Senin, Desember 21, 2009

Bela Diri dan Ego Manusia


 Melihat penampilan Bela Diri,  saya ingat beberapa tahun yang lalu ketika saya belum kuliah di rumah. Sejak kecil, meski sekarang saya tidak ahli dalam praktik Bela Diri, saya betul-betul digodok sama Bapak saya sendiri dengn latihan Bela Diri di rumah. Memang pada saat itu di rumah saya sedang aktif-aktifnya latihan Bela Diri.

Banyak orang tua muda berlatih kepada Bapak saya. Memang kebetulan saya punya Bapak yang sama orang dipercayai pintar Bela Diri. Entah sejarahnya apa kok Bapak saya dipercayai seperti itu, apakah Bapak saya dulu pernah  tampil di depan masyarakat mempragakan keahlian Bela Dirinya, atau Bapak saya pernah tarung dengan orang dan menang disaksikan oleh masyarakat, saya tidak tahu itu.

Tanpa niat mempromosikan keahlian Bapak saya, atau lebih jauh lagi perasaan sombong mengumbar kelebihannya, Alhamdulillah, saya sangat bersyukur punya Bapak, orang yang katakanlah meski tidak pernah mengenyam pendidikan sama sekali, maklum termasuk orang kuno, masih memiliki keahlian yang jarang orang memilikinya.

Dengan ini, akhirnya saya semakin sadar bahwa masing-masing manusia pasti sama Tuhan dianugrahi dengan kelebihannya sendiri yang sesuai dengan potensi dirinya. Sebab, dengan kelebihannya itu dia akan hidup sekaligus sebagai instrumen ibadah kepada-Nya. Sehingga sangat amat muhal manusia tidak memiliki kelebihan dalam dirinya, siapapun itu. Hanya saja persoalannya adalah disadari atau tidak kelebihan itu. Dan, diniatkan untuk ibadah atau tidak kelebihan itu.

Misalnya, Bapak saya itu dengan keahlian Bela Dirinya, maka dikenal atau disegani orang. Sekaligus bila diniatkan untuk ibadah, maka dia akan dapat pahala setiap mengajari para muridnya. Dengan pelatihan Bela Diri itu juga Bapak saya bisa berdakwa atau menolong orang dari aniaya orang lain yang jahat. Begitu juga murid-muridnya, dengan Bela Diri dari Bapak saya itu, mereka bisa menjaga dan melindungi dirinya dari aniaya fisik orang lain, sekaligus bisa membela dan melindungi orang lain. Kan ini sebuah amal yang amat manusiawi dan mengandung pahala?

Bahkan, konon, para ulama membela dan melindungi Islam dan Indonesia ini dari penjajahan dengan keahlian Bela Diri itu. Tanpa keahlian itu amat sulit sekali mereka bisa menang dalam perang. Akhirnya, Islam dan Indonesia bisa bereksistensi di negri ini sampai sekarang.

Tapi, Bela Diri di zaman sekarang maknanya berubah, entah semakin diperluas atau diselewengkan. Pertama, Bela Diri tidak hanya sebagai membela diri dari aniaya orang, tapi menjadi lebih tampak dan populer sebagai momen olah raga dan turnamen atau perlombaan. Bahkan turnamen antar Negara. Sering kita dengar istilah PON, SEA GAME, Olimpiade, dan istilah lainnya. Ada yang menang dan ada yang kalah. Yang menang dapat hadiah.

Kedua, menjadi momen hiburan. Kita sering melihat di acara atau even tertentu penampilan-penampilan Bela Diri. Dan biasanya dibumbui dengan atraksi-atraksi ilmu kebatinan. Seperti biasanya ketika acara-acara peringatan 17 Agustusan, ada yang menarik mobil besar dengan rambutnya, ada yang dililiti letusan mercon, ada yang memecahkan batu bata hanya dengan kepalan tangannya, ada yang dilindas mobil, ada juga yang makan beling, dan ada juga yang dibacok tidak mampan.

Tapi itu masih mendingan, justru menjadikan makna dan fungsi dunia Bela Diri lebih kaya, dari pada Bela Diri disalahartikan atau disalahgunakan. Dibuat menganiaya orang, benteng kekuatan jaringan mavia, lebih-lebih terorisme.

Pasti pembaca akan bertanya-tanya tentang istilah Bela Diri ini. Bela Diri yang saya maksud adalah Bela Diri secara konotasi. Artinya, Bela Diri bukan arti dalam kamus yang maknanya berdekatan dengan melindungi diri atau menjaga diri, sehingga tidak ada makna khusus. Kalau begitu berarti menjaga diri atau melindungi diri pada umumnya yang siapa saja pasti memilikinya. Siapa saja pasti membela dan menjaga dirinya sendiri.

Tapi, Bela Diri di sini adalah kesatuan kata yang menjadi istilah, nama, atau sebutan khusus untuk sesuatu, yaitu dunia persilatan. Maka Bela Diri di sini berarti silat. Ketika orang berbicara “latihan Bela Diri” berarti “latihan silat”, bukan semata latihan menjaga diri.

Jadi, Bela Diri di sini berarti lebih khusus dinisbatkan kepada aktifitas orang yang membela dirinya dengan teori, metode, dan seni khusus yang disebut dengan silat, sehingga membutuhkan latihan khusus. Maka, bila dinisbatkan kepada istilah denotasi pada umumnya, Bela Diri atau silat adalah salah satu cara orang untuk membela dirinya.

Maka dari itu, orang yang tidak memiliki keahlian silat, bukan berarti tidak bisa membela dirinya, tapi membela dirinya dengan caranya sendiri selain dengan silat itu. Entah dengan bom, pistol, tulisan, argumen, algojo, alibi, dan sebagainya.

Tiap orang pasti membela dirinya dengan cara-cara yang beraneka ragam itu; yang layak semestinya atau yang tidak semestinya; Baik dalam posisi salah ataupun memang dalam keadaan benar. Yang jelas, orang pasti tidak akan mencelakaan dirinya sendiri.

Nah, akhir-akhir ini banyak jenis cara dan trik pembelaan orang untuk dirinya yang unik, bahkan aneh. Anehmya, banyak orang yang sudah nyata-nyata bersalah masih membela dirinya sebagai pihak yang benar sampai ngotot-ngototan dengan segala caranya. Anehnya lagi, meski sudah jelas demikian pembelaannya bisa lolos mulus, selamat dari tuntutan dan hukuman.

Di samping itu, banyak yang mereka pada hakekatnya wajar dan semestinya membela diri karena benar, malah terjerat hukuman. Pembelaannya acap kali gagal total. Dasar manusia, banyak yang terlalu egoistik dengan kediriannya. Selalu merasa benar sendiri. Hebat sendiri. Sehingga harus selalu menjaga diri bagaimanapun keadaan dan caranya.

Yang lucu, ketika alam juga merasa harus membela dirinya, dari keserakahan manusia. Alam selalu diekspoitasi dan diambil untungnya saja. Bahkan, untungnya justru hanya untuk sombong-sombongan, dan berfoya-foya tanpa ingat terhadap ketenangan dan kelestarian alam itu sendiri. Sehingga menuntut alam untuk membela dirinya dengan ketidaksabarannya dan bala tentaranya; tsunami, banjir, gempa bumi, luberan lumpur, badai, dan yang lebik marak lagi, global warming. Tak perlu silat-silatan. Baru manusia merasa dan sadar bahwa dirinya lemah. Akhirnya, tinggal ratapannya, tinggal tangisannya, dan tinggal ceritanya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar