Jumat, Januari 15, 2010

Berjihad dan Berjilbab


(Budaya Manusia Menggeser Makna Ajaran Tuhan) 
Sebuah Trauma
Teman saya diundang seorang temannya dalam sebuah acara khusus. Tiba di tempat undangan, teman saya merasa aneh kepada acara tersebut. Sebab, acara tersebut tidak seperti biasanya. Penuh batasan-batasan. Terkesan hanya untuk kalangan khusus plus bergaya unik. Yaitu berjenggot semua, meski teman saya itu juga jenggotan, sedikit.

Agenda acaranya juga unik. Konon, dalam acara tersebut dijelaskan hal-hal yang tidak seperti biasanya dalam agama yang ia pahami di zaman sekarang. Misalnya, orang kafir (bagi mereka tiap orang luar Islam) di negara ini harus membayar pajak kepada orang Muslim. Sebab Indonesia ini mayoritas terdiri dari orang Muslim. Selain itu, dijelaskan konsep jihad dan misi pembentukan Daulah Islamiyah.

Melihat pemandangan demikian, langsung berkelabat di benaknya orang-orang yang dituduh terorisme yang pernah sering disiarkan di stasion-stasion TV dan media cetak semisal Amrozi dkk dan Noordin M Top, meski mungkin program mereka bukan sejenis yang di TV itu.

Perasaan teman saya itu maklum. Bukan dia terlalu sensitif sentimentil terhadap orang yang berjenggot, akan tetapi paling tidak trauma dengan ulah mereka (teroris) yang sempat membuat manusia gelisah di muka bumi ini. Dan, kebanyakan mereka memang berjenggot, bersorban, dan selalu mendengung-dengungkan prinsip jihad, meski tidak semua yang berjenggot, bersorban, dan mengumbar jihad, seperti itu.

Rekonstruksi Daulah Islamiyah
Dalam catatan ini, saya mencoba mengurai wacana kelompok seperti di atas yang memang tak pernah surut. Pertama, adakah Daulah Islamiyah? Di zaman Rasulullah dan para sahabat itu memang ada dengan bentuk khilafah atau dinasti atau sistem sultan (kerajaan).
           
Tapi, setelahnya perlu kita pikirkan, bahwa dinasti itu hancur berantakan yang salah satu sebabnya adalah perebutan kekuasaan sekaligus para sultannya saat itu banyak yang bermaksiat; terlalu tamak terhadap kekuasan, harta, dan wanita. Kecuali pada saat Rasulullah saja yang betul-betul makmur sejahtera. Setelah itu, masa sahabat saja sudah terjadi konflik di mana-mana.

Akhirnya kita berpikir, zaman tidak jauh dari Rasulullah saja Daulah Islamiyah hancur berantakan, apalagi zaman sekarang yang semakin kompleks. Bukan hanya orang kafir saja yang ada di luar Islam, tapi bahkan bermunculan agama-agama baru.

Maka dari itu, saya kira bukan tidak logis atau tidak mungkin untuk mendirikan Daulah Islamiyah di zaman ini, meski di Indonesia saja, akan tetapi resikonya lebih besar dari pada kesejahteraannya. Kecuali lahir Rasulullah baru yang kedua.
           
Kepastian Standart Kafir
Kedua, bagaimanakah jihad? Yang jelas, mereka ingin berjihad menumpas orang yang di luar Islam sekaligus merongrongnya. Sedangkan yang tidak merongrong harus membayar pajak. Persoalannya, pihak kafir di sini harus jelas standartnya. Sebab, di zaman ini bukan hanya orang yang identitasnya di luar agama Islam saja yang merongrong Islam, tapi justru orang Islam itu sendiri yang suka merongrong, meski secara halus berupa pemikiran atau wacana.
           
Selain itu, bakankah orang Muslim yang terus terang bermaksiat sejatinya juga merongrong Islam? Apakah mereka juga harus dijihadin (diperangin)? Kalau demikian, maka orang Islam yang demikian tidak sedikit jumlahnya.

Tidak usah jauh-jauh untuk membuktikan hal ini. Lihatlah generasi Muslim saja, lebih banyak manakah, yang tampak terang-terangan bermaksiat atau hidup glamor dari pada yang hidup sejati islami (zuhud) di zaman sekarang? Jangankan Muslim yang latar belakangnya sekuler, yang santri saja sudah banyak yang glamour dan hedonis itu.
           
Ini juga terjadi pada standart kafir yang wajib membayar pajak. Apakah tidak dimungkinkan terjadi kecemburuan sosial. Sebab, tidak semua orang Muslim dan non Muslim zaman ini paham akan konsep pajak dalam Islam ini.
           
Lagian, umat Muslim sekarang tak perlu lagi memajukan kesejahteraannya dari dana pembayaran pajak itu. Islam juga kenal bisnis dan teknologi yang pesat. Bahkan, kalau sampai memberlakukan konsep membayar pajak dengan dalih kesejahteraan bersama, malah makin menunjukkan kemiskinan komunitas Muslim saja di zaman yang canggih ini. Tak ada bedanya dengan penarikan amal di tempat-tempat umum untuk pembagunan tempat ibadah.
           
Budaya Yang Kompleks
Lebih problematis lagi, pola pikir manusia sekarang cenderung yang logis-logis, praktis-praktis, bebas, dan berani, serta budaya manusia menjadi makin kompleks. Akibatnya, budaya manusia mulai berani menggeser makna ajaran Tuhan (agama) itu sendiri.
           
Misalnya saja, berjilbab. Awal kalinya, Tuhan dan Rasul-Nya dengan tegas mengajarkan jilbab dalam kitab suci karena jilbab menjadi benteng sekaligus simbol kesucian dan martabat seorang Muslimat. Dan pada praktisnya, memang betul para lelaki waktu itu enggan menggoda para Muslimat berjilbab. Tapi bagaimana dengan yang sekarang?
           
Sekarang, makna jilbab menjadi bergeser. Bukan menjadi simbol sekaligus benteng kesucian dan martabat seorang Muslimat, akan tetapi malah menjadi topeng kemaksiatan. Terus terang, saya tidak jarang menyaksikan di ponsel-ponsel bervidio adegan-adegan mesum yang dibintangi oleh gadis-gadis berjilbab.
           
Dalam kehidupan sehari-hari saja, tak usah jauh-jauh, lihat saja di perguruan tinggi-perguruan tinggi Islam sekitar kita, di manapun. Memang mayoritas mahasiswinya berjibab, terlebih digalakkan oleh pemerintahan setempat untuk memakai jilbab, akan tetapi busana di bawah jilbab, tak ubahnya setengah telanjang. Lekuk-lekuk tubuhnya begitu jelas aduhainya. Maaf, membuat bulu roma saya sampai berdiri.
           
Kemudian, dulu, Jihadnya Rasulullah memang betul-betul diharapkan oleh seluruh masyarakat, baik Muslim maupun non Muslim. Karena betul-betul mendatangkan kesejahtaraan. Sekarang, jihad malah menakutkan masyarakat dunia. Di mana-mana masyarakat terancam bom yang katanya berjihad, dan pembakaran, kerusuhan, pertikaian yang konon cenderung akarnya karena tiap pihak agama atau kelompok kepercayaan saling mengaku benar sendiri, sehingga sama-sama memiliki konsep jihad menurut dirinya sendiri yang justru melupakan sisi kemanusiaanya.
           
Jihad Masa Kini
Akhirnya, kalau boleh saya bermimpi, sekarang, kita tak perlu ruwet-ruwet dengan konsep jihad yang macam-macam. Apalagi ini kafir itu muslim; mendirikan Daulah Islamiah atau Imamah. Itu terlalu jauh. Tapi, mulai dari diri kita sendiri, sekitar kita sendiri; Apakah kita betul-betul sudah ber-Islam sejati sekaligus manusiawi? Sudahkah kita menghayati ibadah-ibadah kita kepada Tuhan dan bertingkah saleh dalam kehidupan sosial sekaligus konsisten?
           
Kalau kita pateng beribadah kepada Tuhan, tapi tetangga kita masih kelaparan, putus sekolah, tak mampu mengobati penyakitnya, maka ibadah kita perlu dipertanyakan. Atau, kita sibuk-sibuk mengonsep jihad ini itu, tapi justru saudara terdekat kita, teman-teman kita, murid-murid kita, atau anak-anak kita, atau bahkan diri kita sendiri sejatinya hobi bermaksiat, jarang salat, berjilbab hanya gayanya, berbusana mengundang nafsu, dan sejenisnya.
           
Maka dari itu, alangkah lebih luhurnya di sisi Tuhan dan manusia jikalau kita berteriak, ”Mari kita berjihad menumpas (bukan dengan pedang atau bom) kemiskinan, kelaparan, kebodohan, dan pengangguran. Dari pada kita berteriak, ” Mari kita berjihad menegakkan Islam, bunuh orang-orang kafir”. Bukankah ini jihadnya Rasulullah yang paling serius (berat)? ”Tidak beriman kepadaku orang yang tidur kenyang, sementara tetangganya kelaparan”, sabda Rasulullah.
           
Sebab, bukankah kemiskinan (baca: kemiskinan ekonomi dan akidah), kelaparan, pengangguran, dan kebodohon itu yang sejatinya menjadi sebab utama dari pada kekafiran di masa sekarang? Sekarang, kafir berubah lebih menjadi akibat, bukan menjadi sebab seperti di zaman Rasulullah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar