Rabu, Desember 09, 2009

Sertifikasi, Lahirnya Guru-Guru Instan

Pemerintah sekarang sudah makin bijaksana, saya kira. Sebab, pemerintah sudah lebih perhatian secara serius tentang kesejahteraan guru. Semua kalangan guru sama-sama mendapatkan peluang untuk mendapatkan kucuran dana kesejahteraan hidup. Bukan hanya yang PNS saja.

Kebijaksanaan itu terwujud lewat program sertifikasi. Yaitu, asal punya sertifikat guru melalui prosedural program yang telah ditentukan oleh pemerintah, guru akan mendapatkan dana kesejahteraan itu. Selain juga yang namanya program tunjangan fungsional. Nilainya besar meski tidak menyamai PNS.

Proses mendapat sertifikat dalam sertifikasi itu sangat gampang, tidak seruwet jadi PNS. Juga tidak butuh latar belakang status di sekolah apa dia ngajar, swasta atau umum. Yang penting ngajar di lembaga pendidikan yang, paling tidak, mendapatkan izin operasional. Meski hanya berstatus diakui, disetarakan, bahkan tanpa embel-embel itu. Yang penting dapat izin untuk beroperasi mengajar dan mendidik sekaligus ada siswa atu muridnya. Sedangkan secara potensi akademis paling tidak sudah sarjana. Lebih-lebih bagi para PNS. Dia bisa juga mendaftar diri untuk sertifikasi itu sebagai kunci kucuran dana kesejahteraan sampingan.

Sehingga, dengan adanya itu, kesejahteraan semua guru sekarang lebih terjamin, secara PNS dan Sertifikasi. Kecuali guru-guru yang non PNS sekaligus non sertifikasi.

Dari program ini, berdasar kucuran dana kesejahteraan itu, saya mengklasifikasi guru menjadi tiga macam. Guru PNS, Guru Sertifikasi, dan guru non keduanya, saya sebut yang terakhir ini dengan Garu Pengabdian. Masing-masing sama-sama memiliki kekurangan dan kelebihan.

Yang PNS, kekurangnnya yaitu tidak begitu memiliki ruang kebebasan mengajar. Dia harus mengajar jenis materi dan di lembaga mana yang ditentukan oleh pemerintah, sekaligus dia terikat dengan  peraturan yang absolut. Yang apabila dilanggar sedikit pun akan dikenai sanksi resmi. Sehingga, dengan semua itu dia harus bersikap manut apa maunya pemerintah.

Jika seandainya, umpamanya dia rumahnya di perkotaaan yang baginya mengasikkan, setelah jadi PNS dan ditentukan untuk mengajar di sebuah dusun terpencil, maka dia harus boyongan ke dusun terpencil itu, mau tidak mau.

Sebetulnya ini kekurangan dari aspek kepribadian saja yang nilainya relatif. Tapi, bagi guru tertentu ini justru menjadi kelebihan. Sebab, dengan adanya ikatan-ikatan itu bisa membuat dirinya menjadi guru yang serius, disiplin, dan profesional.

Sayangnya, meski demikian, acapkali ada oknum yang seenaknya saja menggunakan kesempatan ini. Ketika dipindah ke sebuah tempat dia justru enjoi-enjoi saja, selalu bersembunyi dari pantauan penegak peraturan. Sedangkan bayarannya sudah pasti tiap bulan. Sehingga, pemerintah sama halnya membayar mahal tiap bulan orang yang kerjanya enjoi-enjoi saja. Ini sebetulnya kekurangannya yang serius.

Bagi yang sertifikasi, dia memiliki kelebihan kebebasan yang lebih. Dia bisa memilih pelajaran yang menurut dia lebih mampu dan ikhlas untuk mengajar. Mengajar tidak terpaksa karena desakan atau ikatan. Aspek keberkahan ilmu dalam konsep moral atau agama di sini bisa lebih mendapatkan ketegasan. Karena guru cenderung mengajar atas dasar keikhlasan.

Namun, acapkali kebebasan itu menjadi kebablasan. Bisa lebih parah dari pada guru yang PNS oknum. Setelah dapat sertifikasi dia bebas memilih materi ajar berdasar filosofi tidak ruwet dan paling sedikit waktunya. Meski dalam data-datanya dia memenuhi syarat masuk sertifikasi berdasar data-data pengalaman pengajarannya. Jam kerjanya sudah memenuhi jumlah yang menjadi persyaratan sertifikasi itu.

Sebab, yang menentukan kelengkapan syarat-syarat sertifikasi itu adalah lembaga terkait yang kadang kala administrasinya masih kocar-kacir. Sehingga, bisa jadi data-data yang diajukan menjadi persyaratan itu juga tidak valid; bisa dibuat-buat; tinggal tanda tangan dan stempel lembaga saja. Jadinya, bukan atas dasar keahlian atau keikhlasan, tapi atas dasar kemalasan plus memburu cairan dana an sich. Padahal Ini oknum juga.yang menjadi kekurangan bagi dunia sertifikasi.

Ini lebih parah, sebab sertifikasi ini seakan tidak terbatas, yang penting paling tidak tadi, sarjana dan ada di lembaga pendidikan tertentu, yang tak pandang swasta atau negri, sudah mapan atau masih semrawut, sejatinya tidak jelas, paling tidak dapat izin operasional tadi. Sehingga kemungkinan terjadi persyaratan data yang tidak valid menjadi lulus juga. Bahkan bisa saja memanipulasi data.

Akhirnya, lahirlah guru-guru instan yang lahir hanya gara-gara sertifikasi. Ini harus menjadi perhatian serius oleh pemerintah. Kalau bisa diadakan sidak dan tes potensi diri yang ketat, bukan secara tulis saja tapi secara vokal. Dengan demikian akan betul-betul tersaring siapa yang memang pantas jadi guru dan siapa yang tidak.

Fenomena ini sangat kejam. Guru tidak sekedar oknum, tapi menjadi syetan dunia pendidikan. Betapa tidak, berapa uang yang dibayarkan untuk guru syetan itu. Seandainya dibuat beli buku koleksi ya para siswa, kan lumayan. Apalagi guru oknum atau instan itu jumlahnya sampai ribuan di negri ini. Bisa saja ini terjadi.

Nah, yang terakhir guru Pengabdian. Ini sebetulnya guru yang lahir dari pengakuan masyarakat saja. Bukan karena pengangkatan resmi oleh pemerintah atau lembaga pendidikan formal tertentu.

Sebab, guru seperti ini bukan hanya di sekolah saja tapi kebanyakan biasanya ada di musala-musala perkampungan atau di lembaga pedalaman yang belum diakui atau belum mendapat izin operasional. Biasanya sekolah ini dicipta karena kebutuhan mendesak, betul-betul karena tuntutan ilmu pengetahuan. Atau dibentuk sebagai sekolah alternatif. Sehingga tidak mesti berbentuk sekolah formal seperti umumnya. Kadang hanya berada di emperan rumah gurunya, atau di surau, atau di musala-musala dan di beranda Masjid.

Jenis guru ini saya kira kekurangannya hanya pada ketidakprofesionalannya secara formal, sebab guru ini biasanya hanya lulusan pondokan salaf yang tak berijazah atau bahkan tidak memiliki latar belakang sekolah sama sekali. Hanya karena luas pengalamannya saja, atau karena aspek-aspek tertentu non akedemis yang membuat masyarakat percaya untuk mendidikan anak-anaknya kepadanya.

Saya kira tidak ada oknum di sini, sebab siapa yang dirugikan, terlebih dari segi materi uang. Guru-guru ini tidak ada yang membayar. Kecuali wali murid atau santri yang sengaja ingin salam tempel saja. Itupun tidak pasti dan terbatas. Dia hidup sejahtera dari penghasilannya sendiri di luar mengajar itu. Ada yang dari taninya, dagangannya, dan sebagainya. Oleh karena itu, biasanya sekolah model guru ini tidak beroperasi di pagi hari tapi di sore atau malam hari, sebab di pagi hari sampai siang hari gurunya itu sibuk cari nafkah keluarganya.

Kadang kalau ada teman mereka yang menganjurkan ikut sertifikasi, mereka santai saja menjawab tak butuh itu yang penting diakui Tuhan sebagai guru, ngajar hanya demi pengabdian kepada masyarakat dan akherat. Tapi lebih banyak juga yang semangat sehingga meski sudah punya anak tiga masih daftar kuliah agar dapat ijazah sarjana sehingga akhirnya dapat juga daftar sertifikasi itu. Ini menjadi kekurangan tersendiri bagi jenis guru yang terakhir ini.

Di samping itu juga rentan korupsi. Makanya, sering kita dengar oknum guru menilep uang sekolah. Tapi untuk hal tilep-menilep ini bukan hanya terjadi pada guru yang miskin itu, tapi juga terjadi bagi guru yang sudah kaya, dari PNS atau Sertifikasi.

Sekarang, di samping guru bertambah sejahtera kehidupannya dengan adanya sertifikasi itu, juga banyak guru yang hanya sibuk ngurus sertifikasi itu, tak selesai-selesai sehingga ngajarnya kerap terbengkalai, belum lagi kalau tidak berhasil ngajarnya makin tidak serius; ada juga yang sampai geger karena gagal ngurus; ada juga yang geger karena ga’ lulus CPNS; lebih lucu, ada yang sudah punya anak tiga baru semangat daftar kuliah.

Saya ingat kata seorang teman, kalau jadi guru kayakan diri dulu. Pastikan penghasilannya dulu. Biar ngajarnya konsentrasi dan ikhlas. Ga’ mikir yang macam-macam soal uang. Kecuali imannya sudah teruji betul. Baru jadi guru sejati. Paling tidak ini menjadi gambaran bagi mereka yang mimpi menjadi guru.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar