Minggu, Desember 13, 2009

Seperti Apa dan Di Manakah Tuhan?


(Catatan reflektif logis mengenai ide tentang misteri Tuhan)  

Berbincang mengenai Tuhan tidak ada habisnya sekaligus tidak ada kesimpulan paripurna. Apalagi sudah jelas-jelas dalam ajaran agama (Islam) bahwa manusia dilarang memikirkan diri Tuhan, sebab akal manusia tidak mungkin akan pernah menemukan-Nya.

Pertanyaan tentang Tuhan di atas, menjadi persoalan yang misterius sejak periode perkembangan manusia pertama kali, kira-kira 14.000 tahun silam. Menarik mengingat Ibrohim bagaimana dia mencari Tuhannya.

Bermula dari kekuatan alam materi, awal kali dia menganggap Matahari sebagai Tuhan karena mataharilah yang dia pandang suatu benda di alam yang paling kuat dapat menyinari seluruh bumi, tapi tak berapa lama matahari tenggelam diganti kegelapan. Lalu dia tidak percaya, tidak ada Tuhan yang tenggelam.

Kemudian muncullah rembulan yang menerangi kegelapan. Dia lalu percaya benda bundar yang indah itulah Tuhan, tapi lagi lagi dia lenyap ditelan siang membuat dia tidak pecaya lagi bahwa bulan adalah Tuhan.

Akhirnya, dia hanya menemukan kegelisahan sambil terus melakukan pencarian dan permenungan, yang pada muaranya Tuhan menunjukkan dirinya melalui wahyu dan tanda-tanda alam secara langsung. Sehingga Ibrohim dapat menyimpulkan dan memutuskan Tuhannya dengan bentuk gambaran dalam pemikiran dan nuraninya bahwa ada Tuhan Yang Maha Kuasa, Mulia Yang Maha Tak Terbatas, yang wujudnya tak bisa dia gambarkan atau pikirkan.

Ini berlanjut sampai periode selanjutnya berupa Millah Ibrohim atau yang disebut dengan agama. Ibrohim tidak mewarisi wujud tuhan secara pasti tapi mewarisi pemikiran atau pandangan tentang adanya tuhan sebagai pencipta yang tak terhingga yang termanifestasi dalam millah itu. Karena tuhan memang tidak menampakkan wujudnya secara langsung tapi menurunkan penjelasannya berupa wahyu dan kekuatan-kekuatan alam yang dipahami atau ditafsirkan oleh pemikiran Ibrohim waktu itu.

Pada akhirnya, karena millah Ibrohim itu berupa ide pemikiran atau pemahaman dalam otak dan nuraninya, maka selanjutnya berkembang berdasarkan ide-ide yang pasti berbeda sesuai dengan situasi dan kondisi otak dalam kepala masing-masing manusia. Ide-ide itu banyak yang termanifestasi dalam diri secara personal dan kelompok atau agama-agama baru. Millah berganti millah, atau agama berganti agama baru dan berkembang.

Perkembangannya beralih ke Daud, wahyunya lain lagi menjadi Zabur sehingga penafsiran, pemahaman, dan penyebutan tentang Tuhan lain juga. Selanjutnya Musa dengan wahyu barunya Taurat, ide tentang Tuhan berubah kembali. Pengikutnya menyebut komunitas agamanya dengan Yahudi dan Tuhannya dengan sebutan Yahweh.

Kemudian datanglah Isa dengan wahyu barunya injil, berubahlah kembali ide tetang Tuhan. Pengikutnya menamakan komunitasnya dengan agama Kristen dan menyebut Tuhannya dengan Yesus.

Dan terakhir, dalam sejarah Nabi-Nabi, diakhiri dengan Muhammad dengan kitab barunya Al-Quran. Di sini konsep tentang Tuhan lebih baru lagi. Agamanya bernama Islam dan Tuhannya disebut  Allah Ta’ala. Ini memandang Tuhan dari sudut wahyu dalm sejarah para Nabi.

Namun, secara  pemikiran bukan berarti berakhir. Artinya, Tuhan dalam struktur pemikiran manusia atau ide tetap akan bergerak selama manusia itu ada. Pada perkembangannya, sampai-sampai ada ide baru tentang tuhan politik, tuhan uang, tuhan jabatan, bahkan ada ide terbaru Tuhan itu telah mati, nische mengataknnya. Ini adalah tuhan dilihat dari sudut ide atau struktur pemikiran.

Belum lagi sudut lain, ada sudut bahasa, orang Inggris menyebut tuhannya dengan God, Jerman dengan Got, Belamda dengan Dieu; dan sebagainya. Maka dari semua itu, bukan sebuah keanehan bila ide tentang agama dan Tuhan selalu berubah-rubah dan bertambah.

Sejarah misteri Tuhan memang komplek dan rumit. Ada yang menggambarkan tuhan dengan seorang ibu (Dewi Ibu), karena tuhan diyakini maha pemberi kesuburan alam dalam kehidupan mereka. Sedangkan para seniman mengasosiasikannya berupa ukiran patung-patung berbentuk seorang perempuan hamil. Ada juga yang mengapresiasikan Tuhan dengan langit yang tinggi (Dewa Langit), karena dia maha tinggi, di Sumeria Kuno ini disebut Inana, di Babilonia disebut Isytar, Anat di Kanaan, Isis di Mesir, dan Aprodite di Yunani. Ada juga yang menggabarkan Tuhan berupa patung-patung yang gagah besar, menggambarkan terlalu maha besarnya tuhan.

Semua ekspresi atau gambaran Tuhan itu, mereka lakukan bukan karena sedang mencari penafsiran harfiah atas fenomena alam, atau membentuk tuhan-tuhan yang material karena tidak ada seorangpun yang pernah dihadiri wujud tuhan, yang tak pantas menurut zaman kita, mungkin, akan tetapi sebuah usaha untuk mengungkapkan kekaguman mereka kepada kekuatan yang maha dahsat (tuhan) dan untuk menghubungkan misteri yang maha luas tak terbatas itu (tuhan) dengan kehidupan mereka yang serba terbatas.

Atau dalam bahasa lain, itu adalah sebuah sikap personalisasi atau upaya metaforis untuk menggambarkan sebuah realitas yang terlalu rumit dan pelik itu (realitas tak terjangkau/tuhan) agar bisa diekspresikan dengan cara lain sesuai dengan bahasa hidup mereka yang serba terbatas.

Sebetulkan ekspresi tentang tuhan semacam itu tidak jauh beda dengan para seniman dengan karya seninya yang melukiskan kebesaran tuhan atau para sastrawan yang melukiskan tuhan dengan bahasa bait-bait puisinya di zaman modern kita sekarang.

Dalam kesempatan kali ini, saya akan menggambarkan bagaimana ilmuwan memandang posisi tuhan (masih dalam struktur pemikiran). Soal seperti apa wujut tuhan banyak ilmuwan filosofis memandang Tuhan tak terbatas (unsayable), sehingga tidak terbatas pada wujud dalam pemikiran manusia.

Namun persoalan posisi dan kepastian keberadaan-nya, dapat digambar dengan metode analogi-analogi. Termasuk, analogi dimensi. Yaitu, Tuhan berposisi di dimensi ekstra, di luar dimensi material kita.

Kita sebagai manusia hidup di dunia 3D sebagai dunia ruang material, yaitu dunia yang memiliki 3 dimensi ruang: utara-selatan, barat- timur, atas-bawah. atau dimensi lebar, panjang, dan tinggi.

Namun, pada abad permulaan ke 20, dalam teori relatifitasnya Einstein menambah dunia baru karena manusia tidak cukup hidup dalam dimensi ruang itu, yaitu dimensi waktu yang berada pada dunia 4D. Ini gebrakan baru dan revolusi besar waktu itu sampai sekarang dalam pemikiran ilmiah. Maka lengkaplah bahwa manusia hidup dalam dunia 4D, dimensi ruang dan waktu. Sekarang, adakah dimensi lain?

Dimensi lain itu adalah dunia 2D yang melingkupi 2 dimensi saja, yaitu selatan-utara dan barat-timur, tidak ada atas-bawah. Atau meliputi lebar dan panjang saja. Makhluq yang hidup di dunia ini ilmuwan menyebutnya dengan flatlander (merujuk pada ahli matimatika, Edwin Abbot, satu abad yang lalu dalam bukunya berjudul flatland).

Saya pahami flatlander itu dengan “makhluq tulisan” di atas kertas. Tulisan hidup di atas kertas yang segala sesuatunya datar. Dia tidak memiliki dimensi  ketinggian atau atas bawah, sehingga dia tidak mengenal yang namanya atas bawah atau ketinggian. Hidupnya di atas datar saja.

Karena tulisan tidak mengenal dunia atas bawah, maka dia juga tidak mengenal makhluq yang mendiami dimensi ruang itu apalagi waktu, yaitu manusia. Tapi manusia dapat menjangkau, memahami, atau menguasai dunia datar tulisan itu. Sebab, dunia 2D itu lebih rendah dari pada dunia 3D dan 4D yang di tempati oleh manusia.

Manusia bisa berbuat apa saja terhadap dunia yang ada di bawahnya. Tapi, dunia di bawahnya tidak tahu apa tentang dunia di atasnya. Tidak mungkin tulisan memahami manusia, apalagi ingin menguasai atau merebut dunianya manusia.

Inilah saya kira analogi yang sangat tepat dan logis sekali bagi kita dalam menggambar posisi dan keberadaan tuhan. Tuhan itu Ada Yang Maha Tak Terbatas yang otomatis hidup di dunia yang ada di luar ruang dan waktu kita. Dunia yang lebih tingi dari pada dunia ruang waktu kita (4D). Mungkin kita bisa menyebutnya dengan dunia 5D (Islam menyebutnya dunia spiritual).

Sehingga kita dan semua unsur yang ada di dunia kita tidak bisa menjangkaunya. Apalagi mau menempatinya. Tapi, tuhan yang di luar dunia kita itu dapat menguasai dan berbuat apa saja terhadap kita dan segala apa yang ada di dunia kita.

Jadi bagaimanpun, tuhan itu ada, di dunianya yang di luar jangkauan dunia kita. Kita tidak tahu wujud adanya tuhan itu secara pasti karena memang unsur dunia kita tidak dapat mendeteksinya. Sebagaimana makhluq tulisan tidak dapat mendeteksi seperti apa kita, dunia kita, tapi kita ada. Apalagi ada tulisan yang sok-sok-an mau menjadi kita manusia. Mungkin ada tulisan sakti. Sehebat apapun saktinya, dia tidak akan pernah menjadi manusia. Kita akan amat menertawainya. Itu lucu sekali.

Barang kali ini menjadi gambaran yang lebih moderat-kalau memang kita butuh penggambaran untuk memahami tuhan- tentang misteri Tuhan.

Sekaligus lebih manusiawi, sebab kita memang manusia makhluq ciptaan yang serba terbatas. Dari pada saling klaim memperebutkan kebenaran Tuhan sampai-sampai menimbulkan pertumpahan darah, padahal Tuhan sendiri tenang-tenang saja di singgasan-Nya. Sebab, sampai kapanpun kita tidak akan pernah bisa menghadirkan wujud tuhan yang menurut kita paling benar di hadapan kita sendiri dan orang lain.

Saya yakin, tuhan lebih bahagia kepada yang lebih manusiawi, karena itulah sebetulnya salah satu eksistensi Tuhan itu sendiri di dunia ini.  Seorang Nabi pum menyebut, ”Tuhan berada di atas kepala anak-anak yatim”.

(Sumber: Sejarah Tuhan, Karen Amstrong 2007 dan Tuhan Abad 21, editor Russel Stnnard 2005)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar