon, dia mengaku bahwa dirinya menjadi cerdas dan dibilang manusia terjenius bukan karena dilahirkan dengan otak yang pinter, akan tetapi karena keseriusan dan ketekunannya dalam belajar.

Ini salah satu misal sistem dan prinsip pendidikan pesantren, bahwa pendidikan itu harus bersifat holistik (utuh) dari segala dimensinya. Karena segala yang ada dan terjadi di pesantren selama terlihat oleh anak didik akan dinilai. Segala dimensinya menjadi unsur signifikan pendidikan.

Fenomena dispensasi di atas menjadi gambaran bagaimana sistem menjadi unsur signifikan pendidikan. Tergambar pada sistem itu bahwa pendidikan harus mengutamakan nilai-nilai kemanusiaan, manusiawi. Semua manusia berhak untuk sekolah bagaimanapun keadaannya, apalagi hanya sekedar karena kendala ekonomi, selama sehat jasmani dan rohaninya serta niat serius, semangat, dan konsisten.

Mengajarkan nilai-nilai kemanusiaan, agar peserta didik menjadi manusia yang dewasa, yang merupakan tujuan inti pendidikan, bukan hanya sekedar dengan buku-buku pelajaran di kelas, tapi juga ada pada struktur sistem, kondisi gedung atau lingkungan sekolah, terlebih sikap guru. Inilah pendidikan yang holistik.

Tidak mungkin disebut pendidikan secara utuh, jika yang diajarkan di kelas tentang penghormatan atau penghargaan kemanusiaan misalnya, tapi sistem sekolahnya tak berkeprimanusiaan. Seperti, orang miskin tak bisa sekolah hanya gara-gara tak memenuhi syarat bayar ini bayar itu, atau hanya tak lulus tes masuk. Padahal, kesuksesan tidak berpangkal penuh pada pembayaran atau lulus tes itu.

Apalagi jika bersarang di dalam sebuah sekolah (bukan pesantren) oknum yang tega-teganya membebani segala macam tagihan pembayaran meski sudah digratiskan oleh pemerintah (BOS). Bahkan, konon, ada sekolah yang mencekal ijazah muridnya yang nyata-nyata bisa lulus. Ditambah lagi belakangan, ada oknum guru yang seenaknya bermaksiat blak-blakan (sek bebas). Belum lagi, persoalan masih banyaknya gedung sekolah yang tak layak, kasus-kasus seputar ujian CPNS, persoalan UNAS, dan sebagainya.

Itulah deretan daftar, paling tidak yang penulis pandang, ketidakberesan dunia pendidikan di negri kita ini. Masih bertumpuk banyak penyakit akut di tubuh pendidikan kita. Lalu, dari semua itu kita akan bertanya, mau dijadikan apa anak didik kita, murid-murid kita?

Penulis pandang, itulah akibat memandang pendidikan yang tidak utuh. Dikira kurikulum atau materi pelajaran saja yang membentuk masa depan murid. Padahal, segala yang tampak di sebuah lembaga pendidikan akan menjadi acuan nilai yang senantiasa direkam oleh peserta didik.

Selain holistik dari sisi internal lembaga pendidikan di atas, juga harus utuh dari sisi potensi peserta didiknya. Artinya, segala potensi yang ada pada diri peserta didik sama-sama diperhatikan secara utuh, potensi kognitif, afektif, dan psikomotorik. Bukan peserta didik disebut berhasil hanya dengan kelulusannya di UNAS dengan ujian tulis untuk beberapa mata pelajaran saja (kognitif). Kecuali UNAS dapat mencakupi semua potensi utuh itu.

Jumat, Desember 11, 2009

Kuburan, Mengenang Kematian

Sudah tiga kali malam jumat, alhmdulillah, saya konsisten berziaroh ke pusara Kiai sepuh saya, KH. Muhammad Tijani Jauhari. Semenjak berpulangnya beliau kehadirat Tuhan, saya memang ingin selalu konsisten nyambang beliau meski hanya berupa pusaranya. Saya lakukan demikian bukan saya latah terhadap orang-orang yang suka nangis-nangis bahkan sampai nyembah-nyembah ke makam para wali.

Saya melakukannya, sederhana sekali, karena saya sadar mumpung saya ada di pesantren yang tiap hari dekat dengan makamnya, saya harus sering-sering mengunjunginya hanya demi mengenang prestasi-prestasinya. Siapa tahu timbul semangat dan stimulasi untuk serius meneruskan cita-cita suci beliau. Karena saya sebagai santrinya.

Di samping itu, saya sadar, bahwa saya tidak dapat berbuat apa-apa untuk pesantren. Apalagi saya banyak salah kepada Beliau saat masih hidup; saya sering nyakiti Beliau ketika sedang ngajar, berupa ngantuk, atau mungkin terlambat masuk. Saya ingat itu.

Sebetulnya kesadaran itu tak bagus. Sebab, ketika sudah meninggal baru sadar, sudah tidak ada orangnya. Saat masih hidup tak pernah dikunjungi, tak pernah disalami.

Tapi, saya pikir, dari pada tidak ingat sama sekali; saat hidup tak ingat, lebih-lebih saat sudah wafat lebih tidak ingat lagi. Ini keterlaluan namanya. Saya tidak mau jadi orang keterlauan itu. Jadi saya menziarohi asta Beliau hanya untuk mengenang saja.

Kalau biasanya saya bertawassul (membacakan fatihah buat beliau), bersolawat kepada Nabi, dan membaca beberapa surat Al-Quran, malam jumat ini saya tidak bisa demikian sebab lampunya mati, sehingga saya berdiri di samping astanya dan hanya membaca fatihah dan beberapa surat pendek yang saya hafal saja.

Siapa tahu bisa nyampe ke Beliau menjadi tambahan pahala amal soleh di akherat. Paling tidak kembali kepada diri saya sendiri. Artinya, saya dapat cipratan bacaan-bacaan itu.

Konon, kata Kiai saya di desa, mengunjungi dan membacakan fatihah kepada orang yang sudah meninggal itu (kedua orang tua atau para ahli ilmu dan ibadah) bukan berarti sia-sia atau bahkan ada yang bilang makruh atau haram.

Logikanya, orang ahli ibadah itu ibarat mangkok yang berisi penuh dengan air (pahala). Siapa tahu gelas yang penuh itu ketika kita tuang dengan air lagi (bacaan fatihah) cipratannya ke diri kita sendiri (sebagai gelas yang masih kosong dengan air pahala), katanya.

Sebuah keunikan, di saat membaca bacaan-bacaan itu saya seakan tidak berdiri di atas sebuah kuburan, tapi terasa berdiri di depan Beliau secara langsung. Seakan Beliau tersenyum di depan saya sekaligus mengasih beberapa nasehat kepada saya.

Sebab, sungguh, semua nasehat-nasehat beliau semasa hidup tetap melekat di sanubari saya, saat beliau mengasih wejangan-wejangan kepada kami santri-santrinya, dengan senyumnya yang khas menunjukkan keikhlasannya, ketawadduan, dan kesabarannya dalam acara-acara dan Dialog Jumat Subuh. Terlebih ketika beliau mengajari saya dalam kelas. Saya betul-betul ingat itu.

Di atas pusaranya semua itu sontak hadir kembali di depan mata hati saya. Sehingga saya merasakan kesunyian dan kedamaian yang begitu mendalam. Padahal, kalau kuburan pada umumnya terkesan menakutkan, apalagi ditambahi dengan isu-isu hantu. Orang takut lewat di kuburan, termasuk saya paling ngeri soal kuburan dan hantu. Tapi untuk kuburan beliau saya bukan takut malah sekan saya ingin lama-lama di dekatnya, merasakan kedamaian di dekatnya; seakan beliau menasehati saya seperti masa hidupnya. Saya dapat ilmu dan ketenangan batin baru.

Saya ingat, benar apa yang dikatakan para ulama, bahwa hidupnya orang alim (berprestasi) itu lebih abadi, dia tidak akan pernah mati di sisi manusia di dunia. Meski sudah berkalang tanah fisiknya, sebetulnya Beliau tetap hidup. Ini betul dan saya rasakan pada Kiai saya ini. Beliau masih hidup, nasehat-nasehatnya tetap hangat di hati saya, karya-karyanya masih bisa saya baca, lebih-lebih pesantren besar ini, masih berdiri gagah. Semua itu adalah amal solehnya.

Beliaulah saya kira sosok manusia yang pantas mengatakan apa yang dikatakan oleh sastrawan Choiril Anwar,”Aku ingin hidup seribu tahun lagi”. Ini menjadi kenyataan.

Lain lagi dengan matinya orang awam pada umumnya. Paling jauh sebulan sudah terlupakan, itupun hanya diingat oleh keluarganya. Bahkan keluarganya sendiri melupakannya. Lebih celaka lagi, ada orang yang memang diharapkan kematiannya, karena perbuatannya yang hanya dapat mendatangkan malapetaka bagi orang lain. Hidupnya saja sudah dilupakan bahkan sengaja dijauhi oleh yang lainnya.

Ini menjadi patenger bagi kita, bahwa tidak ada sesuatu yang dapat dibawa kita mati, dan yang mengabadikan umur kita di dunia ini kecuali amal soleh. Amal yang membuat manusia yang lain menjadi damai, tentram, dan bahagia.

Untuk Kiai saya yang jauh di sana, amalmu sudah pasti, saya yakin diterima Tuhan, dan kau sedang menikmatinya. Sekarang, saya sebagai santrimu, dengarkanlah suara ini: terima kata maafku, dan doakanlah kepada Tuhamu semoga saya dan semua santri di sini baik yang lama maupun akan datang dapat dan mampu meneruskan cita-citamu, mewarisi amal-amal solehmu, memenuhi kekurangan-kekuranganmu, serta kami taat Tuhan dan berkeprimanusiaan. Pateng beribadah, yakin dalam doa, gigih berusaha, sabar dalam coba, ikhlas dalam amal, kasih sayang antara sesama, saling menghormati dan menghargai, membawa kesejukan untuk bersama, serta konsisten.