Jumat, Oktober 08, 2010

Memperbaharui Sahadat di Semeru?

Ini bagi saya pengalaman terunik. Begini, saya punya dosen utama di jurusan Filsafat Agama, Hamzah F. Farmi namanya. Beliau bagi saya betul-betul seorang filosof sejati meski disiplin kefilsafatannya masih sebatas Master (S2). Gelar dalam filsafat bagi Beliau bukan sekedar gelar akademik yang tanpa arti. Sebab, disimplin filsafat betul-betul Beliau hayati sebagai metode menjalani hidup atau sebagai pola pikir dan prilaku eksistensi kepribadiannya, bukan sekedar transfer ilmu yang dicatat di atas kertas.

Salah satu indikasinya adalah keunikannya: Dalam umur lebih dari separuh baya Beliau masih belum beristri. Sebabnya, bukan berarti tidak jantan atau tidak mengikuti sunnah Nabi saw, akan tetapi karena cinta ilmu yang merasa belum sempurna; nikah dikawatirkan akan mengganggu aktifitas keilmuan atau kefilsatannya; nikmatnya ilmu dengan berfilsafat itu lebih nikmat dari pada nikah. Ini kata Beliau ketika ditanya tentang itu. Termasuk keunikannya lagi, Beliau jarang makan dan jarang tidur tapi badannya sehat, prilaku disiplin bagi siapa saja, sering dan kuat lama bermeditasi dan salat malam (tahajjud) serta membaca Al-Quran, hanya sibuk di perpustakan menulis dan membaca buku, dan masih banyak yang lainnya.

Keunikan yang saya temukan terakhir, dan ini yang paling unik, bahkan seakan tidak masuk akal bagi orang yang aktif di ranah pemikiran atau logika seperti Beliau. Yakni, selama bulan puasa kemarin, Beliau melakukan semedi atau bertapa di gunung Semeru Lumajang Jawa Timur. Gunung yang konon paling besar dan aktif di jawa serta paling angker dan penuh dengan cerita-cerita mistis. Ini diketahui dari kabar Beliau langsung kepada mantan mahasiswa-mahasiswanya termasuk kepada saya via sms yang isinya sebagai berikut:

Sms saya (087850050084): "Assalamu'alaikum Wr.Wb. Pak, sy slh stu mntan mahasisw Bpk, Ali Sabilullah. Sy dengar dr temn2 bhw Bapak slm bln Ramadan kmrin bertapa di G. Semeru. Ini sy kira unik bagi Bpk yang akademis di bidang filsafat. Maka, saya butuh kepastian, betulkah dan apa tujuannya?"

Balasan sms Beliau (081273903911): Sy sekedar ingin "memperbaharui syahadat" dg melatih aplikasi doktrin filosofis yg telah sy terima. Mohon doa. tks!

Sms ini saya tanpakkan di sini bukan bertujuan apa-apa kecuali karena ini amat menarik untuk dikaji ,terutama bagi saya pribadi dan teman-teman di manapun yang suka filsafat. Ini betul-betul sarat makna. Coba direnungi "memperbaharui syahadat", apa maksudnya? Masing-masing memiliki ide tersendiri. Saya tidak perlu menjelaskan di sini, sebab ini persoalan perasaan, keyakinan, atau kalau boleh saya sebut "ilmu hati". Ilmu yang amat sangat dalam, bahkan tidak ada di bangku-bangku perkuliahan. Maka dari itu, mungkin ada benarnya Beliau sampai mencarinya di G. semeru sendirian. Entah, siapa dosennya, macam, dedemit, ataukah malaikat? Apakah syahadat perlu diperbaharui? Atau, apakah syahadat kita selama ini memang salah? Maka, syahadat apakah yang diperbaharui itu, bukankah syahadat tinggal membacanya? Bahkan, bukankah  amat lebih wajar dan terpuji kalau menghayati sahadat di Masjid atau di majlis-majlis taklim Keislaman? Entah......Selamat mengkaji, merenungi, lebih-lebih dihayati.

Atau, kalau ingin lebih jelas, langsung saja hubungi nomor beliau di atas, insaallah tidak berubah dan dibalas, asal anda serius dan berniat baik.

Untuk Bapak Hamzah F. Farmi, saya mohon maaf apabila saya menulis semua ini di ranah umum ini, sebab saya yakin akan bermanfaat banyak bagi sekitar kita, lebih-lebih semoga menjadi doa kesuksesan Bapak sebagai mana yang Bapak tulis di ahir sms di atas kepada saya. Bapak betul-betul sosok unik dan inspiratif bagi saya. Akhirnya, terima kasih tak terhingga atas segalanya.

Lawang, 09102010

Selasa, Juni 29, 2010

Emak Saya, Gayus, dan Negeri Porno

Ini berangkat dari cerita pribadi dulu, tentang saya sebagai bagian komponen kecil dari bangsa di negeri ini, Indonesia.

Saya lebih sering bersedih tentang diri saya sendiri, sesekali sampai down. Rasanya, mau menyerah pada nasib yang tak mujur ini. Tapi, sesekali juga saya masih bisa tersenyum kalau mikir-mikir nasib saya lebih dalam lagi. Misalnya, tentang masalah satu ini, kondisi belajar saya di pesantren yang baru. Andai sampean tahu, akan merasa sedih, tapi juga akan bisa tersenyum seakan ada lucunya. Betapa tidak, sampai saat ini, sejak tiga bulan lalu, uang pendaftaran saya sebagai santri baru belum terlunasi. Saya mencicilnya sedikit demi sedikit.

Cicilan itu bukan karena kebijakan pesantren yang mengatur demikian, yang mungkin menjadi dispensasi keringanan biaya daftar yang memang terlalu mahal sebagaimana terjadi di beberapa pesantren yang katanya pesantren elit. Bahkan, konon ada pesantren yang pendaftarannya harus membawa sepasang sapi besar-besar. Tapi, karena memang orang tua saya yang tidak mampu membayar langsung lunas. Padahal, pembayarannya sangat relatif murah, cuma Rp 250.000. Itupun, sekali seumur hidup di pesantren itu. Selain uang indekos (makan) yang jumlahnya sama tapi perbulan. Nah, kalau ini harus bayar tepat waktu soalnya makan sudah pasti tiap hari.

Bukankah uang pendaftaran itu sangat amat murah? Inilah sedihnya tentang saya. Betapa pun murahnya, saya masih mencicilnya, berkali-kali lagi. Sampai-sampai saya tidak punya cara dan gaya untuk menghadapi pengurus yang selalu menagih. Saya amat malu sekali. Dan, alhamdulillah, pengerus itu mengerti juga. Akhirnya, tiap saya bayar indekos perbulan, saya tinggal sambil senyum saja, dan pengurusnya sudah mengerti bahwa itu pertanda kompromi saya tidak bisa membayar cicilan pendaftaran itu, kecuali pas untuk bayar indekos saja. Pasalnya, kesedihan saya ini adalah saya terlalu amat miskin untuk hal materi ini. Jangankan ratusan ribu, satuan ribu saja orang tua saya amat sangat sulit mendapatkannya.

Sungguh saya ingat, betapa pontang pantingnya Emak-Bapak saya di kampung. Saat itu, saya mau berangkat ke pondok yang baru itu. Tentunya, yang dipersiapkan lumayan komplit, termasuk biaya ongkos transportasi dan pendaftaran santri baru. Saya ingat, bagaimana saat itu Emak-Bapak saya mengumpulkan uang recehan jauh-jauh sebelumnya untuk itu. Uang receh seratus rupiah amat sangat besar nilainya bagi kami. Saya juga ingat, bagaimana sehari sebelum berangkat uang persiapan itu masih belum lengkap, sehingga Emak-Bapak saya usai salat Subuh langsung pergi ke sawah. Apa tujuannya? Hanya untuk memetik sisa-sisa buah cabe yang pohonnya sudah keriput, mau dijual untuk melengkapi kekurangan biaya saya itu. Andai saja orang lain digratiskan untuk memetik cabe itu, pasti tidak mau karena hasilnya tidak sesuai dengan capeknya.

Ya Tuhan, saya ingat waktu itu, Magrib-magrib Emak-Bapak saya baru bergegas pulang dari sawah. Sampai-sampai saya menyusulnya karena sudah terlalu petang. Tapi, bagaimana lagi, demi terpenuhinya bekal belajar saya di pesantren yang baru itu, betapa pun panasnya sinar mentari seharian dengan hasil hanya sekedar beberapa ribu rupiah, keduanya tetap menelateninya. Dari pada, mendapatkan uang banyak tapi dari hasil yang haram.

Bagi saya, ini adalah sebuah prinsip hidup yang amat luhur. Subhanallah, betapa ikhlasnya Emak-Bapak saya itu. Ternyata, mungkin ini apa yang dikatakan oleh Bapak Dahlan Iskan (Dirut PLN) bahwa kalau kaya kaya yang bermanfaat dan kalau miskin miskin yang bermartabat. Subhanallah, Emak-Bapak saya sudah memiliki itu sejak lama.

Lucunya, ini sekedar penghibur hati saya saja: saya sampai tidak memiliki jurus jitu untuk mengalihkan pikiran pengurus agar tidak menagih cicilan saya itu tiap saya bayar uang indekos perbulan, apalagi tiap ketemu. Saya menjadi orang yang sok lucu di depannya, padahal saya bukan tipe orang yang lucu. Saya juga sok komunikatif di depannya, padahal saya pemalu. Kadang, kalau saya mikir kondisi ini saya tersenyum sendiri: kok sampai segitunya! Ini lucunya.

Begitu juga, ketika saya sedang merasa demikian, saya merenungi orang-orang kaya, konglomerat-konglomerat, atau pejabat-pejabat di negeri ini, terutama kasus-kasus terkait uang: suap menyuap, penggelapan, penipuan, pencurian, atau korupsi, termasuk paling marak skandal Bank Century dan Mafia Pajak Gayus dkk. Saya membandingkan kondisi Emak-Bapak saya itu dengan Gayus itu. Ya, kalau soal materi sudah pasti bagai langit dan bumi. Betapa tidak, Emak-Bapak saya cari uang untuk sesuap nasi hari ini saja, belum lagi untuk esok hari, apalagi untuk bayar pajak, sulitnya sudah minta ampun. Acapkali jadi buruh kasar yang bekerja di bawah panasnya terik mentari seharian.

Sedangkan Gayus, sebagaimana kita ketahui, simpanan uangnya ternyata sampai ratusan milyar rupiah (Jawa Pos, 17/06/2010). Bayangkan saja, berapa perbandingannya: uang ratusan milyar rupiah dengan uang recehan ratusan atau ribuan rupiah hasil kerja keras pontang panting untuk sekedar sesuap nasi sehari. Hasil bayangannya, tentunya lucu, sampean pasti tersenyum kecil, terlalu tak bisa dibandingkan. Andai saja dipikir dengan logika materialistik, harga saya, Emak-Bapak saya, dan seluruh apa yang kami miliki, bagi Gayus mungkin saja sama halnya perasaan saya membeli satu bungkus krupuk seratusan. Artinya, amat gampang membelinya karena hanya barang murah. Lucu sekali.

Gayus menumpuk uang itu tinggal kontak sana-sini, bisik ini bisik itu, dan simpan sana-sini pokoknya serba gampang. Nah, hanya saja, inilah yang membedakan antara Emak-Bapak saya dan Gayus: cara mendapatkan uang itu. Bagi saya, cara Emak-Bapak saya mendapatkan uang sekecil itu adalah sebuah nilai harga diri kemanusiaan yang tinggi: keikhlasan atau martabat sangat luhur yang nilainya tidak bisa ditukar atau dibandingkan hanya dengan sekedar materi apalagi hanya dengan uang ratusan milyar milik Gayus itu. Sementara Gayus, tentunya sudah pasti seluruh warga negeri ini tahu bahwa dia adalah raja maling negeri ini. Masyarakat dibuat rugi, resah, gelisah, atau menderita karenanya. Uangnya itu sejatinya hasil curian atau penipuan (korupsi) yang jelas-jelas disengaja dari rakyat di negeri ini.

Adik sepupu kecil saya yang masih TK pun kenal Gayus saking terkenalnya, juga ikut ngerti dan benci. Sampai-sampai, suatu hari, ada tikus di dapur saling rebutan ikan yang dicuri dari atas meja makannya. Lalu dia bilang, “kak, ini Gayus-Gayus nyuri ikanku, rebutan.” Katanya. Saya hanya tertawa melihatnya. Kenapa dia sebut tikus itu Gayus? Mungkin saja, sederhana saja, karena dia sering nongol di media masa dengan nama terpampang besar-besar “GAYUS” dan gambarnya bertubuh orang tapi berkepala seperti tikus. Akhirnya, dia menyimpulkan bahwa yang namanya GAYUS itu ya seperti tikus yang pas mencuri ikan itu. Maka, adik saya itu wajar saja. Apalagi ejaan belakangnya serupa “ Yus dan Kus”. Anak kecil pun paham itu.

Kalau demikian, untuk sisi yang ini, maka antara Emak-Bapak saya dan Gayus itu nilainya lebih tak bisa dibandingkan lagi. Sekarang, Emak-Bapak saya yang ada di atas, lebih terhormat. Atau, kalau harus disebut seperti “langit dan sumur”. Tampaknya, ya sudah pasti jelas, kalau Gayus di pandang berkepala tikus oleh masyarakat di negeri ini, sampai oleh adik saya itu, tapi Emak-Bapak saya meski tak terkenal mereka masih manusia sejati. Ini yang membuat saya masih tersenyum dan bangga dengan kondisi saya dan Emak-Bapak saya serta masih pede (percaya diri) menghadapi hidup ini.

Akhirnya, dari itu, meski catatan ini seakan cuplikan nasib pribadi, paling tidak, penulis berharap, ini menjadi sebuah gambaran atau semacam miniatur-meski terkecil-dari realitas yang mengisi negeri ini. Bahwa, negeri ini kalau dipikir-pikir unik, selain lima keunikan menurut Bapak A.S. Laksana di halaman yang sama (Jawa Pos, 18/04/2010): di negeri ini, ada orang seperti Emak-Bapak saya yang serba kebingungan mendapatkan uang hanya untuk sesuap nasi apalagi untuk biaya belajar saya, harus pontang panting dulu, padahal ini untuk belajar yang saya juga berniat untuk bangsa ini. Lebih-lebih mereka yang busung lapar, kurang gizi, bahkan mati kelaparan. Serta, mereka yang putus sekolah yang tinggal cita-cita, pengangguran, dikerubungi penyakit tak mampu berobat, dan persoalan negeri ini yang mengiris-ngiris hati lainnya. Saya yakin, mereka itu melebihi seperempat jumlah penduduk negeri ini.

Sementara di sisi lain, ada manusia semacam Gayus dkk yang seenaknya saja melahap uang orang lain dengan serakah. Anehnya, masih bangganya tersenyum-senyum di depan umum seakan tak punya dosa. Bahkan, masih ngotot dengan segudang alasan untuk bertahan. Astagfirullah. Padahal Tuhan pun juga jelas-jelas mengingatkan, ”Dan janganlah kamu makan harta di antara kamu dengan jalan yang batil, dan (janganlah) kamu manyuap dengan harta itu kepada para hakim, dengan maksud agar kamu dapat memakan sebagian harta orang lain itu dengan jalan dosa , padahal kamu mengetahui,” (QS: Al-Baqarah, 188). Ayat ini sangat amat kongkrit pada kasus mereka. Semoga mereka menghayatinya.

Sebagai kita, pada akhirnya, untuk ini kita tinggal tunggu keputusan para hakim negeri ini: apakah Gayus dkk diberi ganjaran setimpal dengan dosa-dosanya atau malah tetap senyum-senyum bebas saja. Bukankah kerapkali kita kecewa dalam hukum? Makanya, kita sebagai warga sah-sah saja kalau kawatir. Termasuk orang-orang kampung seperti saya dan Emak-Bapak saya. Kami juga memerhatikan dan amat ngerti persoalan orang-orang atas.

Oleh karena itu, ke depan, terkhusus bagi para petinggi-petinggi negeri ini yang seakan memang lebih dekat dengan pusaran prilaku-prilaku yang bejat itu (semisal korupsi), andai saja terlintas setan seperti itu di benak mereka, sementara pertimbangan-pertimbangan halal-haram sudah terlalu alergi, atau peraturan-peraturan rumit ini-itu sudah membosankan, atau ajaran “takut dan malu Tuhan” sudah terlalu abstrak, paling tidak, ingatlah atau bayangkanlah: bagaimana tetesan peluh pontang panting para dhu'afa itu, tangisan kelaparan itu, jeritan kematian itu, dan termasuk Emak-Bapak saya itu. Atau, bayangkan saja, bagaimana seandainya kondisi itu terjadi pada anak-anak atau saudara-saudara sampean (pejabat yang hobi beramal bejat itu) sendiri. Meski sederhana begitu saja, insaallah, andai saja hati sampean masih hidup tidak akan terus melakukannya.

Harapan lain, semoga catatan ini membawa khikmah dan lebih dapat dihayati. Dari pada, kabar-kabar hot seputar adegan-adegan mesum yang dilakoni mirip Luna Maya dan Cut Tary vs Ariel yang belakangan paling gemar dikonsumsi masyarakat. Yang sejatinya, malah membuat popularitas pribadi mereka semakin mendunia, ujung-ujungnya tambah bangga; yang malah semakin memancing dan merangsang nafsu bejat kita, apalagi para generasi muda. Mereka amat penasaran dan bisa-bisa meneladani gaya-gaya maksiat itu; dan, yang justru membuat negeri ini, bangsa ini, lebih sibuk dipenuhi dengan urusan adegan-adegan bejat itu. Sungguh, ini aib negeri yang memalukan.

Benar kata orang-orang DPR, bahwa tidak usah banyak acara, langsung saja panggil ahlinya diadakan tes fisik langsung, beres (Jawa Pos, 17/06/2010). Masalah porno saja kok sampai berminggu-minggu, leyeh-leyeh! Atau, apakah persoalan porno ini memang sudah kadung terbiasa menjadi persoalan yang paling memenuhi otak siapa saja di negeri ini, bagaimanapun cara dan bentuknya? Dan, Apakah ini termasuk jati diri negeri ini? Negeri porno? Na'udzubillah.

Lawang, 17/06.2010

Sabtu, Juni 05, 2010

Nengku yang Makin Binal


Bukan niat saya untuk mengurus-ngurus orang lain, mengintip-ngintipi urusannya, atau membuntut-buntuti gerak-geriknya, apalagi menjaga atau mengaturnya. Sebab, menjaga diri saya sendiri saja yang bobrok ini sudah kewalawan. Hanya saja, mungkin saja, andai saja dia sakit dengan catatan ini dapat menjadi sehat kembali; andai saja dia lusuh dapat segar bugar kembali; andai saja dia down bisa semangat kembali; dan paling tidak, menjadi penghibur saja. Asal, tidak menjadi pembungkus kacang atau lap tangan, atau bahkan menyakitkan. Catatan saya ini tidak diniatkan demikian.

Dulu, saya pernah menulis “pelita suram di pesantren” tentang seorang gadis santriwati neng (putrinya kiai) yang hobinya berpacaran pada khususnya, dan pada umumnya fenomena romantisme di dunia pesantren, yang diambil dari cerita temannya teman saya. Kali ini, masih tetap soal santriwati neng yang binal itu. Intinya, ini masih lanjutannya, meski bukan cerita berlanjut, yang kalau dulu itu kesannya sangat seru dan menggelikan, yang sekarang ini lebih menyerukan sekaligus mengacak-ngacak hati alias menjengkelkan.

Bagini, temannya teman saya yang dulu itu (dalam catatan, “pelita suram di pesantren”), setelah melihat banyak teman santriwatinya yang prilaku pergaulannya miri-miring alias kurang wajar sebagai santri terkhusus yang neng itu, dia mencoba menulis sesuatu sebagai “saling mengingatkan”, mungkin, yang biasa dikirim kepada neng itu. Agar neng yang sempat dia kagumi atau dia emani itu (bukan cinta) tidak terjatuh ke dalam perigi asmara yang lebih dalam lagi atau cara bercinta yang kebablasan terang-terangan sebagai seorang santri yang neng, putrinya kiai gedhe pengasuh pondok pesantren yang amat religius, Tahfidzil Al-Quran.

Apa isi catatannya, apakah seperti wasiat atau nasehat seorang kiai? Tentu tidak seperti itu. Hanya berisi kisah-kisah khikmah atau yang penting berisi pelajaran sejauh ia pahami dan diyakini dapat menjadi pelajaran bersama terkait moral atau hal-hal yang pantas dan yang tidak pantas saja. Tapi, tidak berisi soal halal-haram karena dia bukan anggota Majlis Ulama Indonesia (MUI). Itu saja.

Dia, teman temannya saya itu, sempat merasa bahagia setinggi langit, sebab saat bertemu dengan neng itu selain dapat ucapan terima kasih, senyuman yang sejuk bermakna dengan mata sipit uniqnya, dia juga dimintai tulisan-tulisannya lagi, pertanda bahwa tulisannya dibaca, pikirnya. Sehingga, dia semakin bersemangat untuk menulis. Dia merasa neng itu betul-betul menjadi motivator sekaligus inspirator bagi tulisan-tulisannya. Neng itu amat berharga bagi keberadaannya di pesantren. Dari itu, dia kagum kepadanya.

Dalam sebuah kesempatan, dia berbicara langung dengannya via telpon yang sebetulnya ini menjadi suatu hal yang dia dambakan semenjak nyantri di pesantren itu, ingin ngomong dengan seorang neng cantik dan baik itu. Niatnya, ingin menyampaikan terima kasih karena telah meluangkan waktunya untuk membaca tulisan-tulisan yang dikirimkan kepadanya. Sekaligus mau meminta maaf barang kali dalam catatan-catatannya itu ada banyak hal yang tidak disukainya yang mengganggu aktifitas belajarnya. Apalagi saat nelpon itu, neng itu telah berterus terang bahwa dia telah sedikit terganggu karena dia sedang menghafal Al-Quran. Menghafal Al-Quran kok ditelpon. Kan memang salah. Namun, dengan itu dia (temannya teman saya itu) lebih yakin lagi bahwa neng itu sejatinya adalah baik dan santri yang serius belajar, santri yang lemah lembut, berani untuk benar, dan dewasa, bukan orang yang hobi keluar pondok berpacaran, apalagi dibilang binal atau kegatelan. Itu tidak benar.

Bahkan, saking dewasanya, pikirnya, di sela-sela obrolannya tersebut neng itu melontarkan sebuah ucapan yang seakan menjadi kritik amat pedas bagi catatan-catatannya sekaligus pada dirinya, bahkan dia terkesan mengajarinya: “Sampean ketahui saja bahwa setiap manusia pernah punya dosa sendiri-sendiri yang diurus sendiri-sendiri.” Katanya.

Ucapan sekilas tersebut seakan menjadi tonjokan paling keras pada mukanya seumur hidupnya. Sebab, seakan ingin mengatakan bahwa apa yang dia lakukan mulai dari isi tulisannya sampai obrolan via telpon itu untuk mengurus urusan orang lain (dirinya: neng itu), sok ngurus dan sok suci sendiri, sekaligus sehingga neng itu merasa dirinya seakan membela diri bahwa wajar dengan dosa-dosanya yang gatel pacaran tersebut sesuai dengan prinsipnya itu, bahwa manusia memiliki dosa masing-masing yang diurus masing-masing. Menangkap kesan ucapan neng untuk dirinya itu demikian, dia akhirnya memilih memohon maaf tak terhingga, meski ucapan atau kesan itu terasa sangat mengacak-ngacak hatinya. Dia pahami bahwa neng itu salah paham kepada prilakunya dengan mengirim catatan-catatan dan menelpon itu. Di samping itu, dia juga merasa bahwa catatan-catatannya selama ini mungkin ada banyak yang isinya tidak sesuai dengan hatinya, atau bahkan terkesan sengaja menyinggung dan menyakiti hatinya.

Apalagi, jikalau neng itu merasa, apalah artinya dirinya bagi neng itu yang anaknya kiai, padahal dirinya anaknya seorang tani miskin yang tak punya kelebihan apa-apa, sok kenal, dan sok memberi nasehat dengan pakai sok pinter nulis segala. Bukankah neng itu lebih tinggi, anaknya kiai, lebih suci dan terhormat? Dia merasa tentang neng itu demikian. Akhirnya, sekali lagi, dia cuma bisa memohon maaf dan membisu diri, memaklumi dirinya telah salah jalur, bukan dunianya. Sehingga, dia juga hanya bisa berharap semoga kesalahpahaman ini tak terjadi berlanjut. Apalagi, andai dia disuruh jujur, sebetulnya dia menyimpan gelora dahsat amat sayang dan kagum di hatinya kepada neng itu. Entah, apakah karena memang neng itu yang dikenal pertama kali di kalangan santri putri, atau karena lainnya? Yang jelas, dia merasa neng itu telah menjadi motifator dan inspirator bagi hobinya dalam menulis. Maka, dia tidak mau menyakinya, bagaimanapun keadaaannya. Lalu, apakah dengan sikap neng itu kepadanya harapannya diam-diamnya sebagai orang yang amat mengaguminya akan luntur, entah! Andai kagum itu adalah cinta, kerap kali sang pencinta rela disakiti yang dicintai hingga dia dapat mengerti.

Berselang tak seberapa lama dari fenomena obrolan via HP itu. Semua keluarga kiai tindakan keluar pesantren sampai berhari, sehingga otomatis laju pesantren tidak ada yang mengendalikan. Kecuali beberapa santri senior yang dikasih amanat tapi tidak ada apa-apanya bagi santri yang lainnya, bahkan dianggap sama. Dan, beberapa memang ada yang sama tak ada bedanya dengan santri yang lain. Dari itu, tidak bisa dibayangkan bagaimana kondisi pesantren dengan posisi demikian. Dan sudah pasti, paling tidak, leyeh-leyeh santri makin bebas, obrolan romantis di dapur tambah asik, dan entah apakah santri atau neng yang nekat keluar pacaran semakin ganas dan kesit?

Yang terakhir bisa nyata terjawab: di paginya hari itu, dari malam keberangkatan kiai, dia mendengar ocehan santai teman-temannya di kamar, bahwa banyak teman putra putri yang keluar. Itu memang pantas, sebab suasana pondok waktu itu langsung sepi. Jangankan di pagi hari, beberapa detik dari keberangkatan kiai itu saja santri-santrinya banyak yang sudah bersiap-siap untuk tindak juga. Bahkan, di selentingan tersebut, konon, ada yang sengaja keluar janjian saling berpasangan. Nah, diantara yang tersebut itu adalah nama neng itu, yang masih tetap dengan pasangannya dan temannya yang juga dengan pasangannya seperti dulu-dulunya.

Mendengar itu, dia tidak kaget lagi, meski pertama sedikit gelisah juga karena orang yang ia kagumi dan harapkan seperti itu. Sebab, dia sudah memahami dari sebelum-sebelumnya, bahwa maklum neng itu seorang neng putrinya kiai, hafidzah lagi (meski masih beberapa juz), sehingga mungkin lebih dewasa dan lebih bersih dari dosa sebagaimana prinsip yang pernah diucapkan itu bahwa masing-masing orang pasti mengalami dosa yang ditanggung masing-masing dan tidak ada orang lain yang mengurusnya. Sehingga, dari itu neng itu bisa jadi berpikir: “Ini dosa saya, tidak ada orang lain yang sok ngurus, istigfar gampang belakangan nanti kalau sudah saya bersenang-senang”. Atau berpikir, “Apalagi ada abi yang jadi syafaat dan santri-santri saya yang tiap hari pasti mendoakan. Apalah artinya dia bukan apa-apa saya ngurus diri saya, sok perhatian, yah, kampret!”. Akhirnya, dia (temannya teman saya itu) memakluminya, dan diam bisanya.

Dari itu juga dia berpikir, “Hebat neng itu, waktu ditelpon saya sebentar saja dan untuk serius bilangnya mengganggu, tapi kalau keluar bermaksiat lama-lama dengan doinya sampai-sampai meninggalkan tugas-tugasnya di pesantren dia bangga. Hebat, pinter dan dewasa banget tuh neng, busyet!” Pikirnya jengah.

Hari itu juga, neng itu memiliki piket ngajar tartil di pesantrennya (suasaranya memang merdu) karena dia oleh kiai diangkat sebagai tenaga pengajar di pesantren itu. Jadi, dia seorang ustadzah yang ngajar tiap hari. Nah, karena saat itu neng itu belum datang dari “shopingria” dengan gendaannya itu otomatis santri-santrinya tidak ada yang mengajarinya. Kelas menjadi kosong.

Mereka bertanya kepada ustadzah di kelas sebelahnya, “Bu, bu guru saya mana kok nggak masuk?” Tanya mereka.

“Ooo..oooo, ibu gurumu itu sedang nggak enak badan.” Jawabnya meski terasa agak pedas di kerongkongannya.

Mendengar itu, akhirnya para santrinya berhamburan menuju lapangan sempit depan kelas, bersepak bola ria, dari pada kosong kegiatan, pikir mereka.

Mendengar cerita ini saya berangan, andai ada saya maka saya akan menjawab pertanyaan para santri itu begini: “ooo..ooo.., ibumu itu mulai tadi pagi sedang janjian dengan pacarnya untuk berkencan di luar pondok sana”. Saya tidak membayangkan kalau andai dijawab yang sebenarnya ini, bagaimana jadinya, apa kata dunia! Tapi, mungkin ini terlalu kasar, terlalu tega. Atau, mungkin benar kata orang  pinter,  “Tidak semua yang benar (sebetulnya) itu ditampakkan.” Entah! Neng itu mungkin lebih bijaksana untuk menjawabnya.

Sementara, sang Aba (Kiai) dan Nyainya di kejauhan sana selalu gelisah seraya berdoa: “Ya Allah, jagalah santri-santriku dari keburukan dan apa yang Kau tidak sukai; selamatkan merekah dari fitnah dosa, mara bahaya, dan bala musibah; luruskan hati mereka yang melenceng; dan tenangkan hati mereka dengan segala kemudahan, barokah, dan ridho-Mu. Amin.” Lebih dari itu, salawat dan ayat-ayat Al-Quran selalu menjadi hiasan hati dan lisannya sepanjang perjalanan. Kiainya itu memang sangat amat sejati. Sebab, dia terinspirasi dalam perjalanan, bahwa kerap dia temui gerak gerik generasi yang rusaknya sudah kelewat batas jauh dari agama, mereka bukak-bukaan berlaku dosa; kerapkali ketika melewati jalan-jalan atau taman-taman kota dia menyaksikan dari jendela mobilnya pemuda pemudi yang sedang duduk berdampingan bermaksiat ria seakan tak punya rasa malu dan dosa. Selain itu, hampir semua kaum Hawa di manapun yang dia lihat di perjalanan bergaya dan berbusana bukak-bukaan, mereka seakan bangga memamerkan kemolekan tubuhnya. Sesekali Pak Kiai itu menangis karena itu. Lalu, dia khusuk berdoa itu.

Di atas sana, burung-burung sarkiti yang menyaksikan bergumam ceplas ceplos melihat kiai berdoa itu, “Hai pak kiai, untuk sementara doamu itu tidak diterima oleh Allah, ditunda. Sebab, sampean tahu, santri-santrimu di pesantren sekarang satu dua yang masih tetap setia kepadamu, yang masih belajar dan tetap pateng mengaji dalam ketiadaanmu ini. Sedangkan yang lain, andai sampean tahu: mereka bersepak bola ria orak-orakan; pesta musikan keras-kerasan; beberapa diantara mereka yang saat ada sampean selalu berkopyak putih bergaya alim sekarang di sana sedang dilepas dan-masaallah-rambutnya warna-warni layaknya brandalan di jalanan itu; bahkan beberapa diantara mereka yang manggut-manggut di depan sampean, yang sampean pandang mereka baik-baik, santri-santri pilihan, neng-neng, gus-gus, ustadz-ustadzah, yang sering sampean suruh jadi imam salat, tukang adzan, pemimpin salawatan, kami lihat mereka sedang keluar janjian kencan dengan pasangan masing-masing, mereka bermaksiat ria di kota-kota sampai-sampai mereka lupa salat, tak ada bedanya dengan mereka-mereka yang kurang ajar di luar pesantren yang sering sampean temui di jalan-jalan itu dan sampean menangis karenanya.” Begitulah sang burung mengadukan. Namun, apalah daya sang burung, Pak Kiai santai saja tidak memahaminya.

Di pesantren, sang neng datang ala santri alim dan serius, berbusana muslimah yang lumayan necis dan berwibawa, tidak lepas menebar senyuman sejuk kepada teman-temannya di kamar, menyapa mereka dengan lembut, sopan, sangat amat akrab, serta ceriah sebagaimana memang menjadi sikapnya sehari-hari. Seraya membawa oleh-oleh yang manis-manis seperti senyumannya. Teman-temannya sangat amat suka kepadanya. Dan kemudian,  dia tidur-tiduran di atas kasur empuknya seraya terbayang: suasana romantis seharian dengan sang kasih, obrolan yang ceria, canda yang manja, dan ……yang amat nikmat, nikmat, dan nikmat. Teman-teman di sebelahnya bergerombol tak kalah bahagianya mengerubungi oleh-oleh darinya.

Dari cerita di atas, kalau boleh saya menyumbang obrolan untuk teman temannya saya itu, maka saya akan titip salam terkhusus kepada neng yang kayaknya makin binal itu, begini: “Neng, apakah sampean tidak berpikir atau bertanya-bertanya kepada diri sampean sendiri ketika sampean berangkat mengajar santri-santrimu dari kamarmu, apakah saya ini sudah memang pantas jadi ustadzah ngajar mereka, ini salah itu benar, ini pantas itu tidak, ini haram itu halal, dll? Atau, apakah saya ini sudah benar-benar membaca, menghafal, dan menghayati, dan mengajari Al-Quran, pantaskah saya sabagai hafidhoh? Atau, sudah betul-betul pantaskah saya menjadi seorang santri, anak kiai, neng, gus, yang diharapkan masyarakat?"

Kalau tidak, maka sudah semestinya sampean, saya, kita, dan teman-teman santri semua hendaknya memikirkan kembali dan menata ulang semua diri kita: niat dan prilaku kita sebagai santri dan generasi Muslim.
Lawang, 03/06/2010

Kamis, Juni 03, 2010

Salam di Hari Pesta Rakyatmu


 (Catatan puitis sisi lain buat pesta kemenangan Arema)

Arema klimaks bahagia
Pesta menang Liga Indonesia
Sebagai anakmu saya juga bahagia
Tapi, tua muda tumpah di jalan-jalan kota
Semuanya teler mabuk kemenangan
Laki-lakinya orang-orakan
Wanitanya tak kalah unjuk buka-bukaan
Sama-sama sorak-sorakan
Di pesta rakyatmu
“kita tahun ini menang, rayakan dengan puas”, katanya
Sampai-sampai persis bahkan lebih banter
Benda bulat kebanggaan
Mengelinding ditendang-tendang
Memar meronta
Tapi amat bangga, tak terasa
Inikah kemenangan
Lalu, mereka mau ke mana?
Lalu, apa mau mereka?
Yang bangga bahagia
Yang ketawa sambil menimba air mata
Maka, apakah masih manusia
Di sebuah masa
Sendiri-sendiri
Manakah aremanya
Ditendang-tendang tak karuan
Mungkin ini yang harus dipestakan

Lawang, 02/06/2010

Minggu, Mei 23, 2010

Pelita Buram di Pesantren

(Sekedar celoteh santri banyol tentang kisah kasih di pesantren)

Suatu saat, ada seorang teman santri temannya teman saya. Teman saya itu menceritakan tentang sekelumit cerita uniq yang dialami temannya itu di pesantrennya. Dia, temannya teman saya itu, mondok di sebuah pesantren Tahfidzil Al-Quran yang asli salaf pindahan dari pesantren yang full modern. Seperti biasa, di pesantren modern pendidikan tentang kitab-kitab akhlak memang tidak sekontsentrasi di pesantren salaf  yang memang melulu pelajaran kitab-kitab yang lumrah disebut kitab kuning (kutubut turost). Apalagi yang memang mengkhususkan diri pada penghafalan dan pengkajian Al-Quran (takhasshush).

Niat pindahnya selain karena sudah lulus diwisuda sampai sarjana satu di pesantren modern itu, dia juga ingin menghafal dan mendalami Al-Quran serta kitab-kitab salaf. Dia sebut pendidikan salaf itu dengan “pendidikan hati”. Dulu, di pesantren modern dia memandang otaknya yang lebih digodok dengan pelajaran-pelajaran yang lebih berbau logika atau umum. Meski agama atau moral juga ada, tapi tak sebesar di pesantren salaf. Tapi, bukan berarti pesantren modern tak bermoral, hanya saja sistemnya yang berbeda. Sehingga, hatinya dirasa masih lapar dengan materi-materi yang berisi nilai-nilai budi pekerti atau moral sehingga butuh lebih konsentrasi (tahasshush), bahkan dia amat tertarik dengan tasawwuf. Singkatnya, dia ingin di pondok yang baru itu mendapatkan pencerahan hati (pendidikan hati) yang lebih benderang lagi.

Dengan bekal yang sudah dirasa cukup termasuk mental bulat untuk hidup dengan suasana, tradisi, sistem atau hawa yang pasti baru singgahlah dia di pondok baru yang dia yakini dapat lebih mencerahkan hatinya itu. Menggodok dirinya secara lebih khusus menjadi orang yang penuh bumbu-bumbu Al-Quran.

Pada minggu-minggu awal dia enjoi-enjoi saja, amat yakin dengan hawa pesantren yang baru itu. Apalagi dengan seorang kiai yang amat sangat penyantun dan penyabar yang pikirnya dengan kiai begitu pendidikan akan betul-betul dijalani dengan penuh kesadaran dan keikhlasan, sehingga barokah ilmu akan betul-betul dapat diraup sepuas mungkin.

Namun, minggu bertambah minggu dan bulan menuju bulan, keikhlasannya itu menjadi makin terganggu, bukan karena sistem pesantren apalagi karena kiainya, akan tetapi karena gaya dan ulah pergaulan santri-santrinya yang menurutnya uniq, belum pernah ia lihat sebelumnya. Tapi, bukan berarti juga ulah mereka  jahat-jahat atau bringas-bringas, hanya saja interaksi antara banin (santri putra) dan banatnya (santri putri) yang menurutnya kurang mencerminkan santri terlebih di pesantren Al-Quran, malah bertolak belakang dengan Al-Quran.

Betapa tidak, suatu hari, dia melihat teman putrinya bebas longgang langgang di warung pojok dekat pesantren. Itu wajar pikirnya, karena pondok memang mengijinkan santri-santri untuk berbelanja, asal dalam radius dekat sekitar pesantren. Di hari yang lain, saat dia mau ngambil nasi dan air di dapur dia disuit-suitin oleh segerombolan santriwati dari jendela asramanya. Asrama santri putri memang nyaris satu bangunan dengan santri putra hanya dipisah dengan dapur ndlem (keluarga kiai) yang sekaligus jadi dapurnya pesantren. Sehingga, antara santri putra dan putri pada posisi tertentu bisa saling berpandangan dari jendela asrama masing-masing dengan jelas. Di samping itu juga, kamar mandi putri yang posisinya pas melewati dapur, sehingga santri putra dapat berpapasan langsung berdekatan dengan santri putri kalau pas santri putranya ke dapur dan santri putrinya mau mandi. Tidak jarang juga ketika di musalla lantai tiga dia digoda dengan dilemparin batu oleh santri putri dari dapur tempat jemuran mereka yang pas juga berhadapan dengan musalla putra. Ini tetap dia anggap wajar, sebab dia memang santri baru, bisa jadi santri putrinya penasaran dan ingin kenal atau sekedar iseng saja. Biasa barang baru mudah memantik penasaran orang, apalagi barang barunya agak kinclong, he..

Di hari yang lain, saat dia ke dapur seperti biasanya dia kepergok lagi dengan beberapa santri layaknya saling berpasangan sedang ngobrol-ngobrol. Melihat fenomena itu dia masih mewajarinya, sebab bisa jadi memang ngobrol urusan penting atau dapur, meski saat itu suasana sangat amat sepi dari orang lain. Peristiwa dapur ini kerap dia temukan sehingga nyaris membuat hatinya makin curiga atau waswas. Tapi, dia tetap aja cuek nggak mau mikir yang macem-macem atau suudhon. Padahal, kalau melihat suasana dan kondisi dapur sangat sudah tidak wajar, sepi, apalagi ketika nyai dan bapak kiai keluar.

Memang sempat terlintas di pikirannya, mereka tampaknya seakan saling bermesra atau bercinta meski hanya sebatas obrolan, tapi lagi-lagi dia tak hirau. Sebab dia berpikir, maklum mereka manusia normal meski memang bercinta tidak mungkin sampai sefatal bercintanya anak-nak nonpesantren. Bercintanya anak santri paling banter ngobrol-ngobrol gitu doang atau surat-suratan.

Motif Kewaswasannya tersebut belum lagi ditambah dengan cerita-cerita miring kakak seniornya yang akrab dengannya yang sebetulnya memang menunjukkan pergaulan gelap di antara santri putra-putri itu bahkan seakan lebih parah, konon, ada yang sampai tembus janjian ketemuan di luar pesantren, meski demikian dia tetap saja tidak mau pikir tentang itu.

Nah, ternyata kekebalannya untuk tidak curiga terhadap pergaulan tak beres tersebut menjadi tak mempan lagi ketika dia melihat dengan mata kepala sendiri gambar (foto) beberapa teman santrinya putra-putri saling berpasangan sedang berangkulan mesra di luar pesantren, konon, katanya memang ketemuan di luar pesantren dengan pura-pura ijin belanja atau pulang.

Apalagi, salah satu yang di gambar tersebut anaknya seorang kiai lumayang terkenal yang juga memiliki pesantren takhassus Al-Quran. Jelasnya dia seorang nyai muda, cantik plus manis lagi. Memang di pesantrennya (temannya teman saya itu) kebanyakan santrinya kader-kader khusus untuk menghafal Al-Quran, yang kalau bukan anaknya kiai ya anaknya pejabat tertentu, bahkan tidak jarang yang katanya ahlil bait, atau sarifah (anaknya habib/keturunan Arab).

Dari fenomena terakhir ini keikhlasannya dan keyakinannya kepada kondisi pergaulan di pesantren (bukan kepada pesantren atau kiainya) itu betul-betul tergannggu seraya tetap yakin ke kiai dan pesantren. Dia pikir biarlah mereka berulah demikian yang penting dirinya betul-betul serius belajar dan menghafal Al-Quran.  Biasanya di manapun yang namanya ketidakberesan pasti ada.

Mendengar cerita teman saya tentang temannya itu,  hati saya terasa tersentuh bara api. Apalagi saya juga santri Takhasshush Al-Quran. Kalau soal pacaran atau santri berdosa di pesantren pada umumnya itu wajar. Artinya, saya berpikir bahwa di manapun kejelekan atau dosa memang bisa terjadi, juga pada siapa saja. Bukan berarti kiai atau santri (insan pesantren) itu benar atau suci semuanya. Ini akan mengakui semua. Bahkan virus dosa atau kejelekan di pesantren bisa lebih ganas dari pada dunia nonpesantren. Sebab, pesantren adalah tempat suci untuk menuntut ilmu-ilmu agama dan perjuangan agama.

Sedangkan yang lebih saya sayangkan, bahkan saya mangkelkan adalah karena terjadi di pesantren jenis Tahfidzil Al-Quran. Termasuk, kasus yang paling terakhir, yakni santri kader atau nyai itu. Sebab, mereka adalah santri khusus yang memiliki tanggung jawab masa depan yang lebih berat sebagai generasi abi-nya. Bukankah dia seharusnya dituntut untuk kembali membawa ilmu yang lebih untuk meneruskan pesantren atau organisasi yang diamanahi ke abinya itu? Tapi, kenapa kok sempat-sempatnya pacaran sampai fatal-fatal semacam janjian-janjian di luar itu segala? Padahal, seorang kiai pernah bilang, seorang wanita yang sudah berani keluaran tanpa muhrimnya, apalagi pacaran dengan sengaja sampai melanggar peraturan pesantren berarti dia wanita yang terlalu nekat, telah melampaui batas kesejatiannya sebagai wanita yang harus betul-betul menjaga kehormatannya.

Kemudian saya juga berpikir, apalagi anaknya kiai, nyai, astagfirullah, betapa beraninya bermaksiat terang-terangan dengan pacarannya dalam keadaan sebagai santri kabur dari pondokknya, difoto lagi. Saya juga tidak bisa membayangkan bagaimana seandainya abinya yang kiai itu tahu gambar mesra putrinya itu, apalagi santri-santri di rumahnya? Belum lagi ketika mati nanti malaikat tak butuh bukti ngambil di catatannya sendiri cukup dengan memamerkan fotonya yang diabadikan sendiri oleh orangnya itu. Naudzubillah. Makanya, yang lain kalau memang hobi maksiat tak usah pakai foto-fotoan deh, takut jadi bukti paling tampak di kubur atau di akherat nanti.

Akhirnya, sambil menahan sial dengan keberadaan seorang santri nyai muda yang cantik, yang bangga berpacaran di foto itu, dari cerita teman saya itu, saya berseloroh untuk menghibur diri sambil menanggapi cerita teman saya itu:

“Untung banget sih cowok itu dapat menggaet santri nyai itu, cantik lagi, manis lagi, anaknya kiai lagi, uh gimana enaknya ya kalau bermesra dengan dia apalagi di pelukannya, manteb men! Kataku ke teman saya itu sekalian me-ngeres-kan diri saking mangkelnya.

“Wah amat sangat untung banget men. Bukan hanya itu, justru konon nyainya yang naksir duluan.” Tanggap teman saya itu.

“Waduh-waduh, kok pas ketemu nyai agresif gitu ya, kan enak! Tapi, apa sih kelebihan cowok itu kok sampai digatelin nyai santri itu? Katanya nggak begitu tampan!” Urus saya jadi ngeres.

“Yah nggak tahu lah, yang namanya cinta kan memang gitu, buta. Tapi dia tajir men.” Tegas teman saya.

“Ya nggak gitu lah, eman-eman donk nyai secantik gitu kok sembarangan bercintanya, dasar terlalu gatel, pokoknya ada, mungkin. Kenapa kok nggak ketemu saya aja, sekalian dosa kan nggak rugi, kan lumayan ganteng, pinter nulis lagi, sarjana lagi.” Celoteh saya ancur-ancuran ngeresnya dan so’-so’an.

“Yah, kamu so’-soan, ganteng kalau miskin kan percuma! Emangnya mau nyosor ke tulisamu itu!?” Tanggap teman saya menjadi ngeres dan memangkelkan saya.

“Apa!? Emangnya nggak lebih parah nyosor ke uangnya itu!” Balas saya tak maukalah.

“Oh, ya, ya! Teman saya mengalah. Mungkin dia lebih sadar dulu bahwa percakapan kami tak sehat, ngerumpiin orang, apalagi makin lama makin ngeres. Akhirnya, percakapan kami berakhir beiringan iqamah salat magrib. Teman saya langgung bergegas ke musalla berjemaah. Sedangkan saya masih ke tambak untuk berwudhu. Tampak ikan di pondok kami memang juga berfungsi sebagai tempat berwudhu dan mandi.

Sekali lagi, ini cerita teman saya itu tentang temannya di pesantrennya. Entah benar atau tidak. Siapapun jangan sampai yang berpikir macam-macam, apalagi berburuk sangka tentang pesantren hanya gara-gara catatan sederhana ini. Sebab, tulisan ini bukan untuk itu, apalagi untuk menfitnah pesantren, hanya saja saya maksudkan sebagai kaca benggala bahwa kita sebagai santri harus betu-betul serius, nyantri kita tidak main-main. Sekali nyatri selamanya jadi santri lahir batin. Tidak cuma namanya dan seragamnya. Kita nyantri bukan berarti jaminan hidup selalu benar, suci,dan masuk surga. Apalagi yang nyantrinya memiliki misi khusus, sebagai kader yang memiliki pesantren atau lembaga pendidikan yang akan meneruskan abinya kelak. Jangan sampai terjadi kata orang, “nyainya/gusnya (anaknya kiai) saja hobi pacaran apalagi santrinya atau rakyat awamnya. Naudzubillah. Jangan sampai terjadi. Selain mencoreng nama keluarga pada khususnya, lebih dari itu mencoreng dunia pesantren dan agama. Ini juga bagi santri yang bukan anaknya kiai atau pejabat. Santri semuanya.

Selain itu, juga tersurat sebuah filosofi, bahwa semua manusia siapa dan di manapun sama-sama berpotensi untuk berbuat dosa. Yang lepas dari dosa hanya Rasulullah. Lebih-lebih yang sedang berjuang dalam agama (pesantren), sebab "semakin tinggi sebuah pohon makin besar pula terjangan anginnya", bukankah begitu kata pepatah kita. Saya kira siapapun akan mengakui hal ini. Selain itu, di sini juga tersimpan sebuah prinsip, yakni masalahnya adalah “bagaimana kita sebagai manusia-terlebih kiainya atau santrinya itu-memiliki keterampilan mengolah potensi dosa tersebut menjadi tidak berdosa dan berpahala”. Ini pada intinya yang juga harus selalu diperhatikan.

Akhirnya, menjadi harapan pribadi, semoga santri-santri yang rusak-rusak, yang hobi bermaksiat, pacaran, begitu juga perilaku lainnya yang tidak pantas untuk seorang santri lekas-lekas sadar dan bertobat. Begitu juga saya. Lebih khusus nyai cantik yang sudah kadung dibilang gatel tadi, meski saya tidak bertemu langsung, hanya cerita dari teman saya itu dan melihat di fotonya, saya ucapkan mohon maaf. Itu bukan karena saya benci sekaligus merasa suci, tidak. Saya hanya eman-eman sampean: sebagai anaknya kiai, yang cantik, yang manis, yang darahnya biru (mungkin, katanya orang), kenapa kok harus berperilaku murah!? Bukankah sampean permata yang tersimpan mahal yang sejatinya orang butuh perjuangan mengjangkaunya?! Sampean adalah figur yang dicontoh. Inilah niat saya khusus pada sampean dan juga yang sedang sejenis, dan santri semuanya, mungkin ada. Mohon maaf dan terima kasih. Saya suka sampean semua terlebih saya harus bisa berubah, umat kita sedang menunggu kita sampai termangu bahan sesekali lesu. Sampai kapan kita lekas kembali kepada mereka membawa embun pagi, yang jernih, yang sunyi, yang suci, mendamaikan hati. Allahu a’lam.
Lawang, 21/05/2010

Mati Sahid dan Senyuman Gadis Cantik

Saya punya janji pribadi, tiap libur nyetor hafalan Al-Quran, malam jum’at, saya harus konsisten nulis. Nulis apa? Apa saja yang penting nulis dan bukan nulis porno. Ini sekaligus saya ingin membuktikan pesan kiai bahwa masa depan seorang santri diukur dari kebiasaannya saat di pesantren.

Pesantren adalah menjadi cetakan yang acap tak terduga nasib masa depan seorang santri. Kalau di pesantrennya hobinya pidato, ya paling tidak di masyarakat kelak jadi tukang khutbah jum'at, meski seminggu sekali; kalau di pesantrennya suka berorganisasi, ya paling apesnya kelak jadi perangkat desa atau tokoh masyarakat di kampungnya. Begitu juga, kalau di pondok suka main domino, ya di luar bisa jadi bandarnya togel; kalau di pondoknya hobi pacaran atau menggoda lawan jenisnya, ya kelak di masyarakat jadi tukang selingkuh; kalau di pondoknya suka ngrumpiin temannya, ya di masyarakat pasti jago fitnah; kalau di pondoknya suka mencuri, ya pasti di luar kelak jadi maling besar, dll. Inilah filosofi orang-orang tua kita mengatakan, “kalau di pondok nyuri jarum maka kelak di masyarakat nyuri jaran (kuda)”.

Nah, dari itu saya berpikir, mungkin saja kalau saya sekarang di pondok suka dan hobi nulis kelak saya jadi penulis terkenal yang tulisannya di baca orang di mana-mana. Sebab, saya ngebet jadi penulis. Kenapa saya ngebet ingin jadi penulis? Kata imam Ghozali (Ihya Ulumuddin) dalam mengutip Hadist Nabi saw (saya lupa Hadistnya) bahwa qalam (pulpen/tinta) ilmuwan itu sama dengan pedangnya para shuhada’ yang mati sahid berperang memperjuangkan dan menegakkan Islam. Menurut saya, kan lebih enak menjadi sahid dengan menulis. Sebab, dengan menulis maka nilai dakwah kita lebih luas dan lebih abadi. Lebih luas karena yang baca bukan hanya satu orang dan di mana-mana. Lebih abadi karena meski kita mati tulisan kita tetap ada dan dibaca orang.

Sehingga, bukankah sahid ini lebih mendamaikan atau tidak mengerikan? Apalagi sahid perang di zaman sekarang semisal bom bunuh diri, ini kesahidannya masih dipertanyakan, bahkan dikecam teroris. Betapa tidak, konon, kalau kemantenan bom bunuh diri yang dilakukan itu ingin mambunuh orang kafir, tapi sudah pastikah orang kafirnya? Dan, kalau memang betul-betul kafir,  menghardik Islamkah dia? Belum lagi kalau ada orang Muslimnya yang ikut-ikutan tewas juga. Jadi, sahidnya masih diragukan. Inilah alasan saya, kenapa saya ingin jadi penulis.

Khusus jum’at ini tak ada inspirasi signifikan yang akan saya tulis. Akhirnya, dari pada kosong, takut nulis libur juga, saya ingat senyum dan ucapan terima kasih seorang santri gadis cantik, apalagi, konon, dia bintangnya di pesantren saya ini. Ini yang menjadi inspirasi saya saat ini.

Sungguh, namanya laki-laki normal, siapapun hatinya akan tergugah dan bahagia setinggi langit kalau disenyumi gadis cantik seperti itu. Kecuali, orang gila yang disenyumin kambing pun di jalanan dia bahagia. Karena saya juga normal maka saya juga bahagia, bahkan sampai menjadi inspirasi khusus saya saat ini. Bahkan lagi, senyumannya selalu berkelebat memenuhi seluruh bilik-bilik hati dan otak saya.

Apakah saya berlebihan? Atau, ada rasa kagum atau bahkan jatuh cintrong? Entahlah, saya hanya ingin mengungkap eksistensi saya bahwa saya adalah termasuk orang yang normal, sehinga merasa bahagia plus tersanjung kalau disenyumin wanita cantik. Bukan ingin mengungkap bahwa saya cinta dia atau siapa. Bahkan mungkin, apakah saya “bajingan wanita” (meminjam istilah teman saya untuk lelaki yang suka mempermainkan wanita)? Atau, mungkin juga play boy,  mata kerangjang, dan sebutan lainnya. Apalagi ini, lebih pasti tidak.

Masalah cinta belakangan. Itu masalah hidayah. Bukankah cinta katanya anugrah? Hidayah adalah bagian dari anugrah Tuhan itu. Itulah cinta yang sejati. Katanya orang-orang bijak. Bukan cinta karena sahwat, yang setiap ketemu wanita cantik ingin dipacari dan dikencani. Ini cinta yang salah. Kalau perasaan saya memang cinta semoga cinta saya itu bukan cinta yang nafsu sahwat ini. Oleh karena itu, soal cinta belakangan, itu teka teki, nunggu anugrah-Nya. Sekali lagi, semua ini hanya sebagai ungkapan bahwa saya laki-laki normal bahagia kalau disenyumin wanita cantik.

Tapi, kalau bahagianya sampai demikian tingginya, saya juga tidak bisa membayangkan, bagaimana seandainya gadis cantik itu sampai mengungkap rasa “jatuhnya” ke saya. Yang jelas bukan jatuh ke jurang lho! Pasti pembaca paham sendiri kok! Hus, kok malah ngalor ngidul gini nulisnya! Udah lanjut yang lain aja.

Akhirnya, saya juga bertanya-tanya, kalau saya merasa melayang setinggi angkasa disenyumin wanita cantik, bagaimana kalau saya disenyumin wanita jelek? Wah, ini jawabannya lumayan rumit!

Gini saja, bukankah kata orang, cantik itu relatif? Selain itu, bukankah banyak motif cantik? Lihat saja, banyak pasangan suami istri yang fisiknya sama-sama jelek menurut kita, tapi mereka saling jatuh cinta dan bahagia. Begitu juga tidak sedikit yang menurut kita suaminya ganteng dan istrinya jelek-atau sebaliknya-tapi suaminya itu sangat amat mencintai istrinya, dan bahagia, punya anak banyak kok! Inilah titik terangnya. Bahwa cinta adalah relatif.

Motif cantik juga relatif. Ada orang yang memang cinta karena cantik paras wajahnya, berarti cantik bentuk wajahnya; ada yang cinta karena gaya bicaranya, berarti cantiknya ada pada gaya bicaranya; ada yang cinta karena seksinya, berarti cantiknya ada pada tubuh seksinya; ada yang cinta karena bokong semoknya, berarti cantiknya ada pada bentuk bokongnya; dan, saya pernah dicurhatin teman, bahwa dia sedang ngebet kepada seorang gadis yang, amit-amit, “anunya” gedhe atau bongsor, berarti cantiknya ada pada “gunung kembarnya”. Dll. Sori ngeres dikit.

Inilah kiranya, kalau dipikir lebih mendalam lagi, bahwa cantik dan cinta itu memang relatif dan merupakan bentuk dari anugrah Tuhan. Dan, inilah letak keadilan Tuhan, betapa Dia memberi kelebihan (keindahan/kecantikan) kepada tiap manusia berbeda dan beraneka ragam serta sesuai dengan potensi atau keadaan kediriannya (eksistensinya), dengan demikian tanpa mengurangi harga diri masing-masing. Sebab, dengan kelebihan itulah dia dapat mempertahankan hidupnya dan bahagia. Misalnya, para kiai hidup dengan wasiat-wasiatnya; para penyanyi hidup dengan lirik-lirik lagunya; para penyair hidup bahagia dengan bait-bait syairnya; para hafidzul Al-Quran hidup bahagia dengan tartil Al-Qurannya; burung-burung dengan kicauannya; lautan dengan gelombangnya; begitu juga Inul Daratista hidup senang dengan goyangan ngebornya, serta Julia Peres hidup bangga dengan tampilan “bukak-bukaannya”.

Dari pada itu, anak muda mengatakan “ cinta itu relatif” dan “Bukan cantik yang membawa cinta tapi cinta yang membawa cantik”. Bukankah benar begitu?

Kembali kepada persoalan pribadi tadi. Bagaimana saya: antara bahagia senyuman gadis cantik dan gadis jelek? Jawabannya, terserah dari pada kerelatifan plus kearifan cantik dan jeleknya perasaan saya serta anugrah cinta saya terhadap seseorang. Bisa saja suatu saat saya juga bahagia atau terasa melayang setinggi angkasa lantaran disenyumin seorang gadis yang secara fisik anggaplah paling buruk, tapi pada satu sisi dia dapat membuat saya terkagum-kagum. Dari pada gadis yang secara fisik sudah paling cantik, tapi dia hobi gonta-ganti pasangan atau pacar. Ini bisa saja terjadi.

Pada akhirnya, apa hubungannya sahid, cinta, dan gadis cantik pada judul di atas? Yang jelas terus terang, secara pribadi saya tergila-gila (cinta) kepada Al-Quran dan bercita-cita menulis Al-Quran. Ya, tentunya karena juga Al-Quran yang paling cantik dan indah bagi saya. Menulis Al-Quran bukan berarti mau buat Al-Quran tandingan Tuhan seperti orang-orang orientalis. Atau, sok menafsirkan Al-Quran menyaingi para mufassir, seperti yang lagi ngetren juga sekarang banyak ilmuwan seumur jagung sudah sok jadi mufassir. Tapi, saya menulis untuk berbagi oleh-oleh saya dari Al-Quran dengan manusia yang lain. Gitu aja kok repot. He…

Mati sahid? Sudah jelas, ingin mati sahid dengan menulis saja. Cinta, cantik dan sahid yang ini tidak relatif, tapi sebuah kepastian yang tidak bisa ditawar-tawar lagi di hati saya.

Khusus bagi gadis cantik, semoga tidak bosan-bosan untuk menebar senyumnya pada saya. Senyum kan sodaqah? Siapa tahu saat saya ngantuk ketika ngafal atau nderes Al-Quran gara-gara ingat senyum sampean itu lantas saya menjadi semangat kembali, tapi jangan suka senyum sendiri lho, nanti orang-orang pada malah lari semua. Dan, sekali saja mandangnya biar menjadi rizqi bukan maksiat lain muhrim. Oya, senyumnya juga yang biasa saja jangan dipolesi makna  yang lebih dalam lagi, takut saya nggak bisa konsentrasi ngafal Al-Quran. Paling akhir, trima kasih dan mohon maaf semuanya.
Lawang, 20/05/2010

Rabu, Mei 12, 2010

Tombo Ati: Ngenet dan Ngemal


 Yang namanya “santri banyol” memang ada-ada saja. Secara pribadi saya tidak tahu jelas apa definisi pasti dari “santri banyol” itu. Yang jelas saya pahami, dia adalah santri yang kerap membuat orang lain bisa tertawa dengan keberadaannya. Jangankan memang sengaja melucukan diri, dari bentuk dan gaya keberadaannya saja sudah bisa membuat orang tertawa. Dan, entah apa sebutan resminya untuk santri seperti itu, saya juga tidak tahu.

Biasanya, setiap pesantren punya istilah sendiri untuk menjulukinya dan berbeda-beda sesuai dengan warna tradisi dan dialektika bahasa setempat. Di pesantren saya yang dulu, di Madura, teman-teman menyebutnya “santri deller”, sesuai dengan dialektika bahasa Madura. Santri banyol saya mengenalnya di pesantren saya yang baru ini, di Malang, sehingga tentunya juga sesuai dengan dialektika bahasa Malang yang mayoritas santrinya Jawa. Mungkin secara umum ini tidak jauh dari sebutan “orang atau santri khilaf”. Pokoknya, santri jenis ini gaya dan prilakunya cenderung lain dari pada yang lain, sehingga keberadaannya acap membuat orang lain merasa lucu.

Pada sebuah pengajian kitab kuning. Ada santri yang memang dipandang banyol oleh teman-teman tiba-tiba bertanya seraya seakan terkesan dengan mimik mengeluh dan mengadukan sebuah permasalahan pribadinya kepada Bapak Kiai, meski saat itu belum dibuka sesi pertanyaan. Begitunya saja sudah membuat lainnnya pada mesem-mesem saat itu.

Aba, saya sedang pusing ga’ bisa nyetor hafalan Al-Quran. Apa obatnya?” Tanyanya

Sebutan aba adalah panggilan untuk kiai di pesantren ini. Sengaja Bapak Kiai menyuruh para santrinya memanggil Beliau dengan panggilan Aba agar terkesan tidak ada jarak antara santri dan kiai, sehingga santri dan kiainya sangat dekat, layaknya anaknya sendiri. Pada akhirnya, santri dapat berani mengadukan permasalahannya apa saja ke kiainya dengan tidak takut dan tidak canggung-canggung. Ini sangat cocok bagi saya khususnya. Bukankah memang sejatinya kiai itu begitu, sebagai problem solver (tempat mengadu mencari solusi persoalan hidup) selain central figur tauladan bagi santri dan para masyarakatnya? Sedangkan nyainya dipanggil umi atau ibu layaknya umi atau ibunya sendiri. Ini jarang terjadi di pesantren yang lain.

“Ente tahu kosidahan “tombo ati” yang jumlahnya lima itu?” Tanggap Aba

“Oya, saya tahu Ba, itu memang ada lima.” Jawab santri banyol dengan polosnya

“Coba sebutkan,”! Lanjut Aba.

“Tombo ati iku limo warnane: moco Qur’an lan maknane, sholat wengi lakonono, wong kang sholeh kumpulono, kudu weteng ingkang luwe, dan dzikir wengi ingkang suwe.” Tegas santri banyol, mencoba dengan lirik Jawa aslinya meski agak terbata-bata. Tapi, dia memang agak hafal. Lagi-lagi dengan gaya jawabnya yang polos membuat lainnya tertawa.

“Ya itu obatnya. Kan udah jelas. Tinggal ngelakoni saja sampean.” Jelas Aba.

“Oh, bukan itu Ba, itu salah! Itu kan tombo ati, obatnya ati. Kalau saya ini kepala sedang pusing. Biasanya saya mengobatinya dengan main game, ngenet (internetan/chatingan/facebookan), atau pergi ke mal (ngemal), refresing.” Tegas santri banyol dengan nada yang polos dan meyakinkan.

Mendengar jawaban santri banyol tersebut spontan sang Aba dan para santri yang lainnya tertawa terbahak-bahak. Suasana pengajian seakan berubah menjadi lakon lucu-lucuan. Sedangkan santri banyol cuma menggaruk-garuk kepalanya.

Di samping itu, lebih seru lagi, ada beberapa santri yang tertawanya tidak pas, sebab seraya terancam oleh kepolosan santri banyol tersebut. Dia berpikir, saking polosnya santri banyol dia takut ketika ditanya tentang siapa yang mengajak atau menemaninya ke mol dan internet jangan-jangan dia juga akan nyerocos menyebutkan nama-nama yang ngajak itu. Tapi, syukur itu tidak jadi ditanya.

Sebab, kalau saja ditanya lalu santri itu nyerocos menyebut santri yang terlibat juga, maka santri-santri yang juga menemaninya itu akan kedamprat hukuman oleh Aba. Sebab, ngenet adalah menjadi salah satu larangan terkeras Aba selain bawa HP ke pesantren. Meski tetap saja dilanggar oleh santri-santri yang tidak ketahuan. Itu sudah banyak santri yang mengalaminya. Terbukti beberapa minggu sebelumnya ada yang direndam semalaman di kolam ikan, gara-gara kabur dari pondok untuk ngenet.

Akhirnya, Aba menjelaskan duduk persoalannya secara serius. Sebab, ini menjadi pelajaran yang signifikan terkait dengan ibadah dan moral. Beliau menegaskan bahwa segala apa yang ada pada diri kita ini disetir oleh satu onderdel dari tubuh kita, yaitu hati. Hati inilah yang menjadi pusat dari segala-onderdel-onderdel tubuh lainnya, termasuk kepala atau otak. Kalau dia rusak maka rusak semua. Kalau dia baik maka baiklah semua unsur tubuh. Ini jelas dipertegas dalam Hadist Nabi saw.

Nah, salah satu yang membuat hati baik  adalah “tombo ati” di atas. Ini adalah obat hati warisan ulama-ulama dahulu (salafus saleh). Kalau diamalkan akan betul-betul menjadi obat mujarab bagi segala penyakit hati. Sedangkan internet atau mol itu obat warisan dari syetan yang pada akhirnya bukan malah menyembuhkan tapi bisa membuat penyakit-penyakit baru yang bukan hanya menggerogoti diri sendiri, dia bisa menjalar kepada diri yang lain.

Aktifitas internet dan mal lebih dekat dengan maksiat. Di internet, sekarang tinggal ngeklik sudah terpampang apa yang kita mau dari nafsu. Begitu juga di mal-mal, banyak wanita-wanita yang mengumbar paras ayunya, mempertontonkan tubuh aduhainya. Kasarnya, kita dengan mudah menikmati maksiat atau dosa bahkan seakan sengaja disodori; paha-paha bergengsi dan bodi-bodi semok kita tinggal menikmatinya saja. Busana ketat dan gaya buka-bukaan sekarang makin ngetren dan menjadi kebanggaan generasi muda mudi juga tak ketinggalan tua-tua keladi-nya baik yang sekuler maupun yang santri atau Islami. Meski mereka tidak meniatkan seperti itu. Padahal, itu sejatinya menjadikan harga diri mereka menjadi murah meriah. Tak punya harga diri, apalagi kelak di kehadirat Allah swt. Naudzubillah. Bapak kiai memaparkan fenomena ngeres ini seakan dari mimik wajahnya diselimuti penyesalan, kenapa generasi sekarang serba terbalik dan jauh dari kehidupan yang benar seperti itu.

Sementara semua santri baik yang banyol maupun yang biasa mendengar nasehat Aba demikian, mereka pada menundukkan wajah apalagi mereka yang di balik hijab, keturunan Hawa. Astagfirullah. Fenomena santri banyol telah membawa banyak hikmah. Tapi, jangan sok banyol.


Lawang, 12/05/2010

Selasa, Mei 11, 2010

Sekedar Ungkapan Hati Kecil


(Catatan hati kecilku buat adik siapa saja dan di mana saja)

Dik, maafkan saya kalau ngirim karyaku terus menerus kepada adik. Bukan sok pinter, atau sok berkarya, apalagi sok bercinta or cari perhatian dari adik, apalagi adik, konon, jadi artisnya pondok sini, tidak seperti itu kok niat saya. Itu semua untuk selingan saya saja di pondok ini. Sebab, kalau melulu dalam satu aktifitas aku jadi boret. Jadi, sekedar hiburan saja. Dari pada hiburan keluar pondok, main Hp, ngerokok, kerasan di warung pojok sana, ngegem, ngenet or ngorok tidur! kan lebih baik itu. Betul ga’? he….. apakah ini sebuah pelanggaran di pondok ini? Tentu saya yakin tidak.

Lebih-lebih saya ingin melestarikan jalan menuju karir masa depan saya. Sebab, saya ngebet ingin jadi penulis. Saya pingin banget nyebarin ilmu Al-Quran dari tulisan. Betapa bangganya saya kelak ketika tulisan-tulisan saya mewarnai media masa di negri ini bahkan di dunia. Betapa bangganya saya kelak kalau saya dapat menelorkan karya-karya buku yang di baca banyak orang di mana saja, termasuk para santri di berbagai pesantren. Itu mimpi saya dik.

Jadi, meski sekarang, saya harus tetap mambiasakan menulis seperti di pondok saya yang dulu, Al-Amien Prenduan Madura tercinta. Tapi, Al-Quran tetap juga nomor stunggal, tak boleh kalah dengan yang lain. Kalau bisa enam bulan harus sudah hafal plus lancar, he…so’-so’an. So, bantu doanya ya……

Lebih khusus, suatu hari adik akan membaca sebuah karya tulis di media massa, Jawa pos Misalnya, dengan nama Prof. Ali Sabilullah, Phd. Sedang adik membacanya sambil duduk santai minum kopi di rumah dengan suami tercinta, apalagi yang nulis ini jadi suaminya sendiri, he…..kwak…..kwk…kwk….Cuma canda kok. Lagian ga’ mungkin saya jadi suaminya adik, saya orang amat miskin ga’ punya apa-apa n ga’ bisa apa-apa lagi. Jadinya, seperti “pungguk merindukan rembulan” nanti, he… Lho kok jadi ngomongin cinta nih! Dasar, penulis ngreres..he….nanti cowok adik cemburu nih. Makanya jangan bilang-bilang keceplosan saya ini lho.. he..he..

Oke deh, met bercinta dan bermesra ria dengan Al-Quran saja, jangan dengan yang lain. Kalau hati sedang dirundung asmara kepada seseorang ya ungkapkan saja kepada Al-Quran or ungkapkan saja dengan tulisan seperti saya ini, he…. Kan lebih aman dan beriman, he….. Yups………. Wallahu’alamu bis showab.

Lawang, 13/05/2010

Senin, Mei 10, 2010

Kiainya Suka Tirakat, Santrinya Hobi Tidur Sekarat


(Catatan Kecil Bagi Para Pejuang Al-Quran)
Yang namanya santri "ngebet" ingin cepat hafal Al-Quran berbagai cara dicari-cari. Tapi, bukan berarti "berbagai cara dihalalkan"sebagaimana ambisius dalam urusan lainnya. Sebab, ini terkait dengan Al-Quran yang katanya juga erat dengan hidayah yang tidak bisa dicerna dengan akal logika biasa. Sehingga, dari niatnya saja sudah harus ce' sterilnya. Yang tidak steril pasti tidak akan berhasil.

Termasuk mencari cara itu adalah saling tukar pendapat dan pengalaman antara santri yang satu dengan yang lainnya. Caranya, santri yang masih mau atau sedang menghafal (tahap setoran) Al-Quran bertanya kepada santri yang sudah hafal (paling tidak tinggal "deres"/melancarkan). Kiai saya menyebut santri yang masih dalam proses ngafal tersebut dengan sebutan "mutahaafidh". Berasal dari kata "tahaafadha" yang artinya saling menghafalkan, yakni masih dalam proses menyetor hafalan kepada sang kiai atau pembimbing. Di sini, sang guru itu mengingatkan (baca: menghafalkan) atau membenarkan hafalan yang lupa atau yang salah pada diri sang santri.

Sedangkan yang sudah hafal atau selesai nyetor hafalannya sempurna 30 juz, atau biasa dibilang selesai diwisuda atau istilah lainnya itu, Beliau menyebutnya "haafidz". Maksudnya, santri yang sudah selesai menyetor hafalannya sebanyak 30 juz, sehingga tinggal "deres" atau melancarkan saja. Meski kerap sangkaan guru atau kiai menyebut santrinya yang sudah diwisuda berarti dia hafidz itu salah kaprah, sebab bisa jadi dia hanya selesai nyetor tapi hanya setoran hafalan saja. Yang dihafal dulu-dulunya persis hilang semua. Dia tidak bisa mengulang hafalannya dengan  lancar. Akhirnya, namanya saja wisudawan Al-Quran. Tapi, otak dan hatinya kosong dari Al-Quran, apalagi prilakunya.

Namun, sang kiai tidak bisa disalahkan. Sebab, sang kiai haya bisa melihat secara dhohir saja pada diri sang santri: bagaimana sang santri menyetor hafalannya. Sang kiai tidak mungkin mengecek secara pasti, apakah betul-betul hafal lancar 30 juz atau tidak. Atau, hanya ketika nyetor saja hafalnya. Kiai juga penuh keterbatasan, apalagi santrinya sampai ratusan. Jadi, lebih tergantung kepada santrinya: serius menghafal atau tidak.

Sudah pasti yang tidak serius hanya menghafal saat nyetor saja. Kecuali, sang kiai mampu menetapkan sistem kroscek yang ketat, dengan cara tes hafalan akhir semacam Ujian Akhir Nasional (UAN), sehingga santri yang diwisuda betul-betul yang hafal lancar sempurna 30 juz saja. Namun, yang tidak lulus semoga tidak se-stress para siswa-siswi yang tidak lulus UAN; ada yang sampai gantung diri. Atau, yang lulus juga semoga tidak lupa daratan, meluapkan kelulusannya dengan pesta miras, kumpul kebo, dan yang negatif-negatif lainnya. Hanya metodenya saja seperti UAN tapi konsekwensi atau resiko akibatnya tidak separah demikian.

Lebih dari itu, kalau bisa diusahakan juga ada tes mental Al-Quran: betul-betul dihayatikah hafalan Al-Qurannya. Jangan-jangan hanya hafal tapi tidak dihayati atau diamalkan, ya percuma juga. Ini yang paling penting. Sebab, tidak sedikit santri yang menghafal Al-Quran malah tingkahnya kurang ajar. Lebih kurang ajar lagi, kalau kerjanya cuma sibuk pacaran, nulis surat cinta, sibuk main HP atau hobi PS (play station/game).Yang tidak percaya bisa diadakan penelitian mendalam secara langsung saja.

Kembali kepada cara atau metode cepat menghafal Al-Quran tadi, diantaranya yang lumrah adalah dikenal dengan istilah "tirakat". Dalam agama terdiri dari unsur: berusaha keras dan serius, pateng beribadah, serta paling penting menjauhi maksiat atau dosa yang mengotori hati Pelaksanaannya biasanya, paling tidak, konsisten salat malam dan puasa di siang hari. Hampir dipastikan siapapun akan mengakui unsur-unsur ini sebagai langkah pertama dalam metode menghafal Al-Quran terjitu.

Pada suatu kesempatan, saya bertanya kepada teman-teman yang saya akui sudah cukup berpengalaman dalam menghafal Al-Quran plus betul-betul hafidz. Dia menjelaskan kepada saya, kata gurunya di pesantrennya yang sebelumnya, gurunya pernah berwasiat kepada santrinya termasuk dia saat santri-santrinya itu sedang pada berlomba-lomba menjalani ritual tirakat puasa agar cepat menghafal Al-Quran. Melihat ulah para santri demikian sang kiai menasehati, agar mereka tak usah macam-macam tirakat puasa segala. Yang penting tiap hari serius menghafal, menghafal, menghafal, dan nyetor, baru bisa cepat selesai dan lancar. Karena kiainyalah yang telah menanggung tirakat (menirakatkan) para santrinya agar cepat hafal dan lancar Al-Quran. Katanya.

Mendengar demikian, seakan mematahkan semangat saya yang yakin tentang bangun malam dan puasa Sunnah Senin Kamis, meski ini mungkin tirakat kecil-kecilan dan sudah biasa, mungkin. Tapi, menurut saya nasehat tersebut sebetulnya, secara akal mentah pun kurang pas. Saya berpikir, kalau santrinya tidak berlatih sambil tirakat, dalam artian tidak mengurangi makan meski tidak puasa, ogah bangun malam, dan tidak menjauhi maksiat. Atau, lain kata santrinya itu suka makan, tidurnya ngorok melulu, doyan game/internetan, apalagi hobi maksiat atau pacaran, maka sudah pasti sehebat apapun tirakat kiainya itu tidak akan pernah mengantarkan para santrinya sukses dalam menghafal Al-Quran.

Runutannya begini: saya gambarkan santri demikian dengan cangkir yang terbalik (mulut lubangnya di bawah) sedangkan kiainya sebagai ceretnya yang menuangkan air ke cangkir itu. Sudah dapat dipastikan bagaimanapun ceret itu menuangkan airnya ke cangkir yang terbalik atau tertutup cangkir itu tidak akan pernah terisi sampai kapanpun dan bagaimanapun. Airnya akan meluber ke mana-mana di luar cangkir itu. Saya kira kita semua akan sangat memahami gambaran ini.

Lalu, apakah kiai yang menasehati tersebut yang bodoh atau salah? Bagi saya, sejatinya, nasehat kiai itu adalah sindiran atau cobaan tingkat pertama bagi mereka para santrinya, yaitu masih pada tingkat "maunya" atau "niatnya": betul-betul seriuskah atau pahamkah mereka terhadap apa yang mereka amalkan (tirakatkan)? Jangan-jangan mereka melakukannya tanpa dasar ilmu atau pemahaman yang jelas, atau hanya sekedar ikut-ikutan doank. Sehingga, contohnya saja, banyak yang bangun malam atau tidak tidur malam dipahami dengan begadang atau bahkan fritokan. Atau, banyak puasa tapi tidur terus karena kelaparan. Maka, sama saja dengan yang tidak bertirakat, bahkan bisa jadi lebih celaka.

Inilah filosofi nasehatnya: ujian niat menirakatkan (keseriusan) hafalan Al-Quran. Inilah letak dari pada bahwa seorang pendidik atau kiai yang benar tidak hanya memberi ujian berupa materi pelajaran fisik an sich, akan tetapi lebih dari itu adalah ujian mental atau moral praktis. Ini baru pada tingkat pertama, niatnya saja. Belum lagi pada pelaksanaannya. Sungguh, pasti akan amat lebih berat. Tapi, itu berlaku bagi santri yang menghafalnya serius saja.

Sebab, sebuah kesuksesan, keselamatan, atau kebahagiaan, bahkan apapun bukan hanya pada Al-Quran, yang akan diraih tidak semudah membalikkan kedua telapak tangan dalam meraihnya. Pasti ada aral melintang yang harus tidak boleh tidak dihadapi. Ini bukan halnya proses enak-enak, makan-makan, begadangan, main hp, main PS, chatingan/internetan, apalagi pacaran, tapi sebuah perjuangan, perjuang, dan perjuangan yang membutuhkan keseriusan bahkan tangisan. Yups, akhirnya semuga semuanya kuat uji dan sukses semua. Terutama yang sedang mengapresiasikan cinta matinya kepada Al-Quran. Selamat bertirakat serius. Wallahu’alamu bish showab.
Lawang, 07/05/2010

Kamis, April 29, 2010

Gadis Itu Namanya Salehah

(Hanya catatan sederhana tentang sebuah nama)

Ini bukan catatan surat cinta. Hanya catatan biasa. Dia, yang namanya salehah hanya sebagai inspirasi saja. Tapi, semoga catatan ini menyimpan hikmah yang banyak.

Salehah bisa dua kemungkinan pemahamannya: bisa dipakai untuk namanya orang. Bisa juga digunakan untuk kata sifat bagi wanita, siapa saja. Misalnya, putri bapak Anu itu setelah mondok menjadi salehah sehingga semua orang suka padanya. Ini Artinya, sifat atau prilakunya yang salehah, yakni baik. Lain lagi dengan, anaknya bapak Anu namanya salehah. Ini berarti salehah menjadi namanya orang.

Sebagai nama, salehah bisa dipakai oleh siapa saja. Yang jelas wanita. Kalau laki-laki berarti saleh. Namun, sebagai sifat salehah atau saleh tidak bisa sembarang orang memakainya. Ada kategori-kategori dulu untuk bisa disifati dengan salehah atau saleh. Lain kata, tidak semua orang wanita  atau laki-laki bisa disebut salehah atau saleh.

Sebab, sebagaimana pemahamannya, salehah asalnya dari kata “shaluha” (Arab) yang artinya sama dengan “hasuna”, yakni baik. Kalau dijadikan kata sifat menjadi “shalihatun” (muannas/perempuan) atau “shalih” (mudzakkar/laki-laki), yang artinya “yang baik”. Dan, biasanya dikaitkan dengan semua sisi dari diri seseorang yang mau disifati: prilaku, tingkah, maupun perkataan; dalam semua interaksi, baik interaksi dengan sesamanya (maan nas), dengan lingkungannya (maal bi’ah), terutama dengan tuhannya (maal Allah). Jika prilaku, tingkah, dan perkataan, semuanya baik maka orang itu bisa disebut “yang saleh” atau “salehah”. Namun, kalau cuma prilakunya yang baik tapi perkataannya kurang ajar maka tidak bisa disebut “yang saleh atau salehah”. Untuk bisa disifati saleh atau salehah, maka semua dimensi pada diri seseorang harus betul-betul baik, luar dalam, dan secara konsisten.

Di samping itu, perlu dipahami, baik (salehah/saleh) di sini bukan pada dimensi fisik; seperti wajah atau tubuh. Yang berarti seksi, montok, cantik, dan sejenisnya. Sehingga, wanita cantik atau seksi bukan berarti bisa disebut dengan wanita yang salehah. Meski yang namanya Salehah memang ada yang cantik atau juga ada yang jelek, secara fisik tadi.

Oleh karena itu, banyak anak orang yang dinamai dengan Salehah  bagi yang wanita atau Saleh bagi yang laki-laki. Dengan harapan, agar anak itu kelak tumbuh dan menjadi anak yang baik atau yang saleh-salehah. Apalagi nama adalah doa, katanya. Di sisi yang lain, juga menjadi amat wajar ketika harapan semua orang, kalau anaknya menjadi anak yang ganteng atau cantik sekaligus saleh atau salehah. Meski tidak bernama Saleh, Hasan, Salehah, atau Hasanah. Lebih-lebih namanya juga seperti itu.

Meski demikian halnya, ada sebuah pertanyaan, apakah semua orang yang namanya Salehah atau Saleh itu berarti baik? Jawabannya, tidak. Belum tentu. Di desa saya, ada banyak yang namanya Saleh-Salehah atau Hasan-Hasanah. Tapi, diantara mereka ada yang namanya Saleh tapi kerjanya cuma sibuk cari uang sampai lupa salatnya. Ada juga yang Hasan tapi tukang nipu orang. Dan, ada pula yang mendekam dalam sel karena mencuri ayam tetangganya. Bahkan, kata teman saya yang suka pergi ke tempat-tempat mesum, konon, ada beberapa pelanggannya (PSK) yang namanya Salehah atau Hasanah. Hanya saja, untung masih lebih agak etis karena diganti dengan nama panggilan yang gaul, katanya. Pasalnya, tidak semua orang yang namanya Salehah atau Saleh itu baik. Tapi, juga tidak sebaliknya, tidak semua yang namanya Salehah atau Saleh itu buruk. Itu relatif. Tidak pasti. Dari itu, benar juga filosofi orang “Apalah artinya sebuah nama”.

Ada yang lucu. Belakangan, nama Salehah diplesetkan oleh orang-orang terutama di desa saya; orang-orang yang suka kluyuran, main wanita, dan hobi orkesan. Mereka menyebut , "bodinya atau goyangannya saleho”. Di sini kata dan makna salehah justru bergeser menjadi kata dan makna yang buruk atau mesum. Yakni, “Bodi Saleho” berarti bodi yang montok. “Goyangan Saleho”, berarti goyangan yang aduhai. Ini marak bersamaan dengan populernya goyangan ngebornya Inul Daratista dulu. Juga masih marak disebut-sebut sekarang.

Akhirnya, “Nama sebagai doa”, itu adalah benar. Sebab, setiap apa yang dicipta orang dari kata berupa ucapan maupun catatan pasti tersimpan di dalamnya makna atau sebuah harapan yang baik-baik. Terlepas standart kebaikan yang dipahami masing-masing. Alias, Tidak ada manusia selama normal yang ingin dirinya buruk atau celaka.

Begitu juga, “Apalah artinya sebuah nama”. Ini juga benar. Karena, tidak sedikit nama sebagai doa yang terpeleset akhirnya menjadi gagal. Termasuk nama baik (Saleh-Salehah, Hasan-Hasanah, dll) yang memiliki harapan yang baik pula, tapi kenyataannya malah menjadi sosok yang buruk. Paling terakhir, semoga semuanya baik-baik saja siapapun namanya. Subhanallah. Wallahu a’lamu bisshowab.

Lawang, 29/ 04/2009