Minggu, Desember 13, 2009

Pemulung Dan Hidup Kaya Raya Bahagia



Pemulung, mendengar katanya saja rasanya hanya tergambar kesengsaraan hidup padanya. Kecuali ditambah kalimatnya menjadi ”bosnya pemulung”. Tapi juga lihat apa yang dipulung. Meski akrab dengan sampah-sampah atau barang rongsokan lihat dulu sampahnya. Sampah apa yang dipulungnya.

Di sekitar rumah saya di desa, ada banyak orang yang kaya mendadak gara-gara jadi bosnya pemulung. Maka banyak juga yang jadi pemulungnya, dengan memakai sepeda khusus maupun jalan kaki. Mencari sampah tertentu kemudian disetor ke bosnya itu dan pulangnya mambawa penghasilan yang menurut level mereka lumayan cukup untuk kebutuhan. Bahkan dicelengi untuk keperluan yang lebih besar pada saat-saat tertentu, seperti beli baju anak istri di hari raya, atau beli televisi, dan sejenisnya.

Saya lihat, pada hari raya keluarga para pemulung memakai baju-baju baru juga, bahkan lebih narcis dari pada yang kaya-kaya bukan pemulung.

Mereka para bos pemulung, secara mendadak, sekitar hanya beberapa bulan memulai usaha serentak langsung bermobil, sekaligus bangun rumah besar, meski mobilnya juga dari hasil pulungan atau timbangan yang direnovasi kembali. Pokoknya bermobil. Ciri-cirinya, biasanya bosnya pemulung ini di rumahnya banyak bertumpukan sampah-sampah atau barang rongsokan, baik yang sudah dipilah berdasarkan jenisnya maupun yang masih kalang kabut dari penyetornya. Mulai dari yang berjenis kertas, plastik, dan besi.

Konon, orang Madura, katanya banyak yang sukses kerja di Jakarta dengan bisnis besi tua (besi bekas/rongsokan). Entah, apa sebagai pencari besi tuanya atau sebagai bos tempat penyetoran besi tua, saya tidak paham itu. Yang jelas, paling tidak mereka setelah pulang ke Madura bergaya narcis-narcis dan bermobil.

Teman saya di pesantren juga banyak yang cerita bahwa ayahnya bisnis besi tua di Jakarta. Bahkan ada yang baru lulus dari pesantren langsung boyongan ke Jakarta bisnis besi tua ikut paman atau orang tuanya. Tidak jarang yang ngajak saya.

Saya kira, pekerjaan apapun, asal boleh, pantas, wajar, dan halal dalam pandangan apapun, secara sosial terlebih agama, itu boleh dijalani.

Misalnya, di desa saya sekarang banyak orang yang menernak ayam potong dengan kandang khusus yang butuh lumayan luas. Ini halal, tapi tempatnya dibangun di dekat perumahan penduduk sehingga rumah penduduk dikerubungi lalat dan bau tidak enak yang bersumber dari kandang ayam tersebut. Akhirnya, hari-hari penduduk dipenuhi kegelisahan dengan lalat-lalat dan bau menyengat itu. Ini tidak wajar dan tidak manusiawi, meski ayam itu halal.

Di samping itu, sebetulnya pekerjaan jenis apapun asal dilakoni dengan manajemen yang baik sekaligus konsisten akan membuat orang kaya raya sekaligus bahagia dunia akherat.

Manajemen yang baik berarti bekerja berdasarkan ilmunya; bagaimana perencanaan, sistem kerja, dan strategi pengembangan keuangan yang lihai. Misalnya, jadi bosnya pemulung. Ini butuh keterampilan khusus, termasuk, tentunya, bagaimana mendapatkan modal tanpa menunggu memiliki uang, misalnya meminjam ke teman atau bank.

Kemudian bagaimana taktik pengembangannya yang jitu, termasuk misalnya dia tidak akan pernah membeli sesuatu atau barang untuk senang-senang dengan keuntungan perdana yang ia dapat, tapi dia berpikir bagaimana menjadikan keuntungan itu untuk menutupi pinjaman atau memperbanyak barang dagangan, sekaligus dia berpikir bagaimana bisnisnya itu tidak kalah saing dengan yang lainnya dan lebih terkenal agar orang-orang lebih menyetor kepadanya.

Begitu juga bagi pemulungnya yang beroperasi di lapangan. Dia harus mengatur strategi bagaimana dia mendapatkan barang rongsokan yang nilainya berkualitas tinggi (mahal) dan dirinya terkenal dan disukai masyarakat agar masyarakat lebih suka menjual rongsokan padanya, sehingga banyak hasilnya.

Selain manajemen yang jitu itu atau kecerdasan itu adalah tidak kalah pentingnya konsisten dalam kecerdasan dan kebaikan itu. Konsisten ini adalah jejeg dan yakin bahwa pekerjaannya itu dapat membahagiakannya dunia dan akherat.

Kaya sekaligus membahagiakan dunia akherat. Sebab, banyak orang kaya yang hanya membawa dirinya bahagia dunia saja tapi tidak di akherat kelak. Dan, ini tergantung dari jenis pekerjaannya. Orang yang kaya gara-gara mencuri atau merampok, meski bahagia tapi di dunia saja. Atau kayanya gara-gara korupsi, meski bahagia ya di dunia saja. Itupun kalau tidak ketahuan. Kalau ketahuan korupsinya malah kayanya membawa sengsara di dunia, lebih-lebih di akherat. Itulah pekerjaan orang yang tidak beres; tidak wajar, tidak pantas, sekaligus tidak halal.

Ada adagium pas untuk orang yang kaya tapi sengsara ini, tapi khusus dalam bahasa Madura saja. Yaitu, orang-orang di desa menyebut orang seperti itu dengan “sogi sarah”. Sebetulnya maksud aslinya adalah “kaya sekali atau sangat kaya”, tapi khusus untuk orang yang kaya raya tapi sengsara itu diplesetkan maknanya menjadi lebih filosofis “orang yang kaya tapi sengsara” (sarah diplesetkan menjadi sengsara).

Sebab, dalam bahasa Madura “sarah” bisa saja artinya sangat atau sekali, misalnya dalam kalimat “genteng sarah” (sangat ganteng), tapi juga bisa menjadi sengsara atau penuh derita, misalnya dalam kata “oreng se odi’en sarah” artinya orang yang hidupnya sengsara.

Jadi, gampang saja hidup, tak usah ruwet-ruwet: kalau bercita ingin kaya raya harus sekaligus diikuti dengan bahagia dunia akherat. Takut berhasil kaya raya tapi tak bahagia. Cara  ingin jadi orang kaya itu modalnya hanya dengan ilmu dan kekonsistenan. Tak usah repot-repot cari jenis pekerjaan yang macam-macam.

Menggambarkan pekerjaan hidup ini, saya ingat pesan Kiai saya, KH. Moh. Idris Jauhari, “Jangan kau mencari pekerjaan tapi bentuklah pekerjaan”, kata Beliau. Sedangkan kata Gusdur, gitu aja kok repot.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar