Jumat, Desember 11, 2009

Kuburan, Mengenang Kematian

Sudah tiga kali malam jumat, alhmdulillah, saya konsisten berziaroh ke pusara Kiai sepuh saya, KH. Muhammad Tijani Jauhari. Semenjak berpulangnya beliau kehadirat Tuhan, saya memang ingin selalu konsisten nyambang beliau meski hanya berupa pusaranya. Saya lakukan demikian bukan saya latah terhadap orang-orang yang suka nangis-nangis bahkan sampai nyembah-nyembah ke makam para wali.

Saya melakukannya, sederhana sekali, karena saya sadar mumpung saya ada di pesantren yang tiap hari dekat dengan makamnya, saya harus sering-sering mengunjunginya hanya demi mengenang prestasi-prestasinya. Siapa tahu timbul semangat dan stimulasi untuk serius meneruskan cita-cita suci beliau. Karena saya sebagai santrinya.

Di samping itu, saya sadar, bahwa saya tidak dapat berbuat apa-apa untuk pesantren. Apalagi saya banyak salah kepada Beliau saat masih hidup; saya sering nyakiti Beliau ketika sedang ngajar, berupa ngantuk, atau mungkin terlambat masuk. Saya ingat itu.

Sebetulnya kesadaran itu tak bagus. Sebab, ketika sudah meninggal baru sadar, sudah tidak ada orangnya. Saat masih hidup tak pernah dikunjungi, tak pernah disalami.

Tapi, saya pikir, dari pada tidak ingat sama sekali; saat hidup tak ingat, lebih-lebih saat sudah wafat lebih tidak ingat lagi. Ini keterlaluan namanya. Saya tidak mau jadi orang keterlauan itu. Jadi saya menziarohi asta Beliau hanya untuk mengenang saja.

Kalau biasanya saya bertawassul (membacakan fatihah buat beliau), bersolawat kepada Nabi, dan membaca beberapa surat Al-Quran, malam jumat ini saya tidak bisa demikian sebab lampunya mati, sehingga saya berdiri di samping astanya dan hanya membaca fatihah dan beberapa surat pendek yang saya hafal saja.

Siapa tahu bisa nyampe ke Beliau menjadi tambahan pahala amal soleh di akherat. Paling tidak kembali kepada diri saya sendiri. Artinya, saya dapat cipratan bacaan-bacaan itu.

Konon, kata Kiai saya di desa, mengunjungi dan membacakan fatihah kepada orang yang sudah meninggal itu (kedua orang tua atau para ahli ilmu dan ibadah) bukan berarti sia-sia atau bahkan ada yang bilang makruh atau haram.

Logikanya, orang ahli ibadah itu ibarat mangkok yang berisi penuh dengan air (pahala). Siapa tahu gelas yang penuh itu ketika kita tuang dengan air lagi (bacaan fatihah) cipratannya ke diri kita sendiri (sebagai gelas yang masih kosong dengan air pahala), katanya.

Sebuah keunikan, di saat membaca bacaan-bacaan itu saya seakan tidak berdiri di atas sebuah kuburan, tapi terasa berdiri di depan Beliau secara langsung. Seakan Beliau tersenyum di depan saya sekaligus mengasih beberapa nasehat kepada saya.

Sebab, sungguh, semua nasehat-nasehat beliau semasa hidup tetap melekat di sanubari saya, saat beliau mengasih wejangan-wejangan kepada kami santri-santrinya, dengan senyumnya yang khas menunjukkan keikhlasannya, ketawadduan, dan kesabarannya dalam acara-acara dan Dialog Jumat Subuh. Terlebih ketika beliau mengajari saya dalam kelas. Saya betul-betul ingat itu.

Di atas pusaranya semua itu sontak hadir kembali di depan mata hati saya. Sehingga saya merasakan kesunyian dan kedamaian yang begitu mendalam. Padahal, kalau kuburan pada umumnya terkesan menakutkan, apalagi ditambahi dengan isu-isu hantu. Orang takut lewat di kuburan, termasuk saya paling ngeri soal kuburan dan hantu. Tapi untuk kuburan beliau saya bukan takut malah sekan saya ingin lama-lama di dekatnya, merasakan kedamaian di dekatnya; seakan beliau menasehati saya seperti masa hidupnya. Saya dapat ilmu dan ketenangan batin baru.

Saya ingat, benar apa yang dikatakan para ulama, bahwa hidupnya orang alim (berprestasi) itu lebih abadi, dia tidak akan pernah mati di sisi manusia di dunia. Meski sudah berkalang tanah fisiknya, sebetulnya Beliau tetap hidup. Ini betul dan saya rasakan pada Kiai saya ini. Beliau masih hidup, nasehat-nasehatnya tetap hangat di hati saya, karya-karyanya masih bisa saya baca, lebih-lebih pesantren besar ini, masih berdiri gagah. Semua itu adalah amal solehnya.

Beliaulah saya kira sosok manusia yang pantas mengatakan apa yang dikatakan oleh sastrawan Choiril Anwar,”Aku ingin hidup seribu tahun lagi”. Ini menjadi kenyataan.

Lain lagi dengan matinya orang awam pada umumnya. Paling jauh sebulan sudah terlupakan, itupun hanya diingat oleh keluarganya. Bahkan keluarganya sendiri melupakannya. Lebih celaka lagi, ada orang yang memang diharapkan kematiannya, karena perbuatannya yang hanya dapat mendatangkan malapetaka bagi orang lain. Hidupnya saja sudah dilupakan bahkan sengaja dijauhi oleh yang lainnya.

Ini menjadi patenger bagi kita, bahwa tidak ada sesuatu yang dapat dibawa kita mati, dan yang mengabadikan umur kita di dunia ini kecuali amal soleh. Amal yang membuat manusia yang lain menjadi damai, tentram, dan bahagia.

Untuk Kiai saya yang jauh di sana, amalmu sudah pasti, saya yakin diterima Tuhan, dan kau sedang menikmatinya. Sekarang, saya sebagai santrimu, dengarkanlah suara ini: terima kata maafku, dan doakanlah kepada Tuhamu semoga saya dan semua santri di sini baik yang lama maupun akan datang dapat dan mampu meneruskan cita-citamu, mewarisi amal-amal solehmu, memenuhi kekurangan-kekuranganmu, serta kami taat Tuhan dan berkeprimanusiaan. Pateng beribadah, yakin dalam doa, gigih berusaha, sabar dalam coba, ikhlas dalam amal, kasih sayang antara sesama, saling menghormati dan menghargai, membawa kesejukan untuk bersama, serta konsisten.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar