Selasa, Desember 01, 2009

Mujur


Saya dan seorang teman berbincang mengenai penyusunan skripsi. Dia bercerita, sudah beberapa hari ada di luar rumahnya nginep di rumah temannya demi mencari referensi yang tak ketemu-ketemu. Dia lalu sambat ke saya, betapa sulitnya buat skripsi, nyari referensinya saja tak kunjung ketemu, belum lagi buatnya.

Lalu dia meneruskan, kalau buat skripsi serius ce' sulitnya. Hanya demi sarjana yang betul-betul serius. Tapi kenapa kok yang santai-santai seperti yang sebelum-sebelumnya malah berhasil jadi wisudawan. Padahal, konon, banyak yang buat skripsi cuma satu mingguan. Semuanya palsu.

Bahkan ada yang malah dibuatkan secara keroyokan oleh teman-temannya. Bedanya dengan yang di luar kampus pesantren, dibuatkan tanpa uang saja. Tapi mereka sama-sama lulus menyandang sarjana SI. Anehnya lagi, sekarang ada yang ke jenjang pasca sarjana di ibu kota.

Lalu, dia menyimpulkan, mungkin ini yang kata orang-orang tua disebut kemujuran. Jadi, kesuksesan bukan buat mereka yang giat atau serius, tapi yang mujur. Siapa yang mujur dia yang sukses, katanya.

Kemujuran itu, kalau saya tangkap dari pemahamannya, adalah lebih dekat dengan sesuatu yang misterius. Artinya, kemujuran itu tidak bisa dinyana, atau direncanakan, tapi datangnya tiba-tiba, tak disangka-sangka, bahkan acapkali tidak masuk akal.

Seperti cerita di atas, kalau dilihat dari prosesnya saja tidak lulus, baik dari belajarnya setiap hari yang tergolong mahasiswa berpentium satu plus jarang baca, apalagi buatnya dibuatin teman-temannya, ternyata lulus menyandang sarjana SI duduk bersama-sama dengan mereka yang betul-betul serius tanpa ada beda di depan mata. Jadi, anak itu bisa disebut mujur. Kemujuran mungkin bisa disebut juga dengan keberuntungan.

Lain dari pada yang namanya kesuksesan. Kesuksesan lebih linier dengan usaha atau yang direncanakan. Seperti, sukses dalam kemenangan sebuah even lomba. Ada seorang peserta yang memang diniatkan serius untuk menang lomba, sehingga dia berusaha sekuat tenaga untuk menang, sampai pontang-panting ngurus ini ngurus itu, siap ini siap itu, akhirnya dia betul-betul menang. Maka, dikatakan kepadanya "selamat sukses". Tapi sebaliknya, ketika dia gagal maka akan dikatakan dia gagal dan harus bersabar serta berusaha lagi.

Sedangkan kemujuran atau keberuntungan. Ada seorang peserta lomba yang ikutnya santai-santai saja, bahkan tak terlalu ambisi untuk menang. Pokoknya berpartisipasi saja. Apalagi ga' pernah ikut lomba seperti yang serius tadi. Sehingga, usahanya juga tak seberapa, pokoknya menyiapakan apa adanya, selesai. Tapi, ternyata ga' disangka-sangka dia yang jadi juaranya. Maka, akan dikatakan kepadanya "kamu beruntung atau mujur".

Terkait dengan kemujuran ini, saya ingat sebuah prinsip atau pesan dalam sebuah persilatan. Ketika saya dan teman-teman sedang berlatih, guru kami mengatakan, "Menang kuat atau besar tapi kalah cepat, kalah. Menang cepat tapi kalah lincah, kalah. Menang lincah tapi kalah ilmu, kalah. Dan, menang ilmu tapi kalah mujur (dalam bahasa madura: jeejeh), kalah.

Artinya, orang yang lebih kuat atau besar akan kalah dengan orang yang lebih kecil tapi dia bergerak cepat. Orang yang geraknya lebih cepat akan kalah dengan orang yang lebih lincah atau lihai. Orang yang lebih lincah atau lihai akan kalah dengan orang yang memiliki ilmu.

Bayangkan saja, misalnya, ada orang yang rebutan suatu barang. Yang satu kuat, cepat larinya, plus lihai geraknya, dia akan kalah dengan orang yang memiliki ilmu yang mampu ngambil barang itu tanpa bergerak dari tempatnya. Tapi akhirnya, orang yang ilmunya hebat bagaimana pun, kalau dia kalah mujur, ya kalah. Pasti ada saja apesnya yang membuat ilmunya kalah dengan orang yang mujur meskipun tidak memiliki apa-apa.

Walaupun mujur misterius demikian, dia dapat disengaja dimiliki oleh seseorang. Kuncinya, dia harus dapat mengambil hati yang memiki kemujuran yang misterius itu, yaitu Tuhan. Untuk mendekati Tuhan, itu gampang saja, tinggal dia menjalankan apa maunya Tuhan, atau melakukan sesuatu yang disukai-Nya, yaitu benar dan ikhlas.

Orang yang selalu benar (saleh) dan ikhlas meski dia bodoh, dia akan selamat atau mujur. Misal nyatanya, orang yang mengambil istrinya orang lain. Kuatkan tenaganya, lincahkan geraknya, tinggikan otoritasnya, dan hebatkan ilmunya, tapi dia ngambil istrinya orang, maka dia akan kalah bertempur dengan orang yang diambil istrinya meski dia tidak memiliki apa-apa. Meski pada saat itu orang yang ngambil itu menang secara fisik, pasti suatu saat akan ada saja jalan menuju kecelakaan atau kekalahannya.

Pembaca akan mengakui fenomena ini. Ini nyata. Sering terjadi dalam banyak bidangnya.

Akhirnya, gampang mendapatkan kemujuran. Tinggal miliki kuncinya, yaitu kebenaran dan keikhlasan. Makanya ada ungkapan, "Kebenaran akan tetap menang selamanya". Sebetulnya, dari semua itu, kemujuran adalah nasib baik yang hanya didapat dari kebaikan.

Maka dari itu, hidup tak usah ruwet-ruwet. Santai saja tapi serius. Apa adanya berdasarkan kemampuannya. Jangan terlalu ngoyo. Yang penting dari segalanya adalah benar dan ikhlas. Gitu aja kok repot, katanya Gusdur.

02 Desember 2009

Tidak ada komentar:

Posting Komentar