Minggu, Januari 17, 2010

Skripsi, Lahirnya Sarjana-Sarjana Palsu

Makin dekat dengan tutupan akhir perkuliahan alias wisuda, makin bahagia pula apa  yang saya rasa. Begitu juga apa yang dirasakan oleh teman-teman saya seangkatan. Bayangkan saja, mau menjadi seorang sarjana muda, yang tentunya pasca sarjana pasti akan menjadi lain segalanya. Di samping nama yang bertambah panjang, juga perilaku dan segala kondisi diri yang harus meyakinkan.

Sebab, namanya sarjana kan pasti terkesan lebih akademis atau berilmu dari pada orang yang bukan sarjana atau belum sarjana. Misalnya, nama saya sebelum sarjana Ali Sabilullah, maka setelah sarjana akan berubah menjadi Ali Sabilullah, S.Fil. Begitu juga, jika sebelum sarjana saya masih kekanak-kanakan, maka setelah wisuda saya harus lebih dewasa lagi. Amin. Paling tidak, bergaya dewasa dulu. Kalau memang alaminya tidak  bisa dewasa.

Namun, di samping kebahagiaan itu, ada juga perasaan getir dan penuh bimbang. Ada syarat untuk menduduki singgasana wisuda itu, karya skripsi. Inilah titik kegetiran dan kebimbangannya. Sebab, jika tidak lulus dalam penyusunan skripsi tersebut, tidak jadi dimantenin sebagai wisudawan yang dipajang dengan uniform penuh wibawa di depan banyak hadirin. Wisudanya diundur  tahun depan. Naudzubillah. Ya, kalau tahun depan bisa selesai, kalau tidak, yah tua-tua di kampus. “Kiamat sudah dekat”, kata seorang teman saya yang skripsinya masih amburadul.

Termasuk saya, yang saat ini waktu wisuda hanya dalam waktu beberapa hari lagi (26 Pebruari 2010), yang skripsinya masih kocar kacir. Bukan karena saya malas mengerjakannya, tapi karena lahan skripsi saya yang amat komplek dan menyulitkan. Studi lapangan dengan metode fenomenologi. Menggali makna fenomena di lapangan. Ini otomatis memang membutuhkan waktu panjang dan keseriusan yang mendalam.

Makna tidak sembarang disimpulkan seenaknya saja. Saya mencari teori, bukan mendeskripsi ulang teori atau membuktikan teori. Selain kendala yang menumpuk di sana sini, sibuk tugas lain, sarana yang tidak mendukung, harus antri komputer, dan sebagainya. Termasuk korbannya adalah prinsip saya menjadi sekarat untuk konsisten menulis di blog setiap hari. Hanya gara-gara waktu yang kesedot proyek skripsi ini.

Tapi biarlah, mulai saat ini saya libur atau jarang dulu ngisi karya di blog. Yang penting bukan dikarenakan saya malas lalu vakum. Saya juga nulis dalam bentuk skripsi, itupun kan lebih serius. Hanya saja lebih njlimet karena terlalu formal dan disesaki peraturan-peraturan segala macam. Jadi tidak enjoi. Padahal, kalau saya tidak enjoi, saya tidak suka.

Tapi tidak apa-apa juga. Lawong ini yang lebih memastikan masa depan saya. Bayangkan saja, kalau saya tidak selesai skripsi tahun ini, kan cita-cita saya makin tertunda untuk jadi seorang filosof. Bukan hanya sarjana (SI/S.Fil.I) atau master (S2/M.Fil.I), tapi betul-betul jadi filosofnya (S3/P.hd) atau kalau ada sampai S 27 sekalian. “Jangan tanggung-tanggung. Biaya sudah kadung besar. Biar hasilnya tampak kelihatan.” Katanya Ibu Bapak saya di desa. Yups.

Sebetulnya, saya bisa cepat dengan memilih topik yang sederhana dan metodenya kuantitatif saja, misalnya “Pengaruh konseling terhadap kecerdasan emosional anak didik di kelas 3 MTS Al-Amien Prenduan”, atau “Pengaruh menonton iklan makanan di televisi terhadap tingkat pembelian konsumen” . Tapi bagi saya seperti itu kurang sreg. Dan tidak butuh diteliti. Itu memang sudah wajar. Seperti halnya, “Pengaruh makan terhadap kenyang”. Nyapek-nyapein saja, hasilnya tidak memuaskan, apalagi judulnya sejenis itu.

Namanya saja penelitian. Bukankah penelitian itu paling tidak ingin meningkatkan sesuatu atau menemukan sesuatu yang baru?! Bahkan banyak teman saya yang skripsinya tinggal ngubah nama saja, alias copy paste dari skripsi temannya yang sudah wisuda tahun sebelumnya dan di perguruan tinggi lain.

Bahkan dia berprinsip, yang  penting selesai dan dapat sarjana. Bagi saya proses skripsi seperti itu naudzubillah. Sangat tidak saya sukai. Lebih baik tidak sarjana saja. Sebab, itu akan menimbulkan beban psikologis di masa depan saya.

Paling tidak, ketika duduk di prosesi wisudaan, saya akan berpikir, saya ini wisuda cap apa? Dengan skripsi yang tidak serius atau menjiplak. Maka saya tidak ada bedanya dengan sarjana palsu sepanjang masa. Lebih bahaya lagi hasil praktis ilmu saya tidak akan mendatangkan keberkahan. Penipuan, kebohongan, atau kepalsuan pasti hasilnya adalah kebohongan dan kepalsuan juga. Kalau saya mencetak kue dari lumpur pasti hasilnya akan tetap menjadi lumpur. Tidak akan berubah menjadi tepung. Nuudzubillah. Sebuah beban psikologis yang berkepanjangan.

Fenomena skripsi atau wisuda kayak itu tidak ada bedanya dengan yang skripsinya hasil transaksi atau komoditas perdagangan alias hasil beli, sebagaimana marak dilakukan oleh mahasiswa-mahasiswa sekarang. Bahkan, teman saya cerita, bahwa dia sering mendapatkan order proyek jadi skripsi, sehingga dia punya penghasilan sampingan yang lumayan besar.

Saya menjadi berpikir, mungkin ini menjadi salah satu sebab kemerosotan bangsa kita di negeri ini. Meski segalanya mendukung untuk maju (tanah surga, katanya), tapi tak maju-maju. Justru pelanggaran dan kerusakan yang datang makin komplek dan pesat, mulai dari korupsi, pertikaian, perselingkuhan, pornoan, dan sejenisnya. Karena para pemimpin, tokoh, atau sarjananya yang mengatur bangsa ini banyak yang pendidikannya hasil dari penipuan atau kebohongan itu.

Akhirnya, biarlah saya tidak menulis di blog dulu atau bekerja selain proyek skripsi untuk beberapa minggu ke depan, tapi saya harus lebih konsentrasi menyelesaikan proyek skripsi ini. Sekaligus selalu berdoa semoga bisa selesai dengan hasil yang membawa berkah dan memuaskan, meski dari segi nilai akademis formal bukan kamelut atau bahkan lemah, no problem.

Paling tidak, hasilnya alami hasil jerih payah saya sendiri. Dan, akan saya abadikan di blog saya juga sebagai contoh skripsi kualitatif fenomenologis yang mungkin meski hasilnya tidak memuaskan, tapi paling tidak menjadi kaca suatu hasil yang didapat dari perasan keringat seorang anak manusia. Menjadi sebuah misal kealamian dan kemandirian seorang sarjana meski dengan jalan yang merangkak-rangkak, jatuh bangun. Serta, semoga tidak dikopipaste oleh seseorang calon sarjana. Semoga.

Jumat, Januari 15, 2010

Berjihad dan Berjilbab


(Budaya Manusia Menggeser Makna Ajaran Tuhan) 
Sebuah Trauma
Teman saya diundang seorang temannya dalam sebuah acara khusus. Tiba di tempat undangan, teman saya merasa aneh kepada acara tersebut. Sebab, acara tersebut tidak seperti biasanya. Penuh batasan-batasan. Terkesan hanya untuk kalangan khusus plus bergaya unik. Yaitu berjenggot semua, meski teman saya itu juga jenggotan, sedikit.

Agenda acaranya juga unik. Konon, dalam acara tersebut dijelaskan hal-hal yang tidak seperti biasanya dalam agama yang ia pahami di zaman sekarang. Misalnya, orang kafir (bagi mereka tiap orang luar Islam) di negara ini harus membayar pajak kepada orang Muslim. Sebab Indonesia ini mayoritas terdiri dari orang Muslim. Selain itu, dijelaskan konsep jihad dan misi pembentukan Daulah Islamiyah.

Melihat pemandangan demikian, langsung berkelabat di benaknya orang-orang yang dituduh terorisme yang pernah sering disiarkan di stasion-stasion TV dan media cetak semisal Amrozi dkk dan Noordin M Top, meski mungkin program mereka bukan sejenis yang di TV itu.

Perasaan teman saya itu maklum. Bukan dia terlalu sensitif sentimentil terhadap orang yang berjenggot, akan tetapi paling tidak trauma dengan ulah mereka (teroris) yang sempat membuat manusia gelisah di muka bumi ini. Dan, kebanyakan mereka memang berjenggot, bersorban, dan selalu mendengung-dengungkan prinsip jihad, meski tidak semua yang berjenggot, bersorban, dan mengumbar jihad, seperti itu.

Rekonstruksi Daulah Islamiyah
Dalam catatan ini, saya mencoba mengurai wacana kelompok seperti di atas yang memang tak pernah surut. Pertama, adakah Daulah Islamiyah? Di zaman Rasulullah dan para sahabat itu memang ada dengan bentuk khilafah atau dinasti atau sistem sultan (kerajaan).
           
Tapi, setelahnya perlu kita pikirkan, bahwa dinasti itu hancur berantakan yang salah satu sebabnya adalah perebutan kekuasaan sekaligus para sultannya saat itu banyak yang bermaksiat; terlalu tamak terhadap kekuasan, harta, dan wanita. Kecuali pada saat Rasulullah saja yang betul-betul makmur sejahtera. Setelah itu, masa sahabat saja sudah terjadi konflik di mana-mana.

Akhirnya kita berpikir, zaman tidak jauh dari Rasulullah saja Daulah Islamiyah hancur berantakan, apalagi zaman sekarang yang semakin kompleks. Bukan hanya orang kafir saja yang ada di luar Islam, tapi bahkan bermunculan agama-agama baru.

Maka dari itu, saya kira bukan tidak logis atau tidak mungkin untuk mendirikan Daulah Islamiyah di zaman ini, meski di Indonesia saja, akan tetapi resikonya lebih besar dari pada kesejahteraannya. Kecuali lahir Rasulullah baru yang kedua.
           
Kepastian Standart Kafir
Kedua, bagaimanakah jihad? Yang jelas, mereka ingin berjihad menumpas orang yang di luar Islam sekaligus merongrongnya. Sedangkan yang tidak merongrong harus membayar pajak. Persoalannya, pihak kafir di sini harus jelas standartnya. Sebab, di zaman ini bukan hanya orang yang identitasnya di luar agama Islam saja yang merongrong Islam, tapi justru orang Islam itu sendiri yang suka merongrong, meski secara halus berupa pemikiran atau wacana.
           
Selain itu, bakankah orang Muslim yang terus terang bermaksiat sejatinya juga merongrong Islam? Apakah mereka juga harus dijihadin (diperangin)? Kalau demikian, maka orang Islam yang demikian tidak sedikit jumlahnya.

Tidak usah jauh-jauh untuk membuktikan hal ini. Lihatlah generasi Muslim saja, lebih banyak manakah, yang tampak terang-terangan bermaksiat atau hidup glamor dari pada yang hidup sejati islami (zuhud) di zaman sekarang? Jangankan Muslim yang latar belakangnya sekuler, yang santri saja sudah banyak yang glamour dan hedonis itu.
           
Ini juga terjadi pada standart kafir yang wajib membayar pajak. Apakah tidak dimungkinkan terjadi kecemburuan sosial. Sebab, tidak semua orang Muslim dan non Muslim zaman ini paham akan konsep pajak dalam Islam ini.
           
Lagian, umat Muslim sekarang tak perlu lagi memajukan kesejahteraannya dari dana pembayaran pajak itu. Islam juga kenal bisnis dan teknologi yang pesat. Bahkan, kalau sampai memberlakukan konsep membayar pajak dengan dalih kesejahteraan bersama, malah makin menunjukkan kemiskinan komunitas Muslim saja di zaman yang canggih ini. Tak ada bedanya dengan penarikan amal di tempat-tempat umum untuk pembagunan tempat ibadah.
           
Budaya Yang Kompleks
Lebih problematis lagi, pola pikir manusia sekarang cenderung yang logis-logis, praktis-praktis, bebas, dan berani, serta budaya manusia menjadi makin kompleks. Akibatnya, budaya manusia mulai berani menggeser makna ajaran Tuhan (agama) itu sendiri.
           
Misalnya saja, berjilbab. Awal kalinya, Tuhan dan Rasul-Nya dengan tegas mengajarkan jilbab dalam kitab suci karena jilbab menjadi benteng sekaligus simbol kesucian dan martabat seorang Muslimat. Dan pada praktisnya, memang betul para lelaki waktu itu enggan menggoda para Muslimat berjilbab. Tapi bagaimana dengan yang sekarang?
           
Sekarang, makna jilbab menjadi bergeser. Bukan menjadi simbol sekaligus benteng kesucian dan martabat seorang Muslimat, akan tetapi malah menjadi topeng kemaksiatan. Terus terang, saya tidak jarang menyaksikan di ponsel-ponsel bervidio adegan-adegan mesum yang dibintangi oleh gadis-gadis berjilbab.
           
Dalam kehidupan sehari-hari saja, tak usah jauh-jauh, lihat saja di perguruan tinggi-perguruan tinggi Islam sekitar kita, di manapun. Memang mayoritas mahasiswinya berjibab, terlebih digalakkan oleh pemerintahan setempat untuk memakai jilbab, akan tetapi busana di bawah jilbab, tak ubahnya setengah telanjang. Lekuk-lekuk tubuhnya begitu jelas aduhainya. Maaf, membuat bulu roma saya sampai berdiri.
           
Kemudian, dulu, Jihadnya Rasulullah memang betul-betul diharapkan oleh seluruh masyarakat, baik Muslim maupun non Muslim. Karena betul-betul mendatangkan kesejahtaraan. Sekarang, jihad malah menakutkan masyarakat dunia. Di mana-mana masyarakat terancam bom yang katanya berjihad, dan pembakaran, kerusuhan, pertikaian yang konon cenderung akarnya karena tiap pihak agama atau kelompok kepercayaan saling mengaku benar sendiri, sehingga sama-sama memiliki konsep jihad menurut dirinya sendiri yang justru melupakan sisi kemanusiaanya.
           
Jihad Masa Kini
Akhirnya, kalau boleh saya bermimpi, sekarang, kita tak perlu ruwet-ruwet dengan konsep jihad yang macam-macam. Apalagi ini kafir itu muslim; mendirikan Daulah Islamiah atau Imamah. Itu terlalu jauh. Tapi, mulai dari diri kita sendiri, sekitar kita sendiri; Apakah kita betul-betul sudah ber-Islam sejati sekaligus manusiawi? Sudahkah kita menghayati ibadah-ibadah kita kepada Tuhan dan bertingkah saleh dalam kehidupan sosial sekaligus konsisten?
           
Kalau kita pateng beribadah kepada Tuhan, tapi tetangga kita masih kelaparan, putus sekolah, tak mampu mengobati penyakitnya, maka ibadah kita perlu dipertanyakan. Atau, kita sibuk-sibuk mengonsep jihad ini itu, tapi justru saudara terdekat kita, teman-teman kita, murid-murid kita, atau anak-anak kita, atau bahkan diri kita sendiri sejatinya hobi bermaksiat, jarang salat, berjilbab hanya gayanya, berbusana mengundang nafsu, dan sejenisnya.
           
Maka dari itu, alangkah lebih luhurnya di sisi Tuhan dan manusia jikalau kita berteriak, ”Mari kita berjihad menumpas (bukan dengan pedang atau bom) kemiskinan, kelaparan, kebodohan, dan pengangguran. Dari pada kita berteriak, ” Mari kita berjihad menegakkan Islam, bunuh orang-orang kafir”. Bukankah ini jihadnya Rasulullah yang paling serius (berat)? ”Tidak beriman kepadaku orang yang tidur kenyang, sementara tetangganya kelaparan”, sabda Rasulullah.
           
Sebab, bukankah kemiskinan (baca: kemiskinan ekonomi dan akidah), kelaparan, pengangguran, dan kebodohon itu yang sejatinya menjadi sebab utama dari pada kekafiran di masa sekarang? Sekarang, kafir berubah lebih menjadi akibat, bukan menjadi sebab seperti di zaman Rasulullah.

Selasa, Januari 12, 2010

Tuhan Semena-Mena dan Kebenaran Objektif



 Ada seorang teman saya. Dia tergolong masih belia dalam persoalan agama. Meski dia seorang santri yang lama mondoknya seperti saya, tapi dia tidak begitu memahami agama.

Pertama, karena memang secara kognisi, kalau boleh dibilang, dia termasuk anak yang lemah dalam pelajaran keagamaan. Yang kedua, karena dia memang tidak begitu suka kepada kitab-kitab yang bernuansa keagamaan, apalagi literatur kearab-araban. Dia lebih suka membaca bacaan yang berbobot sekuler seperti logika dan filsafat, dan yang estetika seperti cerpen dan novel. Jarang sekali membaca literatur keagamaan kecuali hanya pelajaran di kelas.

Oleh karena itu, pengetahuannya terkait persoalan agama tanggung-tanggung. Tapi, di samping kelemahannya itu, dia memiliki kelebihan yang lumayan bisa diakui dari pada santri yang lainnya, pemikiran logikanya luar bisa cekatannya. Sistematika tulisan dan bercakapnya sangat amat mengalir rapi sehingga bisa membuat orang terkecoh. Dia cerdas merangkai kata yang sistemik dan logis, sehingga membuat orang yang lemah logikanya hanya bisa mengangguk-nganggukkan kepalanya.

Seseorang yang secara kognitif pandai, anggaplah pengetahuan agamanya luas karena dia getol dalam membaca literatur keagamaan sekaligus pintar ngajinya tapi logikanya kurang, maka dia akan kalah. Sebab, dia tidak bisa menyampaikan segudang ilmunya itu secara sistemik logis, sehingga orang tidak dapat memahaminya. Akhirnya sama saja, punya ilmu tapi tak berguna. Ilmunya tidak bisa disampaikan secara benar, orang sulit memahami pengajarannya.

Namun, bagi orang yang lihai ngomong, sistem dialognya mengalir teratur, rapi, dan logis, meski ilmunya pas-pasan, maka dia seakan tampak sebagai orang yang cukup berpengalaman dalam hal agama. Pengetahuan agamannya meski sedikit dapat disampaikan bahkan semakin berkembang. Orang akan mudah memahami pengajarannya dengan ilmunya yang sedikit itu.

Inilah nilai filosofi orang mengatakan, ”at-thoriqotu ahammu minal maddah”, metode itu lebih penting dari pada materinya. Logika adalah ilmu terapan, cara berbicara dan berdialog secara sistemik, teratur, dan jelas.

Akhir-akhir ini, teman saya yang cerdas logikanya itu, mulai getol mendalami agama dari sudut logika dan filsafat. Oleh karena itu, buku bacaannya sekarang melulu tentang filsafat yang berbau agama. Lucunya, setiap menemukan kata-kata atau hipotesa-hipotesa menarik, yang menurutnya unik dalam agama, dia hapal dan dianalisa. Lalu akhirnya diekspresikan ke teman-temannya yang anggaplah luas pengetahuan agamanya tapi rigit dalam pemahamannya. Dia kerap bilang banyak orang memahami agama secara rigid dan esklusif tradisionalis. Sedangkan dirinya seakan-akan mengaku kelompok orang-orang Liberal, yang menyikapi agama secara fleksibel. Terlepas liberal dalam artian JIL.

Salah satu hipotesa paling hangat yang dia temukan adalah, kebenaran itu benar karena kebenarannya itu sendiri atau kebenaran itu benar karena diperintah Tuhan? Katanya.

Yang pertama, kebenarannya berarti sifanya objektif sehingga ada standart kebenaran yang bisa diakui secara objektif memang benar. Dan yang kedua, kebenarannya berarti bersumber dari kata atau keputusan Tuhan. Kalau kata Tuhan benar meski secara objektif salah ya tetap benar. Sehingga yang terakhir ini menunjukkan sifat Tuhan yang semena-mena. Kebenaran lahir secara subjektif Tuhan yang semena-mena.

Dia sendiri meyakini yang pertama, bahwa kebenaran itu bukan karena Tuhan menganggapnya benar tapi karena esensi benar itu sendiri. Kalau yang pertama berarti Tuhan semena-mena. Dia tidak setuju itu.

Dua hipotesa tersebut kalau saya boleh menilai adalah mengarah kepada, yang pertama, mengarah kepada kebenaran yang tidak dicipta Tuhan tapi ada sendirinya bahkan seakan lebih dahulu adanya dari pada Tuhan itu sendiri.

Yang kedua, lebih mengarah kepada kebenaran dicipta atau muncul dari pada Tuhan, sehingga Tuhan ada lebih dahulu.

Dari pemikiran ini, akhirnya kalau makin dikejar akan bermuara kepada pertanyaan ekstrim, lebih dahulu manakah antara surga atau neraka dan Tuhan? kemudian, juga akan berkembang, lebih dahulu manakah kebenaran atau kesalahan dan sorga atau neraka? Ini akhirnya menjadi makin rumit.

Pernyataan hipotesis dan segala perkembangannya yang rumit tersebut cukup menggelitik hati saya, meski saya tidak begitu lihai berlogika plus ditambah entri pengetahuan tentang agama yang juga tanggung-tanggung. Akhirnya, saya coba menjawabnya dengan sok berlogika juga.

Kalau memang agama benar itu karena objektif kemudian Tuhan semena-mena, maka saya bertanya, pertama, adakah kebenaran yang diperintahkan Tuhan yang tidak objektif? Atau adakah kebenaran Tuhan yang menyimpang dari standart kebenaran esensial bagi manusia? atau gamblangnya lagi, adakah kebenaran Tuhan yang menyimpang dari standart kebenaran bagi manusia? Atau lebih ekstrimnya, adakah kebenaran Tuhan yang menyakitkan atau tidak selaras dengan kebaikan atau kesejahteraan manusia?

Kedua, adakah kebenaran standart bagi manusia yang keluar atau bahkan mungkin lebih benar dari pada kebenaran yang diperintahkan Tuhan? Misalnya apa?

Kemudian, terkait persoalan kedahuluan kebenaran atau kesalahan dan Tuhan, maka ini harus mengingat dulu seluk beluk lahirnya esensi kebenaran itu sendiri.

Anggapan kebenaran dan kesalahan itu adalah berawal dari dialog aktual antara Tuhan, Iblis, Malaikat, dan Adam (sebagai asul asul sejarah manusia juga). Darinya kemudian muncul penentuan istilah kebenaran dan kesalahan, yaitu kesalahan yang disebut ”sombong” (ini dilakukan Iblis) dan kepatuhan yang disebut ”taat” (ini dilakukan oleh Malaikat).

Kesimpulannya, kesalahan ”sombong” muaranya adalah neraka dan kebenaraan ”taat” muaranya sorga. Akhirnya, dari sini kita menemukan bahwa Tuhan dulu yang ada dari pada kebenaran. Kebenaran adalah makhluq mati. Dia salah satu entitas ciptaan yang pasti ada penciptanya atau yang menetapkannya sebagai hukum dan standart.

Malah tidak logis kalau kebenaran ada dengan sendirinya. Disebut benar karena ada  yang mengakui atau menetapkan benar. Sehingga kebenaran standart harus ada yang menetapkannya yang lebih memiliki Maha Otoritas yaitu Tuhan.

Sebab, semua kebenaran memang berasal dari anggapan, tapi kalau semua orang meski tak punya otoritas saling berhak menganggapnya atau menetapkannya, maka bukan kebenaran standart namanya tapi kebenaran ”saenae udele dewe” . Akhirnya, tiap manusia sama-sama mengklaim benar sendiri. Akan kabur, mana sebetulnya yang disebut benar. Bayangkan saja apa jadinya kalau begitu. Dunia akan kacau.

Oleh karena itu, untung Tuhan Maha kuasa, dan Maha memiliki otoritas yang memiliki hak primordial satu-satunya yang memutuskan standart kebenaran itu yang mana. Sehingga standart kebenaran menyatu berpusat kepadanya. Muaranya, kebenaran akan  sangat amat jelas dan kehidupan akan rapi  dan teratur.

Lalu ada pertanyaan berkembang. Kalau begitu, lebih dahulu mana antara kebenaran atau kesalahan dan sorga atau neraka?

Saya jawab, lebih dahulu sorga dan neraka. Sebab, keduanya adalah akibat dinamika kebenaran atau kesalahan sebagai sebab. Meski setiap akibat pasti datang setelahnya sebab. Kenapa demikian? Atau bukankah surga dan neraka diciptakan terlebih dahulu dari pada kebenaran atau kesalahan yang terbukti dengan berdiamnya Adam di surga. Sehingga apakah masuk akal akibatnya ada lebih dahulu dari pada sebabnya?
Jawabanya, itulah kebesaran Tuhan. Ada dua hukum, hukum alam atau sebab akibat (kausalitas) dan hukum Tuhan. Hukum Tuhan dan alam berbeda jauh dengan hukum Tuhan. Hukum alam berjalan di atas sistem akal logika atau rasional, sedangkan hukum Tuhan lintas logika.

Menurut hukum logika, sebab pasti selalu ada dahulu dari pada akibat, sedangkan bagi hukum Tuhan bisa jadi akibat dahulu dari pada sebab semisal adanya surga atau neraka dahulu dari pada kebenaran atau kesalahan itu.

Misal bentuk lainnya, secara hukum akal logika, kalau jatuh pasti ke bawah tapi ada fenomena jatuh ke atas. Juga, secara logika, manusia adalah hewan beranak yang berkaki dan bertangan sepasang, tapi pada fenomena tertentu banyak manusia yang tidak berkaki atau bertangan sepasang sekaligus yang tidak beranak.

Dengan perbedaan hukum itulah maka Tuhan dianggap Tuhan sang Pencipta yang Maha Kuasa. Tidak mungkin yang pencipta sama atau setara dengan apa yan dicipta.

Kamis, Januari 07, 2010

Tuhanku Amat Logis


Saya kerap sekali keder dengan ambisi saya. Bahkan tidak jarang antipati kepadanya. Saya amat sangat sering pesimis dengan cita-cita dan keinginan panjang saya. Padahal, saya tidak kurang cara, idola, penyemangat, dan segala hal yang menunjang semangat untuk berusaha mencapai cita-cita.

Di kamar, banyak saya pajang tokoh-tokoh sukses yang mashur untuk menyemangati saya sekaligus sebagai contoh atau tauladan untuk berkembang dan berubah. Ada gambar Gusdur dan Soekarno besa-besar. Karena keduanya tokoh sukses dan unik yang paling saya kagumi sepanjang sejarah. Andai ada Foto Nabi Muhammad saw mungkin beliau saya pajang besar-besar. Sebab, beliau orang termiskin satu-satunya sepanjang sejarah yang berhasil bermetamorfosis menjadi pemimpin dunia.

Selain itu, saya juga jamak mengumpulkan kata-kata bijaksana yang memancing saya untuk selalu bersemangat. Tiap ngedrop, saya membacanya. Saya tulis besar-besar di kamar saya dan menghiasinya agar saya selalu suka membacanya. Sekaligus saya taruh di tempat yang paling strategis sekiranya saya lebih sering membacanya tanpa niat dan persiapan segala macam. Seperti saya menempelnya di tembok yang sekiranya ketika tiap mau tidur mata saya langsung lurus kepadanya.

Juga tidak kalah seriusnya, saya selalu mengumpulkan tulisan-tulisan orang yang menurut saya bagus dan berisikan motivasi-motivasi yang meyakinkan. Saya tidak pernah absen mengklipingnya, paling tidak membacanya hingga berkali-kali. Sebagai contoh bagaimana menulis baik sekaligus penyemangat. Sebab, salah satu ambisi panjang saya adalah saya mau menjadi penulis.

Kira-kira kurang dari satu bulan yang berlalu, saya disemangatkan oleh sebuah tulisan tentang metode jitu menjadi penulis. Tulisan tersebut betul-betul menjadi magnet penarik keyakinan dan semangat saya untuk menulis. Tapi, lagi-lagi itu agaknya sudah mau pudar juga. Akhirnya, akhir-akhir ini terasa, saya mau menyerah dengan berbagai perasaan keder dan pesimis.

Berkecamuk di dalam perasaan saya hal-hal yang macam-macam rupanya. Saya berpikir, kenapa saya lahir di dalam kemiskinan, sehingga dengannya setiap apa yang saya impikan tidak maksimal bahkan acapkali gagal. Dengannya gerak hidup saya tidak normal. Selalu tersendat-sendat. Apa salah saya. Dan apa bedanya saya dengan mereka-mereka yang lahir dalam kekayaan dan kesempurnaan sehingga mau apa saja tinggal ambil. Apakah saya banyak dosanya, jarang beribadah kepada Tuhan, atau mungkin malas?

Lalu, apakah mereka yang kaya-kaya dan sempurna tidak memiliki dosa dan tidak malas? Padahal sudah tidak kurang apa yang saya usahakan. Orang tua saya di rumah mulai pagi hingga petang memeras keringat di sawah; mereka bekerja tanpa hirau lelah, sejak dulu hingga detik ini. Bahkan tak jarang keduanya sakit berkat kelelahan. Keduanya tak pernah merasa yang namanya santai-santai atau bahagia secara sempurna.

Mereka juga selalu salat dan berdoa tiap malam. Namun, sampai sekarang orang tua saya tak kaya-kaya, uang selalu kekurangan, tiap hari bingung cari pinjaman hanya sekedar untuk makan, apalagi kalau sudah mau mengingirim saya uang untuk biaya sekolah.

Sekali lagi, apa bedanya saya, bapak ibu saya, dengan mereka yang kaya-kaya, mewah, dan sempurna. Apakah belum sampai saatnya? Lalu sampai kapan? Apakah nunggu keduanya sampai mati? Jadi percuma saja tak bisa menikmati jerih payahnya di dunia ini.

Apakah ini yang disebut taqdir? Rasanya kalau begitu Tuhan itu Kejam. Atau yang disebut hikmah? Saya kira tak usah beralasan hikmah yang tak jelas. Terlalu lama menunggu hikmah. Sejak dulu hikmah sampai sekarang tak jelas-jelas bagi diri saya. Sekarang yang kongkrit-kongkrit saja, sudah cukup hikmahnya, hikmah yang saya inginkan saja. Saya dan Bapak ibu saya juga ingin kebahagiaan di dunia ini, bukan hanya untuk akherat. Sama seperti mereka yang bahagia.

Ya Tuhan, maafkan bila catatan saya ini menyakitkan Kamu. Paling tidak sudah saatnya Kamu menyingkap rahasia-rahasia ini, kalau ini memang rahasiaMu. Sudah cukup lama saya menunggu. Atau paling tidak Kamu jelaskan pada saya dengan caranMu sendiri, apa dosa saya, dan bapak ibu saya. Tapi, Kamu tak mungkin merasa sakit hanya gara-gara ini.

Sekali lagi perlu Kamu ketahui sudah lama saya dan Bapak ibu saya menderita. Kami ingin bahagia juga seperti mereka di dunia ini, juga di akherat. Dan, ini saya kira tidak merugikan diriMu. Tapi, bagi saya bisa menjadi kafir dan masuk neraka andai kami tidak kuat memikulnya. Sudah menderita di dunia masuk neraka di akherat. Apakah Kamu tidak kasihan?

Termasuk, saya ingin punya sarana yang lengkap untuk menunjang ambisi saya menjadi penulis, saya ingin banyak uang, saya ingin laptop, dan sebagainya. Kecuali Kamu memang menginginkan saya jadi penulis tanpa segala macam usaha-usaha itu, tapi itu tidak masuk akal dan menyalahi hukum-hukumMu sendiri. Sebab, PesanMu pada alam ini, barang siapa yang berusaha dia akan berhasil. Saya masih percaya itu. Saya yakin itu. Karena ini yang lebih logis dan humanis.

Tuhan, Kamu memang aneh dan unik bagi saya. Tapi ingat, saya serba terbatas, tidak sepertiMu: saya bisa tidak sabar, saya bisa lelah, saya bisa sakit, dan saya bisa menyerah.

Selain itu, mulai sekarang, saya ingin Kamu yang kongkrit-kongkrit saja, yang jelas-jelas saja, yang simpel-simpel saja, yang nyata-nyata saja. Sudah cukup bosan saya dengan rahasia-rahasiaMu atau hikmah-hikmahMu yang tak jelas juntrungnya, yang malah membuat orang miskin membenciMu, atau para Kiai dan ulamaMu mengaku suci sendiri, atau orang mewah yang bernikmat ria dan banyak dalih membela diri.

Tuhan, cukuplah saya tidak mampu melihat keindahan wajahmu. Cukup mata saya buta, telinga saya tuli, serta mulut saya bisu untuk hal yang itu saja. Selainnya, yang jelas-jelas saja, yang kongkrit-kongkrit saja, yang simpel-simpel saja, dan yang langsung-langsung saja.

Terakhir maafkan amat sangat, kalau saya misuh-misuh kepadaMu dengan catatan kecil ini. Hari ini betul-betul akan saya persaksikan kepada semestaMu. Bahwa eksistensiMu atau keberadaanMu amat sangat logis. Bahwa, saya pasti bisa. Kalau tidak, catatan ini, dunia ini, betul-betul akan menganggapMu tidak adil dan miskin.

Filsafat Cinta dan Dunia Maya


Orang yang paling bahagia adalah dia yang sedang jatuh cinta kepada seorang wanita. Sebaliknya juga, orang yang paling menderita adalah orang yang sedang jatuh cinta kepada seorang wanita. Saya katakan demikian karena saya pernah mengalaminya sendiri sebagai seorang laki-laki yang normal dan masih remaja.

Saya punya teman yang sedang puncak-puncaknya merasakan cinta itu. Tidak selamanya dia bahagia. Kadang menderita. Di samping itu, cintanya tergolong uniq. Uniknya, karena dia bercinta melalui dunia maya Face Book dan HP. Mulai dari kenal sampai sama-sama saling cocok dan jatuh cinta. Tak pernah ketemu secara langsung. Ketemunya di dunia maya itu juga tidak sengaja.

Sehingga, sebetulnya dia tidak tahu yang sebetulnya wanita itu. Meski sudah melihat fotonya melalui Face Book itu dan mendengarkan suaranya dari HP itu. Tiap saat keduanya telponan. Dan tiap saat pula keduanya bertatapan via Face Bookan. Hampir tiap waktunya dipenuhi dengan berhubungan gaya itu.

Bisa jadi semuanya palsu demi kepentingan tertentu, cinta. Mukanya yang menurutnya cantik di gambar bisa saja palsu. Suaranya yang menurutnya mengasikkan bisa saja juga palsu. Itu bisa saja terjadi. Tapi, bagi keduanya sudah tidak urus lagi. Keduanya sudah tenggelam dalam cinta. Padahal, menurut saya atau orang lain dia gila.

Namun, itu memang wajar, namanya jatuh cinta. Orang juga bilang, orang yang sedang dilanda asmara bisa menjadi buta. Buruk bisa tampak indah, atau sebaliknya, indah bisa tampak buruk. Itu kalau dipikir-pikir juga bisa masuk akal.

Teman saya itu, tiba-tiba nangis sesenggukan dibarengi dengan kesan yang amat sangat kesal dan sial seraya misuh-misuh tapi samar-samar di pojokan kamar, di balik lemari bajunya. Saya kira ada apa, ternyata dia sedang menggenggap HP di tangannya. Akhirnya, saya menjadi ngerti bahwa dia sedang uring-uringan dengan orang di balik sana, wanitanya itu. Mungkin sedang ada masalah.

Memandangnya saya menjadi tersenyum geli dalam hati sekaligus berpikir, kok sampai-sampainya seperti itu. Memerkuat saya bahwa orang yang sedang dilanda cinta memang betul-betul bisa gila. Lupa daratan. Bukankah sudah jelas menurut pikiran saya, lawong wanitanya juga ga tidak masuk akal. Lucu plus bodoh. Pikir saya.

Namun, saya sadari juga bahwa cinta memang kerap tidak masuk akal. Kadang juga kita temukan saudara sama-sama saudaranya saling membunuh, hanya gara-gara rebutan wanita. Berapa banyak sebuah bangsa saling bentrok dengan bangsa lainnya hanya gara-gara cinta. Dan, ini memang sudah terjadi sejak zaman pertama kali sejarah manusia menginjakkan kakinya di planet bumi ini.

Qabil dan Habil adalah manusia pertama kali dilanda asmara sekaligus hancur gara-gara wanita itu. Akhirnya, cinta dan wanita adalah kekacauan dan dosa awal kali manusia melakukannya di dunia.

Sejatinya, arah dan motif cinta banyak macam.  Ada yang arahnya kepada kedudukan, harta, Tuhan, orang tua, atau rekan. Tapi, seakan cinta lebih identik dengan wanita. Kalau orang sudah mengatakan cinta pasti akan langsung terbayang di kepalanya seorang wanita. Bagi yang laki-laki. Sedangkan bagi yang wanita berarti laki-laki.

Motifnya juga beraneka ragam. Ada yang cinta karena kaya; ada yang cinta karena berpengaruh, ada yang cinta karena suaranya; ada yang cinta karena kesopanannya; ada yang cinta karena kemolekan tubuhnya atau seks; dan ada yang cinta memang karena kecantikan atau ketampanannya. Yang terakhirlah yang lebih diidentikan dengan cinta.

Selain itu, ada yang bilang bahwa cinta itu relatif, dengan motif dan arahnya itu. Kemudian berkembang menjadi sebuah jargon bahwa ” Bukan cantik yang membawa cinta tapi cinta yang membawa cantik. Jamak kita temukan, ada wanita secara fisik dia buruk tapi kata seseorang dia sangat amat cantik sehingga dia mencintainya. Yang jelas, pasti, meski pada fisiknya dia jelek, ada suatu sisi yang membuatnya segalanya menjadi cantik bagi yang cinta, bisa karena bentuk tubuhnya, keindahan suaranya, atau gaya jalannya.

Tapi sebaliknya, ada juga yang katakanlah sebenarnya secara fisik wanita itu amat sangat cantik tapi bagi orang tertentu dia menjadi paling buruk sedunia. Bisa jadi ada satu sisi yang membuatnya menjadi terburuk segalanya baginya, bisa jadi karena dia pernah disakiti atau ada perasaan sentimen, dan sebagainya.

Akhirnya, kalau cinta ini makin dirunut-runut kita akan tak terasa menerobos sampai kepada persoalan filosofis yang rumit tentang hakekat cinta, moral, dan estetika. Apakah indah itu karena kita cinta atau kita cinta karena indah. Atau, apakah indah itu karena memang dirinya sebagai objek yang indah atau karena subjek yang melihat menganggapnya indah.

Entahlah, kita pikir sendiri-sendiri saja. Ambil saja satu contoh sebagai bahan pertanyaan yang lebih simpel dan praktis: Artis Luna Maya, siapakah yang bilang bahwa dia wanita jelek? Eksitensi kepribadian diri anda akan tercermin dari jawaban anda. Berhati-hatilah dengan cinta.

Jumat, Januari 01, 2010

Interaksi Kiai, Masyarakat, dan Santri



Yang saya tahu, kiai dan santri berbeda dalam strata sosial. Yakni, kiai dipandang lebih tinggi kedudukannya dari pada santri, sehingga kiai lebih terhormat dari pada santri. Bukan hanya lebih dari santri, dari presiden pun kiai bisa dipandang lebih terhormat, paling tidak di tengah kalangan masyarakat tradisional.

Misalnya saja, antara Gusdur yang berbasis kiai dan Presiden SBY. Orang-orang kalau ketemu SBY bersalaman dengan cara biasa, tapi ketika ketemu dengan Gusdur meski sudah bukan presiden lagi, orang-orang akan sungkem kepadanya; tangannya diciumi ketika bersalaman. Lebih-lebih warga NU.

 Dunia kiai memang unik. Artinya, dunia kiai memiliki nilai lebih dari pada status, profesi, atau gelar sosial lainnya. Padahal, tidak ada hukum formal khusus yang melegitimasi gelar kiai, atau sanksi formal khusus bagi orang yang menyakiti kiai. Begitu juga tidak ada disiplin akademis khusus mencetak alumni bergelar kiai.

Menarik mengkorelasikannya dengan dunia wartawan, meski samanya dengan dunia kiai tidak adanya disiplin akademis khusus mencetak lulusan yang bergelar menjadi wartawan, para wartawan masih memiliki perilaku hukum formal khusus yang melindungi profesi wartawan. Sekaligus ada sanksi formal khusus bagi orang yang menggangu dunia wartawan.

Sehingga, konon, para wartawan itu disegani oleh profesi lainnya. Aparat keamanan dan hukum bisa segan kepadanya, bahkan presiden pun. Tapi, uniknya, wartawan sendiri, penulis yakin, akan segan kepada dunia kiai. Penulis lihat, ketika meliput di dunia kiai wartawan tidak seenaknya bertingkah di depan para kiai. Paling tidak merasa ”tidak enak sendiri”.

Keunikan itu biasa disebut dengan kharisma. Sayangnya, saking istimewanya kedudukan seorang kiai ditambah telah terdoktrin kuat di dalam jiwa masyarakat,  acapkali ada kiai yang mabuk daratan. Keistimewaan itu disalahmaknai oleh kiai itu sendiri. Inilah kiai oknum.

Tidak ada bedanya dengan oknum pejabat yang menggunakan posisinya untuk keuntungan pribadi an sich. Makanya jangan heran ketika ada kiai yang sibuk sendiri hanya dengan urusan politik atau jabatan misalnya, sedangkan para santri dan masyarakatnya terlupakan. Dia telah tercerabut dari amanah primordialnya sebagai tempat umat untuk berpanut dan mencari ketenangan batin (Central figur dan problem solver).

Ini menjadi salah satu motif bahwa akhir-akhir ini interaksi kepercayaan dan ketakdiman masyarakat kepada kiai semakin mengabur. Seakan tidak ada bedanya lagi antara kiai dan yang bukan kiai. Di samping, banyak masyarakat biasa yang mulai berani berbusana ala kiai. Apalagi bila musim-musimnya pemilihan umum atau pemimpin.

Sekarang, lebih khusus terkait interaksi atau ikatan antara kiai dan santrinya, seorang kiai dalam nasehatnya mengkategorikannya menjadi tiga macam. Pertama, interaksi ucapan (alaqah lisaniyah). Di sini ikatan atau hubungan santri dengan kiainya hanya sebatas ucapan di lisan saja, tidak tembus ke dalam hatinya.


Bisa dimisalkan,  seorang santri atau ustadz yang hanya manggut-manggut ketika di depan kiainya saja, tapi setelah berbalik dia membangkangi kiainya. Nesehat-nasehatnya tidak diindahkan lagi.

Indikasi dari santri atau ustadz jenis ini bisa dilihat dari, pertama, bagi santri meski mondoknya lama atau kalau ustadz ngabdinya lama, biasanya keluar-keluarnya dari pesantren tidak ada bedanya dengan masyarakat awam bahkan lebih tak karuan dari pada yang tidak pernah menyentuh pendidikan pesantren sama sekali. Seakan-akan ilmunya tak membekas sama sekali pada dirinya.


Kedua, meski setelah keluar dari pesantren dia menjadi orang yang lebih tampak dan terkenal di tengah-tengah masyarakat dengan kehebatan ilmunya, justru ilmunya itu mendatangkan kegelisahan.


Misalnya, bila jadi pejabat, pejabat yang koruptor; bila jadi cendikiawan, malah menyebarkan keraguan akidah bagi umat; dan bila jadi kiai, kiai yang oknum di atas, kiai yang hanya bajunya saja. Inilah ilmu yang tidak barokah.

Kedua, interaksi pikiran (alaqah aqliyah), yaitu interaksi sebatas akal pikiran saja. Interaksi logis atau pengajaran-pengajaran kiainya sebatas terendap dalam pikirannya, tidak tembus ke dalam hati nurani dan perilakunya. Interaksi ini tidak ada bedanya dengan interaksi sebelumnya.
Dan ketiga, interaksi hati (alaqah qalbiyah). Inilah sejatinya interaksi atau ikatan dunia pesantren. Interaksi yang dibangun di atas kesadaran dan keikhlasan. Interaksi ini tidak terbatas ruang dan waktu. Interaksi yang membawa kesejukan.

Setiap saat dan di manapun sang santri dan sang kiainya selalu nyambung. Ketika sang santri taat, taat selamanya, bagaimanapun keadaannya. Segala ilmu dan nasehat-nasehat yang diperoleh dari kiainya selalu mewarnai segala dimensi kehidupannya.

Indikasinya bisa dilihat dari, santri atau ustadz jenis ini tak perlu lama mondoknya, atau selalu dekat dengan kiainya, dan meski ilmunya sedikit tapi membawa kemaslahatan bagi masyarakatnya. Inilah yang disebut ilmu barokah. Ilmu yang hanya didapat dari keikhlasan interaktif antara kiai dan santrinya.

Akhirnya, kita berharap menjadi bagian dari santri, asatidz, atau alumni para kiai yang memiliki alaqah qolbiyah itu. Meski mungkin secara struktur formal di pesantren atau di depan kiai kita tidak memiliki keistimewaan apa-apa, namun sebetulnya di kedalaman diri kita searah dan selalu nyambung dengan mimpi-mimpi para kiai itu (kiai sejati, bukan oknum). Dan, menjadi santri para kiai itu tak butuh di pesantren, tapi di manapun kita berada serta siapa saja.