Jumat, Desember 25, 2009

Mimpi, Tuhanpun Berproses


Mimpi. Pasti membacanya otak kita akan mengarah kepada tidur. Sebab, seperti biasanya, orang berbicara mimpi berarti orang berbicara tidur. Mimpi jadinya selalu identik dengan tidur. Itu benar.

Tapi mimpi di sini bukan berarti mimpi dalam tidur itu. Mimpi yang saya maksud adalah mimpi yang bermakna konotasi. Yakni, mimpi yang berarti cita-cita, ambisi, atau keinginan tinggi. Pengertian ini mengacu kepada kata kiai saya di pesantren. Beliau sering menasehatkan kepada kami santri-santrinya bahwa kami harus memiliki mimpi-mimpi yang tinggi agar menjadi orang yang sukses dan bahagia di masa depan.

Kata mimpi itu kerapkali menghiasi nasehat-nasehat beliau, hampir di setiap pertemuan, sehingga seakan-akan memiliki nilai motivasi tersendiri yang paling tinggi untuk para santrinya.

Saya ingat kata ini dan tergelitik untuk mengabadikannya dengan catatan sederhana ini setelah saya dan dua teman saya tanpa sengaja membahasnya di kamar.

Di kamar asrama, saya memang hanya memiliki dua seorang teman, tiada lain. Satu kamar isinya cuma tiga orang. Dan kebetulan kami memang sudah saling akrab meski sebelumnya tidak sekamar, apalagi satu kamar.

Salah satu teman kami yang paling tua tiba-tiba keluar lebih awal dari Masjid dan masuk ke kamar duluan, sehingga saat kami masuk kamar dia sudah duduk duluan dengan posisi yang sangat strategis di depan komputer. Betul-betul tidak seperti biasanya.

Karena melihat hal yang menurut kami aneh itu, akhirnya kami menggojlognya, ”Tumben tak seperti biasanya, serius banget di depan komputer kayak penulis handal aja”, gojlokan saya kepadanya. Teman saya yang satunya cuma menertawainya.

Lalu, dia menanggapi saya dengan serius, ”E, saat sholat jamaah Magrib tadi, tiba-tiba muncul inspirasi bagus di otak saya untuk membuat cerpen. Saya pingin bisa nulis cerpen. Akhirnya saya langsung keluar dulu langsung menulis cerpen dengan inspirasi yang berkelebat dalam sholat saya itu, takut keburu hilang. Saya iri kepada teman saya yang kuliah di Mesir, karya-karya cerpennya sering dimuat di majalah-majalah yang darinya dia bisa membiayai kuliahnya di sana. Cerpennya bagus. Sehingga saya jadi amat sangat pingin bisa cerpen juga.” Katanya.

mendengarnya kami yang dua orang cuma bisa tertawa cekikikan, sebab memang sebelumnya dia tidak pernah nulis sama sekali, kecuali ada tugas-tugas kuliah, apalagi nulis cerpen. Ga’ ada potongan dia pateng menulis cerpen. Demikian dalam perasaan kami sehingga seakan menjadi hal yang sangat amat lucu.

Tapi, di balik mulut saya yang cekikikan itu, saya sambil merenunginya dalam hati, apalagi kebetulan saya juga berambisi untuk jadi penulis, termasuk menulis cerpen, yang saya rasa selama ini saya tidak pernah berhasil. Saya merasa sulit membuat cerpen. Tapi, setiap saya membaca cerpennya teman-teman yang masuk di media masa saya menjadi iri. Padahal, saya pikir mereka juga pernah sekelas dengan saya, dan sama-sama makan nasi.

Sehingga, perasaan teman itu juga saya renungi menjadi singgungan sekaligus motivasi tak terduga yang amat berharga bagi saya yang bermimpi jadi penulis juga.

Akhirnya, kami saling curhat tentang ambisi atau mimpi-mimpi itu. Diantara kami ada yang bermimpi kelak bisa membangun pesantren besar yang fenomenal, santri-santrinya berprestasi sedunia. Yang satu tadi juga bermimpi jadi motivator terkenal sekaligus bisnismen yang dermawan. Termasuk juga saya bermimpi, ingin menjadi penulis sejati, suatu hari media massa-media massa akan diwarnai dengan karya-karya saya yang fenomenal. Dengannya saya menyampaikan pengetahuan dan kebenaran

Kesimpulan akhir, meski terkesan agak materialistis, tapi bukan untuk itu, kami bersama bermimpi, suatu hari kami akan diundang oleh stasion televisi untuk menyemangati manusia tentang prestasi-prestasi kami yang fenomenal. Semisal acara Kick Andi yang menampilkan orang-orang yang prestisius fenomenal, sehingga menjadi contoh bagi yang lain.

Setiap kami saling menjadi saksi bagaimana sepak terjang kami terkhusus ketika bersama di kampus, sehingga kami menjadi orang prestisius itu. Para penonton saling terharu menyaksikan kami, seperti terharunya ketika Andrea Hirata dipertemukan dengan gurunya Bu’ Muslimah yang terkisahkan dalam karya fenomenalnya, ”Laskar Pelangi”. Ini mimpi kami.

Dari itu saya menyadari, bahwa pasti tiap orang di dunia ini memiliki mimpi-mipi itu. Ada suatu hal yang harus diraih di masa depannya. Masing-masing memiliki rasa ingin sukses dan bahagia di masa depannya. Masa depan yang sungguh cemerlang.

Hanya saja dengan cara dan bentuknya yang berbeda. Ada yang bermimpi jadi bisnismen kaya raya; ada yang bermimpi menjadi motivator terkenal; ada yang bermimpi jadi pejabat tinggi; ada yang bermimpi jadi kiai, dan sebagainya.

Caranya juga berbeda, dari yang logis sampai yang mistis; ada yang melalui jalur sekolah sampai tinggi; ada yang dengan bekerja tanpa henti; ada yang memperluas pengalaman dengan menjadi musafir; ada yang dengan mempebanyak dzikir; ada yang tiap hari berpuasa; bahkan ada yang bertapa di dalam gua; juga ada yang tidur-tiduran saja. Pokoknya banyak macam mimpi dan caranya. Sungguh, hidup memang indah dan konpleks. Tuhan Maha Adil.

Di samping itu, kita tidak tahu mana yang akan berhasil dan gagal merangkai mimpinya itu. Sebab, yang terakhir ini menjadi urusan Tuhan yang akal kita sampai kapanpun tidak akan dapat mengurusnya.

Akhirnya orang bilang, ”Man purpose God dispose”. Manusia bisanya hanya berusaha, Tuhan yang memastikan. tapI, Tuhan tidak sa’ karepe udele dewe, orang Jawa mengatakannya, meski Dia bisa melakukan apa saja. Sebab, Dia tidak menyia-nyiakan hukum-Nya sendiri di dunia ini, sekaligus mengajari manusia bahwa segala sesuatunya dalam hidup ini harus melalui proses usaha, bukan sulap. Seperti halnya, Tuhan masih menciptakan bumi berproses sampai enam hari meski Tuhan bisa melakukannya dalam sekejap. Itulah proses, itulah usaha.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar