Selasa, Desember 01, 2009

Gelisah


Orang itu tiap hari terlihat gelisah. Seakan ada hal yang menyesakkan dadanya dan ingin lepas darinya. Dia seorang guru yang tiap usai ngajar merenung diri di kantor sampai jam pulang. Tapi dia tidak pulang-pulang sampai suasana sepi sendiri di kantor. Kadang sampai ketiduran di atas shofa atau depan televisi. Kadang pula numpang tidur di kamar ustadz yang diam di asrama pesantren, yang diakui sebagai teman instannya.

Hampir tiap ngajar di pesantren ini dia langung nginep secara gantian di kamar guru-guru lainnya hingga pagi hari, baru pulang.

Tapi kerap juga kalau jadwalnya sampai keesokan harinya dia tidak pulang tapi langsung tembus keesokan harinya lagi.

Kadang kalau sudah pas saya pulang terakhir dari kantor, dia ikut ke kamar saya sekaligus numpang makan di dapur saya. Di kamar, kerjanya kalau tidak tidur nonton film di komputer seharian sambil ngerokok. Tak hirau bagaimana suasana hati sang pemilik kamar.

Sesekali saya sempat sial atau bosan ke dia. Saya berpikir, ada apa dengan dirinya. Kok malah suka diam di kamarnya orang. memangnya apa yang terjadi di rumahnya, kok sampai malas pulang. Apakah ga’ ingat ke istrinya, anaknya, dan familinya yang lain. Bahkan, saya sempat berpikiran macam-macam, ini orang normal atau sedang stress sih? Masak ada ustadz seperti ini, ga’ suka pulang ke rumahnya, amat memalukan!

Perasaan demikian ternyata bukan hanya saya, tapi juga guru-guru yang lainnya, baik mereka yang kamarnya pernah disinggahi untuk numpang tidur atau mereka yang hanya tahu sekilas saat ketemu di kantor.

Tapi, saya tetap menyadari, tidak langsung menyimpulkan nasib seseorang, kecuali sesekali saja perasaan di atas. Artinya, pasti ada latar belakang logis yang menyebabkan dia dalam keadaan tidak pasti demikian. Tidak mungkin seseorang tiba-tiba aneh kalau tiada sebabnya. Apalagi seorang ustadz yang paling tidak lebih dewasa memahami dinamika kehidupan secara religius dari pada orang-orang pada umumnya. Saya yakin dia punya masalah di keluarganya.

Akhirnya, karena saking kasihan dicampur bosan, saya bertanya kepadanya tentang keadaannya yang ga' suka pulang tersebut. Jawabannya, benar taksiran saya, dia sedang dirundung masalah yang cukup rumit di keluarganya. Yaitu, sedang cekcok dengan mertuanya sedangkan dia ikut istrinya di rumah mertuanya itu. Mau pulang ke rumahnya sendiri ngajak istri dan anaknya dilarang oleh mertuanya. Akhirnya, dia cuma bisa bingung dan menyerah dengan keadaan seperti nasibnya sekarang, terkatung-katung.

Kalau kita nilai sekilas, kayaknya dia menjadi lelaki cengeng. Sebagai lelaki yang suami tidak tegas atau tidak bisa mengambil keputusan atau memecahkan masalah. Tapi, kita jangan gegabah menilai demikian, apalagi suudhon. Kita harus selalu husnudhon, yaitu mengembalikan kepada yang semula tadi, pasti ada alasan logis yang membuatnya dalam keadaan rumit demikian. Sebab atau alasan itulah yang harus dicari sehingga dapat diketahui solusinya.

Sebab, orang akan lincah atau mudah ngomong kalau tidak menghadapi masalah rumit sendiri. Tapi kalau sudah dirundung sendiri, paling tidak juga akan keder. apalagi sangat akut. Pikiran normal dan tenang akan berkurang.

Tapi, itulah manusia, tidak akan terlepas dari masalah. Justru dengan masalah itu hidup akan menjadi semakin dewasa dan matang. Bermakna dan nikmat. Hanya saja bisa seperti itu, kalau bisa menghadapi tiap masalah. Nah, dalam menghadapi masalah itulah orang bermacam-macam karakter, sikap, dan caranya yang muaranya mempengaruhi nasib hidupnya.

Ada yang langsung nervous, trauma, dan bahkan koma. Tentunya jika seperti ini masalah tidak akan selesai malah menambah masalah; ada juga yang langsung menyerah karena tidak tahu caranya atau karena malas. Yang begini tentu masalahnya akan berlarut-larut, mungkin seperi ustadz di atas; ada juga yang langsung serius dan gawat menghadapinya sehingga beres; ada juga yang serius dan gawat tapi tidak beres; dan, ada juga yang santai-santai atau enjoi-enjoi saja tapi beres dan selamat. Yang terakhir ini mungkin yang disebut pelan tapi pasti.

Lalu, inginnya kita tipe orang yang mana. Pasti ingin yang terakhir, santai tapi pasti. Tapi meski santai tapi pasti, tidak semudah mengatakan itu. Ada ilmunya. Sehingga, orang yang demikian biasanya orang yang berilmu.

Sama halnya orang yang pendiam. Kenapa pendiam, karena ilmunya luas sehingga tak lagi banyak bicara. Setiap gerakannya berdasarkan ilmu yang meyakinkan. Tong kosong nyaring bunyinya, demikian pepatah mengabadikan. Meski, tak semua orang yang pendiam itu berisi.

Sesuatu menjadi rumit, ruwet, rame, atau gawat, karena ga’ ada ilmunya. Atau ada ilmunya tapi nanggung-nanggung. Maka dari itu, pastinya, hidup akan menjadi ’pelan tapi pasti”, kalau hidup didasari atas ilmu.

Lalu, bukankah ustadz itu berilmu? Tentu. Tapi, bisa jadi ilmunya tidak bermanfaat. Tidak membawa kemaslahatan baginya. Sebab, esensinya adalah bukan hanya memiliki ilmu. Tidak sesederhana demikian. Tapi, ada unsur-unsur lain yang utuh yang saling mempengaruhi.

Termasuk bagaimana di saat nuntut ilmu. Pasti akan beda hasilnya, orang yang mondok atau sekolahnya puluhan tahun tapi ga’ serius, kerjanya hanya tidur atau maen-maen, dengan orang yang belajarnya sedikit tahun tapi betul-betul serius. Apalagi saat mondok atau belajar sering nyakiti teman dan gurunya. Keluar-keluarnya dari pesantren atau sekolah bukan malah menjadi alumni yang membawa kemaslahatan, malah hidupnya penuh masalah sebagai balasan. Hidupnya selalu gelisah.

29 Desember 2009

Tidak ada komentar:

Posting Komentar