Minggu, Desember 06, 2009

Tokek, Rahasia Tuhan yang Tersingkap

Awal kali saya tidak percaya tentang laku dan mahalnya. Hewan yang paling ngeri bagi saya, tokek. Yang saya tahu, dulu, orang cari tokek hanya dibuat obat sakit kulit tradisional di desa. Kalau ada orang desa yang kenak penyakit kulit seperti gatal-gatal yang tak kunjung sembuh, biasanya dukunnya menyuruhnya mencari tokek sebagai obat pamungkasnya. Pada tubuh tokek ada nilai mistis, katanya.

Ini saya alami sendiri ketika ibu saya menderita penyakit kulit aneh tahunan. Ke dokter tak sembuh-sembuh. Akhirnya ke dukun dan menyuruh kami untuk nyari tokek sebagai obat dengan resep yang telah ditentukan. Yaitu, satu tokek disembelih dulu dan dibakar sampai hangus menjadi arang. Lalu, arang itu ditumbuk dan dicampur dengan kopi buat minuman sehari-hari. Alhamdulillah, penyakit ibu saya itu menjadi lumayan ringan sampai sembuh total. Sehingga, saat itu saya tiap malam dengan Bapak cari tokek di persawahan. Kadang tiap malam bisa sampai dapat lima ekor.

Entah, saya tidak tahu pasti tentang sejarah tokek bisa dibuat obat kulit tersebut. Apakah memang sudah dari nenek moyang, atau penemuan batin sang dukun. Yang jelas, tidak secara medis. Tapi, secara ajaib dapat menyembuhkan, khusus bagi penyakit ibu saya tersebut.

Kemaren, kira-kira pertengahan bulan oktober, saya nelpon Bapak di desa. Bapak cerita tentang tokek yang sudah lama mendiami kamar saya yang memang tidak ada yang nempati sejak saya mondok. Tiap hari hanya dibersihkan.. Tokeknya lumayan besar. Kalau ditimbang kiri-kira tiga on-nan. Tapi tokek itu katanya sudah mati dipukul oleh ponakan saya karena tiap malam bunyinya menggangu tidur. Lenyaplah tokek itu dari kamar saya

Berselang beberapa minggu kemudian, Bapak nelpon saya. Dia bercerita tentang penyesalannya terhadap matinya tokek itu. Konon, dia mendengar tetangga cerita tentang saudaranya yang sedang menikahkan anaknya dengan pesta besar-besaran gara-gara menjual tokeknya yang lakunya puluhan juta. Padahal, yang dijual itu cuma dua ekor. Tiap ekornya berbobot tiga on-an lebih. Harganya tiap tokek kurang lebih 12, 5 juta. Jadi hanya jual dua ekor tokek dapat uang kurang lebih 25 juta. Dengan itu, Bapak hanya merasa heran dan menyesal. Andai tokek tidak dibunuh, dapat uang banyak juga, hayalnya.

Cerita Bapak tersebut tidak terlalu saya masukkan hati. Saya tidak percaya, masa’ hanya tokek harganya pulahan juta. Sebab, saya tetap ingat, bahwa tokek sejak dulu tidak laku. Dicari cuma bagi orang yang punya penyakit kulit. Itupun kalau tahu. Dan, mudah dicari di pekarangan, banyak, tinggal nangkap.

Kira-kira satu minggu kemudian, teman saya di kampus cerita tentang bisnisnya yang sedang dikelola oleh ortunya di rumahnya di Sulawesi, bahwa dia akan kaya raya dan siap nikah kalau bisnisnya itu bisa berhasil. Ternyata, setelah saya tanya, biznisnya itu adalah tokek. Katanya, di rumah, ortunya sedang menernak tokek, yang sementara ini masih sebanyak 6 ekor sambil terus mencari atau membeli ke orang yang belum tahu harga tokek, sehingga harganya murah. Sekitar satu tahunan lagi beratnya bisa mencapai tiga sampai empat on-nan.

Dengar cerita bisnis itu saya kaget. Langsung ingat cerita Bapak saya dan tokek di kamar yang sudah lenyap. Akhirnya, saya menjadi percaya bahwa tokek memang lakunya mahal dan sedang diburu orang di mana-mana semenjak dua tahunan lalu.

Saya telpon Bapak untuk mencari tokek di tempat yang banyak dulu saat cari untuk obatnya ibu. Tapi, ternyata, sudah tidak ada lagi. Tiap malam orang memburu tokek di mana-mana. Akhirnya, tokek menjadi barang langka yang sulit ketemunya, Katanya.

Setelah tanya ke beberapa orang. Konon, tokek menjadi mahal karena dibuat obatnya penyakit paling ganas di dunia yang belum pernah ketemu obatnya sampai sekarang, yaitu HIV/AIDS. Sehingga, seperti apapun mahalnya, demi nyawa akan tetap dibeli oleh orang, sebab tidak ada lagi obatnya selain tokek itu. Itupun bukan sebagai penyembuh, hanya masih sebagai peringan saja sekaligus pencegah penyebaran virusnya.

Dari fenomena tokek ini saya hanya bisa merenungi. Pertama, ketinggalan informasi dapat mencegah datangnya rizki. Betapa tidak, seandainya saya dan Bapak sudah tahu mahalnya tokek, pasti yang di kamar tidak akan dibunuh. Padahal hanya berjarak beberapa hari dari datangnya informasi itu.

Kedua, banyak khikmah di dalamnya. Pertama, sejatinya kalau dipikir-pikir, tokek itu didatangkan Tuhan dengan sengaja ke kamar saya sebagai rizki besar, tapi saya tidak menyadarinya. Menunjukkan, rizki Tuhan itu sebetulnya mudah, bahkan ada di sekitar kita. Tapi, kalau tidak tahu ilmunya, kita tidak akan pernah mendapatkannya, meski Tuhan telah nyata-nyata mengantarkannya di depan kita, di kamar kita pun.

Itulah rahasia Tuhan. Dia hanya akan mengungkap rahasia-Nya hanya kepada yang dikehendaki-Nya. Sama halnya Dia hanya akan memberi rizki kepada siapa yang dimau-Nya. Meski sudah ada duit depan mata tapi kalau tidak dikehendaki-Nya tatap saya tidak dapat.

Kedua, mempertegas bahwa Tuhan tidak sia-sia menciptakan segalamya, apapun itu. Tokek yang selama ini dianggap hewan tak berguna dan menjijikkan bahkan menggangu, ternyata menjadi sesuatu yang paling berharga dan dibutuhkan. Sekali lagi, itulah rahasia Tuhan, akan tersingkap kalau Dia menghendaki.

Saya berpikir, sungguh, ini bukti Tuhan tidak sia-sia mencipta semua ini. Hanya saja akal kita belum terbuka. Dan, dikit demi sedikit akan dibuka oleh Tuhan. Bahkan suatu hari saya yakin sampai-sampai kepada barang kita yang paling menjijikkan yang kita buang setiap hari dari perut kita, suatu hari akan menjadi barang yang paling berharga bagi kita.

Sekaligus, bukti betapa lemahnya dan terbatasnya akal manusia. Oleh karena itu, bagaimana manusia akan berpikir tentang Tuhan sendiri kalau memikirkan rahasia pada makhluq-Nya saja belum mampu. Hanya sebagian kecil saja manusia mampu mamikirkaknnya dan menemukannya.

Betul orang mengatakan, "Human is sleeping gian". Manusia adalah raksasa yang tidur. Atau juga, “Manusia adalah fenomena gunung salju". Yaitu, gunung di tengah samudra yang kelihatan puncaknya saja. Padahal yang tidak kelihatan lebih besar di dalam samudranya.

Kemudian Tuhan sendiri menantang manusia dalam ayat-Nya, “Wahai bangsa jin dan manusia barang siapa dari kalian yang mampu menembus langit dan bumi maka tembuslah, tapi kalian tidak akan menembusnya kecuali dengan sultan (kekuatan: ilmu)."

Itulah ilmu, satu-satunya ciptaan Tuhan bagi manusia yang menjadi kunci tersingkapnya ciptaan-ciptaan atau rahasia-rahasia ciptaan-Nya yang lain.

Akhirnya, saya juga tidak habis pikir, subhannallah betapa agungnya Tuhan, yang termanisfestasi dalam peradaban manusia. Meski hanya sepuncak gunung es peradaban manusia sudah sehebat ini. Bahkan konon, kemampuan manusia sudah menembus luar angkasa. Manusia konon mulai merencanakan membuat peradaban di planet luar bumi, bulan, mars, Jupiter, dan lainnya.

Selain itu, saya sebagai anggota komunitas manusia juga berdoa, semoga peradaban yang makin hari kian maju tidak malah menjadi bumerang bagi manusia itu sendiri. Sebab, sudah banyak yang menjadi pelajaran bagi kita; lumpur lapindo, tsunami, gempa bumi, banjir, dan sebagainya, kadang semua musibah itu karena ulah kita sendiri yang amat sangat serakah dan sombong dengan kehebatan kita. Kita acap lupa daratan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar