Sabtu, Desember 12, 2009

Pendidikan Holistik, Pendidikan Yang Manusiawi


Suara salamnya agak serak-serak basah dan terkesan malu-malu. Dia adalah seorang santri yang datang ke ustadznya. Dia mau meminta tanda tangan rekomendasi untuk dispensasi atau keringanan pembayaran uang pondok (pembayaran asrama dan indekos).

Ditanya sama ustadznya, kenapa kok minta rekomendasi, pekerjaan ortumu apa? Ortu saya orang tani miskin ustadz. Saya ga’ mampu membayar uang pondok secara penuh tiap bulan sehingga saya harus pakai rekomendasi ini, jawabannya. Dilihat datanya ortunya memang orang tani yang penghasilannya cuma cukup untuk makan sehari-hari. Tapi, dia nekat dan semangat untuk belajar di sebuah pesantren yang lumayan besar dan terkenal.

Sehingga dari ceritanya itu, dia maklum tidak mampu untuk membayar segala kebutuhannya di pondoknya, yang otomatis butuh biaya lebih dari pada pesantren yang biasa-biasa saja atau sekolah pada umumnya. Seperti butuh pembayaran asrama dan indekos.

Tapi, bukan berarti tidak patut atau tidak pantas belajar di sebuah pesantren yang besar dan terkenal. Siapapun, penulis yakin, bisa belajar di pesantren-pesantren selevel besar itu dengan jalannya atau caranya masing-masing. Maksudnya, tentunya kalau yang kaya pasti tidak ada kendala yang terlalu rumit dari sisi biaya.

Sedangkan bagi yang tidak mampu tadi, caranya lain. Yaitu, dengan modal keseriusan belajar, konsistensi, dan prestasi. Penulis sebut keseriusan belajar terlebih dulu, karena segala prestasi berangkat dari keseriusan itu. Bukan dari kepintaran otak, atau potensi kognitif, apalagi sekedar uang. Begitu juga, keseriusan menjadi percuma juga tanpa dibarengi dengan konsistensi. Yaitu keseriusan yang terus menerus. Di pesantren, cara ini biasanya termanifestasi melalui pemberian dispensasi bagi orang yang tidak mampu.

Sebab, kecerdasan otak (kognitif) yang dimiliki secara hereditas akan menjadi mandul kalau tidak didorong dengan keseriusan belajar. Adapun dengan keseriusan, meski otaknya tanggung-tanggung atau bahkan lemah sekalipun kalau dibarengi dengan keseriusan yang tinggi, akan ada keajaiban. Otak itu akan menjadi cerdas dan berprestasi.

Kita ingat cerita, bahwa orang alim mashur prestisius, Ibnu Hajar Al-Asqolani adalah bukan orang cerdas. Bahkan, saking amat bodohnya, beliau mengibaratkan kondisi otaknya sendiri dengan batu yang amat keras. Tapi sekeras apapun batu itu kalau terus menerus ditetesi air meski halus lama-lama akan bolong juga. Oleh karena itu beliau dijuluki dengan ”Ibnu Hajar”.

Begitu juga Albert Enstein yang populer dengan teori relativitasnya. Konon, dia mengaku bahwa dirinya menjadi cerdas dan dibilang manusia terjenius bukan karena dilahirkan dengan otak yang pinter, akan tetapi karena keseriusan dan ketekunannya dalam belajar.

Ini salah satu misal sistem dan prinsip pendidikan pesantren, bahwa pendidikan itu harus bersifat holistik (utuh) dari segala dimensinya. Karena segala yang ada dan terjadi di pesantren selama terlihat oleh anak didik akan dinilai. Segala dimensinya menjadi unsur signifikan pendidikan.

Fenomena dispensasi di atas menjadi gambaran bagaimana sistem menjadi unsur signifikan pendidikan. Tergambar pada sistem itu bahwa pendidikan harus mengutamakan nilai-nilai kemanusiaan, manusiawi. Semua manusia berhak untuk sekolah bagaimanapun keadaannya, apalagi hanya sekedar karena kendala ekonomi, selama sehat jasmani dan rohaninya serta niat serius, semangat, dan konsisten.

Mengajarkan nilai-nilai kemanusiaan, agar peserta didik menjadi manusia yang dewasa, yang merupakan tujuan inti pendidikan, bukan hanya sekedar dengan buku-buku pelajaran di kelas, tapi juga ada pada struktur sistem, kondisi gedung atau lingkungan sekolah, terlebih sikap guru. Inilah pendidikan yang holistik.

Tidak mungkin disebut pendidikan secara utuh, jika yang diajarkan di kelas tentang penghormatan atau penghargaan kemanusiaan misalnya, tapi sistem sekolahnya tak berkeprimanusiaan. Seperti, orang miskin tak bisa sekolah hanya gara-gara tak memenuhi syarat bayar ini bayar itu, atau hanya tak lulus tes masuk. Padahal, kesuksesan tidak berpangkal penuh pada pembayaran atau lulus tes itu.

Apalagi jika bersarang di dalam sebuah sekolah (bukan pesantren) oknum yang tega-teganya membebani segala macam tagihan pembayaran meski sudah digratiskan oleh pemerintah (BOS). Bahkan, konon, ada sekolah yang mencekal ijazah muridnya yang nyata-nyata bisa lulus. Ditambah lagi belakangan, ada oknum guru yang seenaknya bermaksiat blak-blakan (sek bebas). Belum lagi, persoalan masih banyaknya gedung sekolah yang tak layak, kasus-kasus seputar ujian CPNS, persoalan UNAS, dan sebagainya.

Itulah deretan daftar, paling tidak yang penulis pandang, ketidakberesan dunia pendidikan di negri kita ini. Masih bertumpuk banyak penyakit akut di tubuh pendidikan kita. Lalu, dari semua itu kita akan bertanya, mau dijadikan apa anak didik kita, murid-murid kita?

Penulis pandang, itulah akibat memandang pendidikan yang tidak utuh. Dikira kurikulum atau materi pelajaran saja yang membentuk masa depan murid. Padahal, segala yang tampak di sebuah lembaga pendidikan akan menjadi acuan nilai yang senantiasa direkam oleh peserta didik.

Selain holistik dari sisi internal lembaga pendidikan di atas, juga harus utuh dari sisi potensi peserta didiknya. Artinya, segala potensi yang ada pada diri peserta didik sama-sama diperhatikan secara utuh, potensi kognitif, afektif, dan psikomotorik. Bukan peserta didik disebut berhasil hanya dengan kelulusannya di UNAS dengan ujian tulis untuk beberapa mata pelajaran saja (kognitif). Kecuali UNAS dapat mencakupi semua potensi utuh itu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar