Minggu, Desember 20, 2009

Yang Terhormat dan Yang Terhina


Betapa bahagianya jadi anaknya seorang kiai, masih muda sudah dihormati. Sama seperti halnya anaknya seorang raja, pejabat tinggi, dan kalangan atas lainnya.

Siapapun ingin jadi orang yang terhormat meski tanpa niat ingin dihormati. Sebab, orang terhormat itu harga dirinya tinggi. Ibarat barang komoditas yang kualitasnya tinggi, sehingga harganya mahal.

Saya sempat merasa sakit hati ditambah sial ketika ada seorang membedakan anaknya orang awam yang biasa disebut darah merah dengan anaknya kiai atau anaknya orang yang berkududukan tinggi yang sering disebut darah biru.

Anaknya orang awam diibaratkan buah jagung, sedangkan anaknya kiai atau kalangan atas diibaratkan buah manggis. Maksudnya, apa sih enaknya buah jagung dari pada enaknya buah manggis. Buah manggislah yang dicari-cari sedangkan buah jagung, paling tidak, untuk makanannya ayam. Kemudian, kalau sudah buah jagung ya tetap buah jagung tidak mungkin berubah menjadi buah apel.

Lebih gamblangnya, apa sih kelebihan anaknya orang awam. Kalau sudah keturunan orang awam ya tetap saja awam, tapi kalau sudah keturunan orang atas tetap saja jadi orang atas.

Selain ibarat itu, ada juga ibarat lain yang tidak kalah sadisnya. Yaitu, seorang anak ibarat pepohohan dan buahnya. Buah suatu pohon jatuhnya tidak jauh dari bawah pohonnya.

Artinya, kalau anak seorang kiai pasti tetap saja jadi kiai, tidak jauh dari kekiaiannya itu. Sedangkan anaknya orang awam akan tetap awam, tidak jauh berubah dari keawamannya.

Bagi saya, ibarat-ibarat atau anggapan-anggapan di atas adalah sadis. Tak kalah sadisnya dengan teroris yang melakukan pengeboman di tempat-tempat orang yang tak bersalah apa. Ibarat tersebut sama halnya membunuh peradaban luhur manusia pelan-pelan.

Betapa tidak, peradaban manusia tumbuh karena adanya persatuan diantara sesama manusia. Persatuan membutuhkan perasaan sama, rasa kemanusiaan, senasib, dan seperjuangan. Sehingga timbullah rasa saling mencintai, menyayangi, menghormati, menghargai, dan tolong-menolong. Yang akhirnya timbullah persatuan itu.

Oleh karena itu, perubahan manusia dari tidak berperadaban luhur (jahiliyah) menjadi kehidupan yang beradab dan berkembang sampai sekarang adalah karena kesadaran dan persatuan manusia semua, baik yang miskin dan yang kaya, baik yang bodoh maupun yang pintar, baik yang kuli maupun yang raja. Semuanya berbaur menjadi satu baris membangun peradaban yang lebih luhur.

Dari logika motif dan prinsip peradaban ini, bukankah ibarat-ibarat di atas arahnya akan menghancurkan peradaban manusia itu sendiri. Sudah pasti. Sebab, ibarat itu akan menimbulkan kecemburuan sosial  yang begitu mendalam, sehingga muaranya akan menggali jurang perbedaan dan keterpecahan prinsipil yang makin mendalam di antara manusia.

Manusia menjadi terkotak-kotak, yang awam terhina dan yang berkedudukan tinggi yang dihormati. Belum lagi perbedaan motif ekonomi, yang miskin dan yang kaya. ini yang mulai terjadi di zaman ini.

Di samping itu, itu dapat membunuh semangat kreatifitas generasi muda. Sebab, mereka yang berasal dari kasta awam akan merasa keder (tidak PD) sebagai kalangan jagungan yang akan tetap menjadi jagung sebagai makanan ayam yang takkan pernah berubah. Mereka terhargakan dengan harga mati.

Tapi, bagaimanapun semua itu perlu dikoreksi kembali, bahwa manusia tidak sesederhana ibarat-ibarat atau anggapan-anggapan itu. Manusia bukan batu yang tak bisa berubah. Manusia tidak sesedehana entitas lainnya. Manusia makhluq kompleks sekaligus unik, tak bisa ditebak-tebak. Akal boleh menganalisa dan menilai manusia, tapi tidak bisa memastikan manusia.

Maka dari itu, Banyak kita jumpai,  anaknya tani miskin jadi kiai besar, anaknya nelayan amatiran jadi pejabat tinggi, anaknya penjual rujak pedalaman jadi cendikiawan terkenal. Dan sebaliknya, anaknya manusia yang berkedudukan tinggi, pejabat tinggi atau kiai, tidak sedikit yang jadi tukang togel, perampok, penipu, pengangguran, bahkan jongos di jalanan.

Mari kita merenungi sejarah Kan’an orang paling sombong sedunia, meski anaknya Nabi, berdarah biru, katanya, dia tenggelam bersama orang-orang kafir, neraka sebagai kandangnya. Di samping itu juga si Qorun dan Firaun orang yang sok angkuh sedunia, bukan hanya anak istrinya yang hancur, dirinya dan semua yang dimilikinya ludes tak tersisa, lenyap di telan bumi, neraka juga tempatnya.

Terakhir mari kita hayati sejarah Rasulullullah, orang paling prestisius sepanjang sejarah, manusia. Raja semesta alam (bukan hanya dunia). Beliau bukan hanya berasal dari keluarga miskin tapi yatim piatu, ingin makan sepiring nasi saja masih harus nyari upah kembalaan kambing kepada pamannya sendiri. Beliau hidup penuh derita sejak kecil.

Akhirnya, kita berpikir, anaknya Nabi saja musnah terhina di dalam Neraka, apalagi hanya anaknya kiai atau pejabat tinggi. Dan, semoga Rasulullah sebagai orang miskin yang yatim piatu tidak tersinggung terhadap ibarat-ibarat sadis tak manusiawi di atas.

Catatan ini adalah manifestasi dari sakit hati saya sebagai anaknya orang tani miskin papa terhadap ibarat-ibarat sadis di atas. Sekaligus, berangkat dari, teman-teman saya kemaren cerita bahwa anaknya kiai pasti dapat (nikah) anaknya kiai.

Konon, mayoritas kiai mencarikan jodoh untuk anaknya dengan anaknya kiai juga, bahkan meski anaknya tidak saling mencinta. Mereka egois untuk berjodohan dengan anaknya orang selain garis kiai, apalagi anaknya orang tani miskin, meski anaknya orang miskin itu tidak kalah hebatnya dengan yang anaknya kiai. Fenomena ini lebih sering terjadi, katanya. Entah, apakah ini benar atau tidak.

Yang jelas, saya juga tidak sedikit melihat fenomena itu. Tapi, mungkin justru perasaan saya ini yang salah, karena saya orang miskin, pikirannya juga sempit. Padahal sebetulnya, anaknya kiai memang seharusnya dapat anaknya kiai, agar garis kekiaiannya dapat dilestarikan; agar darah birunya tidak bercampur dengan darah merah; atau, agar kehormatan dan kesuciannya tetap dapat dipertahankan. Mungkin saja.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar